Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Penanaman Karakter Melalui Metode Mentoring

Penanaman Karakter Melalui Metode Mentoring

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Facebook)
Ilustrasi. (Facebook)

dakwatuna.com Jika melihat berbagai permasalahan Indonesia yang semakin kronis, bisa disimpulkan salah satu faktor penyebabnya adalah karakter bangsa ini. Mulai dari kasus korupsi pada kalangan elit “penguasa” hingga rakyat jelata, keterbelakangan akhlak, serta mental pengecut yang tertanam pada pribadi anak bangsa. Semua melebur hingga meleburkan satu pertanyaan, “apakah ada yang salah dengan karakter bangsa kita?”

Menurut buku Character Building, karangan Erie Sudewo, arti dari kata karakter adalah perilaku yang baik. Karakter sangat berperan penting dalam pembentukan kualitas seorang manusia. Karakter bisa didefinisikan juga sebagai kumpulan sifat baik yang menjadi perilaku sehari-hari, sebagai perwujudan kesadaran menjalankan peran, fungsi, dan tugasnya dalam mengemban amanah dan tanggung jawab. Saya simpulkan, hal ini lah yang masih minim pada tiap-tiap pribadi di negara ini, yaitu karakter.

Tidak bisa dipungkiri bahwa permasalahan pembentukan karakter bangsa berawal pada bobroknya sistem pendidikan kita. Semua permasalahan bangsa yang ada dan sangat kompleks tersebut akan tetap seperti itu apabila negara ini belum memperbaiki sistem pendidikannya. Butuh tenaga ekstra keras, sumber daya yang kompeten dan berakhlaq, serta dana yang tidak sedikit untuk memperbaiki semua sektor. Namun, semua masalah akan terasa lebih sulit dan percuma diselesaikan apabila karakter bangsa ini belum diperbaiki.

Memulai perbaikan karakter bangsa melalui perbaikan sistem pendidikan merupakan langkah awal dalam perbaikan sistem/sektor lain. Indonesia masih tertinggal dalam pembenahan ini. Bisa dilihat pada kenyataannya, meski pemerintah sudah mencoba melakukan perbaikan kurikulum pendidikan sekolah yang berkaitan dengan pembinaan dan pembentukan karakter, yaitu salah satunya materi kewarganegaraan dan pendidikan agama. Output yang diharapkan tidak tercapai secara utuh dan menyeluruh. Akhlak anak-anak bangsa pun kian tergerus oleh modernisasi dunia Barat. Kesalahan dan berbagai penyimpangan moral, seperti budaya menyontek, budaya tawuran, narkoba, pergaulan bebas hingga tindakan kriminal yang tinggi merupakan wujud kegagalan system pendidikan kita.

Modal dasar perbaikan karakter ini adalah pemahaman agama. Indonesia, sebagai salah satu negara dengan penganut Islam terbanyak, harusnya bisa mengimplementasikan system pendidikan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Program mentoring/halaqah/liqa harusnya dikenalkan bahkan sejak kita duduk di bangku sekolah dasar. Mentoring merupakan system pembelajaran berkelompok kecil yang terdiri dari 6 – 10 mentee (siswa) dan 1 orang mentor (pemateri/guru). Pemberian nilai-nilai agama dan penanaman karakter akan sulit jika hanya dilakukan oleh 1 orang guru yang meng-cover 30 – 40 siswa di dalam kelas, dan itu bisa di-cover oleh mentoring. Dengan mentoring, ilmu diberikan dengan menyentuh hati mentee-nya terlebih dahulu. Diawali dengan terbentuknya kedekatan mentee dan mentor. Mentee bebas mengeluhkan apapun pada mentor-nya, berbagai aspek.

Nahnu nuqaatil an naasi bil hubb” – Hasan Al Banna

Pemahaman agama, kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah, adalah satu-satunya solusi ampuh perbaikan karakter bangsa ini. Beberapa sekolah di Kota Bandung telah mewajibkan mentoring untuk siswa-siswinya. Terbukti dengan lahirnya lulusan cerdas dan berkarakter dari sekolah-sekolah tersebut. Masuknya Mentoring pada kurikulum pendidikan juga terasa di kampus saya, yaitu Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Di sini, mahasiswa yang terdaftar sebagai mahasiswa FK UNPAD, khususnya angkatan 2012 diwajibkan mentoring. Kita meyakini bahwa, kampus/sekolah tidak semata-mata menuntut ilmu saja, tidak semata-mata hanya untuk mendapatkan bekal untuk profesi. Namun, kampus/sekolah punya peranan “mendidik umat”, mendidik mahasiswa/siswa nya sebagai pemimpin bangsa dan pembangun peradaban.

Masuknya program mentoring pada sistem pendidikan Indonesia juga berperan dalam pembentukan budaya. Budaya mengkaji dan terciptanya majelis ilmu di setiap sudut negeri ini. Hingga lahirlah generasi cerdas dan berkarakter, yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswi muslim Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, koleris sanguinis.
  • Fotonya sepertinya anak-anak Tambang ITB (dari jaket himpunan warna merah dan tanda di lengan kiri) sedang berada di selasar masjid Salman

Lihat Juga

Ini Tantangan Bagi Mendikbud Baru