Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Jalan Dakwah Bukan Jalan Tol

Jalan Dakwah Bukan Jalan Tol

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Lagi dan lagi… Ujian akan terus hadir pada jalan panjang dan berliku ini. Jangan harap jalan ini rata seperti jalan beraspal. Jangan harap jalan ini mulus seperti jalan tol. Bahkan jangan pula berharap jalan ini mengasyikkan seperti jalan setapak di pegunungan yang disukai oleh para pendaki. Kenyataannya memang banyak jalan pintas yang menggiurkan tapi malah membuat ke sasar/tersesat. Kenyataannya juga bukan jalan tol yang lancar bebas hambatan lagi cepat sampai tujuan. Melainkan jalan yang berliku lagi panjang, berduri lagi berbeling, licin lagi sempit, berbatu lagi buntu, nanjak lagi curam.

Jalan ini hanya akan dipilih bagi mereka yang bersedia merasakan tusukan duri-duri tak terlihat. Jalan ini hanya bisa ditempuh oleh mereka yang mampu mengangkat beban yang sangat berat di bahu mereka. Jalan ini hanya bisa di tapaki oleh mereka yang tetap bertahan meski puncak tak kunjung terlihat, meski udara menjadi sesak, meski cuaca tak lagi bersahabat. Jalan ini hanya ditelusuri oleh orang-orang terpilih yang mau meramaikannya.

Mereka yang telah merasakan liku-liku perjalanan ini tetap bisa menikmatinya seperti pendaki menikmati puncak setelah menelusuri ribuan tanjakan. Mereka yang telah berhasil melalui jalan penuh rintangan ini tetap menikmatinya seperti pelaut menemui daratan setelah lama terombang-ambing di lautan.

Jadi jangan bermimpi jalan ini akan lurus-lurus saja tanpa ujian. Isu dan fitnah pasti akan menghujani untuk menguji siapa pun yang bersedia menempuh jalan ini.

Bila halaman sejarah dibuka kembali, pasti digambarkan bahwa para pengemban dakwah terutama Rasulullah saw telah berhasil menelusuri  jalan penuh rintangan ini. Tidak hanya penolakan dan celaan tetapi juga fitnah dan hujatan membersamai perjalanan mereka. Tidak hanya air mata dan keringat tetapi juga darah dan nyawa harus dipertaruhkan mengiringi perjalanan. Dalam perjalanan itu mereka selalu temukan musuh yang tampak maupun tak tampak, yang terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Mereka mampu menempuh perjalanan yang sangat berat sambil menikmatinya. Meskipun penjara menjadi rumah namun jiwa mereka bebas berkelana. Meskipun celaan dan fitnah menggandrungi namun hujjah itu yang hakiki. Meskipun senjata dan nuklir menghujani mereka namun takbir dan ayat-ayat Allah justru membasahi mereka. Meskipun musuh menentang dengan konspirasi dan perang namun pertolongan Allah yang menjadi penyemangat untuk membela agama ini. Meskipun musuh membantai dengan kejam namun mereka tumbuh pesat dengan kasih sayang.

Meskipun tidak ada jembatan untuk meneruskan perjalanan, justru tugas pengemban dakwah membangun jembatan itu. Jika ruang untuk bernafas semakin sesak, ingatlah mereka yang telah terkurung selama puluhan tahun di penjara yang pengap. Jika urat-urat saraf semakin meregang, ingatlah mereka yang telah dibantai dengan senjata kimia dan nuklir. Jika kaki tak mampu berpijak, ingatlah mereka yang harus mengendap-endap di terowongan bawah tanah yang gelap dan sempit untuk bertahan hidup. Jika lelah mulai menghinggap, ingatlah mereka yang tak pernah lelah menghafal dan menerapkan Al-Qur’an. Jika lelap mulai menggoda, ingatlah mereka yang mati syahid di jalan Allah.

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,80 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Atik NH
Lulus dari Universitas Pendidikan Indonesia. Tinggal di Sumedang. Berharap tulisannya bisa bermanfaat bagi orang lain (pembaca maupun dirinya). Mari bersama kita mencari ilmu pengetahuan.

Lihat Juga

Memperluas Jaringan Lembaga Dakwah