15:46 - Sabtu, 25 Oktober 2014

Kami Titipkan Ayah dan Ibu Kepada-Mu

Rubrik: Artikel Lepas | Oleh: Wulan Ummu Kayyisah - 17/05/13 | 12:30 | 08 Rajab 1434 H

ibu-bapadakwatuna.com - Ketika aku datang, maka itu pertama kalinya aku melihat ia tergolek lemas. Ia nampak sedang tidur, lelap sekali. Sesekali terdengar suara dengkurannya, berat sekali. Kukatakan berulang, “Pa, ayo bangun sebentar, ini kakak udah datang”. Terus kukatakan, bahkan aku terus merengek memintanya bangun.

Adik lelakiku yang biasanya sering membantahnya, saat itu terus saja menangis tak berhenti. Mungkin saat itu baru ia sadari betapa ia mencintai ayah kami.

Sesekali aku menyeka keringat di dahinya dan air mata yang terus menetes di pinggir matanya. Kubisikan padanya, “Pa, jangan nangis ya, udah jangan nangis.” Lalu kukatakan juga, “Pa, yuk! kita ngaji. Yuk! dengerin kakak ngaji”. Kulantunkan surat Al-Baqarah, kulantunkan surat Ar-Ra’du berulang-ulang di dekat telinganya.

***

Aku belum puas bersama dengannya. Belum. Maka kukatakan padanya pelan, “Pa, tungguin kakak di surga ya. Yuk kita kumpul lagi sama mamah di surga, ya Pa.” Seperti orang linglung aku katakan itu berulang pada jasadnya. Tapi aku ingin, ingin sekali. Kupijat-pijat kakinya, hal yang tak pernah kulakukan seumur hidupku. Kucium tangannya terakhir kali. Kupandangi wajahnya lekat-lekat lama sekali, berharap aku takkan pernah melupakan wajah tenangnya itu.

Aku bersusah payah menahan tangis, tapi pecah juga. Bukan, bukan karena tak rela ia pergi, karena bagi kami cukuplah ridha Allah untuknya, dan kasih sayang Allah yang Maha Luas yang akan menyambutnya. Tapi aku merasa kehilangan pundak untuk bersandar. Kehilangan sosok lelaki panutan yang kucintai sepanjang hidup setelah Rasulullah SAW.

***

Tepat dua bulan setelah ibu kami kembali ke hadirat Allah SWT, ayah kami pun turut menyusulnya. Cinta sehidup semati, begitulah orang-orang menyebut keduanya. Tapi bagi kami anak-anaknya, mereka lebih dari itu. Mereka sudah membangun cinta di dunia dan akan melanjutkan kembali cinta mereka di surga, insya Allah. Makam keduanya kami biarkan bersampingan. Bukan apa-apa, tapi kami ingin mereka yang saling mencinta terus bersama, seperti Abu Bakar dan Umar yang ingin dimakamkan disamping orang terkasih, Rasulullah SAW.

Kini, secercah rasa sedih terkadang masih menggelayut. Kami kehilangan sayap yang selama ini membantu untuk terbang, yaitu doa- doa keduanya yang tak tertolak di hadapan Allah. “Tiga doa yang tidak tertolak yaitu doa orang tua, doa orang yang berpuasa ,dan doa seorang musafir.” (HR. Al Baihaqi). Tapi kini, kamilah yang harus mendoakan keduanya, menjadi amal yang takkan terputus untuk mereka. Bukan sekadar doa, tapi doa anak yang shalih, itulah yang membuat kami malu. Sudahkan predikat anak shalih dari Allah layak untuk kami?

Sepeser rupiah pun tak pernah sempat kami beri untuk mereka. Bahkan bila bermilyar-milyar rupiah kami beri, itupun takkan pernah bisa membayar kasih dan cinta mereka. Maka Yaa Allah, berikanlah kami kesempatan, kemudahan, dan kesungguhan untuk dapat mempersembahkan jubah kemuliaan untuk keduanya.

“Siapa yang membaca (menghafal) Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaiakan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab,”Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an.” (HR. Al-Hakim)

Ayah dan ibu kami bersama-sama saling mencintai di dunia, dan semoga kini dan kelak, mereka  juga kami anak-anaknya dikumpulkan lagi dalam cinta Allah SWT. “Orang-orang yang beriman, dan anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. At-Thur: 21)

Allahummaghfirlahumaa warhamhumaa wa’aafiihumaa wa’fu ‘anhumaa..
Yaa Allah, kini kami titipkan ayah dan ibu kami kepada-Mu.

Tentang Wulan Ummu Kayyisah

Ibu rumah tangga yang sedang berjuang menjadi sebaik-baik hamba Allah dengan menebar sebanyak-banyak manfaat untuk sesama. [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Aisyah

Topik:

Keyword: , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (1 orang menilai, rata-rata: 10,00 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
126 queries in 1,564 seconds.