Home / Pemuda / Essay / Jilbab Pekaes

Jilbab Pekaes

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (qimta.devianart.com)
Ilustrasi (qimta.devianart.com)

dakwatuna.com

Mami: “Dit, teman cewek kamu itu ikut Pekaes ya?”

Gue: “Memang kenapa mam?”

Mami: “Nggak, cuman nanya. Lihat tuh jilbabnya besar-besar semua, kayak jilbabnya Istri wakil walikota, Pak Mahyeldi. Istrinya juga pake jilbab besar kayak gitu, mungkin semua cewek Pekaes pake jilbab yang besar.”

Gue: “Ooo.. mungkin saja, dia kawan-kawan di kampus kok. Kalo gak salah mereka ikut pesantren (pesantren kampus a.k.a tarbiyah).”

Mami: “hhmmm…”

Itu sedikit dialog singkat yang terjadi di awal tahun 2012. Kebetulan saat itu rombongan kawan-kawan kampus berkunjung ke Kota Padang. Mereka menginap di rumah selama 2 hari. Kalo di Kota Padang memang tak heran untuk berjumpa dengan cewek-cewek berjilbab. Sebab semua sekolah negeri dan sebagian sekolah swasta telah mewajibkan siswinya untuk menggunakan jilbab. Mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas telah mewajibkan berjilbab untuk semua siswinya.

Sedangkan di kampus-kampus, kondisi mahasiswi tidaklah jauh berbeda dengan di sekolah negeri. Kota Padang yang terkenal dengan nuansa Islam yang kental membuat mayoritas warganya memakai jilbab. Apalagi di kampus yang berisi kaum intelektual, mayoritas mahasiswinya memakai jilbab. Tapi, jilbab yang dipakai masih sekedar mengikuti tren saat ini. Belum memenuh standar jilbab syar’i.

Nah, jilbab teman-teman gue tadi ini besar-besar semua. Bisa dikatakan udah sesuai dengan kaidah syar’i. Sekarang pertanyaanya, kok bisa mami gue mengidentikkan jilbab besar dengan jilbab Pekaes. Padahal jilbab besar (kita anggap jilbab syar’i di sini) adalah jilbab yang seharusnya digunakan muslimah. Bisa dikatakan jilbab ideal. Bukanlah jilbab yang ada tonjolan meruncing di atas kepala, atau jilbab dengan balutan yang tebal (berbelit pasti cara makainya ya).

Sekarang ada 2 point bagi gue; pertama syiar Pekaes yang udah membumi dalam hal mencerdaskan muslimah dimana mencontohkan jilbab yang ideal. Hingga dimanapun berada, ketika ada muslimah dengan jilbab besar (biasanya disebut jilbaber) bisa dikatakan jilbab Pekaes. Padahal belum tentu muslimah itu ikut pekaes. Kedua, syiar dari masing-masing organisasi dakwah baik di kampus maupun di masyarakat tuk lebih gencar mensosialisasikan jilbab ideal tadi, sehingga  tidak ada lagi yang mengatakan jilabab pekaes, tapi jilbab yang benar-benar islami. Jilbab islam sesungguhnya sesuai dengan Quran dan Hadits.

Ini ceritaku, bagaimana ceritamu?

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer yang hobi menulis, blogging, desain grafis, traveling dan nonton film, bercita-cita menjadi batu bata peradaban Islam.
  • Akhuukum

    I give you two thumbs up

  • i like it tapi kebanyakan yach bukan nuduh ane liat diri kebanyakan kl udah keluarga n keluar rumah gitu anak buang air besar di luaran yang di suruh cebokin tuh suaminya karena istrinya sudah tidak bisa ngapa ngapain alias sudah terlalu rapi

Lihat Juga

Image processed by CodeCarvings Piczard ### FREE Community Edition ### on 2016-10-23 23:18:42Z |  | ÿÑæíÿÌãêÿËâëÿ^|hõÕ

Berhijab di Turki, Artis Hollywood Ini Menuai Pro dan Kontra