Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Transformasi Penyembahan Berhala

Transformasi Penyembahan Berhala

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Worship1.2dakwatuna.com Zaman jahiliyah adalah zaman ketika Rasulullah belum datang menyampaikan islam. Masyarakat pada zaman itu disebut dengan masyarakat jahiliyah yang berperilaku jauh menyimpang dari ajaran-ajaran agama samawi sebelumnya. Salah satu perilaku yang sangat jauh menyimpang dari ajaran agama adalah penyembahan atas berhala.  Kesyirikan yang di lakukan menunjukan kejahilan telah menjadi warisan turun-temurun. Berhala-berhala yang dijadikan Tuhan adalah produk produk dari tangan masyarakat jahiliyah sendiri. Berhala-berhala ini selanjutnya akan disembah dan digantungkanlah nasib masyarakat jahiliyah  kepadanya. Hewan ternak di korbankan untuk menyenangkan berhala-berhala tersebut.  Kesenangan berhala berarti kemakmuran dan kesejahteraan bagi masyarakat jahiliyah.

Islampun datang membawa kebenaran dan rahmat lalu dimualailah era penentangan terhadap penyembahan berhala. Akibanya munculah upaya-upaya untuk membela berhala-berhala tersebut. Bentuk konkritnya adalah berupa penentangan terhadap kebenaran yang disampaikan oleh NabiMuhammada SAW yang menegakan kalimat La ila ha ill allohu. Penentangan disini bersifat multidimensi-lintas suku dan terorganisir dengan baik. Siapa yang menyembah Tuhannya Muhammad berarti keluar dari agama nenek moyang. Berbagai bentuk penentangan dilakukan bahkan sampai ke arah penghinaan, penyiksaan, dan pembunuhan. Agama nenek moyang bagi masyarakat jahiliyah adalah agama yang benar. Apa yang dibawa oleh Muhammad adalah bentuk penentangan terhadap agama nenek moyang. Namun jika dilihat lebih dalam bukanlah itu yang menjadi persoalan  utama dalam upaya menentang dakwah Rasulullah. Persoalan ekonomi-politik , status dan jabatan menjadi lebih penting dibanding persoalan agama, berhala dan nenek moyang. Dalam islam tidak ada perbedaan derajat manusia. Derajat manusia ditentukan oleh tingkat taqwa.Jika mereka menerima islam apa yang mereka milki akan hilang. Mereka akan menjadi orang biasa. Status sosilanya sama rata dengan seorang budak.

Kejahilayahan tidak akan berhenti. Sampai detik ini perilaku-perilaku jahiliyah terus berkembang dan berubah menjadi bentuk yang lebih soft, menipu dan terkamuflase. Ketika dulu kejahiliyan dianggap sebagai bentuk kekakuan masyrakat terhadap nilai yang mereka yakini namun sekarang semuanya berubah. Pada Sekarang adalah era modern dimana masyarakat disuguhkan dengan nilai-nilai yang lebih dinamis dan terus berubah dengan cepat. Kebebasan memilih dan demokrasi ditegakan agar nilai-nilai yang ada tidak dipilih  karena unsur paksaan. Disinilah letak kejahilan masyrakat modern. Nilai yang  baru adalah nilai-nilai yang lahir dari aspek materialisme dan konsumsimisme. Itulah  yang  mereka serap  dan mereka yakini seolah-olah itu adalah nilai-nilai kebenaran tanpa adanya pertimbangan dan pemikiran yang rasional. Jika memang seperti ini apa bedanya dengan masyarakat jahiliyah tempo dulu. Jika dulu masyarakat jahiliyah mempertahankan tradisi walaupun tradisi tersebut tidak rasional. Mereka buat berhala dan setelahnya mereka sembah. Mereka elu-elukan dan mereka berkurban untuk berhala-berhala tersebut. Tidak ada artinya memberi kepada sesuatu yang tidak mungkin menerima. Zaman kejahilyan terjadi lagi dengan melihat persamaan dari perilaku masyarakat yang tidak mau berpikir secara rasional.

Masyarakat modern telah menentukan sendiri Tuhan yang akan disembah. Tuhan masyarakt modern adalah  materialisme. Jika dibandingkan masyarakat jahiliyah  dengan masyrakat modern hakekatnya tidak ada perbedaan antara keduanya. Masyarakat jahiliyah bertuhankan kepada berhala sedangkan masyrakat modern bertuhankan kepada berhala-berhala yang bentuknya tidak seperti patung lagi tapi lebih ke arah benda. Benda yang dimaksud adalah uang. Uang adalah segalanya. Tidak ada yang tidak bisa jika ada uang. Uang adalah berhala modern. Semua orang menyembah dan  mentuhankan uang. Uang adalah sesuatu yang sangat berharga dimana semua orang berlomba-lomba untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya. Berkorban banyak hal, mulai dari waktu, tenaga dan pikiran bahkan ada yang menggadaikan iman demi uang. Tida ada bedanya dengan masyrakat Arab yang berkorban untuk mendapaatkan balasan terbaik dari Tuhan yang mereka sembah.

Uang adalah salah satu berhala saja. Seperti masyarakat jahiliyah masyarakat modern juga memilki berhala yang lain yaitu enterteiment dan orang yang bergelut di bidang itu disebut enterteiner. Enterteiment adalah bentuk abstraknya. Bentuk konkretnya adalah enterteiner. Mereka adalah para artis, aktor, pemain musik atau seniman. Kesemuanya adalah  sama. Mereka ada karena masyarakat modern butuh yang namanya enterteiment. Maka diciptakanlah enterteiner untuk memenuhi kebutuahn mereka. Semakin lama mereka dipuja-pujan dan disembah-sembah. Apa bedanya dengan masyrakat jahiliyah yang juga butuh Tuhan lalu mereka membuat sendiri Tuhannya dan mereka memuja-mujanya dengan penuh pengharapan.

Zaman berubah namun perilaku manusia tidak berubah. Enstein mengatakan segala sesautu akan mengarah kepada ketidakteraturan. Ternyata benar karena sepeninggal rasulullah praktek jahiliyah mulai lagi berkembang. Puncaknya adalah masa zaman modern saat sekarang ini. Jika dulu jahiliyah sesuai dengan kondisi zamanya dan sekarang juga sama tapi dala bentuk yang modern dan tanpa disadari banyak dari kalangan umat islam yang tanpa sadar telah menyembah berhala-berhala era modern.

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 7,80 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
M Zulfitra Rahmat
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan IPB, Aktivis KAMMI

Lihat Juga

Ekonomi Syariah (Ilustrasi) - (skalanews.com)

Indonesia Menjadi Pusat Keuangan Perbankan Islam Dunia, Mungkinkah?