Home / Pemuda / Cerpen / Melalui Jilbab, Allah Menolongku

Melalui Jilbab, Allah Menolongku

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

muslimah-berjilbab-10dakwatuna.com “Kamu cantik kalau pakai jilbab, pong” kata kepala sekolahku. Perkataan ini tergingang hingga saat ini. Kepala sekolahku yang bernama Yatim Hamid adalah salah satu orang yang menjadi inspirasiku. Beliau pernah bercerita bahwa beliau adalah anak yatim dan dibesarkan di panti asuhan, lantas karena keinginan beliau untuk menjadi orang sukses, beliau bertekad untuk bekerja dan akhirnya berkuliah hingga akhirnya bisa menjadi kepala sekolah. Bagaimana rasanya kawan ketika kamu dipuji lantaran perubahanmu dan itu dipuji oleh orang yang kamu kagumi? Iya, pada saat itu akupun merasa bangga. Bapak yang begitu aku hormati, yang selalu menegurku kalau aku makan sambil berjalan, lupa memberikan salam, dan saat itu beliau memujiku.

Tepat paska lebaran, ketika liburan telah usai di tahun 2005. Hari ini acara halal bihalal di sekolah, sengaja aku memakai jilbab untuk menghormati hari ini. Yah mumpung suasana ramadhan masih sangat kental karena selama ramadhan aturan dari sekolah untuk putri memakai jilbab dan yang putra memakai pakaian koko. Hari itu aku mengenakan pakaian serba putih dan berkerudung putih, pertama kalinya pula selain aku mengaji aku punya keinginan untuk mengenakannya.

Apel pagi dimulai, para guru sudah berjajar di depan kami dengan sangat rapih. Sedangkan kami para siswa masih grasak grusuk mencari tempat paling belakang untuk berbaris. Jelas kalau aku berada di depan, karena memang postru tubuhku yang kecil maka tiap apel ataupun upacara pasti aku berada di depan barisan. Hari ini teduh tidak seperti biasanya, dengan sangat santai kami siswa yang berbaris mendengarkan tiap agenda acara apel yang sedang berlangsung. Selesai amanat pembina apel, maka kami siswa mulai berbaris untuk bersalaman dengan para guru dan karyawan.

Aku sudah melewati beberapa guru dan sekarang dihadapan ku kepala sekolahku, mulai aku menyalaminya. Agak lama aku berada di hadapan beliau dan saat itu beliau berkata “kamu cantik kalau pakai jilbab, pong”. Siswa lain yang berada di belakangku dan di depanku serta para guru yang berada disamping beliau langsung melihat ke arah kami. Aku mulai canggung dan hanya bisa tersenyum sama seperti tiap beliau menegurku. Pujian itu membuat jantungku berdetak dengan cepat, rasanya prestasi karena aku tiga besar di sekolah ini tidak lagi menjadi kebanggaan. Pujian beliau itu justru menjadi nilai dan kebanggan tersendiri.

Paska halal bihalal kemarin membuatku bingung, acara kemarin sebenarnya aku hanya ingin menggunakan jilbab di hari itu saja. Tapi karena sudah dipuji oleh Kepala Sekolahku tak mungkin hari ini aku melepasnya. Aku sangat canggung berjalan kaki menuju sekolah hingga sampai duduk di kelas, aku merasa menjadi orang aneh. “Ini bukan diriku banget” kata ku dalam hati. Tetangga dan teman-teman ku memandangku seperti halnya aku orang yang baru saja mereka lihat. Pandangan mereka sungguh membuat aku risih, sahabatku eni yang memang lebih dulu memakai jilbab turut memujiku “bener pong, elu cantik kalo pakai jilbab” dan aku berpikir “Pasti kemarin nih anak ikutan ngeliat aku saat kepala sekolah berbicara seperti itu kepadaku”.

Di ruang kerjaku, ruang OSIS merekapun (teman-teman OSISku) sama saja melihatku dengan memandang yang berbeda. Sepertinya kejadian hari kemarin itu sudah mereka ketahui, semakin berat saja aku melepas jilbabku. Beberapa hari kemudian ketika memasuki ruang kelas, ku dapati pemandangan yang berbeda hari ini aku melihat temanku ada yang baru memakai jilbab, ada listy, iis, dan tuti. Aku sih tidak bertanya mengapa mereka memakai jilbab?. Ya sudahlah itu adalah urusan mereka. Tapi sepertinya kejutan itu tak terhenti disitu saja, selang beberapa lama akhirnya setengah dari kelasku yang wanita mulai berjilbab. Teman-teman ku di OSIS pun sudah banyak yang berjilbab. Bagiku ini adalah wajar bila akhirnya mereka berhijrah untuk memakai jilbab. Justru dengan adanya keadaan seperti ini aku merasa tidak menjadi orang aneh lagi.

Selang setahun, sekarang aku duduk di kelas tiga semester dua. Kelas tiga adalah saat-saat paling galau antara kerja atau terus untuk kuliah. Tapi aku tidak berpikir untuk melanjutkan kuliah karena memang orang tuaku yang tidak mampu dan masih ada dua adik yang harus disekolahi. Di bulan januari menjelang ujian nasional. Sekolah ku menumpang di sekolah lain karena kejadian ditahun 2006, tepatnya 27 Mei sekolahku kebakaran dan akhirnya kami harus mengungsi agar KBM tetap berjalan. Di sekolah kami yang baru ini, di MAN 12 tempat kami mengungsi, anak ROHIS disekolah itu berbagi informasi dengan anak ROHIS di sekolah kami bahwa ada program dari yayasan Mata Air bekerja sama dengan Pemuda NU mengadakan pesantren kilat sukses SPMB. Program ini akan diadakan selama sebulan dan diasramakan di pesantren yang berada di Parung, Daarul Rahman namanya. fee yang dibayar Rp. 750.000 untuk program tersebut dengan segala akomodasi yang disediakan, tapi bisa jadi gratis bagi siswa yang tergolong tidak mampu.

Program ini tidak begitu saja mudah untuk memasukinya, ada test yang harus dilewati. Syarat untuk program ini adalah anak ROHIS yang aktif dan sudah pasti untuk wanita harus berjilbab. Sahabatku sahid menceritakan selebaran yang ia terima dari anak ROHIS MAN 12, membaca syarat yang dibaca “ Siswa yang aktif di organisasi ROHIS” tentu itu bukanlah untukku. Tapi sahid bersikeras utuk aku mengikutinya, kata sahid “sayang pong kalau kita punya kemampuan terus kita ngga mengambil kesempatan ini”. Lantas aku jawab “ emang ga lihat syaratnya apa? Itu-tuh buat anak ROHIS dan gue bukan anak ROHIS”. Sahidpun menjawab “itu mah bisa diomongin,tanya dulu itu kan ada contact person nya”. Tapi aku tetap tidak mau berkhayal tinggi khawatir ketika aku berharap dan dalam sekejap harapan itu musnah. Rupanya Allah memiliki kehendak lain. Selesai ujian nasional, saat aku bermain ke rumah seorang teman. Tiba-tiba sahid menelepon “pong, lu dimana? Ujian seleksi pesantren kilat itu diadain hari ini dan udah gue tanyain lu bisa ikutan nyoba ko”. Segera menerima kabar tersebut dengan kuda besiku lantas aku melaju ke sekolah tapi sebelumnya aku menjemput sahabatku eni untuk ikut bersama ku. Sampai di sekolah, ujian seleksi sudah dimulai memilih kursi paling nyaman sepertinya sudah tidak bisa karena yang lain sudah terisi. Aku terlambat setengah jam dan dalam satu setengah jam soal yang sangat mirip ujian nasional ini harus diselesaikan.

Akhirnya ujian seleksi selesai, kakak panitia yang berada di depan kelas mengumumkan bahwa pengumuman hasil seleksi dapat dilihat di www.gusmus.net  pada hari minggu malam. Jadi bagi yang sudah lulus seleksi senin bisa langsung menuju yayasan Mata Air dan berangkat bersama menuju parung. Seperti biasanya aku tidak melihat website, sekali lagi aku tidak berharap besar. Aku sudah cukup bersyukur kalau sudah diberikan kesempatan untuk menguji kemampuan ku. Senin malam selasa, tiba-tiba malam-malam sahid datang ke rumah. Sahid berkata “lu dah liat pengumuman belom pong?” dan aku “belom id, males ah ke warnet”. Lalu sahid berkata lagi “ lu ma gue lulus seleksi pong, di sekolah kita Cuma tiga orang yang lulus. Satu lagi si tito tapi dia mah udah di primagama jadi gak ngambil”. Aku pun membalas “yang bener aja lu, masa Cuma kita, eni, ipul, anak-anak MAN 12?”. Sahidpun membalas perkataanku “Cuma kita pong yang lulus seleksi. Untuk jurusan IPA yang diambil 25 orang, IPS juga sama 25 orang tapi ini untuk regional 3 jadi selain kita dari semarang, lampung, garut, indramayu, medan,brebes, cianjur, bekasi dan bandung. Kita bakal gabung sama anak-anak daerah”. Dia pun menyuruhku lagi untuk membuat SKTM karena dia tahu aku tidak bisa membayar sebesar itu. Malam itu aku segera mengurus semuanya surat-surat dan juga perlengkapan selama sebulan.

Esok paginya aku berangkat bersama sahid ke mata air di daerah Tebet barat alam. Pertama kalinya aku jauh dari rumahku, disana bertemu dengan beberapa teman lainnya dari semarang dan jakarta sama seperti kami hanya beda sekolah saja. Naik kendaraan yang telah disediakan oleh pihak yayasan dan sebelumnya kami membayar dahulu pesantren kilat sukses SPMB ini, aku menyerahkan SKTM dan uang sebesar Rp. 150.000. sebenarnya bisa saja gratis karena aku sudah menyerahkan SKTM, tapi bagiku ini tidak cukup adil untuk yang teman-teman lain yang membayar, setidaknya aku membayar sesuai dengan kemampuanku. Sesampainya disana ternyata kami terlambat, yang lain sudah dari hari senin tiba disini. Menaruh barang di kamar dan segera bergabung dengan yang lain di kelas.

Disana tidak hanya pelajaran sesuai dengan jurusan kami saja. Malam harinya para santri ini harus turut mengaji untuk membangun IMTAQ kami. Dan memang kami diharuskan mengikuti semua kegiatan selama pesantren ini. Sebulan akhirnya selesai program, menjelang SPMB kami semua mengikuti ujian. Malam sebelum ujian kami menginap di yayasan mata air karena sekolah tempat ujian kami tidak jauh dari sini. Malamnya bersama sahabat yang lain kami berdo’a bersama meminta yang terbaik untuk diri kami dan sahabat-sahabat kami  atas segala usaha yang kita lakukan selama sebulan lebih itu. 5 Agustus 2007, pengumuman SPMB bisa dilihat di website, sekali lagi aku tidak melihat pengumuman masih dengan ketakutanku. Karena aku tahu kalaupun aku lulus toh orang tuaku juga tidak bisa membayar. Karena memang kami tidak memiliki simpanan, sudah syukur kalo tiap hari masih bisa ketemu nasi.

Sahabatku fitri, bertanya lewat sms “pong lu dah liat pengumuman” dan aku “belom fit, gak usah dilihat lah percuma. Lu udah?. Fitri membalas “belom juga pong, nomor perserta dan paswordnya apa? Biar gue cek sekalian”. Dan aku membalasnya kembali “ah udah biarin aja sih gak usah ngecek punya gue dah, gue aja ngerjainnya ngasal, abis pusing ngeliat soal-soalnya”. Fitri membalas lagi “ya elah biar sekalian ma gue, ya udah sih gue ini yang ngecek”. Dan aku pasrah memberitahunya. Tengah malam pengumuman itu bisa dilihat aku tidak bisa tidur ternyata di hati kecilku aku pun sangat ingin tahu hasil dari perjuangan ku itu, sms fitri kembali masuk “aduh susah pong, kayaknya banyak yang buka website”. Aku tidak membalas, masih dengan rasa khawatirku. Melewati lima menit dimalam itu rasanya detik berjalan sangat lama, mata tak jua memejam. Mungkin itu adalah lima terlama yang aku alami selama aku hidup.

Jam 2 dini hari, sms fitri masuk “pong gue gak lolos, tapi lu lolos. Selamet yah say”. Aku tidak membalas masih tidak percaya dengan tulisan dilayar Hp itu, akupun tidak membalas sms fitri karena bingung harus berkata apa?. Agak menyesal sebenarnya fitri yang mengecek pengumuman untukku dan dengan matanya sendiri melihat pengumuman bahwa aku lulus seleksi SPMB. Aku yakin pasti dia sedih, walaupun aku tahu fitri tidak akan iri padaku karena fitri adalah sahabatku yang baik. Tapi kelulusan ini tidak membuat aku senang sepenuhya, orang tuaku tidak mengijinkan aku untuk kuliah bukan karena mereka tidak ingin tapi karena keterbatasan kamilah yag pada akhirnya aku diminta untuk mengubur mimpiku. Sedih sebenarnya mengapa harus seperti itu, di saat yang lain sangat ingin masuk PTN lantas aku hanya karena keterbatasan ekonomi harus menghentikan mimpiku. Oh iyah jurusan yang aku pilih dua-duanya adalah jurusan kimia karena aku sangat menyukainya. Saat itu aku hanya meyakini tidak mungkin Allah memberikan hasil terbaikNya ini lantas tak ada jalan untuk meraihnya. Aku hanya bisa bersedih, tetangga-tetangga serta bos bapakku bahkan saudaraku saja sangat mengkerdilkan kami. Mereka berkata “sudah kalau tidak mampu tidak usah memaksakan diri, kerja aja nanti juga ujung-ujungnya kuliah buat kerja juga”.

Aku hanya bisa bertambah sedih, aku tahu orang tua ku begitu bangga terhadapku, tidak rela juga melihat mereka menyembunyikan kesedihannya karena ketidak mampuan mereka dan ditambah pula dengan perkataan orang terhadap kami. Aku tahu mereka pasti terbebani melihat kesedihanku saat itu, aku hanya bisa mengurung diri di kamar agak malu dengan mereka yang mencemoohku dan berkata “udah jangan membebani orang tua, kasian orang tuanya jadi kepikiran”. Aku tidak tega melihat orag tuaku, di malam harinya akhirnya aku berkata “ udah ba, epong gak apa-apa kalo emang gak bisa kuliah, kan epong bisa kerja dulu terus bisa nyambi kuliah” tentu orang tuaku tidak lantas begitu saja tenang, mereka sangat tahu kalau aku masih bersedih hati. Akupun berkata lagi “kalau Allah punya rencana, dan membuka satu pintu untuk kita ngga mungkin pintu itu ditutup begitu aja pasti ada pintu lain yang disiapkan untuk kita dan kita buka pintu tersebut”. Setelah mengucapkan hal itu aku sudah agak tenang seperti keikhlasan mungkin yang aku rasakan. Aku percaya akan takdir Tuhanku, bukankah hanya itu yang aku punya pada saat itu?.

Beberapa hari dari perkataanku itu, rupanya sekali lagi Allah dengan sangat baik memberikan jalan untukku melalui sahid sahabatku. Ia menelepon “gimana pong buat bayaran kuliah, lu ambil kan?”. Aku jawab “kayaknya engga id”. Lalu sahid diseberang sana berkata “kenapa? masalah uang? coba tanya yayasan siapa tahu aja bisa bantu? Udah nanya belom?” dan aku “belom id”. Dan telepon ditutup, sahid sahabatku yang baik tahu dengan kondisiku. Ternyata ia menanyakan beasiswa yang mungkin saja bisa aku dapat. Dua hari kemudian, sahid menelepon lagi “pong besok lu di suruh ke yayasan, gue udah tanyain katanya bisa diusahakan. Udah coba aja dulu”. Esoknya aku baru tahu ternyata sahid tidak lulus SPMB dan dengan baiknya memberikan jalan untukku. Pergi ke yayasan dan Alhamdulilah aku mendapatkan beasiswa dari yayasan Mata Air dan bisa berkuliah. Hikmah yang bisa aku ambil dari perjalananku ini, ingat syarat untuk ikut program itu harus anak rohis dan berjilbab tapi Allah dengan baiknya memberikan jalan dengan tangan-tangan sahabatku yang luar biasa begitu tulus. Alhamdulillah, thanx to Allah, terima kasih untuk kedua orang tua, adik-adikku, dan sahabat-sahabatku yang menolongku dengan memberikan penguatan kepadaku. Terima kasih.

Note:

Selang setahun akhirnya sahid berkuliah di UNDIP dengan jurusan matematika yang ia pilih, kalau aku bilang, ia adalah masternya di sekolah kami.

Fitri sahabatku pun akhirnya berkuliah dengan jurusan tekhnik sipil di daerah serang, ia berkuliah sambil bekerja.

Tentu tak terlepas eni sahabatku di SMA walaupun pada akhirnya ia tidak lolos  SPMB dan juga tidak berkuliah, dia berproses untuk sukses dibidangnya bahkan ia sudah banyak mengelilingi pulau di Indonesia sekarang ia berada di NTB.

Mereka adalah yang terbaik yang Allah kirimkan untukku. Sekali lagi terima kasih walaupun ucapan ini takkan pernah cukup.

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 8,71 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Alumni Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa angkatan IV. sekarang menjadi volunteer sebagai Sekretaris KLIPNUS (Klinik Pendidikan Nusantara) menangani Training untuk Guru dan Siswa. serta KLIPNUS memiliki rumah baca yang disebut Kolong Ilmu. beberapa kegiatan kami diantaranya Indonesia Ceria dan Training for Teacher. Semoga Kami senantiasa bermanfaat. Klipnus : Build Better Indonesian Education

Lihat Juga

Peringati Hijab International Solidarity Days, ROHIS Al-Quds Gelar HoTS