Home / Berita / Silaturahim / Megapolitan Leadership Forum; Kehadiran Kita Sangat Diperlukan Orang Lain

Megapolitan Leadership Forum; Kehadiran Kita Sangat Diperlukan Orang Lain

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
“Manusia akan mengikuti kita apabila disentuh hatinya,” kata Dipl. –Ing. H.R Agoeng H Wibowo MSc. ME dalam acara yang bertajuk “Megapolitan Leadership Forum” yang diadakan oleh Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus se-Jakarta Depok Bekasi (FSLDK Jadebek) di gedung C FISIP UI, Depok, Sabtu (11/5). (Muhammad Sholich Mubarok)
“Manusia akan mengikuti kita apabila disentuh hatinya,” kata Dipl. –Ing. H.R Agoeng H Wibowo MSc. ME dalam acara yang bertajuk “Megapolitan Leadership Forum” yang diadakan oleh Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus se-Jakarta Depok Bekasi (FSLDK Jadebek) di gedung C FISIP UI, Depok, Sabtu (11/5). (Muhammad Sholich Mubarok)

dakwatuna.comAyam akan mengikuti perintah tuannya apabila ia diikat kakinya. Kambing akan melakukan hal yang sama apabila diikat lehernya. Sementara sapi dan beruang akan mengikuti tuannya apabila dipegang hidungnya. Lalu bagaimana dengan manusia? Apakah harus diikat juga seperti mereka?

“Manusia akan mengikuti kita apabila disentuh hatinya,” kata Dipl. –Ing. H.R Agoeng H Wibowo MSc. ME dalam acara yang bertajuk “Megapolitan Leadership Forum” yang diadakan oleh Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus se-Jakarta Depok Bekasi (FSLDK Jadebek) di gedung C FISIP UI, Depok, Sabtu (11/5).

Lebih lanjut Direktur Exzellenz Institut mengajukan pertanyaan yang harus dijawab sendiri oleh peserta tentang keberadaan kita; siapakah kita, kenapa masih ada di sini, bagaimana keimanan kita.

Nah, yang terakhir disebutkan ustadz Agoeng, begitu ia akrab disapa, memberikan penekanan, “Orang yang berstempel baik saja sering mendapat fitnah, apalagi yang berstempel buruk,” ucapnya penuh semangat.

Sebagai seorang pemimpin, kata sosok yang aktif di Bidang Perencanaan DPP PKS itu, harus belajar menghargai diri sendiri. Misalnya ketika bangun tidur jangan langsung berdiri. Duduk sejenak, lalu berdoa bangun tidur. Kenapa? Otak kita belum cukup oksigen ketika baru bangun langsung berdiri.

Selain itu, cara menghadirkan good mood adalah pasang agenda di depan mata sebelum tidur. Esok hari aktivitas harian mau melakukan apa saja, “Tancapkan pada diri; kehadiran kita sangat diperlukan orang,” kata laki-laki yang di umur 28 tahun sudah menjelajahi kurang lebih 20 negara.

Dalam acara yang dimoderatori oleh Ketua Umum Salam UI, Arief Aditya, itu ustadz Agoeng meminta para peserta yang aktivis dakwah untuk menjadi seorang aktor, menjadi manusia sebab, bukan manusia akibat.  Jangan sering menceritakan tentang kejayaan masa lalu. “Yang suka menceritakan ‘saya dulu begini…saya dulu adalah…’ itu orang yang punya harapan masa depan yang sempit. Sama artinya dia menceritakan masa muda, dan dia sudah tua,” ucapnya, yang mengundang tawa renyah audiens.

Ia juga memberikan jurus lain agar para pemimpin masa depan itu jangan memakai teknik self orientation. Karena pemimpin yang memiliki jurus ini akan hilang kepercayaan, kerap mendahulukan diri disbanding orang lain.

“Misalnya, ketika dalam suatu agenda organisasi. Peserta jumlahnya 10, sementara makanan yang tersedia hanya 9. Jika pemimpin tak mendahulukan peserta dan memilih untuk mengambil jatah duluan, ia akan kenyang namun akan hilang kepercayaan,” kata laki-laki berjas yang sudah naik haji sebelum nikah itu.

Acara yang berlangsung seru dan penuh kehangatan itu pun berakhir setelah sesi tanya jawab. Panitia dari puskomda pun menyerahkan tanda mata untuk ustadz Agoeng. Kamera dari sang moderator dan para peserta lain siap membidik. Klik!

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhammad Sholich Mubarok
Koordinator Syiar Humas Badan Dakwah Rohani Islam (Badaris) BSI Jakarta. Menulis bagi saya adalah kebutuhan tak ubahnya makanan jiwa. Kebahagiaan sebagai seorang penulis ketika tulisan saya mendatangkan manfaat buat orang lain.

Lihat Juga

Forum Future Leader Camp 2016 (spesial)

Mursidah Rambe: Lawan Paus Rentenir