Home / Berita / Opini / Dilema Guru Antara ‘Job’ dan ‘Vocation’

Dilema Guru Antara ‘Job’ dan ‘Vocation’

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (wordpress.com/winterwing)
Ilustrasi (wordpress.com/winterwing)

dakwatuna.com Kalau ada yang bertanya, “Pekerjaan ibu apa?” Tentu saja jawabannya akan berhubungan dengan pekerjaan si ibu. Bisa jadi jawabannya dokter, bidan, pramugari, pedagang, guru atau pekerjaan lainnya. Tidak ada masalah dengan jawaban ini, jawaban yang lumrah dan biasa. Bila kita pahami lagi pertanyaan tadi, kalau si ibu seorang guru maka maksudnya adalah ibu bekerja sebagai seorang guru. Tetap tidak ada yang aneh dari pernyataan ini. Pernyataan yang biasa saja.

Jawaban ini terasa berbeda pasca berdiskusi dengan beberapa teman sesama guru dari Amerika Serikat. Salah seorang dari mereka, Clark, mencoba menjelaskan secara rinci perbedaan antara job dan vocation. Memang kata vocation tidak secara langsung berhubungan dengan guru. Namun maknanya mencitrakan sosok guru yang seharusnya ada. Menurutnya, suatu pekerjaan yang dilakukan dengan sepenuh hati, penuh dengan dedikasi yang tinggi, rasa cinta dan kesungguhan yang mendalam maka itulah makna dari vocation. Sedangkan kata job menunjukkan pada pekerjaan yang dilakukan dengan balasan imbalan tertentu bagi yang melakukan.

Arti literal dari vocation adalah panggilan. Sedangkan arti literal job adalah pekerjaan. Maka makna figuratiflah yang telah dijabarkan oleh kolega penulis tadi yang tentu saja maknanya lebih mendalam atau beyond the word. Dengan kata lain, karena panggilan hati nuranilah yang membuat guru tertentu mau menjadi pendidik profesional. Secara implisit ia telah merelakan dirinya menerima dan memikul sebagian tanggung jawab pendidikan yang dipikul di pundak para orang tua seperti makna guru yang dipaparkan oleh Professor Zakiah Daradjat. Hal ini didukung oleh pendapat Mohammad Surya yang menyatakan, “Guru adalah orang tua di sekolah dan orang tua adalah guru di rumah”.

Jadi, setiap yang merasa dirinya orang tua telah otomatis menjadi seorang guru bagi anak-anak mereka. Tapi bedanya, tidak semua orang tua mengenyam pendidikan formal dalam mendidik sebagaimana layaknya guru. Namun orang tua memiliki kekuatan yang lebih dalam memberikan kasih- sayang dan perhatian dengan sepenuh hati, penuh kesungguhan dan dedikasi yang tinggi. Namun hal ini mulai memudar di kalangan guru.

Jika dipadukan kekuatan sosok orang tua dan kekuatan sosok guru yang secara umum terjadi, maka akan terlahirlah guru yang memiliki ilmu mendidik dan guru yang memiliki kasih-sayang penuh dalam mendidik seperti sayangnya orang tua pada anaknya. Inilah guru ideal yang mematrikan pekerjaannya sebagai vocation. Guru yang diharapkan adalah guru yang penuh kasih sayang dan keikhlasan dalam mendidik disertai profesionalisme yang tinggi dalam mengabdi seperti sosok kepala sekolah dan juga guru senior di film “Laskar Pelangi”. Tidak banyak gaji yang beliau terima. Namun betapa keras usaha beliau dalam mendidik dan membina anak-anak yang berbeda kemampuan dan gaya belajarnya dengan banyak keterbatasan. Semua ini dilakukannya dalam bingkai ketulusan yang berakhir dengan meninggalnya si guru di sekolah reyot yang telah lama dipimpinnya.

Saat ini, begitu banyak anak-anak, remaja dan pemuda harapan bangsa yang tidak lagi merasa segan dengan guru mereka. Mereka tidak merasa perlu untuk mengidolakan sosok ini. Bahkan mereka yang mengidolakan guru dianggap kuno dan ketinggalan zaman. Alhasil, ketika penulis menanyakan di suatu kelas tentang siapa yang mereka idolakan, maka bermunculanlah nama-nama yang selama ini gencar diinformasikan di media seperti: kalangan artis, penyanyi, dan public figure lainnya baik di dalam maupun di luar negeri.

Dulu figur guru dan orang-orang yang berilmu sangat disegani dan dihormati. Ketika ada guru yang duduk di suatu ruangan dan saat siswa melintas, maka bibir siswa tersebut terbiasa mengucapkan salam sembari badannya membungkuk, sedangkan tangan diulurkan sebagai tanda permisi lewat. Demikian juga saat berpapasan dengan guru mereka. Begitu dalam rasa segan dan hormat yang terpancar dari tingkah laku mereka. Namun, sekarang semua budaya ini telah mulai tereliminasi sesuai dengan perkembangan budaya global.

Apakah hal ini terjadi karena banyaknya guru-guru yang menganggap profesi guru sebagai job? atau karena tidak banyak guru yang bisa diguguh dan ditiru seperti peribahasa cerminan guru yang sebelum ini dikenal. Yang pasti terjadi adalah mulai terkikisnya nilai–nilai sosok guru yang diharapkan dalam masyarakat kita. Diasumsikan ada korelasi positif antara kondisi guru dengan akhlak anak-anak didiknya. Seharusnya guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah seperti yang dipaparkan oleh UU RI No.14 tahun 2005. Namun, makna dari definisi guru ini pun terasa hambar karena tidak terdapat ruh empati di dalamnya. Sudah banyak guru profesional yang mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, dan mengevaluasi peserta didiknya. Namun, apakah tugas utama ini terlahir dari cinta dan keikhlasan?  Undang-Undang ini tidak membahasakannya sampai sejelas itu. Walau ada kata profesional, namun kata ini pun terkadang maknanya salah kaprah. Makna profesional saat ini lebih banyak berorientasi pada kerja. Tidak banyak yang menyangkutkannya pada rasa dan asa. Padahal mendidik butuh keterlibatan hati, empati, cinta, dan kasih sayang.

Mungkin tuntutan kebutuhan hidup yang lebih membuat harapan ini semakin termarjinalkan. Walaupun ada tambahan sertifikasi, namun para guru malah semakin sibuk untuk memenuhi syarat sertifikasi ini, sehingga semakin banyak yang tidak menghidupkan aura empatinya. Jepang patut kita jadikan contoh mengenai pentingnya memperhatikan kondisi guru secara komprehensif. Bahkan saat kehancuran marsis terjadi atas Hirosima dan Nagasaki, pertanyaan pertama yang ditanya pemimpin Jepang saat itu adalah,”Berapa orang guru yang masih tersisa?”.

Ketika seorang teman guru mendapat tugas belajar ke Jepang, ada pengalaman yang tidak terlupakan akan kondisi masyarakat di sana. Di dalam jamuan makan malam, teman tadi terlibat percakapan hangat dengan para masyarakat yang ada di sana. Ketika masyarakat di sana baru mengetahui bahwa yang berbicara dengan mereka adalah seorang guru, maka serta-merta mereka membungkukkan punggung sebagai rasa hormat. Bahkan saat meninggalkan jamuan itu, rasa hormat mereka tampak sangat dalam.

Bagaimana dengan siswa di negara kita? Masih dalamkah kesantunan mereka? Kasus-kasus yang terjadi telah banyak yang mencerminkan permasalahan guru dan siswa. Dari kesalahan penulisan soal ujian yang mengandung unsur pornografi, metoda pengajaran yang kurang membumi, kekerasan fisik dan kata-kata, sampai penyidangan kasus ke meja hijau antara guru dan orang tua yang tidak senang dengan tindakan guru pada anak mereka. Padahal, guru dan orang tua harus bekerjasama dalam mendidik anak. Yang terjadi malah banyak orang tua yang menyekolahkan anak-anak mereka namun memberikan tugas 100% mengenai pendidikan ketangan guru. Bayaran uang sekolah dari orang tua seakan upah pada guru sehingga mereka tidak usah dipusingkan lagi dengan materi pelajaran, PR, persiapan ujian, UN, dan tugas-tugas belajar lainnya. Jika mereka kurang percaya akan kualitas guru dalam meningkatkan kualitas anak mereka, maka kursuslah yang akan mereka kejar. Hanya dengan membayar lagi, maka selesailah ilmu yang diharapkan dalam benak anak mereka. Walau tidak semua orang tua seperti ini, namun fenomena ini sudah marak terjadi.

Senada dengan kondisi orang tua di atas, guru pun tidak banyak yang memperhatikan softskill siswanya. Nilai pelajaran lebih penting dari pada nilai kesantunan, kesopanan, suka membantu, suka senyum, setia kawan dan softskill lainnya. Tidak heran kalau hasil akhirnya terlahirlah orang-orang yang nantinya bermuara lagi pada upah dan uang. Dengan uang tercapai apa yang kita inginkan. Pendidikan berkualitas harus dengan uang. Semakin banyak uang, semakin excellent service yang diberikan. Maka seperti putaran setan saja jika rasa empati mulai memudar.

Dua film pendidikan dari banyak film yang terekomendasi di dunia, mudah-mudahan bisa dijadikan inspirasi bagi banyak guru. Film “Great Teacher Onizuka” dan “Gokusen” menggambarkan sosok guru yang luar biasa. Bukan karena uang yang menjadi alasan pengabdian diri mereka dalam mengajar, tetapi karena rasa tanggung jawab yang semakin tinggi disertai ketulusan, cinta dan kasih sayang dalam memperbaiki kualitas umat yang menjadi tujuan mereka dalam mengajar, seperti harapan orang tua pada anak-anaknya.

Guru yang menginspirasi dan disegani adalah harapan umat. Banyak mata yang tertuju pada sosok guru. Yang baik menurut umat adalah yang dilakukan guru dan yang buruk menurut umat adalah yang ditinggalkan guru. Maka hal pertama yang harus dilakukan guru adalah memperbaiki diri sendiri. Jika guru salah maka terlahirlah siswa yang lebih banyak salahnya. Jika guru kasar maka terlahirlah siswa yang lebih membabibuta. Jika guru zalim maka generasi akan berada di gerbang kehancuran.

Jadi, yang perlu dipahami oleh guru adalah dengan ilmunya, umat menghadapi masa kini. Lalu, dengan nasehat guru, umat mengambil hikmah di masa lalu. Kemudian, dengan benih yang ditanam guru, umat memetik buahnya di masa depan. Dengan pemikiran guru yang lurus, umat dapat membela dan melindungi dirinya dari kebodohan dan kesesatan. Kemudian, dengan kreatifitas guru, umat menjadi lebih bergairah dan membahana dalam melejitkan potensi mereka di masa mendatang. Guru mengajar bukan karena kerja. Guru mengajar bukan karena tuntutan hidup. Guru mengajar karena cinta. Guru mengajar karena panggilan nurani untuk mengabdi pada umat. Jadi, jika profesi guru itu sebuah vocation maka profesinya sungguh akan menempati maqam tertinggi dalam kehidupan ini. Bekerjalah dengan cinta, dedikasi dan kasih sayang.

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Penulis adalah Dosen STAIN Jamil Jambek Bukittinggi dan Penggiat Persaudaraan Muslimah/Salimah Bukittinggi

Lihat Juga

Praduga Tak Bersalah Guru Gugus Depan (GGD) Maluku