Home / Pemuda / Essay / Dua Epistimologi Pengetahuan

Dua Epistimologi Pengetahuan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Tanggal 3 Mei 2013 di sore hari yang ceria, dengan senyum merekah dan berbungah, sekitar 60 mahasiswa Indonesia di kota penuh sejarah Istanbul berbahagia menyambut wakil menteri agama Republik Indonesia, bapak Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar.

Sengaja datang ke kota Istanbul, beliau memberikan wejangan dan motivasinya kepada mahasiswa Istanbul dan juga berdialog agama dengan topik inter kultural.

Bapak Nasaruddin membuka ceramahnya dengan menyampaikan surat Al Kahfi yang dibahas secara perlahan-lahan. “Maka ketika mereka sampai ke pertemuan dua laut itu,” dibaca beliau ayat 61. Dia menjelaskan bahwa salah satu tafsir di sini adalah bertemunya nabi Musa dan nabi Khidir.

“Surat Al Kahfi ini sangat menarik, bercerita tentang nabi Musa yang menjadi guru, tapi juga menjadi murid”, tegas beliau. Hal ini ditandai dengan di awal surat nabi Musa diceritakan menjadi seorang guru, tetapi di akhir surat beliau menjadi seorang murid. Hal ini sangatlah menarik.

Beliau mengambarkan bahwa pertemuan nabi Musa dan Khidir ini adalah pertemuan dua epistimologi ilmu pengetahuan. Nabi Musa adalah sosok yang berilmu tinggi, sedangkan nabi Khidir adalah sosok yang penuh hikmah.

“Berilmu pengetahuan saja itu tidak cukup, tetapi apabila hanya berspiritual saja juga akan lumpuh”, tegas beliau. Beliau mengambil kiasan dari pertemuan dua laut itu dengan budaya barat dengan budaya timur. “Bahwa orang barat lebih simbolis dengan logika, sementara orang timur lebih simbolis dengan spiritual”, lanjut beliau.

Beliau mengingatkan bahwa sejarah Nabi Muhammad yang fantastis juga sejalan dengan bertemunya Nabi Musa dan Khidir. Yaitu Nabi Muhammad berhasil menyandingakan kemenangan ilmu pengetahuan dan spiritual. “Nabi Muhammad mampu membalikkan peradaban jahiliyah menjadi masa keemasan manusia”, tegasnya.

Bapak Nasaruddin juga menjelaskan teori sejarah Ibnu Khaldun. Bahwa sejarah memiliki empat siklus lingkar. Yaitu generasi perintis, generasi pembangun, generasi penikmat, dan penghancur. Beliau mengambil contoh sejarah Usmani di Istanbul. Serta mengingatkan teman-teman mahasiswa untuk mengambil energi dan atmosfir dari sejarah Usmani yang luar biasa.

“Kalian harus menjadi jembatan ilmu pengetahuan dan spiritual, dimana kota Istanbul ini terletak di tengah-tengah benua Eropa dan Asia.”, jelasnya. Beliau mengambil contoh aplikasi dari 2 epistimologi ilmu pengetahuan dengan mengarapakan mahasiswa yang sedang belajar di Istanbul, untuk mengambil dua sisi penting pengetahuan, ilmu logika dan hikmah.

Beliau juga mengingatkan untuk berusaha meningkatkan diri sehingga mampu menjadi generasi pembangun layaknya generasi Usmani. Sehingga mampu berkarya yang luar biasa dan membangun Indonesia.

 

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ahmad El Fatah
Mahasiswa S1, Teknik Industri, Universitas Marmara, Turki.

Lihat Juga

Pertemuan FLP Bogor, Ahad 29 Maret 2015. (FLP Bogor)

Pertemuan FLP Bogor: Arah Mata Angin dan Motivasi Menulis