Home / Pemuda / Pengetahuan / Gerhana, Mitos, dan Kekuasaan Tuhan

Gerhana, Mitos, dan Kekuasaan Tuhan

Ilustrasi. Gerhana Matahari Cincin. (inet)
Ilustrasi. Gerhana Matahari Cincin. (inet)

(Refleksi Gerhana Matahari 10 Mei)

dakwatuna.com Peristiwa gerhana selalu menjadi sebuah fenomena menarik bagi umat manusia, meskipun secara statistik gerhana bukanlah peristiwa alam yang langka, karena dalam satu tahun kalender miladiyah gerhana (bulan dan matahari) secara kumulatif dapat terjadi hingga tujuh kali, dengan berbagai variasi jenis gerhana, salah satunya adalah gerhana cincin yang  terjadi pada 9-10 Mei. Beruntungnya, Indonesia termasuk negara yang dilintasi fenomena gerhana matahari cincin untuk wilayah Indonesia kecuali Sumatera bagian utara yang hanya bisa melihat gerhana sebagian pada pagi hari. Namun yang menarik tentang gerhana, terutama dikaitkan dengan kultur masyarakat Indonesia adalah adanya mitos-mitos seputar gerhana yang selalu dikaitkan dengan suatu peristiwa dan gejala-gejala tertentu.

Mitos Gerhana

Fenomena sejarah membuktikan sebuah fase perkembangan pola pikir dan pengetahuan manusia merupakan dibangun berdasarkan hakikat dan sifat manusia yang selalu mempunyai rasa ingin tahu terhadap berbagai rahasia dan fenomena alam, sehingga menimbulkan hasrat untuk mencoba menyingkapnya dengan menggunakan akumulasi data-data materi dalam ingatannya hingga merumuskan sendiri ide-idenya. Namun karena keterbatasan perkembangan pola pikir dan pengetahuan dengan hasrat untuk memuaskan dirinya dari keingintahuannya, para manusia kuno yang pada zaman dahulu akhirnya mempercayai mitos. Puncak hasil pemikiran mitos terjadi pada zaman Babylonia (sekitar 700-600 SM) yaitu horoskop (ramalan bintang), dengan zodiak (rasi bintang di langit), ekliptika (bidang edar Matahari) dan pemahaman bentuk alam semesta yang menyerupai ruangan setengah bola dengan bumi datar sebagai lantainya sedangkan langit-langit dan bintangnya merupakan atap yang dalam istilah astronomi dikenal dengan paham egosentris, sebelum akhirnya berkembang ke paham geosentris dan terakhir ke paham heliosentris.

Manusia sebagi makhluk berpikir dibekali hasrat ingin tahu tentang benda dan peristiwa yang terjadi di sekitarnya termasuk juga ingin tahu tentang dirinya sendiri. Rasa ingin tahu inilah mendorong manusia untuk memahami dan menjelaskan gejala-gejala alam, baik makrokosmos maupun mikrokosmos, serta berusaha memecahkan masalah yang dihadapi. Dorongan rasa ingin tahu dan usaha untuk memahami dan memecahkan masalah yang dihadapi, menyebabkan manusia dapat mengumpulkan pengetahuan.

Memang, sejalan dengan keterbatasan intelektual dan ilmu pengetahuan dan dengan keyakinan primitif manusia yang mengaitkan setiap gejala alam dengan kekuatan-kekuatan supranatural dan metafisik, dalam menyikapi terjadinya gerhana pun beragam. Mitos-mitos dan keyakinan khurafat seputar gerhana pun muncul dalam kehidupan manusia. Di antara mitos terkenal yang muncul pada zaman dahulu dan terkadang masih bertahan sampai sekarang adalah kepercayaan bahwa terjadinya gerhana itu karena bulan sedang ditelan oleh batarakala atau juga disebut buto ijo, atau kepercayaan lain menyebutkan bahwa ketika terjadi gerhana maka seseorang dilarang melakukan ini-itu karena akan berdampak negatif terhadap yang bersangkutan. Kepercayaan ini mayoritas dialami oleh suku jawa di Indonesia karena watak kolot yang mereka miliki sehingga bahkan terkadang mitos masih tumbuh subur sebagai warisan kepercayaan yang turun temurun.

Di berbagai negara non-Islam seperti China, Thailand, India sampai saat ini bahkan masih mempercayai mitos-mitos seputar gerhana dengan beragam kepercayaan. Dengan segala keterbatasannya masyarakat manusia zaman primitif memandang gerhana sebagai sesuatu kejadian yang ghaib, dan memperhitungkan terjadinya gerhana juga merupakan sesuatu yang ghaib yang berkaitan dengan metafisika, dan memerlukan kekuatan supranatural untuk bisa mengidentifikasikannnya. Mereka meyakini bahwa yang bisa memperhitungkan fenomena terjadinya gerhana adalah orang-orang sakti yang berbekal kekuatan supranatural yang luar biasa, semacam dukun dan paranormal.

Sebenarnya munculnya berbagai mitos seputar gerhana merupakan sebuah keniscayaan karena memang sudah terakumulasi dalam perkembangan pola pikir manusia. Manusia yang memiliki curiosity yang tinggi dan hasrat ingin memuaskan dahaga kehausan pengetahuan dari keingintahuan tapi dengan keterbatasan perkembangan ilmu dan teknologi akhirnya mempercayai mitos. Inilah yang kemudian menjadi awal perkembangan pengetahuan manusia. Dalam lintasan sejarah, perkembangan manusia terbagi ke dalam empat tahap perkembangan pengetahuan, yaitu tahap mitos, tahap penalaran, tahap pengamalan dari percobaan, dan akhirnya tahap metode keilmuan sains modern. Sehingga kemunculan mitos tak perlu dipermasalahkan, termasuk beredarnya mitos-mitos seputar gerhana dalam kehidupan manusia zaman dulu karena perkembangan pengetahuan manusia telah berhasil menyingkap gerhana secara detail dan eksplisit.

Kuasa Tuhan

Dalam Islam sebenarnya sudah terjawab berbagai persoalan seputar gerhana. Nabi Muhammad SAW pernah mengatakan bahwa sesungguhnya matahari dan bulan adalah tanda-tanda kebesaran Allah, keduanya terjadi gerhana bukan karena kematian seseorang dan tidak karena kelahiran seseorang. Gerhana hanya salah satu tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah Ta’ala yang terjadi bukan karena faktor kebetulan apalagi dikaitkan dengan berbagai mitos dan kepercayaan seperti mengaitkan dengan kematian dan kelahiran seseorang atau kemungkinan bencana yang akan terjadi, akan tetapi Gerhana merupakan ketetapan Allah dan semata-mata bagian dari sunnah Kauniah yang merupakan ayat-ayat Allah di alam semesta.

Fenomena gerhana merupakan tanda-tanda dari Allah untuk menakut-nakuti hambanya, sehingga apabila melihat sesuatu dari gerhana umat Islam diajarkan untuk merasa takut dan segera berdzikir kepada Allah dan memohon ampun atas segala khilaf dan dosa. Melalui gerhana Allah telah menunjukkan kekuasaan atas alam semesta tentang bagaimana ia mengatur keteraturan peredaran dalam orbit masing-masing sekian triliun juta benda-benda langit dalam bentangan alam semesta serta bagaimana Allah menjelaskan keberagaman karakteristik benda-benda langit seperti matahari dan bulan yang walau terlihat sama bercahaya tapi hakikatnya berbeda sifat cahaya dan gerakannya (yunus;5).

Gerhana sejatinya memang merupakan salah satu bukti kekuasaan Allah yang meletakkan benda-benda langit seperti matahari, bulan maupun bumi berada pada garis edarnya masing-masing secara konstan dan bergerak berdasarkan perhitungan yang teratur tanpa pernah saling mendahului dan saling melanggar batas-batas ketentuan perhitungan yang telah ditetapkan sehingga berbagai kalkulasi mengenai benda-benda langit bisa didefinisikan, diidentifikasikan atau ditentukan perhitungannya secara eksak oleh manusia.

Sehingga berdasarkan ayat-ayat saintis dan provokatif yang dilontarkan oleh Tuhan mengenai keteraturan pergerakan dan peredaran benda-benda langit dalam bentangan alam serta perintah dan tantangan bagi manusia untuk menembus penjuru langit dengan pengetahuan serta mengamatinya sebagai sebuah perhitungan waktu dan kalender merupakan bukti nyata bahwa Tuhan berada dibalik segala rekayasa alam semesta dan semua rekayasa itu merupakan kenyataan yang terbentang dan dapat didefinisikan melalui ilmu dan pengetahuan manusia.

Sains modern (disiplin keilmuan astronomi dan falak) secara eksplisit dan mendetail telah mampu menjelaskan fenomena gerhana yang sesungguhnya, yaitu sebuah peristiwa ketika cahaya yang datang dari suatu benda langit terhalang oleh benda langit lainnya, dalam istilah astronomi yang paling umum terekam dalam pemantauan adalah gerhana bulan dan gerhana matahari. Gerhana bulan atau gerhana matahari ini terjadi ketika bumi, bulan dan matahari berada dalam kedudukan ijtima’. Dengan kata lain, gerhana terjadi jika bulan terletak pada bidang ekliptika pada titik naik atau turun, jika posisinya tidak terletak pada garis lurus dan sejajar dengan matahari dan bumi maka tidak akan terjadi gerhana. Atau pada kondisi lain ketika bulan berada di antara bumi dan matahari atau bulan berada di perpanjangan garis hubung matahari-bumi, namun lintang ekliptika cukup besar di atas atau di bawah ekliptika, juga tidak akan terjadi gerhana. Gerhana ini secara keseluruhan minimal akan terjadi tiga kali dalam setahun dan maksimal akan terjadi tujuh kali dalam setahun.

Di dalam keindahan ajaran Islam ada tuntunan yang sangat indah saat terjadi gerhana, yang merupakan salah satu peristiwa penting dalam pandangan syariat Islam karena pesan-pesan dari ayat-ayat kauniyah yang disampaikan oleh peredaran bulan dan matahari selain sebagai pedoman perhitungan waktu dan penanggalan juga sebagai sebuah ancaman dan peringatan atas azab kubur. Allah menunjukkan hikmah-hikmah gerhana kepada siapa yang takut dan khusyuk kepada Allah swt dan Nabi saw. Dan di antara tuntunan yang diajarkan dalam Islam adalah bersegera melakukan shalat gerhana yaitu dengan memanjangkan bacaan, dua kali rukuk di setiap rakaat dan memanjangkan ruku’ dan sujudnya.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 7,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Lihat Juga

Warga Damar, Beltim, Winda memakai kacamata gerhana. (tribunnews)

Penjual Kacamata Gerhana Matahari Raup Ratusan Juta Rupiah

Organization