Home / Berita / Opini / Sekolah itu Pasar, Refleksi Hari Pendidikan Nasional

Sekolah itu Pasar, Refleksi Hari Pendidikan Nasional

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

sekolah-miskin1dakwatuna.com – Dewasa ini tak bisa dipungkiri lagi, kita sulit membedakan antara dunia pendidikan dan dunia bisnis. Seolah-olah dunia pendidikan yang semestinya adalah sebagai tempat para pembelajar untuk menimba ilmu terusik dengan adanya praktek-praktek bisnis didalamnya. Inilah yang seolah-olah menyebabkan sekolah itu mahal. Praktek-praktek ini seakan-akan sudah legal atau justru “dilegalkan” karena tindakan-tindakan semacam ini seringkali dianggap biasa oleh khalayak umum. Banyak siswa ataupun orang tua siswa yang menganggap hal-hal itu adalah hal yang lumrah dan memang tidak begitu mereka permasalahan. Asal mereka bisa masuk dan survive di sekolah yang mungkin ia anggap favorit Mereka baru akan terhenyak sadar setelah pihak sekolah bertindak lebih jauh.Perlu dipahami, penulis tidak bermaksud menjustifikasi keseluruhan dari sekolah-sekolah yang ada pasti melakukan tindakan-tindakan itu, namun yang dimaksud hanyalah sekolah-sekolah tertentu yang memang melakukan tindakan-tindakan pengkomersilan pendidikan.

Tindakan “mencari” uang di ladang basah sekolah ini berdasarkan tingkat keparahannya bisa diklasifikasikan dalam 3 fase diantaranya adalah :

1. Sebatas Menawarkan

Dalam fase ini, sekolah hanya sebatas menawarkan barang kepada muridnya, misalkan saja untuk menunjang proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), adakalannya sekolah menawarkan buku yang digunakan sebagai acuan dalam KBM, para siswa bisa membeli lewat sekolah. Pada konteks semacam ini, masih dalam koridor yang aman dan diperbolehkan. Hal ini karena sekolah belum membuat sebuah tekanan ataupun sebuah keharusan untuk membeli buku di sekolah.

2. Merekomendasikan

Sudah memasuki pada tingkatan yang lebih “percaya diri” lagi. Biasannya sekolah sudah berhasil dalam fase yang pertama, sehingga tumbuh kepercayaan diri untuk bisa berbuat banyak lagi. Berbekal itulah beliau mulai berani merekomendasikan kepada muridnya untuk ikut menyukseskan usaha bisnisnya. Misalkan ada anjuran dari kepala sekolah untuk membeli seragam sekolah di sekolah. Kalau sudah seperti ini sudah ada indikasi kearah pemaksaan. Kondisi inilah yang seharusnya para orang tua wali sudah harus peka dan kritis serta mulai melakukan tindakan preventif.

3. Berani Memaksa/ Mengharuskan

Inilah kondisi klimaks dari kediktatoran sekolah. Menganggap bahwa mereka bisa bertindak semau mereka sendiri. Ini akibat dari para siswa dan orang tua yang memang sejak awal patuh “sami`na waatho`na” kepada perintah dari sekolah. Sehingga seolah-olah apa yang selama ini dilakukan oleh sekolah itu memang diizinkan oleh orang tua wali.

Dari ketiga fase diatas, satu hal yang harus digarisbawahi adalah “Proses Pembiaran” yang berkelanjutan akan mereduksi ketakutan dari pihak sekolah. Ini merupakan dampak implikasi dari pengawasan yang kurang. Inilah yang dirasakan oleh oknum-oknum guru yang berjiwa bussinesman itu, mereka menganggap adanya dukungan yang divisualisasikan dalam tindakan pembiaran ini, sehingga tentunya dia tidak risau bahkan akan semakin berbuat lebih, lebih, dan lebih. Memang harus diakui tindakan ini tidak lain tidak bukan adalah sebuah proses komersialisasi pendidikan. Pendidikan yang seharusnya memang dianugerahkan kepada rakyat secara benar-benar totalitas, terkadang justru kontraproduktif terhadap kebijakan yang ada. Disatu sisi Pemerintah menggembor-gemborkan sekolah gratis. Akan tetapi prakteknya dilapangan nihil. Pungutan liar saat awal masuk, uang seragam, uang buku, dll . Sadar atau tidak sadar, hal-hal semacam itu meruakan ladang basah bagi para oknum guru yang berorientasi kepada bisnis dan profit semata. Mereka tidak memandang lagi dimana mereka berbisnis itu, proses transfer ilmu di sekolah boleh jadi justru sekarang lebih didominasi oleh transfer uang untuk sebuah kebutuhan-kebutuhan sekolah. Jika sudah sampai pada posisi semacam ini kita akan sulit membedakan yang mana sekolah dengan yang mana pasar.

 

Oleh karena itu perlu adanya sebua upaya preventif untuk mencegah fenomena adanya “transformasi” sekolah menjadi pasar. Monitoring adalah sebuah solusi yang tepat untuk mengatasi itu semua. Permasalahan seperti itu bisa terjadi jika tidak adanya fungsi pengawasan dari siswa, orang tua wali, ataupun dari instansi-instansi terkait yang memang memiliki kewenangan untuk itu. Sehingga ke-digdaya-an sekolah akan semakin menjadi-jadi karena memang faktanya mereka seolah-olah tidak ada yang mengawasi. Fungsi monitoring ini harus dilakukan oleh segala pihak, secara internal sekolah mulai dari siswa, orang tua wali, dan tentunya pihak dewan sekolah. Harapannya pihak-pihak itu kritis akan permasalahan yang ada di sekolah, sekecil apapun itu permasalahannya. Kemudian secara eksternal, perlu adanya monitoring dari instansi-instansi yang notabene membawahi sekolah-sekolah, seperti UPT PPD ditingkat kecamatan ataupun Dinas Pendidikan ditingkat kota/kabupaten. Instansi-instansi kedinasan semacam itu bisa membuat sebuah regulasi ataupun kebijakan yang solutif dan yang terpenting mereka juga harus mengawalnya dengan melakukan fungsi pengawasan terhadap kebijakan yang mereka terapkan. Dengan catatan fungsi monitoring dari pihak-pihak baik internal maupun eksternal itu tidak mempunyai maksud untuk mengerdilkan kewenangan sekolah. Namun hanya sebatas memonitoring agar sekolah-sekolah tidak melakukan kebijakan-kebijakan yang berbau profit oriented tapi justru kebijakan untuk kepentingan bersama dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 5,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Phisca Aditya Rosyady
Mahasiswa Master di Departement Computer Science and Engineering di Seoul National University of Science And Technology, Korea. Lahir di Yogyakarta, 31 Agustus 1991. Anak kedua dari tiga bersaudara. Mempunyai hobi di dunia jurnalistik, elektronika dan instrumentasi. Beberapa kali menjuari lomba blog dan karya tulis. Pernah menulis buku "Kami di antara Mereka", Buku " Inspirasi Gadjah Mada untuk Indonesia dan semasa SMA pernah menulis Buku "1000 Anak Bangsa Bercerita Tentang Perbedaan bersama para alumni Program Pertukaran Pelajar Jogja lainnya. Mahasiswa yang juga pernah menjadi santri PPSDMS Nurul Fikri ini aktif di beberapa organisasi seperti di HMEI, IMM Al Khawarizmi UGM, IPM Imogiri, dan BPPM Balairung. Juga menggeluti riset tentang UAV di Tim Quadcopter Elins. Tahun 2011 bersama empat temannya, berhasil membuat System Body Ideal Analyzer melalui PKM-T yang berhasil didanai Dikti. Phisca pernah menjadi Mahasiswa Berprestasi FMIPA dan juga mendapatkan Anugerah Insan Berprestasi dalam rangka Dies ke-63 UGM dan Dies ke-64 UGM. Sebelum Ia melanjutkan kuliah S-2 nya, Phisca 8 bulan bekerja di salah satu anak perusahaan Astra International di bidang IT consultant sebagai programmer.

Lihat Juga

Ilustrasi. (huffingtonpost.com)

Pesan Ibu untuk Sang Anak, Ikut Aksi 4 November