Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Cahaya vs Kegelapan

Cahaya vs Kegelapan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

kegelapandakwatuna.com – Allah SWT `membuat perumpamaan-perumpamaan yang sangat indah di dalam al-qur’an agar mudah bagi kita untuk memahami hikmah yang terkandung di dalamnya. Pada surah An-Nuur ayat ke-35 Allah SWT membuat perumpamaan akan peran al-qur’an sebagai cahaya (nur Ilahi) bagi seluruh alam.

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (TQS. An-Nuur : 35)

Cahaya di atas cahaya

Allah SWT pemberi cahaya kepada langit dan bumi. Cahayanya melintasi ruang dan waktu. Perumpamaan yang digambarkan dalam ayat al-qur’an diatas menjelaskan kepada kita semua bahwa cahaya Allah adalah “cahaya super” terang benderang. Ibarat sebuah lentera minyak, ia memiliki tiga komponen yakni : lentera, minyak dan api. Coba bayangkan, lenteranya terlihat terlihat elok. Kaca penutup lenteranya saja berkilauan bak mutiara yang seakan-akan seperti bintang yang mengeluarkan cahaya. Di tambah dengan minyaknya merupakan minyak terbaik yang walaupun tidak tersentuh api minyak tersebut hampir-hampir menerangi. Dan tatkala lentera ini dinyalakan sudah tentulah menghasilkan api yang akan menerangi dengan cahaya supernya itu. Inilah perumpamaan cahaya Allah. Cahaya yang terbaik dari sumber yang terbaik (minyak) dan dengan media penyampaian yang baik pula (lentera) manghasilkan cahaya yang terbaik, yakni cahaya di atas cahaya (api) kepada seluruh alam semesta.

Beberapa hari yang lalu kita kembali sering mendengar kata-kata, “habis gelap terbitlah terang”. Kalimat yang tercipta dari lisan seorang wanita, Kartini. Inilah perumpamaan ilmu pengetahuan. Ia bagaikan cahaya dalam kegelapan. Coba perhatikan ketika suatu keadaan gelap dan cahaya datang, apakah dapat kegelapan melawan cahaya ? Tidak, kegelapan tidak dapat melawan cahaya. Kegelapan kan sirna ketika cahaya datang. Cahaya itu yang akan menyingkirkan kegelapan. Dan ketika cahaya datang kita dapat melihat sekeliling kita dengan sangat jelas. Mata kita sebelumnya tak mampu melihat apa-apa yang berada di sekeliling. Namun tatkala cahaya itu datang, segala sesuatu yang berada disekitar kita pun dapat terlihat akhirnya kita dapat melakukan banyak hal atas karunia cahaya itu. Itulah ilmu pengetahuan bagaikan cahaya dan kegelapan adalah kebodohan. Tatkala kegelapan menggelayuti disetiap sisi kehidupan manusia, maka segala sesuatu tak dapat terlihat. Bahkan kebaikan pun tak terlihat baik oleh siapapun yang berada didalam kegelapan itu. Karena itulah Allah SWT memerintahkan kepada Rasulullah SAW untuk membaca (iqra’) dalam firman yang pertama kali turun. Karena ilmu adalah cahaya dan cahaya akan menyingkirkan kegelapan. memang seperti itulah adanya, seluruh ummat manusia harus mulai mentransformasi diri dari kebodohan menuju cahaya. Sebagai ummat muslim jadilah kita orang yang mencintai ilmu, dan menjadi orang yang selalu hausan akan ilmu pengetahuan. Jadilah kamu (1) orang pandai (dan mengajar), jika tidak bisa maka jadilah (2) murid, jika tidak maka jadilah (3) pendengar yang baik, jika mendengar pun tidak sempat, jadilah (4) orang yang mencintai ilmu. Dan sekali-kali jangan menjadi orang yang ke lima. Tidak pintar, tidak mau belajar, tidak mau mendengar dan tidak suka ilmu. Jadilah kita para pemburu ilmu. Dan pada akhirnya hidup ini pun terang, diterangi cahaya islam menuju sang sumber (pemberi cahaya) di syurga-Nya kelak, amien. Wallahu’alam bi ash-shawab.

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Universitas Mulawarman, Samarinda, Kalimantan Timur.

Lihat Juga

(Video) Perempuan Cahaya dalam Film “Ketika Mas Gagah Pergi”

Organization