Home / Narasi Islam / Resensi Buku / The Lost Java

The Lost Java

Cover buku “The Lost Java”Judul Buku : The Lost Java
Penulis : Kun Geia
Penerbit : IG Press
Cetakan : Juni 2012
Tebal : xvi + 363 halaman

dakwatuna.com – Menghidupkan Keterbatasan

Seperti Habiburrahman El-Shirazy dan penulis novel lainnya, Kun Geia telah memilih kisah cinta yang begitu romantis untuk dituliskan. Sebuah tulisan yang banyak diminati oleh pembaca, pengharapan Happy Ending dalam perjalanan kisahnya. Sebab bahagia itu selalu dinanti oleh setiap manusia, dan disinilah letak perbedaan novel yang ditulis Kun Geia.

Dengan kisah cinta antara ibu kepada anak, perjuangan cinta ayah kepada keluarga dan kisah cinta seorang laki-laki kepada perempuan yang diyakini adalah tulang rusuknya.

Kisah romatis yang dibalut dengan kesederhanaan cinta sebelum halal tentu menjadi hal menarik untuk dituliskan. Banyak penulis yang mengisahkannya seperti Habiburrahman El-Shirazy yang terkenal dengan novel-novel cintanya. Begitu pula dengan Kun Geia yang menghadirkan kisah cinta yang sangat romantis namun diimbangi dengan perjalanan Gia yang hidup dengan perjuangan yang sangat keras, baik untuk dirinya maupun untuk dunia.

Yang menjadi menarik dari The Lost Java, kisah romantis tidak terasa diawal saat membaca. Karena novel karangan Kun Geia ini memilih alur mundur maju, sehingga perjalanan tokohnya yaitu seorang Gia yang lemah namun memiliki kecerdasan spiritual, intelektual dan emosional yang baik sehingga sosok Gia menjadi idaman bagi perempuan.

Dalam buku The Lost Java ini Kun Geia sebagai penulis mencoba mengajak pembaca untuk menelusuri bumi ini dengan segala mara bahaya, cuaca dinginnya, bahaya yang akan menimpa jika kita lengah dalam sebuah penelitian, karena nyawa menjadi taruhannya. Novel Kun Geia ini menceritakan fiksi ilmiah dengan segala keanehan bahasanya (ilmiah). Akan tetapi dari sinilah pembaca bisa belajar banyak mengenai bahasa ilmiahnya.

Memantapkan tujuan hidup di dunia, akankah menjadi orang berarti atau hanya hidup tanpa nurani, menjadi sebuah pilihan dengan kondisi zaman serta bumi yang semakin memburuk. Mengadu nasib dengan rasa bertanggung jawab sebagai warga negara Indonesia dan sebagai seorang Muslim yang beriman.

Perjalanan Gia penuh konflik, baik konflik pribadi, keluarga maupun dengan teman-temannya. Suatu gambaran nyata dalam kehidupan ini, kisah romantis Gia dengan Husna menjadi bukti nyata bahwa manusia membutuhkan pendamping dalam setiap kondisi, sebagai pendukung dan penyeimbang langkah.

Gambaran konspirasi kaum zionis dengan kaum Muslim menjadi tamparan besar bagi pembaca. Novel ini sangat menginspirasi kita untuk memberikan kontribusi dan pembuktian yang jelas untuk dunia, apalagi bagi umat Islam dalam novel ini dibuktikan bahwa seorang ilmuan Muslim mampu berkontribusi, dan bermanfaat bagi dunia.

Disetiap paragrafnya Kun Geia mampu memberikan ilmu-ilmu baru terlihat dari bahasa baru yang dimunculkan. Meski bahasa tersebut sangat membuat rumit ketika membaca akan tetapi menimbulkan rasa penasaran. Dihadirkannya nila-nilai Islam disetiap jejak kehidupan tokoh-tokohnya.

Dalam buku ini, pembaca akan belajar bagaimana teman kerja bisa menjadi kerabat dekat seperti terlihat dari kedekatan Deni, Riyadi dan Wahyu, sampai akhirnya persahaban mereka terpisahkan karena maut dalam perjuangan. Pembaca akan belajar menerima pemberian Tuhan dalam segala hal termasuk anak, bagaimana pun kondisi anak yang seorang ibu lahirkan sesungguhnya mereka adalah titipan, kita hanya mampu berusaha.

Seperti dalam novel ini yang menceitakan Gia cacat dari lahir yaitu lemah dan keterbatasan jantung yang dimiliki sehingga harus menjalani transpalasi. Ibunya hanya berharap dalam do’a “Izinkan anakku hidup lebih lama. Biarkan ia beranjak dewasa. Beri ia kesempatan untuk membuat dunia bangga dengan karya-karyanya, ku mohon…”

Permohonan seorang Ibu kepada anaknya dengan cepat tercatat dalam do’a orang-orang baik. Tak sedikit pun ibu meminta balasan, sehingga Gia tumbuh dewasa menjadi sosok ilmuan muda yang ahli dalam dunia luar angkasa, pilot yang cerdas spiritual, intelektual dan emosional yang baik.

Sungguh dunia ini penuh ujian, jika saja kita terlena dan terpedaya maka kita akan seperti mereka yang menyamakan halal dan haram tanpa ada batas. Namun dalam novel ini banyak sekali gambaran dunia saat ini dalam urusan mempertahankan identititas Islam dalam kehidupan sehari-hari yang saat ini memang sudah dianggap biasa, seperti contohnya saja saat Joda mengulurkan tangan untuk bersalaman kepada Gia dan Gia hanya membalas dengan senyuman.

Hal yang lumrah pada zaman modern ini, akan tetapi sesungguhnya salah, dalam novel ini kembali diingatkan. Bersikap ramah terhadap orang yang baru kita kenal, dalam novel ini digambarkan. Sungguh detail novel ini menggambarkan kondisi dunia saat ini, mengenai rasa egois yang banyak ditemukan dalam individu.

Buku Thel Lost Java ini memberikan jawabannya, disaat kita dalam kondisi sempit maka kita harus tetap memikirkan orang-orang di sekeliling kita. Seperti saat Gia dan Rio yang sudah dalam kondisi bahaya di puncak Vinson Massiv, Gia melihat kondisi Rio yang sudah tidak bernyawa akan tetapi Gia tidak dapat meninggalkan jasad Rio begitu saja. Sampai akhirnya Gia mengingat kekasih yang sudah menjadi isterinya yaitu Husna, ia berjanji untuk kembali, oleh karena itu Gia mencoba mengikhlaskan kepergian Rio setelah itu menyolatkan jenazah Rio dan mendo’akannya.

Sungguh keadaan yang sangat menyedihkan dan membingungkan. Keegoisan Gia bukan semata tidak ingin bersama. akan tetapi ada hal dan orang-orang yang sudah ia janjikan agar ia kembali dengan selamat. Pelajaran yang sangat berharga bagi umat Islam dalam meniti jalan kebenaran.

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswa Jurnalistik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Lihat Juga

Mengapa Suami Cenderung Tidak Romantis di Mata Istri?