20:32 - Selasa, 21 Oktober 2014

Tergesernya Ideologi sebagai ‘Bahan Jualan’ Partai Politik di Indonesia

Rubrik: Opini | Kontributor: Sofah Dwi Aristiawan - 08/05/13 | 16:26 | 28 Jumada al-Thanni 1434 H

ideology_thumbBanyak orang mengatakan bahwa tahun 2013 adalah tahun politik. Berangkat dari kalimat tersebut penulis membuat tulisan ini.

dakwatuna.com – Ideologi diterjemahkan sebagai sebuah pandangan. Pandangan subjek terhadap objek. Subjeknya biasanya berjumlah lebih dari dua orang. Maka tidak heran jika pandangan subjek yang berbeda-beda terhadap objek yang sama hasilnya pun berbeda. Itu yang dinamakan persepsi ideologi. Seperti dua ideologi yang menjadi musuh bebuyutan sejak munculnya ideologi tersebut, liberalisme dan komunisme. Kedua ideologi tersebut membicarakan point yang berbeda mengenai apa yang ditawarkan dalam hidup. Ibarat sebuah novel, ideologi memainkan perannya sebagai tema dalam cerita novel tersebut.

Sejarah

Ideologi merambah dunia politik. Berbicara politik, maka di dalamnya ada yang namanaya partai politik. Indonesia adalah sebuah negara dengan tingkat kemajemukan tinggi, beragam ideologi ada dan turut meramaikan memikat hati masyarakat Indonesia sejak era-modern, Hindia Belanda. Politik dengan partai politiknya mulai ada sejak diikrarkannya Sumpah Pemuda pada tahun 1928. Meski masih dalam bentuk sebuah organisasi massa, namun perlu dicatat ini menjadi embrio perpolitikan di Indonesia ke depannya. Embrio itu tumbuh menjadi janin partai politik pra-kemerdekaan Indonesia dengan tingkat perkembangan tinggi, seperti PNI (Partai Nasional Indonesia) dengan ideologi nasionalisnya, MIAI (Majelis Islam ‘Ala Indonesia) dengan ideologi islamnya, PKI (Partai Komunis Indonesia) dengan ideologi komunisnya, dll. Janin itu lahir saat diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia. Perpolitikan Indonesia tumbuh subur saat dikeluarkannya maklumat Wakil Presiden no. X yang salah satu isinya mengisyaratkan dibukanya kran kebebasan membentuk partai politik. PKI memainkan perannya di era ini. Aroma ideologi begitu kental di era ini, mulai dari ekstrimis kanan hingga ekstrimis kiri. Ini terbukti ketika pemilu legislatif dan konstituante pada tahun 1955 dengan masuknya 4 besar partai politik pemenang membawa nafas yang berbeda, PNI, Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia), Nahdlatul Ulama, dan PKI.

Ideologi adalah otaknya partai politik, karena dari sana muncul gagasan-gagasan yang berkoresponden dengan ideologi yang dianut partai politik itu. Era pacsa-proklamasi kemerdekaan muncul berbagai partai politik dengan ideologi sebagai bahan jualan hingga era orde baru, Soeharto. Di eranya, Soeharto mengelompokkan partai-partai politik dengan ideologi yang hampir sama, PDI (Partai Demokrasi Indonesia) dengan nasionalisnya, PPP (Partai Persatuan Pembangunan) dengan islamnya, dan Golkar (Golongan Karya) sebagai representasi PNS (Pegawai Negeri Sipil). Masyarakat Indonesia memilih partai politiknya atas dasar ideologi, terlepas dari intrik politik di era ini. Ideologi menjadi daging segar untuk diperjualbelikan dalam dunia perpolitikan di Indonesia.

Titik balik dunia perpolitikan di Indonesia

Orde barunya Soeharto telah usai beserta sistem yang diterapkannya. Kran reformasi dibuka dengan sistem yang jelas tampak berbeda, baik sistem politiknya maupun sistem sosial masyarakat Indonesia. Begitu luas dampak reformasi ini. Trauma akan era orde baru mengakibatkan kecenderungan masyarakat Indonesia dalam memilih partai politik menjadi berbeda, yang berdampak pula pada bergesernya ideologi sebagai bahan jualan partai politik. Partai politik pun mulai merubah pola jualan mereka. Akuntabilitas, transparansi, keterbukaan, dan integritas menjadi harga yang lebih mahal ketimbang berjualan ideologi. PDI-P (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan) yang terlihat kokoh dengan ideologinya sebagai pewaris perjuangan terdahulunya, PNI harus menomorsekiankan sisi ideologi dalam prosesi jualbelinya. Layaknya PDI-P, partai politik lainnya pun mulai berlomba-lomba menjaga dan menumbuhkan sisi positif dari kacamata masyarakat Indonesia dengan mengangkat visi, misi, program kerja, kader yang baik, SOP, dan dibalut ideologi. Hal ini terbukti dengan hasil pemilu legislatif pada tahun 2009 dimana Partai Demokrat memenangkan pesta demokrasi tersebut dengan sedikit membawa nafas ideologi. Golkar, PDI-P, PKS (Partai Keadilan Sejahtera) menempati posisi dibelakang Partai Demokrat.

Anomali PKS

Ada hal menarik bagi penulis perihal ini, yaitu kehadiran PKS dimana secara gambaran umum dan kacamata orang awam merupakan partai yang masih mengakar kuat akan ideologinya, ketimbang partai politik lain yang mulai terbawa arus perubahan bahan jualan. Proses kaderisasi anggota baru dalam tubuh PKS bisa dibilang sukses dimana sebagian banyak pengamat politik mengatakan PKS sebagai Partai Kader. Ini terbukti ketika PKS tertimpa kasus yang bisa dibilang besar, dimana menyeret langsung pimpinan mereka, Luthfi Hasan Ishaaq (presiden PKS periode 2010-2015). Terlepas dari intrik politik di dalamnya. Tidak butuh waktu lama untuk mencari pemimpin PKS yang baru dan tidak banyak pula keluhan kader-kader PKS di seluruh Indonesia. Ini membuktikan bahwa proses kaderisasi yang sukses dimana mindset para kader PKS dibangun atas dasar ideologi yang kuat dan mengakar, dan tidak berada pada ruang figuritas pemimpin. Anomali pun terjadi dengan semakin banyaknya masyarakat yang bergabung dan menjadi kader PKS selepas adanya kasus tersebut, seperti yang terjadi di Banda Aceh, lebih dari 1.000 kader PKS baru yang direkrut sejak terjadinya kasus yang menimpa pimpinan PKS, Luthfi Hasan Ishaaq.

Segala hal ada sisi positif dan negatifnya, begitu pun hal ini. Masyarakat Indonesia mulai beranjak dari sisi tradisional ke arah transisi menuju masyarakat madani. Partai politik mulai giat mengkampanyekan ‘Kami partai yang memiliki akuntabilitas, transparansi, keterbukaan, dan integritas tinggi!!!’ bukan hanya sekedar ‘Kami partai yang berpandangan sama dengan anda!!!’. Penulis berharap budaya ini baik ke depannya untuk dunia perpolitikan di Indonesia agar bersama-sama membangun Indonesia dengan semangat akuntabilitas, transparansi, keterbukaan, dan integritas di dalamnya dengan tidak meninggalkan akar ideologinya.

 

Tentang Sofah Dwi Aristiawan

Saya seorang muslim dari keluarga muslim yang menuntut ilmu di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Padjadjaran. Selain suka menulis dan membaca, saya pun berusaha aktif di organisasi intern… [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Aisyah

Topik:

Keyword: , , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (Belum ada nilai)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
73 queries in 2,335 seconds.