Home / Narasi Islam / Dakwah / Kunci Apa Di balik Keberhasilan Tarbiyah Rasulullah SAW?

Kunci Apa Di balik Keberhasilan Tarbiyah Rasulullah SAW?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

tarbiyahdakwatuna.com Seperti yang kita ketahui bersama, Rasulullah Saw hamba terbaik dalam mewarnai kehidupan dengan nilai-nilai hidup yang dibiaskan nama-nama Allah (Asmaul Husna). Dengan corak kehidupan nabawi ini, dunia ibadah dan dinamika akhlak sosial lebih hidup dan bermakna.

Olehnya itu, Rasulullah Saw tegak berdiri di garis depan pendidikan memegang kemudi umat dengan baiknya ke puncak peradaban yang dibangun atas dasar akhlak mulia dan sokongan kerja keras. Di sini, Rasulullah Saw penerjemah terbaik makna tarbiyah dari kata (الرَّب) dalam menabur hikmah-hikmah mulia dan filsafat hidup yang mampu menghantam dinding kebodohan yang menghambat laju kereta peradaban umat ini, seperti yang ditegaskan langsung ayat surah Al-Qalam [68]: 4:

?وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ?.

Dan karena tarbiyah Rasulullah Saw bermuara dari keagungan nama ini,( ) generasi-generasi Islam, khususnya tiga generasi Islam pertama, memancarkan kilauan keindahan tarbiyah tersebut dan menjadi obor kehidupan bagi mereka yang ingin mengambil tongkat estafet perjuangan umat.

Yang menarik juga, kemampuan bina yang dimiliki Rasulullah Saw dalam menciptakan generasi-generasi pemimpin dari kalangan menengah ke bawah. Abdullah bin Mas’ud, dari seorang pengembala kambing Uqbah bin Abi Muaeth( ) ke kursi guru besar madrasah Kufa yang menghasilkan ulama-ulama papan atas, seperti Alqama, hammad, At-Tsawri, Abu hanifa.

Thariq bin Ziyad (w. 102 H/720 M)( ) dari seorang hamba menjadi pemimpin laskar jihad Islam yang berhasil menaklukkan zona pertahanan musuh di pelbagai kota-kota besar di Spanyol, seperti: Andalusia, Sevilla, Malaga, Qordoba, Medina Celi, Saragosa, dan Valencia. Keberhasilan itu datang dari kesadaran jihad mereka yang memahami arti perjuangan dan arti mati syahid demi meninggikan kalimat Allah. Ziyad yang memimpin 12.000 pasukan membakar perahunya dan loncat ke medan laga seperti singa menghadapi 90.000-100.00 tentara salib. Dengan percaya diri dia berkata: “Wahai pasukanku, apakah di sana ada tempat keselamatan? Laut di belakang kalian dan musuh di depan mata. Demi Allah, tidak ada bagi kalian kecuali sabar dan teguh, ketahuilah! Sesungguhnya kalian di daratan ini lebih berpeluang mati syahid ditelan musuh dari anak yatim yang dicaci maki.” Pertempuran pun dimenangkan Thariq. Selanjutnya, dia mendatangi istana Toledo yang dipenuhi harta kerajaan dan berkata kepada dirinya sendiri: “Wahai Thariq! Sesungguhnya engkau sebelumnya seorang hamba, kemudian Allah merdekakan Anda dan menjadikanmu seorang pemimpin, dan memenangkan Anda sehingga kamu berhasil menaklukkan Andalusia. Sekarang, Anda di istana raja, tetapi jangan lupa, besok Anda akan berada di hadapan Allah!””( )

Di samping itu, kehebatan Rasulullah Saw merubah tatanam akhlak sosial dalam kurun waktu 23 tahun, mengangkat Arab jahiliah dari kehidupan yang dikotori kebodohan, dekadensi akhlak, dan kegelapan hati yang menutupi semua sendi kehidupan, menuju ke dunia yang lebih beradab, dunia Islam yang mengenalkan hakikat kehidupan, ketuhanan, dan kehambaan, sehingga tidak ada satu pun dari akhlak jahiliah kecuali diangkat dan diganti dengan akhlak mulia. Olehnya itu, tidak ada satu pun keberhasilan tarbiyah manusia yang mampu menandingi apa yang telah dicapai Rasulullah Saw dalam mendidik umat. Tentunya, ini terhitung kemukjizatan tersendiri terhadap pribadi didik Rasulullah Saw yang melebihi batas kemampuan seorang manusia.( )

Sejak ruh Islam telah mengalir dalam diri mereka, khususnya ruh Islam yang menyelimuti kehidupan masyarakat Islam di Madinah, mereka seperti terlindungi oleh benteng keimanan dan perisai ketaqwaan dari akhlak-akhlak buruk yang pernah mereka kenal di kehidupan Mekah, seperti: minum khamar, berzina, judi. Dengan Islam, tidak pernah lagi terdengar ada pelanggaran norma-norma agama dari mereka, kecuali dapat dihitung jari.

Perbuatan zina yang mencoreng muka mereka di zaman Jahiliah nyaris tidak terdengar lagi di kehidupan Madinah. Aib masyarakat yang sulit dituturkan (seandainya saja ini bukan penegas terhadap keberhasilan dakwah dan tarbiyah Rasulullah Saw dalam mengangkat cacat akhlak ini dari kehidupan masyarakat Islam Maidnah, penulis tidak menyebutkannya), seperti yang yang dibeberkan Sayyidah Aisyah R.A berikut ini:

Nikah Jahiliah ada 4 macam:

Pertama: nikah manusia seperti saat sekarang, pengantin lelaki terlebih dahulu melamar, memberi mahar, dan menikahi pengantin perempuan.

Kedua: seorang suami berkata kepada istrinya yang suci dari haid: “Datangilah si fulan (yang berketurunan ningrat, punya garis keturunan yang baik), dan izinkan dirinya menggaulimu!” Kemudian, istrinya dijauhi, tidak digauli, hingga dia hamil dari lelaki tersebut, dan suaminya pun sudah bisa menggaulinya. Mereka melakukan nikah seperti ini demi mendapatkan keturunan yang baik.

Ketiga: sejumlah laki-laki (1-9 orang) mendatangi secara bersama-sama seorang perempuan dan menggaulinya, jika dia telah hamil dan melahirkan, dia pun meminta mereka datang menemuinya setelah beberapa hari dari hari kelahiran dan berkata: “Anda pasti telah mengetahui tujuan panggilan saya, wahai fulan, anak ini anakmu.” Dia bebas menunjuk siapa pun dari mereka yang ingin diangkat olehnya sebagai bapak dari anak tersebut, dan yang ditunjuk tidak dapat mengelak atau menolak.

Keempat: seorang perempuan yang tidak pernah memberikan penolakan kepada siapa pun yang mendatanginya. Di depan rumahnya berdiri bendera khusus sebagai tanda kepada siapa saja yang ingin menghampirinya. Jika dia hamil dan telah melahirkan, bapak dari anak ini adalah yang paling mirip dengannya dari lelaki yang pernah menggaulinya.( )

Olehnya itu, di saat Rasulullah Saw mendengar pengakuan seorang sahabat melakukan zina, dia pun menghindarinya, seperti tidak percaya dengan apa yang didengar, kecuali setelah sahabat tersebut memberikan pengakuan yang kedua kalinya dan bersumpah 4 kali atas kebenaran ucapannya. Dengan pengakuan dan kesaksian itu Rasulullah Saw merajamnya.( )

Di kejadian serupa, seorang perempuan hamil dari Juhayna mengakui perbuatan zinanya di hadapan Rasulullah Saw. Hukum rajam tidak langsung dijatuhkan, kecuali perempuan ini telah melahirkan, dan selama masa hamilnya Rasulullah Saw memerintahkan keluarganya memberikan perhatian penuh terhadapnya ia pun menangguhkan hukum rajam terhadapnya hingga ia melahirkan dan memerintahkan keluarganya memeberikan perhatian dan penjagaan penuh. Setelah dirajam Rasulullah Saw menshalatinya dan berkata kepada Umar R.A yang enggan ikut serta shalat jenazah: “Sesungguhnya perempuan ini telah taubat dengan taubat yang benar. Seandainya saja taubatnya dibagi-bagikan ketuju puluh penduduk Madinah (menutupi dosa mereka), taubatnya itu pasti mencukupi mereka. Apakah Anda, wahai Umar mendapatkan taubat yang lebih baik dari ini, taubat yang mengakui kesalahan yang pernah dilakukan dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah?”( )

Yang perlu digarisbawahi, pengakuan mereka dari perbuatan keji ini yang disertai penyesalan dan taubat. Olehnya itu, meskipun benteng keimanan dan perisai takwa mereka telah terbobol, tetapi dengan kesadaran iman, mental mereka siap memberikan pengakuan dan menerima hukum rajam yang digariskan syariat.

Adakah dari mereka yang jatuh di lembah yang sama siap memberikan pengakuan seperti ini? Jika pun ada, apakah mental mereka siap dirajam. Yah, jarang sekali kita menjumpai kejujuran hati dan kesiapan mental seperti yang digambarkan kedua hadits di atas, kecuali yang dirahmati Allah.

Yang menjadi pertanyaan: kunci apa di balik keberhasilan tarbiyah Rasulullah Saw yang membuat mereka dengan begitu cepatnya menanggalkan perbuatan buruk seperti ini dari jubah keislaman mereka?

Di antara kunci-kunci keberhasilan tersebut:

a. Menuntun mereka menuju kehidupan yang berorientasi ukhrawi

Mini tarbiyah berawal di keluarga. Keluarga yang anggotanya terdidik dengan baik akan melahirkan generasi yang kebal dari pengaruh negatif lingkungan. Mereka punya vaksinasi maknawi seperti perisai yang setiap saat siap memberikan perlindungan. Rasulullah Saw pun seperti itu, dia memberikan perhatian penuh terhadap keluarganya sehingga dapat menjadi teladan umat Islam.

Wahai saudara! Siapa di antara kita yang sejak awal menempa dan menaungi anak-anak mereka dengan nuansa ukhrawi, meskipun mereka dalam kehangatan sanak keluarga yang tulus menemani dan menikmati setiap canda dan tawa? Kebanyakan dari kita lupa dengan situasi seperti ini untuk mengisi kejiwaan mereka dengan petuah-petuah kehidupan yang berguna dan semangat juang yang islami.

Kenapa kita tidak mengikuti Rasulullah Saw? “Meskipun beliau sedang mencurahkan kasih sayang kepada anak dan cucunya, akan tetapi itu tidak membuatnya lupa menuntun mereka untuk mendekatkan diri lebih dini ke kehidupan ukhrawi dan berpikir positif dalam melihat kehidupan. Meskipun Rasulullah Saw merangkul mereka ke dadanya, menebar senyum, dan canda yang membuat suasana mereka lebih hidup, tetapi di waktu yang sama perhatiannya tidak pernah luput dari kelalaian mereka tentang urusan-urusan ukhrawi. Di sini, dia memperlihatkan kepada mereka ketegasan, perhatian penuh, dan kesungguhan dalam menjalankan misi tarbiyah dan menjaga kedekatannya dengan Allah SWT. Meskipun Rasulullah Saw memberikan mereka kebebasan mencari mata pencaharian yang layak selaku manusia, tetapi dia tidak pernah membiarkan mereka hanyut dalam kelalaian yang meremehkan makna-makna kehidupan. Dia berusaha dengan sekuat tenaga dan penuh ketelitian untuk menjaga mereka dari dekadensi moral dengan menciptakan nuansa-nuansa ukhrawi yang kental. Kehidupan yang mengenalkan mereka jalan hidup islami yang jauh dari kekerasan dan kelalaian, jalan hidup yang lurus.”( )

Bahasa cinta nabawi ini dalam mendidik keluarga dicerminkan hadits Anas bin Malik R.A:

(مَا رَأَيْتُ أَحَدًا كَانَ أَرْحَمَ بِالعِيَالِ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ ?)( ).

Di antara bahasa-bahasa cinta nabawi ini perhatian dan kasih sayang Rasulullah Saw terhadap Sayyidah Fatimah R.A. Ia berdiri menyambut kedatangan Fatimah R.A tiap kali datang menjenguknya, mengambil tangannya, duduk di sisinya, menanyakan kondisinya, menghembuskan kesejukan bahasa cinta terhadapnya, dan berdiri melepasnya dengan lemah lembut. ( )

Sayyidah Fatimah R.A pun membalas bahasa cinta ini dengan menghormati Rasulullah Saw sesuai dengan ketinggian derajatnya di sisi Allah SWT. Dia senantiasa menyertainya, berbagi sedih dan duka dari siksaan orang-orang kafir Mekah terhadapnya.

Contoh terdekat di sini yang hadir di benak penulis saat ini, Sayyidah Fatimah di suatu hari melihat Rasulullah Saw sujud dan tidak mengangkat kepalanya karena di atas punggungnya terdapat isi perut binatang sembelihan yang diletakkan orang-orang Musyrik Mekah. Sayyidah Fatimah R.A pun datang segera melempar kotoran tersebut dari Rasulullah Saw hingga ia mengangkat kepalanya dan mendoakan kecelakaan orang-orang kafir Quraish yang sering menyakitinya.

«اللهُمَّ عَلَيْكَ بِأَبِي جَهْلِ بْنِ هِشَامٍ، وَعُتْبَةَ بْنِ رَبِيعَةَ، وَشَيْبَةَ بْنِ رَبِيعَةَ، وَالْوَلِيدِ بْنِ عُتْبَةَ، وَأُمَيَّةَ بْنِ خَلَفٍ، وَعُقْبَةَ بْنِ أَبِي مُعَيْطٍ»، وَذَكَرَ السَّابِعَ فَلَمْ أَحْفَظْهُ، وَالَّذِي بَعَثَ مُحَمَّدًا ? بِالْحَقِّ لَقَدْ رَأَيْتُ الَّذِينَ سَمَّاهُمْ صَرْعَى يَوْمَ بَدْرٍ، ثُمَّ سُحِبُوا فِي الْقَلِيبِ، قَلِيبِ بَدْرٍ» ( ).

Meskipun Rasulullah Saw sangat mencintai anak dan cucunya, tetapi cinta itu tidak membuatnya lupa membentuk budi pekerti mereka dengan akhlak-akhlak baik, jauh dari lingkaran haram dan hal-hal yang meragukan. Olehnya itu, jika mereka melakukan kesalahan tanpa sengaja, Rasulullah Saw dengan cepatnya mencegah mereka untuk terlalu jauh menjajali tempat-tempat meragukan ini (syubuhat). Cucunya Hasan bin Ali bin Abi Thalib R.A yang masih kecil, tangannya mengambil kurma sedekah, Rasulullah Saw dengan cepatnya mengeluarkan kurma itu dari mulutnya dan berkata: “Apakah engkau tidak tahu! Sesungguhnya keluarga Muhammad tidak boleh memakan sedekah”.( ) Rasulullah Saw mendidik mereka sejak kecil menjauhi hal-hal yang diharamkan dan memperlihatkan tingkat sensitif yang luar biasa. Inilah sebaik-baiknya keteladanan nabawi yang senantiasa menjaga keseimbangan pendidikan anak sejak dini.

Keteladanan lain yang tidak kalah hidup dari kisah di atas, kisah Sayyidah Fatimah R.A di saat mendatangi Rasulullah Saw, sementara di lehernya melingkar kalung emas, dia pun berkata: “Wahai Fatimah, apa kata orang-orang: Fatimah binti Muhammad Saw, di tangannya ada rantai api.” Ia pun keluar dan tidak menemaninya duduk seperti biasa. Sayyidah Fatimah R.A yang sangat mengerti perasaan Rasulullah Saw menjual kalung emas tersebut, dan harganya dipakai membeli hamba yang kemudian dimerdekakan. Rasulullah Saw pun gembira mendengar berita ini dan bertakbir, kemudian berkata: “Alhamdulillah yang telah menyelamatkan Fatimah dari api neraka.”( )

Hematnya, Rasulullah Saw sangat tangkas dan tegas dalam urusan rumah tangga. Bahasa-bahasa cinta seperti ini menjadikan hidup mereka lebih berorientasi ukhrawi dan menutup dari mata mereka pintu-pintu kejahatan dan dosa, meskipun itu terhitung kecil. Di sini, bahasa maknawi Rasulullah Saw seperti bekata kepada mereka: “Wajib bagi kalian semua menjadikan Allah SWT sebagai tujuan hidup!”( )

Maka dari itu, saya dan Anda yang menyandang gelar mulia sebagai orang tua didik, wajib sejak dini mengarahkan buah hati ke tatanam hidup yang dibangun dengan cita-cita mulia yang islami dan memoles akal dan kalbu mereka dengan didikan ukhrawi, sehingga mereka tidak belajar dan bekerja, kecuali mata kepala dan hati mereka senantiasa mencari ridha Allah SWT. Tentunya, tarbiyah seperti ini akan mencegah mereka dari dekadensi moral yang merepotkan dan melelahkan masyarakat.

b. Hati berlentera Alqur’an

Pemilik hati seperti ini terikat kuat oleh tali-tali qur’ani yang kokoh, mereka bukan hanya menghafal Alqur’an, tetapi hati mereka telah diisi oleh hikmah-hikmah hidup Alqur’an. Mereka melihat Alqur’an sebagai obor kehidupan yang mampu memisahkan kebaikan dan keburukan, pembeda antara manfaat dan mudarat, yang ukhrawi dari duniawi.

Mereka melihat Alqur’an neraca kehidupan yang menyunting keindahan hidup yang berkiblat ukhrawi dalam bingkai iman, tolak ukur dari segala bentuk kehidupan yang menyalahi tatanam hidup Islam yang senantiasa menjadi pengawas maknawi dengan menyodorkan pertanyaan seperti ini: “Apakah kehidupan ini sudah qur’ani, atau ia belum sampai ke sana?”

Dengan kesadaran qur’ani seperti ini, mereka dengan lapang dada mengimani kebenaran seruhan ayat-ayat yang melarang mereka mendekati kemungkaran, seperti ayat-ayat berikut ini:

قَالَ اللهُ تَعَالَى: ?يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تَقْرَبُوا الصَّلاَةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلاَ جُنُبًا إِلاَّ عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا?. (Q.S. An-Nisa’ [4]: 43)

قَالَ تَعَالَى: ?وَلاَ تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ?. (Q.S. Al-An’am [6]: 151)

قَالَ تَعَالَى: ?وَلاَ تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلاَّ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّه?. (Q.S. Al-An’am [6]: 152)

قَالَ تَعَالَى: ?وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً?. (Q.S. Al-Isra’ [17]: 32)

Dengan pendekatan qur’ani yang menyerukan (لاَ تَقْرَبُوْا): “Janganlah kalian mendekati”, mereka dengan sendirinya terkontrol untuk tidak berani mendekati apa yang terlarang. Olehnya itu, Rasulullah Saw dengan mudah mengembalikan siapa saja yang melanggar larangan-larangan tersebut ke rel-rel qur’ani yang diserukan kelompok ayat di atas.

Contoh terdekat yang hadir di penulis, kisah anak muda yang meminta izin Rasulullah saw untuk berzina. Dengan mudah Rasulullah Saw mengembalikan kesadarannya dengan mengorek sedikit akal sehatnya. Tentunya, Anda tidak menginginkan perbuatan yang sama terjadi kepada ibu, anak perempuan, dan saudara perempuan sendiri. Jika Anda tidak menginginkan perbuatan tersebut terhadap orang-orang terdekat Anda, tentunya Anda pun tidak menginginkan musibah ini terjadi di orang lain. Dengan sentuhan dan doa Rasulullah Saw terhadapnya: “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kehormatannya,” ia pun tidak pernah lagi memikirkan perbuatan tersebut. ( )

Yah, seruan (لاَ تَقْرَبُوْا) sungguh sangat dahsyat, kemukjizatan seruan qur’ani ini melebihi semua bentuk seruan manusia yang menginginkan perubahan tertentu. Anda dapat melihat letak perbedaannya dengan menengok sejauh mana pengaruh kebijakan dan promosi para anti rokok.

Begitu banyak dana dihabiskan pemerintah dunia demi mencegah rokok dan segala efek sampingnya, tetapi jumlah perokok dan korban efek sampingnya dari hari ke hari bertambah. Tetapi, dengan satu seruan saja (لاَ تَقْرَبُوْا), masyarakat jahiliah mengalami perubahan total menjadi masyarakat qur’ani.

Olehnya itu, sepatutnya para pemerhati “negara impian” seperti yang didamba-dambakan Pluto dan Al-Farabi di “republiknya” menundukkan kepala mengakui kemukjizatan perubahan akhlak sosial yang disuarakan Alqur’an. Yang demikian itu karena tatanam akhlak mereka tidak lain kecuali rumusan filsafat yang jemu melihat dekadensi moral masyarakat sekitar. Dan karena tatanam ini sifatnya kondisional dan dipengaruhi oleh sudut pandang perumusnya yang kadang tidak obyektif melihat dan merumuskan masalah, sehingga tatanam ini tidak bertahan lama, digantikan oleh tatanam akhlak filsafat lain yang umurnya pun tidak ditakdirkan panjang. Sementara itu, tatanam akhlak Alqur’an bersifat universal, menyoroti waktu dengan sorotan yang sama tanpa membedakan masa lalu, sekarang, dan mendatang, dan lebih melihat fitrah penciptaan manusia yang menginginkan kesucian dan kesempurnaan. Dengan perbedaan ini, tingkat perubahan akhlak sosial yang dicapai Alqur’an tidak dapat disetarakan dengan apa yang telah dicapai oleh tatanam akhlak filsafat mereka. Ibaratnya, antara bintang kejora di langit yang amat berjauhan dengan bumi.

Sebelum berpindah ke kunci berikutnya, pemerhati tarbiyah Rasulullah Saw pasti sepakat dengan kesimpulan berikut ini:

“Rasulullah Saw tidak berpulang ke rahmat Allah, kecuali para sahabatnya tahu baca-tulis, dari yang baligh hingga tua renta yang menunggu ajalnya. Jika kita melihat masa sekarang dengan segala sumber daya manusia dan kemampuan teknologinya, di sana masih banyak angka buta huruf Alqur’an, meskipun mereka telah ditekan dan dipaksa ngaji. Sementara itu, Rasulullah Saw dalam waktu yang singkat sekali mampu menanam akar keimanan dalam jiwa, pengetahuan, dan kemampuan baca tulis. Bahkan, tidak berlebihan jika dikatakan, Rasulullah Saw di saat telah kembali ke rahmat Allah, tidak ada dari sahabatnya yang tidak tahu baca Alqur’an. Bukan hanya itu, tetapi para petani di Madinah mampu membaca Alqur’an dengan tujuh atau sepuluh bentuk bacaan yang diperkenalkan seni bacaan Alqur’an.”( )

c. Dakwah menekuni dunia ilmu pengetahuan dan ikhlas beramal

Amal buah ilmu pengetahuan. Ilmu tanpa amal seperti pohon yang tidak berbuah. Amal tanpa keikhlasan seperti buah yang tidak layak dikomsumsi karena rusak.

Yang punya ilmu agama tetapi tidak memanfaatkannya, atau amalnya menyalahi ilmu, maka ilmunya akan berbalik memusuhi, dan anggota tubuhnya akan menjadi saksi di hadapan Allah SWT.

Ada riwayat yang terhitung lemah para ahli hadits, tulisan ini menyebutkannya dilihat dari maknanya yang tidak menyalahi hakikat-hakikat Alqur’an dan hadits. Riwayat itu seperti berikut:

«هَلَكَ النَّاسُ إِلاَّ الْعَالِمُوْن، وَهَلَكَ الْعَالِمُوْنَ إِلاَّ الْعَامِلُوْن، وَهَلَكَ الْعَامِلُوْنَ إِلاَّ الْمُخْلِصُوْنَ، وَالْمُخْلِصُوْنَ عَلَى خَطَرٍ عَظِيْمٍ».

Tentunya, bentuk penjagaan maknawi seperti ini jika senantiasa diperhatikan, anak muda generasi bangsa ini akan menjadi tolang punggung pembangunan bangsa dan kunci terciptanya keamanan masyarakat, sehingga dengan sendirinya umat akan meraih kemajuan dan kejayaan peradaban.

Ini telah terwujud di zaman kenabian. “Zaman terbitnya “negara impian” yang dimimpikan para filosof. Para sahabat meneladankan kematangan iman yang mendorong kiat dan usaha ke garis depan kemajuan, sehingga kemanusian manusia yang mulia menandingi kesucian para malaikat.”( )

Keimanan seperti ini yang dibarengi keikhlasan beramal seperti doa tersendiri yang mengharap ridha dan ampunan Allah SWT telah menyulap “masyarakat jahiliah yang tenggelam di lautan kejahatan dan kerusakan. Zina dihalalkan, mencuri menjadi kebanggaan dan keberanian, khamar digemari dengan begitu gila. Di masyarakat rusak yang menakutkan seperti ini, Rasulullah Saw mampu –dengan dakwahnya siang dan malam- menghidupkan ruh iman di hati dan mengimplementasikannya di dunia nyata dalam bentuk perilaku yang mampu mendongkrak tipe-tipe kejahatan di atas dari jiwa, dan menghiasinya dengan akhlak mulia yang tinggi dan nilai-nilai kemanusiaan yang istimewa. Artinya, Rasulullah Saw di dunia nyata berhasil mewujudkan “negara impian” yang dicita-citakan Pluto di “republiknya” dan yang dirindukan Thomas Mowr dan para pemikir lain.

Seperti yang diketahui, menyelamatkan kelompok manusia dari kehidupan sesat yang ganas merusak dan menjadikannya teladan kemanusiaan dalam mewujudkan masyarakat beragama, tidak lain kecuali mengeluarkan jemaah itu dari kegelapan-kegelapan ke cahaya yang terang-benderang. Rasulullah Saw dengan dakwah dan dedikasinya mampu mewujudkan kemukjizatan maknawi ini dan membuktikan bahwa dia adalah sosok yang penuh dengan kemukjizatan.”( )

Yang demikian itu bukanlah sesuatu yang patut dicengangkan atau diingkari. “Setiap orang yang menyakini sebuah keyakinan dengan sepenuh jiwa dan memberikan untuknya hidup dan perasaannya, memimpikannya di waktu tidur dan sadar, pola pikir dan perilakunya akan membaik.

Olehnya itu, Islam bukan hanya dipenuhi keimanan begitu saja, akan tetapi keimanan yang memenuhi ruang-ruang akal dan kalbu. Warnailah perasaanmu dengan nilai-nilai keimanan yang bercorak! Bukanlah muslim yang mengetahui Allah SWt tetapi menjauhinya, tidak ada nilai bagi muslim yang tidak mengetahui Allah dan perasaannya kosong tidak terisi dengan dunia ketuhanan, perasaan yang tidak pernah takjub dan mensyukuri nikmat-nikmat Allah.

Yang benar-benar muslim, mereka yang mengetahui dan menyakini keberadaan Allah SWT, serta mampu merasakan sejauh mana kedekatannya dengan Allah dengan menagkap pesan-pesan ketuhanan dari nikmat-nikmat-Nya setiap hari, kemudian menerjemahkannya di dunia nyata dalam bentuk perilaku baik.”( )

Wahai para generasi muda Islam! Tanggalkan kemalasan, penuhu diri dengan keyakinan! Amal yang menyalahi pengetahuan agama akan pergi begitu saja seiring dengan tiupan angin yang menghembus. Tidak ada lagi yang bermanfaat kecuali amal shaleh.

Di depan Anda sekalian keteladanan para generasi Islam muda pertama, pembawa obor dakwah yang kisah mereka menyegarkan tenggorokan yang lagi haus, menyembuhkan hati yang lagi sakit merindukan petunjuk.

Siapa di antara kita yang lupa peran Mus’ab bin Umar yang lebih awal hijrah dan menjadi pembuka hijrah terhadap yang lain. Kita pun tidak lupa peran Ali bin Abi Thalib, Khamzah, Khalid bin al-Walid di zaman kenabian.

Di kemudian hari tiba zaman-zaman perjuangan yang memperlihatkan kepahlawanan generasi muda Islam, seperti: Muhammad bin al-Qasim ats-Tsaqafi, penakluk kota Sind, yang waktu itu berusia 17 tahun. Demikian pula Sultan Muhammad al-Fatih yang menaklukkan Kostantinopel dalam usia 23 tahun. Mereka itulah pemuda-pemuda yang beriman kepada Allah, sehingga mereka dapat menaklukkan dunia.

Tentunya, ini mustahil terjadi begitu saja, semuanya dinahkodai Islam yang ajaran-ajaranya meliputi seluruh sendi-sendi kehidupan, agama yang memberikan keseimbangan hidup antara dunia dan akhirat.

Di akhir tulisan ini, penulis mengajak pemerhati tarbiyah Rasulullah Saw menyuarakan beberapa kesimpulan berikut:

1. Rasulullah Saw sosok pribadi yang punya kemukjizatan maknawi tersendiri di dunia pendidikan. Dia mampu mewujudkan “negara impian” yang tidak dapat dicapai para filosof dan ahli ilmu sosial. Dia dengan jenius menyelamatkan umat manusia dari kehidupan sesat yang ganas merusak dan menjadikannya teladan kemanusian yang mengangkat derajat harkat dan martabat manusia.

2. Keberhasilan yang dicapai Rasulullah Saw dalam masa 23 tahun, fase Mekah dan Madinah, di luar dari kemampuan manusia. Yang demikian itu dilihat dari masyarakat jahiliah yang sifat-sifat mereka jauh dari tatanam akhlak mulia. Dia dengan jenius mencabut akhlak buruk ini dan menumbuhkembangkan dasar-dasar akhlak mulia di hati mereka.

3. Sistem pendidikan akhlak yang dikoleksi sunah Rasulullah Saw perisai baja dan benteng kokoh yang tidak akan goyah menghadapi segala bentuk ancaman musuh yang ingin merusak akhlak umat ini, sehingga dengan sendirinya Islam pun dipermainkan.

4. Dekadensi moral generasi muda Islam saat sekarang bukanlah penyakit yang sulit ditangani, akan tetapi penyakit yang datang menjangkiti fisik umat dan akan hilang dengan menghidupkan penjagaan maknawi yang takut kepada Allah, sehingga mereka tidak melakukan apa pun kecuali menanyai diri mereka sendiri: “Apakah perbuatan ini diridhai Allah SWT atau tidak? Jika tidak, kenapa? Jika saya mengerjakannya dalam keadaan tahu bahwa itu menyalahi Alqur’an dan Sunah, apakah balasan duniawi dan ukhwawinya? Bagaimana mungkin saya dapat tegak berdiri di hadapan Allah mempertanggungjawabkan amal-amal itu? Di mana saya dari ayat Allah ini:

?كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ?. “(Q.S. At-Tur [52]:21)

5. Rasulullah Saw telah memberikan keteladanan dalam mendidik buah hati sejak dini. Dia mendidik mereka dengan didikan akhlak mulia yang jauh dari hal-hal yang diharamkan tanpa mengharamkan mereka dari kasih sayang.

Kunci Apa Di balik Keberhasilan Tarbiyah Rasulullah SAW?

Seperti yang kita ketahui bersama, Rasulullah Saw hamba terbaik dalam mewarnai kehidupan dengan nilai-nilai hidup yang dibiaskan nama-nama Allah (Asmaul Husna). Dengan corak kehidupan nabawi ini, dunia ibadah dan dinamika akhlak sosial lebih hidup dan bermakna.

Olehnya itu, Rasulullah Saw tegak berdiri di garis depan pendidikan memegang kemudi umat dengan baiknya ke puncak peradaban yang dibangun atas dasar akhlak mulia dan sokongan kerja keras. Di sini, Rasulullah Saw penerjemah terbaik makna tarbiyah dari kata (الرَّب) dalam menabur hikmah-hikmah mulia dan filsafat hidup yang mampu menghantam dinding kebodohan yang menghambat laju kereta peradaban umat ini, seperti yang ditegaskan langsung ayat surah Al-Qalam [68]: 4:

?وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ?.

Dan karena tarbiyah Rasulullah Saw bermuara dari keagungan nama ini,( ) generasi-generasi Islam, khususnya tiga generasi Islam pertama, memancarkan kilauan keindahan tarbiyah tersebut dan menjadi obor kehidupan bagi mereka yang ingin mengambil tongkat estafet perjuangan umat.

Yang menarik juga, kemampuan bina yang dimiliki Rasulullah Saw dalam menciptakan generasi-generasi pemimpin dari kalangan menengah ke bawah. Abdullah bin Mas’ud, dari seorang pengembala kambing Uqbah bin Abi Muaeth( ) ke kursi guru besar madrasah Kufa yang menghasilkan ulama-ulama papan atas, seperti Alqama, hammad, At-Tsawri, Abu hanifa.

Thariq bin Ziyad (w. 102 H/720 M)( ) dari seorang hamba menjadi pemimpin laskar jihad Islam yang berhasil menaklukkan zona pertahanan musuh di pelbagai kota-kota besar di Spanyol, seperti: Andalusia, Sevilla, Malaga, Qordoba, Medina Celi, Saragosa, dan Valencia. Keberhasilan itu datang dari kesadaran jihad mereka yang memahami arti perjuangan dan arti mati syahid demi meninggikan kalimat Allah. Ziyad yang memimpin 12.000 pasukan membakar perahunya dan loncat ke medan laga seperti singa menghadapi 90.000-100.00 tentara salib. Dengan percaya diri dia berkata: “Wahai pasukanku, apakah di sana ada tempat keselamatan? Laut di belakang kalian dan musuh di depan mata. Demi Allah, tidak ada bagi kalian kecuali sabar dan teguh, ketahuilah! Sesungguhnya kalian di daratan ini lebih berpeluang mati syahid ditelan musuh dari anak yatim yang dicaci maki.” Pertempuran pun dimenangkan Thariq. Selanjutnya, dia mendatangi istana Toledo yang dipenuhi harta kerajaan dan berkata kepada dirinya sendiri: “Wahai Thariq! Sesungguhnya engkau sebelumnya seorang hamba, kemudian Allah merdekakan Anda dan menjadikanmu seorang pemimpin, dan memenangkan Anda sehingga kamu berhasil menaklukkan Andalusia. Sekarang, Anda di istana raja, tetapi jangan lupa, besok Anda akan berada di hadapan Allah!””( )

Di samping itu, kehebatan Rasulullah Saw merubah tatanam akhlak sosial dalam kurun waktu 23 tahun, mengangkat Arab jahiliah dari kehidupan yang dikotori kebodohan, dekadensi akhlak, dan kegelapan hati yang menutupi semua sendi kehidupan, menuju ke dunia yang lebih beradab, dunia Islam yang mengenalkan hakikat kehidupan, ketuhanan, dan kehambaan, sehingga tidak ada satu pun dari akhlak jahiliah kecuali diangkat dan diganti dengan akhlak mulia. Olehnya itu, tidak ada satu pun keberhasilan tarbiyah manusia yang mampu menandingi apa yang telah dicapai Rasulullah Saw dalam mendidik umat. Tentunya, ini terhitung kemukjizatan tersendiri terhadap pribadi didik Rasulullah Saw yang melebihi batas kemampuan seorang manusia.( )

Sejak ruh Islam telah mengalir dalam diri mereka, khususnya ruh Islam yang menyelimuti kehidupan masyarakat Islam di Madinah, mereka seperti terlindungi oleh benteng keimanan dan perisai ketaqwaan dari akhlak-akhlak buruk yang pernah mereka kenal di kehidupan Mekah, seperti: minum khamar, berzina, judi. Dengan Islam, tidak pernah lagi terdengar ada pelanggaran norma-norma agama dari mereka, kecuali dapat dihitung jari.

Perbuatan zina yang mencoreng muka mereka di zaman Jahiliah nyaris tidak terdengar lagi di kehidupan Madinah. Aib masyarakat yang sulit dituturkan (seandainya saja ini bukan penegas terhadap keberhasilan dakwah dan tarbiyah Rasulullah Saw dalam mengangkat cacat akhlak ini dari kehidupan masyarakat Islam Maidnah, penulis tidak menyebutkannya), seperti yang yang dibeberkan Sayyidah Aisyah R.A berikut ini:

Nikah Jahiliah ada 4 macam:

Pertama: nikah manusia seperti saat sekarang, pengantin lelaki terlebih dahulu melamar, memberi mahar, dan menikahi pengantin perempuan.

Kedua: seorang suami berkata kepada istrinya yang suci dari haid: “Datangilah si fulan (yang berketurunan ningrat, punya garis keturunan yang baik), dan izinkan dirinya menggaulimu!” Kemudian, istrinya dijauhi, tidak digauli, hingga dia hamil dari lelaki tersebut, dan suaminya pun sudah bisa menggaulinya. Mereka melakukan nikah seperti ini demi mendapatkan keturunan yang baik.

Ketiga: sejumlah laki-laki (1-9 orang) mendatangi secara bersama-sama seorang perempuan dan menggaulinya, jika dia telah hamil dan melahirkan, dia pun meminta mereka datang menemuinya setelah beberapa hari dari hari kelahiran dan berkata: “Anda pasti telah mengetahui tujuan panggilan saya, wahai fulan, anak ini anakmu.” Dia bebas menunjuk siapa pun dari mereka yang ingin diangkat olehnya sebagai bapak dari anak tersebut, dan yang ditunjuk tidak dapat mengelak atau menolak.

Keempat: seorang perempuan yang tidak pernah memberikan penolakan kepada siapa pun yang mendatanginya. Di depan rumahnya berdiri bendera khusus sebagai tanda kepada siapa saja yang ingin menghampirinya. Jika dia hamil dan telah melahirkan, bapak dari anak ini adalah yang paling mirip dengannya dari lelaki yang pernah menggaulinya.( )

Olehnya itu, di saat Rasulullah Saw mendengar pengakuan seorang sahabat melakukan zina, dia pun menghindarinya, seperti tidak percaya dengan apa yang didengar, kecuali setelah sahabat tersebut memberikan pengakuan yang kedua kalinya dan bersumpah 4 kali atas kebenaran ucapannya. Dengan pengakuan dan kesaksian itu Rasulullah Saw merajamnya.( )

Di kejadian serupa, seorang perempuan hamil dari Juhayna mengakui perbuatan zinanya di hadapan Rasulullah Saw. Hukum rajam tidak langsung dijatuhkan, kecuali perempuan ini telah melahirkan, dan selama masa hamilnya Rasulullah Saw memerintahkan keluarganya memberikan perhatian penuh terhadapnya ia pun menangguhkan hukum rajam terhadapnya hingga ia melahirkan dan memerintahkan keluarganya memeberikan perhatian dan penjagaan penuh. Setelah dirajam Rasulullah Saw menshalatinya dan berkata kepada Umar R.A yang enggan ikut serta shalat jenazah: “Sesungguhnya perempuan ini telah taubat dengan taubat yang benar. Seandainya saja taubatnya dibagi-bagikan ketuju puluh penduduk Madinah (menutupi dosa mereka), taubatnya itu pasti mencukupi mereka. Apakah Anda, wahai Umar mendapatkan taubat yang lebih baik dari ini, taubat yang mengakui kesalahan yang pernah dilakukan dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah?”( )

Yang perlu digarisbawahi, pengakuan mereka dari perbuatan keji ini yang disertai penyesalan dan taubat. Olehnya itu, meskipun benteng keimanan dan perisai takwa mereka telah terbobol, tetapi dengan kesadaran iman, mental mereka siap memberikan pengakuan dan menerima hukum rajam yang digariskan syariat.

Adakah dari mereka yang jatuh di lembah yang sama siap memberikan pengakuan seperti ini? Jika pun ada, apakah mental mereka siap dirajam. Yah, jarang sekali kita menjumpai kejujuran hati dan kesiapan mental seperti yang digambarkan kedua hadits di atas, kecuali yang dirahmati Allah.

Yang menjadi pertanyaan: kunci apa di balik keberhasilan tarbiyah Rasulullah Saw yang membuat mereka dengan begitu cepatnya menanggalkan perbuatan buruk seperti ini dari jubah keislaman mereka?

Di antara kunci-kunci keberhasilan tersebut:

a. Menuntun mereka menuju kehidupan yang berorientasi ukhrawi

Mini tarbiyah berawal di keluarga. Keluarga yang anggotanya terdidik dengan baik akan melahirkan generasi yang kebal dari pengaruh negatif lingkungan. Mereka punya vaksinasi maknawi seperti perisai yang setiap saat siap memberikan perlindungan. Rasulullah Saw pun seperti itu, dia memberikan perhatian penuh terhadap keluarganya sehingga dapat menjadi teladan umat Islam.

Wahai saudara! Siapa di antara kita yang sejak awal menempa dan menaungi anak-anak mereka dengan nuansa ukhrawi, meskipun mereka dalam kehangatan sanak keluarga yang tulus menemani dan menikmati setiap canda dan tawa? Kebanyakan dari kita lupa dengan situasi seperti ini untuk mengisi kejiwaan mereka dengan petuah-petuah kehidupan yang berguna dan semangat juang yang islami.

Kenapa kita tidak mengikuti Rasulullah Saw? “Meskipun beliau sedang mencurahkan kasih sayang kepada anak dan cucunya, akan tetapi itu tidak membuatnya lupa menuntun mereka untuk mendekatkan diri lebih dini ke kehidupan ukhrawi dan berpikir positif dalam melihat kehidupan. Meskipun Rasulullah Saw merangkul mereka ke dadanya, menebar senyum, dan canda yang membuat suasana mereka lebih hidup, tetapi di waktu yang sama perhatiannya tidak pernah luput dari kelalaian mereka tentang urusan-urusan ukhrawi. Di sini, dia memperlihatkan kepada mereka ketegasan, perhatian penuh, dan kesungguhan dalam menjalankan misi tarbiyah dan menjaga kedekatannya dengan Allah SWT. Meskipun Rasulullah Saw memberikan mereka kebebasan mencari mata pencaharian yang layak selaku manusia, tetapi dia tidak pernah membiarkan mereka hanyut dalam kelalaian yang meremehkan makna-makna kehidupan. Dia berusaha dengan sekuat tenaga dan penuh ketelitian untuk menjaga mereka dari dekadensi moral dengan menciptakan nuansa-nuansa ukhrawi yang kental. Kehidupan yang mengenalkan mereka jalan hidup islami yang jauh dari kekerasan dan kelalaian, jalan hidup yang lurus.”( )

Bahasa cinta nabawi ini dalam mendidik keluarga dicerminkan hadits Anas bin Malik R.A:

(مَا رَأَيْتُ أَحَدًا كَانَ أَرْحَمَ بِالعِيَالِ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ ?)( ).

Di antara bahasa-bahasa cinta nabawi ini perhatian dan kasih sayang Rasulullah Saw terhadap Sayyidah Fatimah R.A. Ia berdiri menyambut kedatangan Fatimah R.A tiap kali datang menjenguknya, mengambil tangannya, duduk di sisinya, menanyakan kondisinya, menghembuskan kesejukan bahasa cinta terhadapnya, dan berdiri melepasnya dengan lemah lembut. ( )

Sayyidah Fatimah R.A pun membalas bahasa cinta ini dengan menghormati Rasulullah Saw sesuai dengan ketinggian derajatnya di sisi Allah SWT. Dia senantiasa menyertainya, berbagi sedih dan duka dari siksaan orang-orang kafir Mekah terhadapnya.

Contoh terdekat di sini yang hadir di benak penulis saat ini, Sayyidah Fatimah di suatu hari melihat Rasulullah Saw sujud dan tidak mengangkat kepalanya karena di atas punggungnya terdapat isi perut binatang sembelihan yang diletakkan orang-orang Musyrik Mekah. Sayyidah Fatimah R.A pun datang segera melempar kotoran tersebut dari Rasulullah Saw hingga ia mengangkat kepalanya dan mendoakan kecelakaan orang-orang kafir Quraish yang sering menyakitinya.

«اللهُمَّ عَلَيْكَ بِأَبِي جَهْلِ بْنِ هِشَامٍ، وَعُتْبَةَ بْنِ رَبِيعَةَ، وَشَيْبَةَ بْنِ رَبِيعَةَ، وَالْوَلِيدِ بْنِ عُتْبَةَ، وَأُمَيَّةَ بْنِ خَلَفٍ، وَعُقْبَةَ بْنِ أَبِي مُعَيْطٍ»، وَذَكَرَ السَّابِعَ فَلَمْ أَحْفَظْهُ، وَالَّذِي بَعَثَ مُحَمَّدًا ? بِالْحَقِّ لَقَدْ رَأَيْتُ الَّذِينَ سَمَّاهُمْ صَرْعَى يَوْمَ بَدْرٍ، ثُمَّ سُحِبُوا فِي الْقَلِيبِ، قَلِيبِ بَدْرٍ» ( ).

Meskipun Rasulullah Saw sangat mencintai anak dan cucunya, tetapi cinta itu tidak membuatnya lupa membentuk budi pekerti mereka dengan akhlak-akhlak baik, jauh dari lingkaran haram dan hal-hal yang meragukan. Olehnya itu, jika mereka melakukan kesalahan tanpa sengaja, Rasulullah Saw dengan cepatnya mencegah mereka untuk terlalu jauh menjajali tempat-tempat meragukan ini (syubuhat). Cucunya Hasan bin Ali bin Abi Thalib R.A yang masih kecil, tangannya mengambil kurma sedekah, Rasulullah Saw dengan cepatnya mengeluarkan kurma itu dari mulutnya dan berkata: “Apakah engkau tidak tahu! Sesungguhnya keluarga Muhammad tidak boleh memakan sedekah”.( ) Rasulullah Saw mendidik mereka sejak kecil menjauhi hal-hal yang diharamkan dan memperlihatkan tingkat sensitif yang luar biasa. Inilah sebaik-baiknya keteladanan nabawi yang senantiasa menjaga keseimbangan pendidikan anak sejak dini.

Keteladanan lain yang tidak kalah hidup dari kisah di atas, kisah Sayyidah Fatimah R.A di saat mendatangi Rasulullah Saw, sementara di lehernya melingkar kalung emas, dia pun berkata: “Wahai Fatimah, apa kata orang-orang: Fatimah binti Muhammad Saw, di tangannya ada rantai api.” Ia pun keluar dan tidak menemaninya duduk seperti biasa. Sayyidah Fatimah R.A yang sangat mengerti perasaan Rasulullah Saw menjual kalung emas tersebut, dan harganya dipakai membeli hamba yang kemudian dimerdekakan. Rasulullah Saw pun gembira mendengar berita ini dan bertakbir, kemudian berkata: “Alhamdulillah yang telah menyelamatkan Fatimah dari api neraka.”( )

Hematnya, Rasulullah Saw sangat tangkas dan tegas dalam urusan rumah tangga. Bahasa-bahasa cinta seperti ini menjadikan hidup mereka lebih berorientasi ukhrawi dan menutup dari mata mereka pintu-pintu kejahatan dan dosa, meskipun itu terhitung kecil. Di sini, bahasa maknawi Rasulullah Saw seperti bekata kepada mereka: “Wajib bagi kalian semua menjadikan Allah SWT sebagai tujuan hidup!”( )

Maka dari itu, saya dan Anda yang menyandang gelar mulia sebagai orang tua didik, wajib sejak dini mengarahkan buah hati ke tatanam hidup yang dibangun dengan cita-cita mulia yang islami dan memoles akal dan kalbu mereka dengan didikan ukhrawi, sehingga mereka tidak belajar dan bekerja, kecuali mata kepala dan hati mereka senantiasa mencari ridha Allah SWT. Tentunya, tarbiyah seperti ini akan mencegah mereka dari dekadensi moral yang merepotkan dan melelahkan masyarakat.

b. Hati berlentera Alqur’an

Pemilik hati seperti ini terikat kuat oleh tali-tali qur’ani yang kokoh, mereka bukan hanya menghafal Alqur’an, tetapi hati mereka telah diisi oleh hikmah-hikmah hidup Alqur’an. Mereka melihat Alqur’an sebagai obor kehidupan yang mampu memisahkan kebaikan dan keburukan, pembeda antara manfaat dan mudarat, yang ukhrawi dari duniawi.

Mereka melihat Alqur’an neraca kehidupan yang menyunting keindahan hidup yang berkiblat ukhrawi dalam bingkai iman, tolak ukur dari segala bentuk kehidupan yang menyalahi tatanam hidup Islam yang senantiasa menjadi pengawas maknawi dengan menyodorkan pertanyaan seperti ini: “Apakah kehidupan ini sudah qur’ani, atau ia belum sampai ke sana?”

Dengan kesadaran qur’ani seperti ini, mereka dengan lapang dada mengimani kebenaran seruhan ayat-ayat yang melarang mereka mendekati kemungkaran, seperti ayat-ayat berikut ini:

قَالَ اللهُ تَعَالَى: ?يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تَقْرَبُوا الصَّلاَةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلاَ جُنُبًا إِلاَّ عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا?. (Q.S. An-Nisa’ [4]: 43)

قَالَ تَعَالَى: ?وَلاَ تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ?. (Q.S. Al-An’am [6]: 151)

قَالَ تَعَالَى: ?وَلاَ تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلاَّ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّه?. (Q.S. Al-An’am [6]: 152)

قَالَ تَعَالَى: ?وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً?. (Q.S. Al-Isra’ [17]: 32)

Dengan pendekatan qur’ani yang menyerukan (لاَ تَقْرَبُوْا): “Janganlah kalian mendekati”, mereka dengan sendirinya terkontrol untuk tidak berani mendekati apa yang terlarang. Olehnya itu, Rasulullah Saw dengan mudah mengembalikan siapa saja yang melanggar larangan-larangan tersebut ke rel-rel qur’ani yang diserukan kelompok ayat di atas.

Contoh terdekat yang hadir di penulis, kisah anak muda yang meminta izin Rasulullah saw untuk berzina. Dengan mudah Rasulullah Saw mengembalikan kesadarannya dengan mengorek sedikit akal sehatnya. Tentunya, Anda tidak menginginkan perbuatan yang sama terjadi kepada ibu, anak perempuan, dan saudara perempuan sendiri. Jika Anda tidak menginginkan perbuatan tersebut terhadap orang-orang terdekat Anda, tentunya Anda pun tidak menginginkan musibah ini terjadi di orang lain. Dengan sentuhan dan doa Rasulullah Saw terhadapnya: “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kehormatannya,” ia pun tidak pernah lagi memikirkan perbuatan tersebut. ( )

Yah, seruan (لاَ تَقْرَبُوْا) sungguh sangat dahsyat, kemukjizatan seruan qur’ani ini melebihi semua bentuk seruan manusia yang menginginkan perubahan tertentu. Anda dapat melihat letak perbedaannya dengan menengok sejauh mana pengaruh kebijakan dan promosi para anti rokok.

Begitu banyak dana dihabiskan pemerintah dunia demi mencegah rokok dan segala efek sampingnya, tetapi jumlah perokok dan korban efek sampingnya dari hari ke hari bertambah. Tetapi, dengan satu seruan saja (لاَ تَقْرَبُوْا), masyarakat jahiliah mengalami perubahan total menjadi masyarakat qur’ani.

Olehnya itu, sepatutnya para pemerhati “negara impian” seperti yang didamba-dambakan Pluto dan Al-Farabi di “republiknya” menundukkan kepala mengakui kemukjizatan perubahan akhlak sosial yang disuarakan Alqur’an. Yang demikian itu karena tatanam akhlak mereka tidak lain kecuali rumusan filsafat yang jemu melihat dekadensi moral masyarakat sekitar. Dan karena tatanam ini sifatnya kondisional dan dipengaruhi oleh sudut pandang perumusnya yang kadang tidak obyektif melihat dan merumuskan masalah, sehingga tatanam ini tidak bertahan lama, digantikan oleh tatanam akhlak filsafat lain yang umurnya pun tidak ditakdirkan panjang. Sementara itu, tatanam akhlak Alqur’an bersifat universal, menyoroti waktu dengan sorotan yang sama tanpa membedakan masa lalu, sekarang, dan mendatang, dan lebih melihat fitrah penciptaan manusia yang menginginkan kesucian dan kesempurnaan. Dengan perbedaan ini, tingkat perubahan akhlak sosial yang dicapai Alqur’an tidak dapat disetarakan dengan apa yang telah dicapai oleh tatanam akhlak filsafat mereka. Ibaratnya, antara bintang kejora di langit yang amat berjauhan dengan bumi.

Sebelum berpindah ke kunci berikutnya, pemerhati tarbiyah Rasulullah Saw pasti sepakat dengan kesimpulan berikut ini:

“Rasulullah Saw tidak berpulang ke rahmat Allah, kecuali para sahabatnya tahu baca-tulis, dari yang baligh hingga tua renta yang menunggu ajalnya. Jika kita melihat masa sekarang dengan segala sumber daya manusia dan kemampuan teknologinya, di sana masih banyak angka buta huruf Alqur’an, meskipun mereka telah ditekan dan dipaksa ngaji. Sementara itu, Rasulullah Saw dalam waktu yang singkat sekali mampu menanam akar keimanan dalam jiwa, pengetahuan, dan kemampuan baca tulis. Bahkan, tidak berlebihan jika dikatakan, Rasulullah Saw di saat telah kembali ke rahmat Allah, tidak ada dari sahabatnya yang tidak tahu baca Alqur’an. Bukan hanya itu, tetapi para petani di Madinah mampu membaca Alqur’an dengan tujuh atau sepuluh bentuk bacaan yang diperkenalkan seni bacaan Alqur’an.”( )

c. Dakwah menekuni dunia ilmu pengetahuan dan ikhlas beramal

Amal buah ilmu pengetahuan. Ilmu tanpa amal seperti pohon yang tidak berbuah. Amal tanpa keikhlasan seperti buah yang tidak layak dikomsumsi karena rusak.

Yang punya ilmu agama tetapi tidak memanfaatkannya, atau amalnya menyalahi ilmu, maka ilmunya akan berbalik memusuhi, dan anggota tubuhnya akan menjadi saksi di hadapan Allah SWT.

Ada riwayat yang terhitung lemah para ahli hadits, tulisan ini menyebutkannya dilihat dari maknanya yang tidak menyalahi hakikat-hakikat Alqur’an dan hadits. Riwayat itu seperti berikut:

«هَلَكَ النَّاسُ إِلاَّ الْعَالِمُوْن، وَهَلَكَ الْعَالِمُوْنَ إِلاَّ الْعَامِلُوْن، وَهَلَكَ الْعَامِلُوْنَ إِلاَّ الْمُخْلِصُوْنَ، وَالْمُخْلِصُوْنَ عَلَى خَطَرٍ عَظِيْمٍ».

Tentunya, bentuk penjagaan maknawi seperti ini jika senantiasa diperhatikan, anak muda generasi bangsa ini akan menjadi tolang punggung pembangunan bangsa dan kunci terciptanya keamanan masyarakat, sehingga dengan sendirinya umat akan meraih kemajuan dan kejayaan peradaban.

Ini telah terwujud di zaman kenabian. “Zaman terbitnya “negara impian” yang dimimpikan para filosof. Para sahabat meneladankan kematangan iman yang mendorong kiat dan usaha ke garis depan kemajuan, sehingga kemanusian manusia yang mulia menandingi kesucian para malaikat.”( )

Keimanan seperti ini yang dibarengi keikhlasan beramal seperti doa tersendiri yang mengharap ridha dan ampunan Allah SWT telah menyulap “masyarakat jahiliah yang tenggelam di lautan kejahatan dan kerusakan. Zina dihalalkan, mencuri menjadi kebanggaan dan keberanian, khamar digemari dengan begitu gila. Di masyarakat rusak yang menakutkan seperti ini, Rasulullah Saw mampu –dengan dakwahnya siang dan malam- menghidupkan ruh iman di hati dan mengimplementasikannya di dunia nyata dalam bentuk perilaku yang mampu mendongkrak tipe-tipe kejahatan di atas dari jiwa, dan menghiasinya dengan akhlak mulia yang tinggi dan nilai-nilai kemanusiaan yang istimewa. Artinya, Rasulullah Saw di dunia nyata berhasil mewujudkan “negara impian” yang dicita-citakan Pluto di “republiknya” dan yang dirindukan Thomas Mowr dan para pemikir lain.

Seperti yang diketahui, menyelamatkan kelompok manusia dari kehidupan sesat yang ganas merusak dan menjadikannya teladan kemanusiaan dalam mewujudkan masyarakat beragama, tidak lain kecuali mengeluarkan jemaah itu dari kegelapan-kegelapan ke cahaya yang terang-benderang. Rasulullah Saw dengan dakwah dan dedikasinya mampu mewujudkan kemukjizatan maknawi ini dan membuktikan bahwa dia adalah sosok yang penuh dengan kemukjizatan.”( )

Yang demikian itu bukanlah sesuatu yang patut dicengangkan atau diingkari. “Setiap orang yang menyakini sebuah keyakinan dengan sepenuh jiwa dan memberikan untuknya hidup dan perasaannya, memimpikannya di waktu tidur dan sadar, pola pikir dan perilakunya akan membaik.

Olehnya itu, Islam bukan hanya dipenuhi keimanan begitu saja, akan tetapi keimanan yang memenuhi ruang-ruang akal dan kalbu. Warnailah perasaanmu dengan nilai-nilai keimanan yang bercorak! Bukanlah muslim yang mengetahui Allah SWt tetapi menjauhinya, tidak ada nilai bagi muslim yang tidak mengetahui Allah dan perasaannya kosong tidak terisi dengan dunia ketuhanan, perasaan yang tidak pernah takjub dan mensyukuri nikmat-nikmat Allah.

Yang benar-benar muslim, mereka yang mengetahui dan menyakini keberadaan Allah SWT, serta mampu merasakan sejauh mana kedekatannya dengan Allah dengan menagkap pesan-pesan ketuhanan dari nikmat-nikmat-Nya setiap hari, kemudian menerjemahkannya di dunia nyata dalam bentuk perilaku baik.”( )

Wahai para generasi muda Islam! Tanggalkan kemalasan, penuhu diri dengan keyakinan! Amal yang menyalahi pengetahuan agama akan pergi begitu saja seiring dengan tiupan angin yang menghembus. Tidak ada lagi yang bermanfaat kecuali amal shaleh.

Di depan Anda sekalian keteladanan para generasi Islam muda pertama, pembawa obor dakwah yang kisah mereka menyegarkan tenggorokan yang lagi haus, menyembuhkan hati yang lagi sakit merindukan petunjuk.

Siapa di antara kita yang lupa peran Mus’ab bin Umar yang lebih awal hijrah dan menjadi pembuka hijrah terhadap yang lain. Kita pun tidak lupa peran Ali bin Abi Thalib, Khamzah, Khalid bin al-Walid di zaman kenabian.

Di kemudian hari tiba zaman-zaman perjuangan yang memperlihatkan kepahlawanan generasi muda Islam, seperti: Muhammad bin al-Qasim ats-Tsaqafi, penakluk kota Sind, yang waktu itu berusia 17 tahun. Demikian pula Sultan Muhammad al-Fatih yang menaklukkan Kostantinopel dalam usia 23 tahun. Mereka itulah pemuda-pemuda yang beriman kepada Allah, sehingga mereka dapat menaklukkan dunia.

Tentunya, ini mustahil terjadi begitu saja, semuanya dinahkodai Islam yang ajaran-ajaranya meliputi seluruh sendi-sendi kehidupan, agama yang memberikan keseimbangan hidup antara dunia dan akhirat.

Di akhir tulisan ini, penulis mengajak pemerhati tarbiyah Rasulullah Saw menyuarakan beberapa kesimpulan berikut:

1. Rasulullah Saw sosok pribadi yang punya kemukjizatan maknawi tersendiri di dunia pendidikan. Dia mampu mewujudkan “negara impian” yang tidak dapat dicapai para filosof dan ahli ilmu sosial. Dia dengan jenius menyelamatkan umat manusia dari kehidupan sesat yang ganas merusak dan menjadikannya teladan kemanusian yang mengangkat derajat harkat dan martabat manusia.

2. Keberhasilan yang dicapai Rasulullah Saw dalam masa 23 tahun, fase Mekah dan Madinah, di luar dari kemampuan manusia. Yang demikian itu dilihat dari masyarakat jahiliah yang sifat-sifat mereka jauh dari tatanam akhlak mulia. Dia dengan jenius mencabut akhlak buruk ini dan menumbuhkembangkan dasar-dasar akhlak mulia di hati mereka.

3. Sistem pendidikan akhlak yang dikoleksi sunah Rasulullah Saw perisai baja dan benteng kokoh yang tidak akan goyah menghadapi segala bentuk ancaman musuh yang ingin merusak akhlak umat ini, sehingga dengan sendirinya Islam pun dipermainkan.

4. Dekadensi moral generasi muda Islam saat sekarang bukanlah penyakit yang sulit ditangani, akan tetapi penyakit yang datang menjangkiti fisik umat dan akan hilang dengan menghidupkan penjagaan maknawi yang takut kepada Allah, sehingga mereka tidak melakukan apa pun kecuali menanyai diri mereka sendiri: “Apakah perbuatan ini diridhai Allah SWT atau tidak? Jika tidak, kenapa? Jika saya mengerjakannya dalam keadaan tahu bahwa itu menyalahi Alqur’an dan Sunah, apakah balasan duniawi dan ukhwawinya? Bagaimana mungkin saya dapat tegak berdiri di hadapan Allah mempertanggungjawabkan amal-amal itu? Di mana saya dari ayat Allah ini:

?كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ?. “(Q.S. At-Tur [52]:21)

5. Rasulullah Saw telah memberikan keteladanan dalam mendidik buah hati sejak dini. Dia mendidik mereka dengan didikan akhlak mulia yang jauh dari hal-hal yang diharamkan tanpa mengharamkan mereka dari kasih sayang.

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Dr. Muhammad Widus Sempo, MA.
Pensyarah antar-bangsa (Dosen) Fakulti Pengajian Alqur'an dan Sunnah, universiti Sains Islam Malaysia (USIM).Degree, Master, Phd: Universiti Al-Azhar, Cairo. Egypt

Lihat Juga

Ilustrasi. (markazimammalik.com)

Lentera Jiwa

Organization