Home / Pemuda / Mimbar Kampus / Refleksi Tarbiyah Untuk Pengkondisian Dakwah Kampus yang Dinamis

Refleksi Tarbiyah Untuk Pengkondisian Dakwah Kampus yang Dinamis

Tarbiyah

Perbedaan Tantangan Dakwah Kampus

dakwatuna.com Jika kita berbicara tantangan dakwah kampus di zaman reformasi, kita dapat melihat bahwa dakwah kampus menghadapi tantangan yang cukup besar. Ketika kita ‘melirik’ dakwah kampus di masa dahulu, tentunya pergerakannya lebih sempit dan terbatas sehingga dapat terbilang sangat sulit. Tetapi di masa sekarang ini, dakwah kampus mendapat peluang yang cukup besar dengan lahirnya pergerakan-pergerakan reformasi modern dan juga kondisi lingkungan yang cenderung demokratis sehingga ruang gerak yang dihasilkan pun cukup bebas dan lebih luas.

Dengan dua kondisi tersebut, pergerakan dakwah kampus justru menghadapi tantangan yang cukup serius dan sama-sama berbeda. Ketika di masa pergerakan yang lebih sempit, lahan dakwah kampus sulit untuk berkembang. Tetapi keuntungan yang dihasilkan dari situasi ini ketika itu adalah dakwah kampus telah mencetak banyak kader-kader yang brillian dan militant. Tentunya hasil dari situasi itu semua dapat kita rasakan saat ini. Sedangkan di masa saat ini, kondisi pergerakan dakwah kampus cenderung lebih demokratis sehingga ruang gerak dakwahnya pun lebih luas dan dinamis. Sayangnya, lahan dakwah kampus yang cenderung lebih luas ini tidak mampu dimanfaatkan dengan lebih baik` dibanding pergerakan dakwah kampus terdahulu sehingga di masa saat ini dakwah kampus banyak mencetak kader-kader yang lemah. Kebanyakan dari mereka terbuai dengan kesenangan dan melupakan masa depan dakwah ini.

Menghadapi masalah tersebut, dakwah kampus di masa saat ini mengahadapi banyak tantangan dari segala macam penjuru. Dengan kondisi sekulerisme yang semakin tumbuh subur di wilayah kampus, berbagai macam serangan pun hadir bertubi-tubi untuk melemahkan dakwah kampus yang memiliki peluang besar dalam sistem pergerakan yang lebih luas. Hal ini jika terus-menerus dibiarkan, maka kondisi dakwah kampus akan semakin lemah, dan tidak menutup kemungkinan akan hilang. Hal ini juga diperparah dengan kondisi kader-kader dakwah kampus di setiap lini yang cenderung terbawa arus sekulerisme ini.

Fanatisme Ashabiyah

Usaha untuk melemahkan kondisi dakwah kampus pun tidak hanya disebabkan oleh kalangan-kalangan SEPILIS (Sekulerisme, Pluralisme, dan Liberalisme) saja, tetapi juga disebabkan oleh fanatisme harokah-harokah yang ada di kampus. Kondisi inilah yang mebuat harokah dakwah di kampus menjadi lebih dinamis. Secara kekuatan jasadiyah dan ruhaniyah, kader-kader ADK yang telah terbentuk dalam penetrasi tarbiyah hendaknya haruslah bisa memahami ini. Seharusnya dengan kondisi pluralitas harokah-harokah islam di era modern saat ini merupakan kabar baik bagi kemenangan Islam dan juga harus dijadikan sebuah peluang untuk awal mula kembalinya kebangkitan Islam. Tetapi kondisi yang dihadapi mayoritas Aktivis Dakwah Kampus saat ini adalah sebaliknya. Semua berlomba-lomba agar saudaranya yang berbeda pendapat dengannya diajtuhkan, dihina, bahkan tidak jarang sebagian dari mereka dibuka aibnya di muka umum. Menghadapi kondisi seperti ini, seorang da’i haruslah lebih dapat mengendalikan hati dan emosinya serta tetap mengkondisikan lingkungan sekitarnya agar tidak terpancing serangan-serangan tersebut dan tetap menjalankan sistem pergerakan dakwah kampus ini sebagaimana mestinya.

Sebagian pemuda-pemuda di kampus cenderung menyukai perdebatan dan berlarut larut dalam diskusi, hanya karena ingin dikagumi dan ingin mengalahkan pihak lain., atau karena suatu hal yang lain. Menghadapi orang seperti ini, seorang dai harus dapat menyimpulkan pembicaraan, bila telah tampak jelas mana “benang putih” dan mana pula “benang hitam” nya , sebab, perdebatan yang tidak menghasilkan kesepakatan dan tanpa kata akhir justru dapat menumbuhkan kebencian dalam jiwa, mengotori dan menutupinya. Selain itu ia hanya akan menguras potensi tanpa faedah, bahkan tidak menyumbangkan kebaikan apa pun bagi dakwah.

Perlu dipahami, sasaran dakwah bukan hanya pada akal, sebab ditengah umat ini terdapat jutaan orang beriman yang awam namun mudah tersentuh hatinya. Karena itu, melayani orang yang suka berdebat tanpa batas adalah kesia-siaan belaka dan membuang buang waktu, padahal waktu adalah kehidupan itu sendiri.
Imam Hasan Al Banna dalam risalah pergerakan Ikhwanul muslimin mengatakan bahwa karakter spesifik dari dakwah adalah Rabbaniyah ‘alamiyah (Ketuhanan Universal). Karakteristik inilah merupakan jawaban atas tantangan sistem nilai bagi dakwah kampus. Penetrasi nilai keislaman kepada seluruh kalangan warga kampus di jurusan masing-masing dengan mengambil peran pada setiap aspek yang ada seperti aspek politik kampus dan bidang keilmuan. Dengan bersikap paripurna, nilai keislaman dapat diperkenalkan secara paripurna juga. Tentunya dakwah yang memperkenalkan Allah SWT dan mengajak manusia untuk membangun hubungan spiritual serta Islam yang syamil, kamil wa mutakamil (menyeluruh, sempurna dan menyempurnakan).

Karakter Rabbaniyah ‘alaiyah seharusnya disadari oleh para Aktivis Dakwah Kampus (ADK), bahwa dakwah yang diserukan bukan karena golongan. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “bukan termasuk golonganku orang yang menyeru kepada ashabiyyah (fanatisme golongan) dan bukan dari golonganku orang yang mati karena (membela) ashabiyyah.” (HR. Imam Ahmad, dari Jubair bin Muthim RA)

Kunci Utama pada Jurusan

Disini penulis ingin sedikit menegaskan bahwa kunci utama dakwah kampus adalah dakwah pada lini masing-masing. Apa yang kita maksud sebagai dakwah di lini masing-masing ini? Ya, hal itu dimulai dari dakwah di jurusan yang menjadi kunci utama kemenangan dakwah kampus ini. Sesuai gambaran umum konsep tarbiyah itu sendiri, kita tidak akan bisa mengubah sistem yang besar jika kita belum mampu mengubah sistem di ruang lingkup yang lebih kecil, termasuk diri kita sendiri.

Disini kita haruslah memandang bahwa dakwah di jurusan merupakan suatu urgensitas yang sangat penting dan tidak dapat ditawar lagi. Jika kita melihat “peta manusia? di kampus, disana kita akan melihat sangatlah banyak orang-orang sekuler, liberal, dan semacamnya dari golongan kiri yang mampu mengubah orang-orang pondok pesantren yang notabene milik pihak „kanan? menjadi pihak „kiri?, sebaliknya kita juga akan dapat melihat golongan ekstrim „kanan? yang sangat tekun beribadah tapi sangat antipatik terhadap lingkungan sekitar dan orang-orang yang berbeda dengan dirinya. Golongan ekstrim kanan ini juga cukup berbahaya jika dia terus-menerus memojokkan dakwah kampus karena membela ashabiyahnya.

Jika Lembaga Dakwah Jurusan (LDJ) atau Lembaga Dakwah Fakultas (LDF) masing-masing lini sudah mampu menjalankan program dengan baik dan sudah paham akan esensi dakwah Islam itu sendiri, maka insya Allah kemenangan dakwah kampus yang kita tunggu-tunggu itu akan segera datang.

Namun permasalahannya disini adalah terkadang bahkan seringkali aktivis ADK terlena dengan kondisinya masing-masing. Berbagai permasalahan dakwah pada lingkup jurusan itu seakan-akan seperti muncul sendiri dan tidak akan pernah ada habisnya dan sepertinya sudah menjadi sunnatullah dan mengakar pada kehidupan kampus itu sendiri. Mulai dari permasalahan kader yang bermalas-malasan, kebencian antar golongan, mudah terpengaruh oleh opini-opini negatif public, serangan pihak „kiri?, dan sebagainya. Disinilah kita harus cermat mengamati dan mengkondisikan berbagai kondisi yang ada.

Penyakit parah lainnya yang melanda kader dakwah adalah disorientasi. Tujuan dari dakwah untuk menyeru kepada Allah SWT semakin lama bergeser menjadi pembelaan terhadap ashabiyah. Terkadang, kebanyakan kader termakan oleh tata nilai sehingga kepentingan duniawi mencemari dakwah Islam yang mulia ini. Jika kondisi ini terus dibiarkan, akan semakin parah dan lebih membuka peluang bagi musuh untuk menyerang Islam.

Refleksi tarbiyah Islam adalah mendidik para kader dakwah kampus agar mereka menjadi sadar dan terbangun bahwa tugas dakwah adalah tidak main-main dan hanya untuk memperoleh keridhaan Allah SWT. Oleh sebab itu, hal utama yang harus dimiliki oleh Aktivis Dakwah Kampus ialah kemantapan aqidah dan ibadah yang benar. Dua hal tersebut merupakan kunci pembuka bagi pintu-pintu amal yang lain. Wallaahu a’lam.

 

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Lihat Juga

Ilustrasi - Aksi aktivis dakwah kampus dalam isu Timur Tengah. (Ary)

Kajian Core Competence Dakwah Kampus