Home / Berita / Daerah / Waspada! Jika Tak Ada Waduk Raksasa, Tahun 2025 Jakarta Akan Tenggelam.

Waspada! Jika Tak Ada Waduk Raksasa, Tahun 2025 Jakarta Akan Tenggelam.

Jakarta Tenggelam (ilustrasi)
Jakarta Tenggelam (ilustrasi)

Dakwatuna.com – Jakarta. Hujan deras sepanjang hari melanda Ibukota pada Rabu pekan lalu. Seperti biasa, banjir pun terjadi di mana-mana. Cipulir di Kebayoran Lama terendam. Jalanan ke Cileduk terputus. Daerah langganan banjir Kampung Pulo, Jakarta Timur, juga terendam hingga tiga meter.  Di jalan protokol, seperti Jalan S Parman, tepatnya di depan Universitas Taruma Negara juga terendam. Kemacetan panjang pun terjadi.

Di satu restoran di Menteng, Jakarta Pusat, Mantan Gubernur DKI Fauzi Bowo bercerita banyak pengalaman mengelola banjir kala ia menjabat. Berikut petikannya:

 Penanganan banjir di Jakarta saat Anda menjabat dulu bagaimana?

Kontur Jakarta itu di bawah permukaan laut. Air mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah. Mau tak mau, ini satu gejala alamiah.  Pada saat saya menjabat, saat turun hujan ada dua skenario.

Pertama, kalau hujan cuma di wilayah atas, dalam hal ini Bogor dan Depok, kami memiliki beberapa situ dan polder, penampungan air buatan sebagai resapan.

Kedua, bila hujan terjadi di semua tempat, termasuk di laut. Kalau seperti ini, Serbuan air tak cuma terjadi dari Bogor, tapi juga dari laut. Air rob, namanya. Karena secara topografi permukaan tanah di Jakarta sudah lebih rendah. Apalagi di wilayah Barat ada yang tiga meter di bawah air laut, tentu saja air laut mudah masuk. Kalau sudah seperti ini ada teorinya.  Air dipompa ke laut melalui satu pintu air ke pintu air secara bertahap, lalu dibuang ke laut. Nah, pintu ini yang harus selalu dijaga, termasuk juga waduk dan poldernya. Dengan demikian kalaupun terjadi banjir dampaknya bisa diminimalisir.

Sebegitu pentingnya penjaga pintu air, Anda punya kontak penjaga pintu air di seluruh Jakarta?

Tak cuma punya kontak nya. Saya hafal penjaga satu dan penjaga lain. Saya sering koordinasi dengan mereka. Terutama saat hujan deras. Saya memastikan mereka tidak mangkir dari pekerjaannya. Mereka memang orang kecil, tapi saya hormati mereka. Karena pada saat tertentu peran mereka sangat penting. Nasib Jakarta saat ini tergantung penjaga pintu air. Maka saya sebagai pimpinan manajemen harus menghargai yang membantu saya memfungsikan pintu air ini. Jadi semua simpul-simpul penjaga air itu saya perhatikan. Mengelola banjir itu butuh manajemen. Kami tak cuma mengatur Jakarta, tapi juga mengatur manajemen air untuk meminimalisir dampak banjir.

Jadi Anda punya semacam ruang monitor untuk menjaga pintu air,  seperti di Traffic Management Center milik Polda Metro Jaya?

Ada di Dinas Pekerjaan Umum ada. Tapi tidak selengkap yang di TMC. Selain itu saya kira pengalaman juga ikut menentukan. Curah hujan itu kan tidak mendadak, pasti ada prediksinya. Ada prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi. Jadi begitu kejadian atau sebelum kejadian, saya harus memastikan sistem pengelolaan air sudah siap.

Ada yang bilang banjir Jakarta itu karena sabotase. Bagaimana pendapat Anda?

Ada berapa pompa air di Jakarta? Jumlahnya ratusan. Ada yang kecil ada yang gede. Pintu air juga sama itu jumlahnya ratusan. Mau di sabotase oleh siapa? Kecuali kalau semuanya sepakat. Ini juga ada bendungan-bendungan yang bukan cuma dibuat pemerintah, tapi masyarakat. Bendungan itu ada yang dikelola Pemda DKI dan ada yang dikelola pemerintah pusat. Menangani banjir itu ada teori matematikanya. Ibaratnya, air dari wilayah atas itu 100 persen masuk Manggarai. Semua dipecah. Ada yang 50 persen dan ada yang sekian persen. Nah, bila salah satu pintu air ini telat membuka atau telat menutup ini akan mempengaruhi tekanan di jalur lain. Kalau tanggulnya tidak kuat, bisa jebol.  Makanya, ini perlu manajemen yang benar.

Maksud Anda manajemen seperti apa?

Di Jakarta ini ada Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane, lembaga milik Pemerintah Pusat. Itu harus ada koordinasi dengan Gubernur. Ciliwung itu kewenangan Pusat, tapi harus  sejalan dengan Pemda. Pemerintah Pusat memang punya uang, tapi tidak boleh sembarang mengeruk. Harus dikoordinasi dengan baik. Coba Anda bayangkan, bila satu bagian Pemerintah Pusat dikeruk, dan ada bagian lain yang milik Pemda belum dikeruk karena tak ada uang. Pasti percuma ngeruknya. Saat Pemda punya uang dan mengeruk, hasil kerukan Pemerintah Pusat sudah ada sedimentasi. Ini alasan mengapa kemarin ada pemikiran Pusat dan Daerah mau pinjam ke Bank Dunia untuk mengeruk beberapa sungai. Ini pinjamannya gak banyak. Tapi uang itu harus tersedia pada saat yang diperlukan, baik oleh pusat maupun oleh daerah.

Terkait banyaknya waduk dan polder yang disalahgunakan, misalnya jadi perumahan, bagaimana tanggapan Anda?

Memang betul seperti itu, salah satu waduk besar itu adalah Waduk Pluit yang langsung dipompa ke laut. Ini harusnya waduknya dalam dan luas, tapi ini ada endapan dan kapasitasnya berkurang. Terus di pinggiran waduk sudah ada rumah. Mereka harus dibersihkan. Dalam program kerja kami waktu itu sudah ada programnya. Waduk Puit seluas 88 hektare  kini tinggal 60 hektare yang berair. Semuanya sudah jadi rumah. Tidak ada yang kasih izin. Zaman dulu memang ada kesalahan pemerintah. Tapi saya tak menyalahkan pemerintahan yang dulu lah. Ini tugas yang harus diselesaikan. Makin cepat makin bagus. Jadi waktu zaman krisis moneter, Walikota Jakarta Utara, Pak Prawito, itu kasih izin kepada orang-orang untuk membangun rumah di sekitar Waduk Pluit untuk dibangun usaha. Tapi itu tidak perlu dipermasalahkan. Hanya perlu diselesaikan. Namun, perlu penggusuran. Kalau ada penggusuran pasti yang disalahkan pemerintah. Padahal tempat itu asal muasalnya tempat air.

Penanganan banjir ke depan menurut Anda bagaimana?

Curah hujan sudah kerap jauh lebih banyak dari umumnya. Ini menjadi pekerjaan rumah berikutnya. Ini yang bikin kami agak kewalahan. Tidak bisa cuma dipompa dan dibuang ke laut. Semua harus dihitung kapasitasnya. Kapasitas waduk, kapasitas polder, dan kapasitas pintu air. Kalau sudah seperti ini Jakarta pasti kerendam. Itu sebabnya kami dulu bangun Kanal Banjir Timur. Dulu Belanda bikin Kanal Banjir Barat.  Rencana berikutnya Kanal Banjir Barat harus lebih ke barat lagi. Seperti Kanal Banjir Timur itu. Jadi kalau masuknya air Jakarta itu dari Kanal Banjir Barat. Kanal Banjir Timur sementara baru bisa menampung lima kali. Kali Ciliwung belum. Itu sebabnya harus dibangun satu saluran lagi. Ini menjadi pekerjaan rumah berikutnya.  Prinsip kanal banjir itu seperti jalan tol. Ada lingkar luar, ada lingkar yang lebih luar lagi. Misalnya tol dalam kota sekarang dibangun lagi outer ring road. Sekarang sudah ada lagi outer ring road. Jadi jika ada arus yang sangat tinggi tak perlu masuk Jakarta. Bisa dialihkan lewat outer ring road. Air juga seperti itu. Nah ini yang belum nyambung. Kanal Banjir Timur baru bisa menampung Kali Cipinang, Kali Sunter, Kali Jati kramat, Kali Cakung, dan Kali Buaran.

Jadi harus ada sodetan?

Iya sodetan. Itu yang belum ada. Karena ada perbedaan ketinggian tanah antara Kanal Banjir Timur dengan Kali Ciliwung.  Pompanya belum ada. Tidak bisa dipompa kalau tidak ada waduk.

Jadi harus ada waduk di sekitar Kampung Melayu?

Dulu ada beberapa usulan. Tapi saya tidak tahu berkembang ke arah mana.

Waktu itu rencananya kapan?

Kami belum bisa pastikan kapan waktunya. Yang jelas ini satu keharusan. Sodetan ini sudah tak bisa kompromi lagi. Ini cukup serius karena ada peningkatan permukaan air laut dan perubahan cuaca. Jadi berapa pun kapasitas waduk, Jakarta pasti akan tergenang. Itu sebabnya kami juga mengusulkan bikin tanggul raksasa. Karena ada pelabuhan Tanjung Priok, jadi  harus ada jalan kapal masuk. Itu harus dikasih jalan. Apabila itu tidak dikerjakan, maka pada 2025 Jakarta bisa tenggelam. Mungkin bisa terendam tiga meter. Itu bukan omongan saya, itu kajian para ahli. Ada satu keuntungan satu lagi dari tanggul raksasa. Air di sekitar tanggul jadi tawar. Ini bisa jadi sumber air bersih Jakarta. Jumlahnya tidak sedikit. Jadi daripada dibuang bisa diolah lagi jadi sumber air bersih Jakarta.

Giant Sea Wall ini idealnya dibangun tahun berapa?

Kalau mau kapan-kapan juga boleh. Tapi, kalau robnya datang tahun 2025, ya  kejadian. Jadi sebelum tahun 2025 harus sudah dibangun

Kalau deep tunnel bagaimana?

Idenya sudah lama ada. Dulu saya tertarik karena ada swasta yang mau bangun. Tapi dapat duitnya dari mana, itu yang masih dipikirkan.  Harus diingat, ini tidak hanya persoalan membangun saja, tetapi juga pemeliharaannya harus dipikirkan. Terowongan ini kalau sudah dipakai musim hujan membersihkannya lama. Itu bukan air saja, tapi lumpur.

Anda yakin banjir di Jakarta bisa diatasi?

Kita harus yakin banjir bisa diatasi. Belanda itu lokasinya sekitar 15 meter di bawah permukaan laut. Dan mereka bisa mengelola banjir dengan baik selama bertahun-tahun. Kenapa kita yang hanya 3 meter di bawah permukaan laut tidak bisa?

Anda setelah tidak jadi Gubernur, sepertinya ngumpet. Anda sebenarnya tinggal di mana?

Ya di Jakarta. Emang saya punya kampung? Kampung saya kan Jakarta.

Ada kabar Anda sering tinggal di Jerman. Apa betul?

Saya itu kan anggota Indonesia-German Advisory Group (IGAG). Bagaimana saya kerja kalau tidak sering di Jerman?

Kalau di Jakarta, apa kegiatan Anda?

Banyak. Yang jelas sekarang saya sedikit lebih longgar. Saya bisa jogging lebih lama. (hs/rn/vvn)

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com
  • belanda bangun dam penahan air laut khan pake duit hasil ngejajah indonesia

  • lah wong indonesia menjajah bangsanya sendiri kapan mo jadi tuh tanggul raksasa

Lihat Juga

Banjir bandang dan tanah longsor melanda Kota Garut dan sekitarnya akibat meluapnya Sungai Cimanuk. (dakwatuna.com)

Dakwatuna Peduli Garut

Organization