Home / Pemuda / Essay / Play Station Bukan “Play Syaithon”

Play Station Bukan “Play Syaithon”

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - PlayStation. (wikimedia.org)
Ilustrasi – PlayStation. (wikimedia.org)

dakwatuna.com – Beruntung saya sampai seumuran ini belum bisa (mudah-mudahan tak akan pernah bisa apalagi ketagihan) bermain play station. Kenapa? Ini cuma prinsip pribadi kok, jangan dianggap fatwa ya, he…he… Kalau pun ada yang memaksa nantinya saya pikir dulu maslahah mursalah-nya. Bukan sok alim, tapi memang sampai sekarang sama sekali tidak ada minat. Alhamdulillah.

Maaf sebelumnya kalau kali ini bakal provokatif abis tulisannya. Tak ada maksud hati selain saling menasihati, utamanya untuk diri pribadi. Semoga berkenan dan ikhlas menerima seraya menyunggingkan senyum berseri. Yuk, kita mulai berdiskusi.

Bicara play station alias PS tak bisa dilepaskan dari dunia remaja dan/ atau pemuda. Walaupun kini hipotesis ini terbantahkan lantaran dari anak-anak hingga orangtua tak mau kalah saing, namun tetap mayoritas mungkin para kaum muda. Terus, masalah buat loe? (dibaca dengan gaya anak muda). Silakan jawab sendiri. Bagi saya, pada dasarnya jelas tak ada masalah dalam hal ini. Lalu?

Sebagai penyuka bahasa (walaupun belum ahli), saya mencoba menerka makna PS secara etimologi. Meski ini asumsi, menurut saya cukup logis. PS terdiri dari dua kata “play” dan “station”. Tentu kita sudah tahu kedua kata tersebut. Sebagaimana prinsip dasar bahasa Inggris, kata pertama berfungsi menerangkan sifat atau karakter kata kedua (ingat pola MD). Ringkasnya, menurut saya, mengapa dinamakan play station karena ia berfungsi sebagai alat atau tempat bermain. Pertanyaannya, maukah kita selama berapa jam sehari hanya digunakan untuk bermain sementara banyak hal lain yang sebenarnya lebih produktif? Ups… Santai ya, bro. Lanjutin dulu bacanya.

Sebagaimana stasiun kereta api (station), maka mestinya selintas lalu atau cuma sesaat saja kita berada di sana. Beberapa pernyataan dan pertanyaan usil mungkin muncul. Kita anggap aja jadwal kereta molor dan kita harus nunggu berjam-jam di stasiun. Atau ini kan ceritanya musim mudik, harus antri puluhan jam. Terus, Al-Qur’an sendiri bilang bahwa hidup ini hanya permainan, kan? Saya pun punya pertanyaan untuk menjawab dan mengkonfirmasi pertanyaan dan pernyataan tadi. Apakah jadwal kereta molor itu keadaan normal atau tidak? Mudik itu tidak setiap hari, kan? Coba baca lagi kenapa di Al-Qur’an dikatakan demikian? Bukankah justru pesan di dalamnya menyiratkan agar kita tak mudah diperdaya dengan permainan dunia? Pertanyaan retoris. Semoga masih logis.

Lalu, kita harus kubur semua alat PS itu? Tentu tidak, saudara-saudara sekalian. Sesekali atau beberapa kali boleh lah, bro. Asal jangan kebanyakan “kali”nya. Ntar kebanjiran, he…he… (kali =sungai).

Ini semua hanya perkara manajemen diri. Ada yang bilang manajemen waktu. Tapi bukannya waktu dari dulu gitu-gitu aja tetap 24 jam sehari, ya? Ya, sebenarnya kita yang sebaik mengatur diri dalam menyikapi waktu. Bukan kita sok ngatur waktu, apalagi nyalahin waktu.

Kenapa kemudian PS disejajarkan dengan “play syaithon” yang terkesan dipaksain banget. Ini sebenarnya terinspirasi dari ucapan salah satu ustadz yang saya kenal. Beliau mengaku miris melihat tingkah sebagian kaum muda yang kalau sudah bersentuhan dengan PS lupa segalanya. Jadilah sang ustadz berseloroh, “Ini play station atau play syaithon?” Artinya, diakui atau tidak memang PS menjadi ruang strategis bagi meluncurnya panah-panah setan (bahasa Arab: syaithon). Tak hanya PS sebenarnya. Facebook, twitter, YouTube, dkk. Pun punya peluang Sama, bahkan mungkin lebih ganas. So, melalui tulisan ini sebenarnya saya hanya berefleksi terhadap diri sendiri. Tentu ini bukan berarti saya adalah orang dengan manajemen waktu (eh, manajemen diri) paling bagus. Tapi, yuk sama-sama saling bantu mengingatkan kala khilaf.

Terakhir, saya sampaikan bahwa tentu sebagai sarana hiburan PS atau produk teknologi lainnya sah-sah saja kita datangi. Cuma, satu pesan untuk saya dan Anda, bahwa sebenarnya masih banyak tugas kita yang lain. So, sayang banget kalau kita hamburkan waktu untuk hal begitu. Ada waktu luang, bijaklah dalam menggunakan. Salam persaudaraan dan stay calm.

“Dua nikmat Allah yang sering dilupakan manusia ialah waktu luang dan masa sehat”.
(HR. Bukhari, derajat hadits: shahih)

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Nur Afilin
Aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).
  • provokatif banget, coba ngomong langsung sama perusahaan SONY suruh tutup pabriknya tuh. Dari sejak kelas 3 SD sampe sekarang, ane tetep maenin gak nganggu ibadah dan nilai di sekolah. Seperti pisau, apakah karena pisau bisa membunuh orang lalu pisau dianggap haram, tentu tidak. Atau seperti internet yang karena bisa mengakses situs porno kemudan internet diharamkan, tentu tidak. Semua trergantung penggunaannya.

  • namanya maen ps jg pasti maennya di waktu luang -_-.

  • Jana

    fb, twitter, youtube dll.
    saya masih setia berselancar di dunia maya walaupun dalam minggu ujian. seperti apa nilai ujian saya? kita lihat nanti.
    play station or play syaiton. :)

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Manusia Butuh Masalah