Home / Narasi Islam / Sosial / Bincang Ukhuwah

Bincang Ukhuwah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim) adalah satu konsepsi Islam yang menyatakan bahwa setiap muslim dengan muslim lainnya hakikatnya ialah bersaudara. Banyak ayat Al-Qur’an maupun hadits Rasulullah SAW yang menjadi landasan konsep ini. Bahkan dalam beberapa keterangan kerap sekali kata “ukhuwah” atau turunannya digandengkan dengan kata “iman”, “Islam” atau “orang beriman”. Hal ini mengindikasikan bahwa ukhuwah merupakan salah satu parameter utama keimanan dan keislaman seseorang.

Firman Allah SWT yang masyhur di kalangan kita menyatakan sebagai berikut:

Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Oleh karena itu, damaikanlah (perbaiki hubungan) antara kedua saudaramu itu. Dan patuhlah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (Q.S. Al-Hujurat: 10)

Rasulullah SAW pun bersabda:

Seorang muslim adalah bersaudara dengan sesama muslim. Tidak menganiayanya dan tidak akan dibiarkan dianiaya orang lain. Barangsiapa mencukupi kebutuhan saudaranya, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya. Barangsiapa melapangkan kesusahan seorang muslim, maka Allah akan melapangkan kesukarannya di hari Kiamat. Dan barangsiapa menutupi aurat seorang muslim, maka Allah akan menutupi auratnya di hari Kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar RA)

Ukhuwah tidak bertentangan sama sekali dengan nasionalisme atau patriotisme. Bukankah iman sebagai landasan ukhuwah tak berarti selalu menegasikan manusia lain yang tidak seiman? Hak dan kewajiban sesama manusia tetap diatur dalam Islam.

Mengutip esensi yang disampaikan Asy-Syahid Hasan Al-Banna dalam Majmu’atur Rasail bahwa ajaran Islam tidak akan bertentangan dengan apapun nama ajaran buatan manusia manakala ajaran tersebut memang diciptakan untuk kemaslahatan. Lanjutnya, kalau nasionalisme yang dimaksud adalah semangat membangun negeri di mana seorang tinggal, maka Islam pun memerintahkan hal itu. Bahkan banyak perintah beramal dan berdakwah justru Allah perintahkan mulai dari yang terdekat, bukan? Manakala nasionalisme itu bermakna seperti yang sebagian negara adidaya berlabel “nasionalis” lakukan, maka Islam akan menentang. Ya, Islam amat melarang kita membangun negeri sendiri dengan cara zhalim seperti merampas tanah air negeri lain atau mengeksploitasi kekayaan alamnya. Pun begitu dengan patriotisme. Jika patriotisme itu artinya membela tanah air jika ada musuh datang, Islam juga mendorong hal yang sama sejak dahulu.

Seberapa penting sebenarnya eksistensi ukhuwah ini? Maka, kita bisa menggali jawabannya dari teladan yang Rasulullah Muhammad SAW lakukan manakala mula-mula hijrah ke Madinah. Diakui atau simpul ukhuwah adalah titik temu dari dua kebijakan prioritas Rasulullah SAW kala itu. Mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar amat terang akan esensi ukhuwah. Begitu pula dengan membangun masjid. Siapa yang menyangkal bahwa persaudaraan yang digodok melalui interaksi rata-rata lima kali sehari di masjid adalah hal yang tidak penting?

Lalu, bagaimana kabar ukhuwah hari ini? Maka, jawabannya tentu masih jauh dari praktik ukhuwah di zaman terbaik (khairul qurun) dahulu. Sebagian kaum muslimin kini masih merasa canggung bergaul dengan sesamanya dengan dalih beda suku, bahasa, kulit, dsb. Beberapa kelompok Islam juga masih ada yang saling tuding menyalahkan seraya membusungkan dada dengan angkuh. Namun, bagaimana pun realitanya, kita tak boleh nihil usaha.

Menarik menurut saya satu konsep tawaran Hasan Al-Banna mengenai bagaimana langkah membangun ukhuwah ini. Ada tiga tahapan menurut beliau, yakni: ta’aruf, tafahum, dan takaful. Tentu istilah tersebut tak asing lagi bagi sebagian dari kita. Ringkasnya, ta’aruf itu meisyaratkan kita agar minimal mengenal latar belakang saudara seiman kita. Paling tidak nama, asal, aktivitas, keluarga, dll, yang dianggap perlu menjadi komponen yang sebaiknya digali di tahapan ini. Kemudian memasuki fase tafahum kita dituntut untuk memahami saudara kita lebih detail lagi. Apa yang dia sukai, yang tidak disukai, kecenderungan minat, bakat, dsb. Mesti coba kita pahami. Dengan demikian, harapannya kita sudah bisa bergaul dengannya secara lebih bijak. Terakhir, tingkatan takaful memerintahkan agar kita bisa saling menanggung urusan alias membantu satu sama lain. Inilah muara ukhuwah yang hendak kita capai di mana puncaknya ialah berupa itsar (mendahulukan kepentingan saudara kita).

Cukuplah firman Allah SWT berikut sebagai bekal kita:

Tolong-menolonglah kamu dalam hal kebaikan dan takwa. Dan janganlah kamu tolong-menolong dalam perkara dosa dan pelanggaran” (QS Al-Maidah: 2)

Selain itu, dalam rangka membangun ukhuwah ini perlu bagi kita memahami dan berhati-hati terhadap beberapa hal yang bisa merusak ukhuwah. Allah SWT telah memberi contoh perusak ukhuwah ini dalam firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokan) dan jangan pula wanita wanita-wanita mengolok-olokan wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita (yang diperolok-olokan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Hujurat: 11-12)

Menurut Ust. Ahmad Yani, dari dua ayat di atas kita harus berhati-hati terhadap enam hal yang bisa merusak ukhuwah. Enam hal tersebut meliputi: mengolok-olok; mencaci atau menghina orang lain dengan kata-kata yang menyakitkan; memanggil orang lain dengan panggilan gelar-gelar yang tidak disukai; berburuk sangka; mencari-cari kesalahan orang lain; dan bergunjing dengan membicarakan keadaan orang lain yang bila ia ketahui tentu tidak menyukainya.

Akhirnya, semoga dengan mengetahui bagaimana konsep ukhuwah dalam Islam, urgensi, tahapannya, serta hal-hal yang berpotensi merusak kita bisa secara kontinyu mengupayakannya bersama. Semoga bermanfaat.

Ringkasan materi KanTin (Kajian Rutin) KAMMI Madani Kamis (18/4) lalu. Disarikan dari berbagai sumber.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Nur Afilin
Aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).

Lihat Juga

Refleksi Hadits Arbain Kesatu dan Kedua