Home / Pemuda / Mimbar Kampus / Kartini Baru Indonesia

Kartini Baru Indonesia

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

kartinidakwatuna.com – 21 April, yaa… itulah hari yang kita sebut dengan hari Kartini. Seantero nusantara memperingati tgl 21 April sebagai peringatan hari Kartini dengan dalih mengenang jasa RA Kartini sebagai Pahlawan.  Meskipun menurut beberapa sejarawan seperti Tiar Anwar Bahtiar, seperti yang disampaikan dalam salah satu jurnal nya ‘Mengapa Harus Kartini..?’, dan Sejarawan dari Universitas Indonesia Prof. Dr. Harsja W. Bachtiar pun pernah menggugat tentang pengkultusan seorang Kartini sebagai pahlawan Nasional.

Menurut Prof Harsja, ternyata ada banyak tokoh perempuan Indonesia yang tidak kalah penting nya dengan Kartini, seperti sosok wanita hebat yang ada dalam sejarah Indonesia seperti Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan yang berdaulat dari Aceh dan Siti Aisyah We Tenriolle dari Sulawesi Selatan. Tapi saya tidak akan mempermasalahkan tentang sejarah, dan tidak mau terlalu larut dalam perbedaan pandangan sosok perempuan dalam sejarah Indonesia. Tetapi saya lebih senang dengan sosok Kartini sebagai orang yang mengangkat harkat dan martabat serta memajukan kaum pribumi.

Tapi tidak denganku, kusambut hari Kartini itu dengan tangisan batin, kusambut hari Kartini itu dengan lokus domain penjajahan baru terhadap kaum perempuan Indonesia. Penjajahan hak hak perempuan, penjajahan hak hak seorang ibu, dan penjajahan baru yang saya sebut sebagai western terhadap budaya perempuan Indonesia. Kasus demi kasus di penghujung tahun 2012 sampai di triwulan pertama tahun 2013, di mulai dari kasus pemerkosaan, pembunuhan, mutilasi dan pelecehan seksual yang dialamatkan pada kaum perempuan.

KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) sebagai gerakan mahasiswa dan gerakan kepemudaan punya andil besar mengatasi permasalahan perempuan Indonesia. Apa lagi di KAMMI ada salah satu unsur dalam organisasi ini yang concern terhadap masalah perempuan, yaitu bidang kemuslimahan. Sampai di tataran KAMMI Pusat ada program yang dinamakan “Sekolah Perempuan Indonesia” Tetapi di dunia modern seperti ini malah muncul satu gerakan perempuan yang mengatasnamakan sebagai lokomotif penyelamatan perempuan, muncul atas nama kebebasan perempuan, muncul atas nama melawan ketertindasan hak perempuan, muncul atas satu bendera membangun kesetaraan gender sebagai bentuk reaktif dan saya pikir bukan by design untuk membangun kualitas perempuan Indonesia.

Sekarang kita akan berhenti sejenak, menghela nafas panjang, melihat realitas. Apa yang kemudian bisa KAMMI tawarkan terhadap masalah ini, apakah kemudian KAMMI akan membangun suatu gerakan baru untuk membendung dan melawan gerakan feminisme yang menjadi icon gerakan perempuan di seluruh dunia, ataukah kemudian KAMMI menawarkan solusi cerdas sebagai perbaikan tatanan moral perempuan seperti yang dilakukan oleh para sahabiyyah di zaman Rasulullah saw. Masalah ini akan bisa terselesaikan ketika mengejewantahkan apa yang termaktub dalam platform yang dianut KAMMI seperti yang ada dalam Manhaj. Maka mari kita mengkaji, berdialetika dengan penuh kesadaran tentang penindasan terhadap hak hak perempuan.

Lawan, lawan, dan melawan…!!!!!!

Sedikit saya akan menyinggung pergerakan muslimah di tataran pergerakan mahasiswa. Gerakan mahasiswa sebagai unsur gerakan moral harus membangun satu kesatuan langkah, ide, dan atmosfir baru dengan gerakan gerakan perempuan yang ada, apakah itu dengan LSM, ataupun yang lainnya. Membangun suatu komunitas kajian, konsolidasi, hingga tahap action dengan satu tujuan, mampu menjadi mediator kebaikan di masyarakat.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Burhanuddin
Staff Humas KAMMI daerah Papua.

Lihat Juga

Wakaf Sebagai Solusi Pengembangan Infrastruktur di Indonesia