Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Menyelami Makna Kebahagiaan

Menyelami Makna Kebahagiaan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Sering kali kita mencari makna bahagia dan kebahagiaan dalam kehidupan ini. Meyakini pada dasarnya setiap insan ingin mendambakan bahagia. Setiap orang ingin beroleh bahagia. Tapi cara untuk mendapatkannya tetap menjadi tanda tanya “?”. Orang senantiasa meraba-raba tak kunjung menemukannya. Untuk banyak orang, bahagia hanyalah semacam impian belaka, suatu yang tak terjangkau oleh manusia. Dari masa ke masa orang berbicara soal bahagia. Tapi kenyataan yang ada, sungguh amat berbeda. Dunia telah berwarna derita. Melarat telah menyemai di mana-mana.

Lalu kita bertanya: “kenapa?”

Kenyataan yang ada, “melarat, derita, sengsara, kehancuran”, membuat insan dunia merasa resah, gelisah, takut dan ngeri. Berjalan pun enggan, takut. Bermimpi pun enggan, tak berharga. Maka Nampak jelas di manakah letak sejatinya insan yang benar.

Allah Swt telah berfirman:

Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah (QS. Yunus: 62)

Sungguh beruntunglah orang-orang beriman dan bertaqwa. Pada dirinya mengalir ketaatan kepada aturan-aturan Allah. Seluruh anggota tubuhnya berjalan atas kehendak Allah. Pada dirinya berbekas kebenaran dan memancarkan nur illahi. Sedangkan orang yang tidak beriman dan bertaqwa. Hatinya kosong dari nur illahi. Dia jauh dari bimbingan Allah. Dia terlepas dari kendali Allah. Dia selalu takut akan datangnya bahaya-bahaya dari luar dirinya. Baik itu manusia ataupun makhluk lain. Sehingga terkadang, ketika kesempurnaan telah berada pada dirinya, jiwanya merana tersiksa, penuh derita. Meski bahagia yang diidam-diamkannya, namun sengsara menimpanya.

Orang yang tidak beriman dan bertaqwa mulanya mencari kebahagiaan dengan melepaskan diri dari aturan-aturan yang telah Allah terapkan. Maka, sejatinya ia akan mendapatkan sebuah kenyataan bahagia baginya jauh dari kenyataan. Baginya kebahagiaan hanyalah isapan belaka.

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.  (QS. Thoha: 124)

Semestinya, insan menyadari arti hidup dan kehidupan sebenarnya. Kebahagiaan yang besar adalah ketika keimanan telah merangkai dan menyemai dalam diri kita dan aktivitas kehidupan kita. Maka Bahagia menjadi jaminan mutlak dari Zat Yang Memiliki Kebahagiaan, Allah Azza Wa Jalla.

Jangan pernah berhenti untuk memperbaharui keimanan kita. Dan semoga Allah memberi gelar untuk insan-insan ini dengan gelar orang-orang yang beriman dan bertaqwa. Aamiin.

Allahu’alam bissawwab…

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ramadhan Aziz
Sebagai seorang mahasiswa di Perguruan Tinggi Swasta di Jakarta, yang mencoba untuk senantiasa bisa memperbaiki diri dengan terjun dalam dunia dakwah. Mencoba aktif di berbagai organisasi. Seperti KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) komisariat Madani, FLP Jakarta (Forum Lingkar Pena), Mencoba untuk konsern pula di ADS (Aktivitas Dakwah Sekolah) dengan mengisi agenda mentoring per pekan di sekolah yang ada di kabupaten Bogor. Dengan moto Melangkah dan Berkarya.

Lihat Juga

Kamu adalah Temanmu