Home / Berita / Opini / “Kekalahan Madrid, Lewandowski, dan Pelajaran untuk PKS”

“Kekalahan Madrid, Lewandowski, dan Pelajaran untuk PKS”

madriddakwatuna.com – Melirik pertandingan semifinal leg pertama Liga Champions tadi subuh (25/4) antara Borussia Dortmund dan Real Madrid yang berakhir diluar dugaan (4-1 Madrid kalah), kita pun akan menyaksikan pemandangan yang sangat kontras. Skuad Si Putih yang begitu mentereng dan Penghuni Iduna park yg didominasi pemain muda tanpa nama besar. Sekedar informasi, starting eleven Real Madrid keseluruhan bernilai 345 juta poundsterling, bandingkan dengan dortmund yang hanya memiliki bandrol 29 juta pounds. Bahkan, gaji Ricardo Kaka pun lebih besar nominalnya dibanding gaji keseluruhan pemain Dortmund.

 

Ada pelajaran penting yang mestinya bisa ditangkap.

Pertama, bahwa kaderisasi internal adalah hal terpenting. Dari starting eleven Madrid, hanya Diego Lopez yang merupakan produk asli akademi Castila, sisanya adalah produk ‘jadi’ yang memang didatangkan saat mereka tengah ‘on fire’, Ronaldo dari MU, Kaka dari Milan, Benzema dari Lyon, Alonso dari Liverpool. Ozil dan Khedira pun dikontrak pasca tampil ciamik bersama timnas Jerman di piala dunia 2010. Dengan skuad sedemikian mahal, sejak kedatangan Ronaldo (tahun ini genap 5 musim), Madrid cuma mampu memenangi 1 trofi La Liga, 1 Copa del Rey, dan 1 piala Super Spanyol. Gak worthed dengan nominal uang yang sudah digelontorkan.

Lihatlah berapa banyak partai politik yang melakukan strategi serupa, seolah tradisi politisi “kutu loncat” yang pindah partai sampai berkali-kali sudah jadi hal lumrah. Plus jadi petinggi pula di partai yang baru. Secara kasat mata, mungkin ini terlihat berhasil, tapi mau sampai kapan?

Maka aku menaruh simpatik yang sangat tinggi pada PKS yang memiliki kaderisasi terstruktur, begitu rapi dan terjaga. PKS merupakan satu-satunya partai politik di Indonesia saat ini yang lebih mengutamakan kader internal untuk diusung sebagai calon legislatif ketimbang nama-nama beken seperti selebritis yang banyak digunakan partai-partai lain sebagai pendongkrak suara.Tidak heran, ketika terpilih, Aleg-Aleg dari PKS bekerja sepenuh hati, karena mereka paham akan keberadaan mereka sebagai amanah besar, sense of belonging yang tinggi membuat mereka bahkan rela mengundurkan diri saat melakukan kesalahan, ketimbang merusak kepercayaan rakyat terhadap Partai. Sedangkan yang lain, sebagian dari mereka berkerja hanya untuk citra pribadi, sampai menggunakan cara-cara kotor yang merugikan demi mengembalikan uang yang mereka habiskan saat kampanye. Gak ada urusan dengan citra partai karena sejak awal memang tidak ada ikatan emosional, tidak ada cinta (#tsaaah). Semoga PKS tetap istiqomah.

Pelajaran kedua, dari sosok Robert Lewandowski, pemuda polandia berusia 24 tahun. Pemain yang pada musim 2006-2007 lalu masih bermain di divisi 3 liga Polandia, ia ditransfer ke Borussia Dortmund dari Lech 3 tahun lalu hanya dengan nominal 4,5 juta euro. 20 kali lipat lebih kecil dari bandrol Cristiano Ronaldo saat diboyong Madrid dari Old Trafford.

Siapa yang menyangka, kalau pemain ini bisa menggelontorkan 4 gol sekaligus ke gawang tim sekelas Real Madrid, sesuatu yang bahkan Lionel Messi, pemegang 4 ballon d’Or berturut-turut tidak pernah lakukan. Lewandoski bermain penuh determinasi dan tanpa rasa takut.

Jangan pernah remehkan mereka yang tak punya nama besar. Partai Keadilan Sejahtera, sewaktu masih bernama Partai Keadilan bahkan tidak lolos electoral threshold mungkin suatu hari nanti juga bisa menjelma sebagai “lewandowski” dan mengejutkan peta politik Indonesia dan dunia.

Partai ini dibangun dari nol, dari tak punya apa-apa, tak punya tokoh, dari jumlah kader yang sangat sedikit. Siapa yang menyangka kalau saat ini PKS bisa menjadi salah satu Partai terbesar yang begitu disegani.

Maka menang di 2014 nanti akan menjadi pembuktian PKS bahwa nama besar tidaklah menjadi jaminan, bahwa kemenangan akan berada dalam genggaman selama kita bertarung dengan determinasi tinggi dan penuh keyakinan.

Untukku, sepakbola tidak pernah hanya sekedar sepakbola. (nra/ppy)

Samarinda, pagi nan cerah 25-04-13

*penulis: @nastarabdullah on twitter

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (12 votes, average: 9,58 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com
  • aziz

    ngawur..varane itu baru dibeli dari Lens, klub perancis…dia dari akademi klub lens itu.

    • yg dari akademi Madrid Diego Lopez, walau sempat dijual ke sevilla. cm kl g salah si Varane ini sempat masuk tim castila smblm k tim senior..maaf kl ada khilaf..

  • aziz

    pelajaran lainnya adalah dortmund menjadikan permainan sepak bola ini benar2 PERMAINAN, sedangakan madrid tertuju pada TUJUAN : MENANG utk decima…dortmund benar2 menikmati permainan…tujuan mereka bermain baik dan dengan hati…nah kalo PKS tujuannya dakwah atau kekuasaaan? hehehe

  • Timothius

    yg di PKS piyungan kekalahan Barcelona jadi acuan PKS , haduhh gak kreatip banget nih penulis

  • tim admin monggo di edit…saya jd gak enak nih sama fans2 Madrid :D tp semoga gak out of topic..

  • saya yg nulis coretan2 ini, kl berkenan nama Rafael Varane diganti aja sm Diego Lopez, mungkin saya mmg khilaf nulisnya (nastarabdullah)

  • andri

    PARTAI tetap PARTAI yang mengedepankan kekuasaan belaka, sepak bola hanya permainan yang yang mengedepankan sportifitas dan kesenangan belaka…

  • Anton Akong

    sepak bola di sambungin ke politikkkkk,…….katro luuuuu

Lihat Juga

Anies-Sandi Dinilai Memiliki Integritas yang Sangat Baik