15:23 - Kamis, 24 April 2014
Emi Rahyuni, SP.

Meneruskan Perjuangan Kartini, SPI dari Perempuan KAMMI untuk Indonesia

Rubrik: Mimbar Kampus | Oleh: Emi Rahyuni, SP. - 25/04/13 | 14:30 | 15 Jumada al-Thanni 1434 H

Logo Sekolah Perempuan Indonesia (SPI).

Logo Sekolah Perempuan Indonesia (SPI).

dakwatuna.com - 21 April biasanya menjadi hari selebrasi bagi seluruh perempuan atau wanita Indonesia. Perempuan atau wanita, dari kedua diksi kata itu saya sepakat dengan Buya Hamka yang lebih memilih menggunakan kata perempuan ketimbang wanita, sebab perempuan sarat akan makna dan tanggung jawab yang besar. Jika menilik kata dasarnya, perempuan berasal dari kata empu, di mana konon zaman dahulu gelar empu merupakan gelar yang tidak kepada sembarang orang disematkan. Per-empu-an. Tapi betapapun mulianya sebuah gelar yang disematkan kepadanya, perempuan harus menyadari bahwa gelar tersebut merupakan ajang pembuktian bahwa perempuan memang layak dijadikan per-empu-an.

Kembali ke selebrasi tanggal 21 April yang merupakan hari lahir salah satu pahlawan perempuan Indonesia, Raden Ajeng Kartini. Meskipun ada beberapa kalangan yang keberatan, mengapa beliau begitu spesial hingga tanggal kelahirannya diabadikan dan senantiasa dirayakan oleh perempuan Indonesia. Menurut mereka, perjuangan Kartini tidak seberat pahlawan perempuan yang lain, seperti Cut Nyak Dien, Christina Marta Tiahahu yang ikut memanggul senjata untuk mengusir penjajah bangsa ini.

Tetapi kita tidak boleh lupa, perjuangan Kartini untuk memajukan perempuan Indonesia dalam hal pendidikan, merupakan jasa yang tiada tara. Lewat terobosan-terobosan beliau, keran-keran berpikir rakyat Indonesia yang saat itu tersumbat, bahwa perempuan tak perlu mengenyam pendidikan, cukup berkiprah di kasur, sumur, dan dapur, akhirnya terbuka sudah.

Kini perempuan bebas memilah dan memilih, bidang keilmuan apa yang ingin ia tekuni, setinggi apapun jenjangnya selama ia mampu. Tetapi  dewasa ini muncul fenomena yang cukup mengkhawatirkan. Kebebasan perempuan dalam menentukan pilihannya, tidak hanya dalam hal pendidikan, melainkan pekerjaan, kesehatan dan lain-lain, tak jarang di salah artikan dan disalahgunakan. Kartini, bagaimanapun hebatnya ia berjuang mengangkat harkat kaumnya, kita tidak boleh lupa, bahwa ia tetaplah perempuan yang tidak pernah berniat menabrak rambu-rambu fitrahwi. Menariknya lagi, para sejarawan akhirnya mengungkap sebuah fakta bahwa buku yang ditulis oleh Kartini yang begitu terkenal dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang” itu merupakan hasil inspirasi dari sebuah potongan ayat Al-Qur’an yang berbunyi “Minazzulumati Ilannur” yang artinya “Dari kegelapan menuju cahaya”

Demikianlah Kartini, yang saya yakini bahwa perjuangan beliau untuk kaumnya adalah hal yang tulus, bukan sekadar untuk menyaingi pasangan jenisnya, laki-laki. Maka, kepadamu wahai perempuan yang hari ini masih terinspirasi dengan karya-karya beliau, jangan membuat Kartini kita kecewa dengan menuntut kebebasan setinggi langit, memperjuangkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan secara membabi-buta, bahkan dalam hal fisik sekalipun. Tahukah engkau, wahai perempuan masa kini? Bagaimanapun kerasnya Kartini berjuang untukmu dan kaummu, ia tetaplah seorang Ibu yang mengandung, bahkan menjemput syahid ketika melahirkan putranya.

Maka, tidaklah mengapa jika atas nama meneruskan perjuangan Kartini, perempuan menuntut ilmu, bekerja sesuai potensi yang dimilikinya, tanpa melupakan hal fitrawi, bahwa perempuan tetaplah perempuan, yang berbeda dari laki-laki. Bukankah ketika berolahraga, kita tetap meminta untuk dibedakan dan dipisahkan dari kaum laki-laki? Pun jika kita bekerja, kita tetap meminta waktu cuti untuk melahirkan dan menyusui.

Maka kami atas nama perempuan KAMMI di seluruh Indonesia, mengaku tergerak untuk melanjutkan perjuangan Kartini dengan mendirikan Sekolah Perempuan Indonesia yang tersebar di seluruh Provinsi Indonesia. Kami ingin memberikan pencerahan bahwa perempuan adalah makhluk yang mulia. Ia lembut, tapi bukan berarti lemah. Sehebat apapun ia di luar rumah, di dalam keluarganya ia memiliki tugas yang tidak kalah pretisiusnya, yakni sebagai istri bagi suaminya, juga sebagai ibu bagi anak-anaknya.

Sekolah Perempuan Indonesia adalah sebuah persembahan dari perempuan KAMMI untuk seluruh perempuan Indonesia, program yang bertujuan untuk mencerdaskan dan mengembangkan potensi perempuan Indonesia. Walaupun sifatnya nonformal, kami menamainya Sekolah karena kami berharap program ini bisa berkelanjutan, tempat bersemainya kekuatan-kekuatan perempuan untuk menjadi madrasah yang mumpuni, pertama dan utama, bagi generasi penerus bangsa.

Kami sadar bahwa perjuangan kami belumlah seberapa dibanding perempuan-perempuan Indonesia yang sudah banyak berkontribusi untuk memajukan kaumnya. Tetapi izinkan kami mengambil bagian dari peran ini, karena kami paham bahwa tidak semua perempuan Indonesia memiliki kekuatan yang sama, bahkan sekadar untuk mempertahankan haknya. Bergabunglah bersama kami, sebab kita punya tujuan yang sama mulianya. Semoga Allah meridhai perjuangan setiap perempuan Indonesia untuk menjadi cerdas dan berkarakter luhur, sebagai modal besar membangun sebuah bangsa yang bermartabat, Indonesia tercinta.

Emi Rahyuni, SP.

Tentang Emi Rahyuni, SP.

Kabid Pemberdayaan Perempuan PP KAMMI. [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Topik:

Keyword: , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (2 orang menilai, rata-rata: 10,00 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
58 queries in 1,028 seconds.