Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ajaibnya Mencontek

Ajaibnya Mencontek

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (dok. Undip).
Ilustrasi (dok. Undip).

dakwatuna.com – Saya terkejut ketika tiba-tiba dari sebelah tempat duduk saya terdengar suara untuk menanyakan jawaban dari soal ujian. Ya, karena pada hari itu sedang diadakan ujian salah satu mata kuliah. Dengan sedikit bingung penulis juga harus memberanikan diri untuk menolak secara halus suara itu. Ya, maklum suara itu datang dari seorang bapak yang usianya jauh di atas penulis, dan merupakan kandidat doktor (S3) di salah satu universitas di Indonesia. Bapak ini adalah seorang dosen di salah satu universitas yang sedang melanjutkan pendidikannya. Ini hanyalah potret kecil pendidikan kita, hal serupa banyak terjadi di institusi-institusi pendidikan Indonesia, mulai dari SMP, sma, hingga perguruan tinggi. Menyedihkan, lembaga yang membawa bendera pendidikan dan cikal bakal generasi negeri ini banyak dikotori dengan proses yang tidak membawa nilai pendidikan itu sendiri. Bagaimana menghasilkan anak didik yang baik kalau pengajarnya sendiri melalui proses yang sangat tidak beretika seperti itu.

Saya yakin yang mencontek dan pemberi contekan sama-sama menanggung dosa itu, karena pemberi contekan diibaratkan sebagai fasilitator dari usaha mencontek, walaupun dia sendiri tidak mencontek. Jadi secara tidak langsung dia sudah terlibat dalam keburukan itu. Beberapa waktu yang lalu ketika ujian sedang dilaksanakan, saya kembali dibuat heran, seorang perempuan itu yang tempat duduknya tidak jauh dari penulis ternyata sudah menyiapkan catatan dan bersuka ria sambil membolak-balik kertas itu. Ya aneh, karena ini kelasnya pasca sarjana dan ibu ini juga seorang pengajar. Ternyata hampir tidak ada bedanya dengan para siswa, orang-orang intelektual dan merupakan penerus kepemimpinan bangsa ini seharusnya bisa memberi tauladan yang baik, dan bahkan semakin aneh ada beberapa pelaku contekan itu berprofesi sebagai dosen dan sedang melanjutkan studinya.  Bagaimana kelak ia mendidik para mahasiswanya kalau mentalitas sudah seperti itu. Teman penulis juga menceritakan kalau temannya sesama di STKIP di salah satu kota, banyak melakukan praktek mencontek. Kalau para calon guru tersebut melalui cara-cara yang tidak sehat seperti itu, bagaimana kelak dengan anak didiknya?

Ini hanya sedikit potret yang terjadi di negeri ini. Betapa hal-hal tersebut sudah marak terjadi di dunia pendidikan kita. Seharusnya tingkat pendidikan berkorelasi positif terhadap tingkat kedewasaan dan nilai kejujuran pada diri seseorang, semakin tinggi pendidikannya semakin baik pula nilai kejujuran tersebut.  Kalau dari SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi sudah ‘membudaya’ praktek mencontek, bagaimana setelah lulus?

Ada orang yang beranggapan mencontek adalah suatu perkara kecil, liat saja bagaimana kebocoran Ujian nasional, tidak jarang justru melibatkan “peran guru” dari sekolah tersebut.  Seorang teman bercerita kalau di sekolahnya ada semacam instruksi dari kepala sekolah untuk berpegang kepada jawaban yang beredar dari sms, beberapa jam sebelum pelaksanaan ujian.

Kalau dunia pendidikan kita tidak berbenah, maka tunggulah maka “keajaiban” akan muncul. Mentalitas mencontek ini akan merongrong bangsa ini. Ia akan membius, menghujam, melukai bahkan melumpuhkan sehingga bisa menjadi bangsa yang kerdil dan miskin identitas.  Kalau pendidikan menjadi kata kunci dan fondasi bagi kemajuan bangsa ini, akankah Indonesia bisa maju dengan kondisi yang ada sekarang ini. Ketidakjujuran, perilaku korup sudah mengakar dan menjalar ke mana-mana, tidak melihat status pendidikan, legislatif, eksekutif, bahkan yudikatif yang berperan dalam penegakan hukum sudah banyak terlibat dalam beberapa kasus korupsi.

ini,

Cikal bakal Korupsi?

Negeri ini semakin dihebohkan dengan kasus korupsi yang tidak ada habis-habisnya dan dengan jumlah hingga milyaran rupiah. Menurut suatu sumber, total pengaduan kasus korupsi nasional ke KPK hingga sekarang lebih dari 50.000 kasus. Waw, jumlah yang fantastis, kerugian negara dengan jumlah sebesar itu diperkirakan bisa mencapai ratusan- ribuan trilyun.

Lalu apa kaitannya dengan mencontek? Kalau mencontek mencuri jawaban, korupsi mencuri uang negara.  Walaupun belum ada penelitian khusus kalau mencontek mempunyai korelasi langsung terhadap perbuatan korup, tapi mencontek adalah benih-benih yang siap tumbuh membentuk mentalitas korup tersebut.

Kalau dari pendidikan dasar seseorang sudah melakukan contekan kemudian tidak pernah mengubah kebiasaan tersebut hingga perguruan tinggi dan akhirnya lulus bisa menjadi faktor penyebab terbangunnya mentalitas korup tersebut. Keburukan yang dilaksanakan secara terus menerus akan menghilangkan sensitivitas akan nilai kebaikan. Fenomena korupsi yang terjadi belakangan ini menunjukkan bukan hanya terjadi pada orang yang kekurangan materi, tetapi sebaliknya pada orang-orang yang berlimpahan harta, sebut saja para pejabat, dewan, hingga pengusaha.

Pelajaran berharga yang dicontohkan oleh khalifah Umar, semasa ia berkuasa ketika sedang berada dalam suatu ruangan untuk mengerjakan tugas negara, anaknya mendatanginya. Ia pun kemudian menanyakan keperluan anaknya tersebut. Karena anaknya datang untuk keperluan keluarga ia lalu segera mematikan lampu ruangan. Karena ia sadar lampu yang ia pakai adalah fasilitas negara yang tidak boleh digunakan untuk kepentingan pribadi. Begitulah Sifat profesionalisme dan kehati-hatian yang ditunjukkan Umar. Semoga jadi pelajaran bagi para pemimpin kita dan tidak meremehkan hal-hal yang dianggap kecil.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 9,89 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Jaini Fakhrudin Al Razi
Anak ke dua dari lima bersaudara, merupakan mahasiswa Pascasarjana prodi Teknologi Industri Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Aktif di Himpunan Mahasiswa Muslim Pascasarjana (HIMMPAS) IPB.
  • Memang negara kita sudah bobrok! …. itu bukan rahasia lg. Dan tdk ada i’tikad dari para pemimpin negeri untuk membenahinya…karena, yyaaa udah bobrok juga!!! ckkckck… kasian negeri ini……banyak dan segudang org pandai yg harus hijrah krena negaranya sendiri tdk menghargai kepandaiannya..justru negara lain yg membutuhkannya (bahkan kebanyakan negara maju yg menghargai kepandaian mereka). Org pandai hidup susah dinegara ini, tpi org pinter ngomong/pembohong/penjilat…maka akan sukses hidupnya!!! INI FAKTA yg smua org, bahkan negara lain pun sudah tau….tpi negara kita tidak malu akan kebusukan tersebut.

    Potret yg menyedihkan negeri yg memiliki segudang org pintar (SDM) dan kekayaan alam yg diakui dunia… :(

    • setuju….kewajiban kita untuk memperbaiki….mulai dari diri kita,keluarga,tetangga,lingkungan RT,RW,kelurahan,kecamatan,kabupaten,propinsi,dan akhirnya negara…..perlu kesabaran…ini lebih baik dari pada terus mikirin yg membuat kita kesal hati….tetap semangat bersolusi…harus kita selamatkan negri ini demi anak cucu

  • Dedy

    Sangat Miris yah……..

    #Prihatin dengan bangsa ini……

Lihat Juga

Ilustrasi. (Foto: lensaindonesia.com)

Islam di Indonesia, Jangan Ibarat Air Susu Dibalas Air Tuba

Organization