Home / Berita / Internasional / Eropa / Israel Berang, Menlu AS Bandingkan Bom Boston dengan Mavi Marmara

Israel Berang, Menlu AS Bandingkan Bom Boston dengan Mavi Marmara

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (Menlu AS) John Kerry
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (Menlu AS) John Kerry

dakwatuna.com – Istanbul.  Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (Menlu AS) John Kerry membandingkan tragedi bom maraton Boston dengan Mavi Marmara yang menewaskan sembilan warga Turki. Pejabat Israel pun berang mendengar hal ini dan meminta Kerry untuk pergi ke Chechnya.

“Saya tahu, ini merupakan isu yang memancing emosi beberapa orang warga. Saya ingin mengatakan pada keluarga korban (Mavi Marmara) bahwa kami sangat memahami peristiwa ini, kami bersimpati pada mereka,” ujar Kerry, saat berbicara di Turki, seperti dikutip Jerusalem Post, Selasa (23/4/2013).

“Dan saya juga berada di Boston, dan saya turut merasakan dengan mendalam mengenai apa yang terjadi ketika kita semua menjadi korban kekerasan. Sesuatu yang terjadi, dan membuat anda kehilangan orang di dekat anda, akan dirasakan negara ini,” imbuhnya.

Para pejabat Israel termasuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Menteri Hukum Tzipi Livni, Menteri Energi Silvan Shalom, Menteri Ekonomi Naftali Bennett, sama sekali tidak menyambut baik pernyataan Kerry. Beberapa pejabat Knesset justru memandang komentar itu sebagai komentar yang menyinggung.

“Sangat tidak membantu, bila masyarakat dibingungkan dengan mana yang teroris dan mana yang korban (oleh komentar Kerry). Cara yang tepat untuk berhadapan dengan teroris adalah mengobarkan perang terhadap mereka,” ujar Wakil Menteri Pertahanan Israel Danny Danon.

Reaksi keras menentang komentar Kerry juga muncul di Kongres AS. Koalisi Republik untuk Yahudi (RJC) mendesak Kerry menarik pernyataannya yang menyamakan korban bom Boston dengan Mavi Marmara. Mereka menilai, AS tampak sudah kehilangan moral dengan komentar itu.

“Membandingkan tindakan beladiri yang berujung pertumpahan darah dan serangan teror adalah tindakan yang tidak berbudi,” ujar Direktur Eksekutif RJC Matt Brooks.

Seperti diketahui, insiden Mavi Marmara merupakan salah satu peristiwa yang menciptakan krisis bilateral Turki dan Israel. Tragedi penyerangan Mavi Marmara terjadi pada 2010 lalu, namun Israel baru menyuarakan permintaan maafnya tahun ini. Sejak dulu, Israel selalu menjastifikasi serangannya ke para relawan yang hendak pergi ke Gaza itu karena Israel memandang langkahnya sebagai beladiri. (aa/okz)

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com
  • Semua Muslim sedunia menganggap Israel adalah terorisnya, Palestina adalah korbannya. Ya Allah, selamatkan saudara kami Muslim Palestina, Afghanistan, Rhohingya, Syiria,dll. Kembalikan kejayaan agamaMu ya Rabb, seperti saat Rasulullah masih hidup.

Lihat Juga

Erdogan: Menjaga Al-Aqsha Bukan Tanggungjawab Anak-Anak Palestina, Tapi Muslim Sedunia