Home / Pemuda / Puisi dan Syair / Andai Aku Punya Pacar

Andai Aku Punya Pacar

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (kawanimut)
Ilustrasi (kawanimut)

dakwatuna.com

Andai aku punya pacar…
Tapi, sayangnya aku tak punya pacar…
Coba kalau aku punya pacar…
Sungguh indah rasanya dunia ini. Ada orang yang selalu memperhatikanku. Tiap hari ditanya kabar: udah bangun belum? (di saat pagi), lagi sibuk apa sekarang? Udah makan? (di saat siang), udah bobo’ belum, say? (di saat malam). Ooh…senang rasanya hati.

Andai aku punya pacar…
Tapi, sayangnya aku tak punya pacar…
Coba kalau aku punya pacar…
Ada yang bisa diajak jalan berdua. Bergandengan tangan. Boncengan berdua. Bersandingan di kendaraan. Keliling kota. Nonton bareng. Mesra. Seolah dunia milik berdua. Orang-orang lain cuman ngontrak. Ngekost.
Ada tempat buat curhat. Tempat berkeluh kesah. Tempat berbagi cerita saat pusing dengan kuliah. Bisa juga dimintai saran-saran, kasih semangat saat malas belajar. Ada motivator ulung dengan bahasa-bahasa gombal, namun menyejukkan hati. Dengan gaya tutur kata yang puitis, seolah semua kesusahan dunia hilang sirna.

Andai aku punya pacar…
Tapi, sayangnya aku tak punya pacar…
Coba kalau aku punya pacar…
Ada yang ngingetin juga supaya rajin ibadah. Ada motivasi buat banyak lebih beramal. Bahkan di tengah malam yang dingin pun, aku akan terbangun jika di-misscalled untuk bangun Shalat Tahajud. Ooh…indahnya malam dengan rentetan doa yang terselip namanya. Sedap rasanya ibadah.

Andai aku punya pacar…
Tapi, sayangnya aku tak punya pacar…
Coba kalau aku punya pacar…
Aku pasti dianggap orang yang paling spesial di mata dia. Paling didengar. Dan aku pun akan senantiasa siap sedia. Selalu ada waktu spesial. Untuk jalan-jalan, mendengarkan curhatnya, meladeni celotehannya, dan…asyik deh pokoknya. Dengan berbagai keindahan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Saking indahnya. Cinta

Andai aku punya pacar…
Tapi, sayangnya aku tak punya pacar…
Coba kalau aku punya pacar…
Aku mungkin akan menjadi orang yang zhalim karena aku tidak bisa fokus meladeni SMS-nya. Saat dia mengajakku jalan, aku tak rela bilang: “maaf say, aku lagi rapat nih. Masih ada agenda lain. Jadi, kita nontonnya lain kali aja ya?”
Aku tidak punya waktu banyak untuk memperhatikan tingkah lakunya tiap saat. Aku harus mengerjakan banyak kerjaan. Banyak amanah yang harus aku tunaikan. Kasihan sekali pacarku.

Andai aku punya pacar…
Tapi, untungnya aku tak punya pacar…
Coba kalau aku punya pacar…
Akan banyak waktu produktifku terbuang begitu saja. Tidak mendatangkan banyak manfaat. Waktu 24 jam yang kumiliki habis hanya untuk satu orang. Ooh…sayangnya. Padahal, waktu berhargaku akan jauh lebih baik jika dipergunakan untuk kemaslahatan orang banyak. Menjalankan serangkaian agenda untuk hajat hidup orang banyak. Menyebarkan banyak kebaikan, menebarkan banyak energi positif, membuat orang lain menyunggingkan senyum terbaiknya. Banyak orang. Bukan satu orang yang dispesialkan. Bahkan, aku akan bisa memotivasi orang untuk juga berbuat baik. Dan kebaikan itu jadi berantai… menular ke banyak orang. Sekali lagi, tidak hanya untuk satu orang yang kuanggap spesial.

Andai aku punya pacar…
Tapi, untungnya aku tak punya pacar…
Coba kalau aku punya pacar…
Wah…aku akan takut ibadahku tidak ikhlas. Saat mau shalat di sajadah ada wajah dia yang elok. Dan jadi semangat pun, karena dia juga. Mau baca Qur’an seolah wajahnya menari-nari di antara ayat demi ayat yang kulantunkan. Mau tahajud, cuman gara-gara dia yang ngebangunin. Padahal, aku ingin niat ibadahku murni. Hanya untuk-Nya (dengan ‘N’ besar). Bukan karenanya.

Andai aku punya pacar…
Tapi, untungnya aku tak punya pacar…
Coba kalau aku punya pacar…
Aku akan kehilangan banyak kesempatan menikmati indahnya perjuangan menjalani hidup yang penuh dengan banyak pelajaran. Penuh dengan indahnya rasa pengabdian, dedikasi, kontribusi. Aku akan luput dari orang-orang yang berada dalam kesibukan yang bermanfaat. Teralihkan hanya untuk kepentingan satu orang…
Sayang, maafkan aku. Bukannya aku tak mau menjadi kekasihmu. Aku takut akan zhalim kepadamu… Karena aku telah berjanji untuk mewakafkan diriku untuk kepentingan orang banyak. Bukan untukmu seorang…

Andai aku punya pacar…
Tapi, untungnya aku tak punya pacar…
Dan memang semoga aku benar-benar beruntung….

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (16 votes, average: 6,88 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Yasir Arafat
Lahir di Serang, Januari 1991. Mahasiswa semester 7 Departemen Fisika (konsentrasi Fisika Nuklir-Partikel) FMIPA UI. Supervisor Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Strategis (PPSDMS) Nurul Fikri Regional 1 Jakarta Putra. Pernah menjabat sebagai Ketua Umum Forkoma UI Banten (periode 2011-2012), yaitu paguyuban mahasiswa UI asal Provinsi Banten. Bukan hanya di paguyuban. Aktif di BEM FMIPA UI 2012 sebagai Koordinator Bidang Internal. Hobi menulisnya sejak ada sejak SMA, yakni saat Yasir menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Pena Dakwah (NaDa) RISMA SMAN 1 Kota Serang. Sejak tahun 2001-2006, Yasir tinggal di lingkungan Pondok Pesntren di Banten.

Lihat Juga

poster-film-duka-sedalam-cinta

“Indahnya Berbagi”, Terinspirasi dari Film Duka Sedalam Cinta