Home / Pemuda / Essay / Antara Muslim dan Pohon Kurma

Antara Muslim dan Pohon Kurma

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Pohon Kurma. (arainbrothersnursery.com)
Ilustrasi – Pohon Kurma. (arainbrothersnursery.com)

dakwatuna.com – Dari Ibnu Umar Ra yang berkata, bahwa Rasulullah Saw telah bersabda, “Sesungguhnya di antara pepohonan itu ada sebuah pohon yang tidak rontok daunnya, dan pohon itu seperti halnya seorang muslim.” Maka beritahukanlah kepadaku pohon apakah itu? Orang-orang banyak yang menduga-duga bahwa itu adalah pepohonan yang ada di tengah-tengah padang pasir. Ibnu Umar Ra berkata, “Maka terbersit dalam benakku bahwa pohon itu adalah pohon kurma, tapi aku malu mengatakannya.” Kemudian mereka berkata, “Beritahukanlah kami pohon apakah itu Wahai Rasulullah? “ Rasulullah Saw bersabda, “Itu adalah pohon kurma.” (HR Muslim)

Mengenal Pohon Kurma

Pohon yang memiliki nama latin Phoenix dactylifera ini termasuk tanaman palm (Arecaceae) dalam genus Phoenix dan buahnya dapat dimakan. Tinggi pohon kurma sekitar 15 sampai 25 meter, tumbuh secara tunggal atau membentuk rumpun pada sejumlah batang dari sebuah sistem akar tunggal. Daunnya memiliki panjang 3 sampai 5 m, dengan duri pada tangkai daun, menyirip dan mempunyai sekitar 150 pucuk daun muda; daun mudanya berukuran panjang 30 cm dan lebar 2 cm. Rentangan penuh mahkotanya berkisar dari 6 sampai 10 m.

Buah kurma telah menjadi makanan pokok di Timur Tengah selama ribuan tahun lamanya. Pohon Kurma diyakini berasal dari sekitar Teluk Persia dan telah dibudidayakan sejak zaman kuno dari Mesopotamia ke prasejarah Mesir, kemungkinan pada awal 4000 SM. Pada zaman selanjutnya, orang Arab menyebarkanluaskan kurma di sekitar Selatan dan Barat Daya Asia, bagian utara Afrika, Spanyol dan Italia. Begitu banyak manfaat yang dapat diperoleh dari sebatang pohon kurma, hingga Rasulullah Saw sendiri mengibaratkan seorang muslim dengan pohon kurma. Mengapa Rasulullah memberikan perumpamaan pohon kurma? Pasti ada hal-hal spesial terkait pohon kurma.

Apabila kita amati secara seksama dan teliti, demikian juga dengan informasi ilmiahnya, kita akan mendapati bahwa jenis pohon ini memang istimewa. Pohon kurma adalah jenis pohon padang pasir yang hampir setiap bagiannya dapat dimanfaatkan.

Bagian daunnya sangat spesifik dan khas dalam perkara bentuk, kekerasan yang secara alami menjadikannya mudah untuk digunakan berbagai hajat hidup manusia. Bila dianyam daunnya dapat menjadi tikar, wadah untuk berbagai keperluan

Bagian pelepahnya dapat juga dianyam menjadi keranjang buah, keranjang sayuran, atau keranjang barang-barang lainnya. Kadang, dari pelepah ini dapat dibuat meja dan kursi. Kemudian sabut pelepahnya kerap digunakan untuk menggosok kulit kala mandi, selain itu juga bisa untuk mencuci berbagai perabot rumah tangga.

Bagian tandannya, tempat buah kurma dipetik dapat dimanfaatkan jadi sapu. Tak Cuma itu, bagian batangnya pun biasa digunakan sebagai tiang-tiang penyangga rumah. Kemudian tidak ketinggalan buahnya, kita sering menjumpai buah kurma saat momen Bulan Ramadhan, selain lezat buah kurma juga kaya akan gizi.

Pembelajaran Pohon Kurma

Pohon multi guna nan penuh barokah ini diibaratkan seorang muslim. Hal ini menyiratkan bahwa pada diri seorang muslim sarat akan manfaat, senantiasa menampakkan kebaikan, kemuliaan, dan kewibawaan.

a. Mendatangkan manfaat

Memang sudah suatu kewajiban seorang muslim menebar kemanfaatan terhadap sesama manusia dan lingkungan sekitarnya. Seorang muslim tidak memecah belah, menghancurkan, tidak berbicara kecuali yang berfaedah. Geraknya adalah kebajikan, diamnya adalah menghindari keburukan.

b. Tetap hidup meski sudah mati

Seorang muslim dapat memberikan manfaat meski sudah terputus jatah hidupnya. Ia lebih mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. Ia lebih dulu menunaikan kewajiban daripada menuntut haknya. Ia dengan kesungguhan memberikan manfaat bagi orang di sekelilingnya karena ia menyadari ia merupakan bagian dari masyarakat.

Setelah wafatnya, ia tinggalkan untuk generasinya sejarah hidup yang mulia, mewariskan ilmu yang bermanfaat, dan amal-amal kebajikan yang diteruskan oleh masyarakatnya.

Rasulullah Saw bersabda, “Jika mati Bani Adam maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga hal, shadaqah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak yang shalih yang tak putus-putusnya mendoakan orang tuannya.” (HR Muslim)

c. Sedikit mengambil banyak memberi

Pohon kurma hanya sedikit membutuhkan perawatan ketika masa awal mula pertumbuhannya. Setelahnya ia akan tumbuh dan berkembang dengan sendirinya. Lalu ia akan menghasilkan buah kurma yang berlimpah nan kaya gizi.

Dari Aisyah Ra beliau berkata, “Kami keluarga Muhammad Saw suatu ketika pernah berdomisili di sebuah tempat selama satu hingga dua bulan tanpa menyalakan api, melainkan hanya berbekal air dan kurma saja.” (Hadits shahih)

Seorang muslim yang sejati tidak ragu untuk menunjukkan eksistensi keIslamannya. Setiap perkataan dan perbuatan bernilai solutif. Ia menjauhkan dirinya dari menjadi beban dan masalah bagi orang lain. Kebaikan dan keberadaannya selalu dinanti orang lain, ia menjadi harapan baik saat lapang maupun sempit.

d. Lambang kekokohan dan kelurusan

Hakikat seorang muslim yaitu kuat memegang prinsip beragama, tetap teguh akan aqidahnya dan selalu menjadi insan bersyukur kala dianugerahi nikmat dan sabar di saat tertimpa musibah. Mengikuti jalan lurus dalam keadaan apapun, jujur dan tegas dalam setiap ucapan.

Wahai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka, dan mereka pun mencintai-Nya dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang-orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS Al Maidah: 54)

Itulah di antara wujud nyata kemiripan pohon kurma dengan jiwa seorang muslim, meskipun secara zhahir berbeda. Permisalan tersebut menyiratkan kesesuaian maknawi di antara keduanya.

Hadits ini menjadi bukti kecermatan Nabi Muhammad Saw dalam bertafakur dan tadabbur alam, membuat permisalan deskriptif dan komparatif yang mudah dipahami. Jadi kini saatnya berkarya sebagaimana pohon kurma!

Wallahu a’lam bish shawab.

About these ads

Redaktur: Samin Barkah, Lc., ME

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Satria Budi Kusuma
Satria Budi Kusuma, atau yang akrab disapa Satria ini tengah dalam proses merampungkan studinya di jurusan Ilmu dan Industri Peternakan, Fakultas Peternakan UGM. Lahir di Klaten, 2 Juni 1992 silam. Anak pertama dari dua bersaudara ini mempunyai hobi membaca, hiking, dan traveling. Sejak SMP telah tertarik di dunia keorganisasian. Mulai dari OSIS, ROHIS, FAROIS, dan hingga sekarang aktif sebagai pengurus harian di BEM Fakultas Peternakan UGM 2013, sebagai Menteri Koordinator bidang Eksternal di samping juga menjadi Kepala bidang HUMAS pada salah satu partai mahasiswa UGM. Aktivitas pergerakan yang diikutinya yaitu KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) Komisariat UGM. Baru-baru ini sempat didaulat oleh fakultasnya untuk melakoni program student exchange ke Faculty of Animal Science and Technology, Maejo University, Thailand.

Lihat Juga

Pejabat Non-Muslim Pada Zaman Al-Mu’tadhid Billah