Home / Berita / Nasional / Inilah Penjelasan Kepsek SMA 2 Tolitoli Tentang 5 Siswinya yang Mempermainkan Shalat di Video

Inilah Penjelasan Kepsek SMA 2 Tolitoli Tentang 5 Siswinya yang Mempermainkan Shalat di Video

Gedung SMA Negeri 2 Tolitoli. (kemdikbud.go.id)
Gedung SMA Negeri 2 Tolitoli. (kemdikbud.go.id)

dakwatuna.com – Aksi joget lima siswi SMA 2 Tolitoli di youtube membuat geger. Penyebabnya mereka yang memakai seragam baju olahraga itu berjoget dengan sesekali menggunakan gerakan salat.

Pihak sekolah menyesalkan aksi joget para siswi yang dinilai tidak patut tersebut. Pihak sekolah sudah memberikan sanksi berupa pemberhentian dan tidak membolehkan mereka mengikuti Ujian Nasional kepada siswi-siswi tersebut.

Berikut penjelasan lengkap Kepala Sekolah SMA 2 Tolitoli Muallimin Jumat (19/4/2013). Penjelasan tersebut dikirm melalui surat elektornik dengan kop surat resmi SMA 2 Tolitoli, sebagaimana dilansir detikcom.

a). Awal Terjadinya peristiwa

Pada hari sabtu tanggal 9 Maret 2013, sesuai dengan jadwal pembelajaran di SMA Negeri 2 Tolitoli jam 07.00 pagi masuk sekolah dan seluruh kegiatan PBM di sekolah berakhir pada pukul 12.15, namun karena menjelang palaksanaan UN, maka diberlakukan kebijakan untuk dilaksanakan kegiatan les bagi kelas calon peserta UN, pada hari itu jadwal les dilaksanakan pada pukul 15.00, interval waktu antara jam 12.15 dan 15.00, itulah dimanfaatkan oleh 5 orang siswi.

1) Andika Riska (pemilik HP), 2). Riska Mardasari. 3) Yayu Lestari, 4) Mardiana, dan 5) Sukmawati untuk melakukan aktifitas yang terhina tersebut di ruang kelas XII IPS 4 sekaligus tempat belajar siswi tersebut setiap hari. Dengan memperagakan gerakan praktik shalat berjama’ah yang dikombinasikan dengan dancing serta mempelesetkan bacaan ayat-ayat al-Qur’an (surah al-Fatihah) yang diselingi dengan musik pop “one more night“. Aktivitas tersebut didokumentasikan melalui kamera telepon genggam (HP) milik salah satu pelaku dan memaksakan pada seorang siswa lain untuk memegang kamera HP tersebut sehingga gerakannya terekam yang berdurasi sekitar kurang lebih 5-6 menit.

Peristiwa tersebut tidak segera diketahui oleh segenap warga sekolah (Kepsek, dan seluruh tenaga pendidik dan kependidikan), karena siswa siswi yakini bahwa hal tersebut melanggar peraturan dan tata tertib Sekolah, yaitu : Siswa Siswi tidak diperbolehkan membawa HP (Hand Phone) ke Sekolah.

b). Informasi awal

Pada hari Jum’at tanggal 29 Maret 2013 pagi sekitar pukul 09.00, suami dari salah seorang tenaga pendidik di SMA Negeri 2 Tolitoli, berada di pasar kelurahan Tambun melihat warga berkerumun menonton video tersebut, sehingga yang bersangkutan segera menyampaikan kepada isterinya setelah sampai di rumah, dan selanjutnya tenaga pendidik tersebut (Zainab. S.Pd) melanjutkan informasi tersebut kepada pihak sekolah pada esok harinya (Sabtu 30 Maret 2013). Karena Kepala Sekolah dalam keadaan kurang sehat sehingga tidak sempat hadir di sekolah, dan hanya menginstruksikan kepada wakil kepala sekolah bidang Kesiswaan (Dra. Lusiana Abukasi) dan Bidang sarana pra sarana (Nuheria, S.Pd.) untuk segera menggelar rapat istimewa, yang dihadiri oleh sebagian besar tenaga pendidik dan staf TU, yang menghasilkan kesepakatan sebagai berikut :

1. Menyamakan persepsi terhadap peristiwa tersebut, untuk dijelaskan kepada orang tua pelaku, agar tidak, menimbulkan penafsiran yang keliru dari masyarakat luas.

2. Menyampaikan hasil kesepakatan kepada Kepala Sekolah dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

3. Mendesak Kepala Sekolah untuk memimpin Rapat istimewa kembali dalam kesempatan pertama.

Selaku pimpinan rapat, Nuheriah S.Pd. hari Sabtu sekitar pukul 16.00, berkunjung ke rumah kediaman kepala sekolah untuk melaporkan hasil kesepakatan tersebut, selanjutnya kepala sekolah mengambil sikap tegas dengan mengundang ketua FPI Kab.Tolitoli (Andi Hamka) bersama Kapolsek Baolan (Zulkifli) untuk dimintai pandangannya terhadap peristiwa tersebut pada pukul 19.30 (malam Senin). Kemudian menetapkan jadwal rapat lanjutan pada hari senin, tanggal 1 April 2013 setelah pelaksanaan upacara bendera. Namun karena Kepala Sekolah mengalami gangguan kesehatan (pingsan) setelah upacara bendera selesai akibat kesedihan dan upaya pengendalian emosional, sehingga rapat tidak dapat dihadiri, dan rapat tersebut dipimpin oleh wakasek Kesiswaan ( Dra. Lusiana Abukasi ) dan Wakasek Sarana Prasarana (Nuheriah. S.Pd). yang menghasilkan kesepakatan peserta rapat mengajukan kepada Kepala sekolah dengan suara bulat (tenaga pendidik dan staf TU) bahwa ke 5 orang siswi tersebut harus dipecat, walaupun belum secara resmi. Selanjutnya pada pukul 16.00, Kepala Sekolah mengundang kepada tenaga pendidik dan staf TU agar hadir di rumah kediaman kepala sekolah untuk melaksanakan rapat istimewa ke 3 dan saat itu disepakati secara Institusional bahwa ke 5 orang pelaku di keluarkan dari SMA Negeri 2 Tolitoli dan tidak berhak mengikuti Ujian Nasional tahun pelajaran 2012/2013.

Pada hari Selasa tanggal 2 April 2013, Kepala sekolah membuat surat panggilan kepada orang tua wali siswi dan diantar langsung pada hari itu juga agar hadir di sekolah pada hari Rabu tanggal 3 April 2013 pukul 09.00 pagi untuk menerima keputusan terhadap anak-anak mereka. Pada hari itu juga (Selasa 2 April 2013) kepala sekolah mendatangi Kapolres untuk melaporkan kejadian di SMA Negeri 2 Tolitoli. Tanggapan Kapolres secara tegas memerintahkan kepada stafnya agar segera menjemput ke 5 orang pelaku, namun kepala sekolah menyarankan agar menjemput siswi bersama orang tua walinya di SMA Negeri 2 Tolitoli, pada hari Rabu pagi jam 09.00. Empat ( 4 ) dari 5 orang tua wali yang diundang hadir di sekolah, segera kepala sekolah mengundang kepada orang tua yang hadir untuk masuk ke dalam ruang Pusat Sanggar Belajar (PSB) bersama anak mereka untuk menyaksikan video tersebut melalui media infocus,

Karena depresi berat para orang tua tersebut tidak dapat menyaksikan perbuatan anak-anak mereka, dan sebelum berakhir video tersebut, satu persatu orang tua mereka meninggalkan ruangan dengan kesadaran bahwa anak tersebut pantas menerima sanksi yang diberikan oleh sekolah.

Pada saat itu pula kepala sekolah jatuh pingsan akibat kepedihan hati mendengar ayat-ayat al-Qur’an yang dipelesetkan dan praktik shalat yang dipermainkan, sehingga surat pemberhentian tidak dapat dibuat secara resmi.

Pada hari Rabu tanggal 3 April 2013 pukul 09.30, Pihak aparat kepolisian hadir di SMA Negeri 2 Tolitoli dan menjemput siswi tersebut selanjutnya di bawa ke Mapolres untuk dimintai keterangan dengan status saksi. Surat Keputusan secara resmi ditanda tangani pada tanggal 4 April 2013 dan diantar langsung ke alamat orang tua wali oleh 2 orang staf masing-masing 1). Basri Baso, S.Pd. (guru BK) dan 2). Bahruddin. (security) SMA Negeri 2 Tolitoli.

Sejak awal informasi ini menyebar, tiga orang tua wali berkunjung ke kediaman kepala sekolah untuk memohon kebijakan agar anaknya tidak dikeluarkan dari sekolah dan tetap diikutkan pada Ujian Nasional, namun tindakan kepala sekolah tidak banyak memberi keterangan tapi lebih mementingkan untuk memutarkan video yang ada di HP dengan harapan agar mereka dapat menerima dengan tulus keputusan, dan ternyata orang tua tersebut dapat memaklumi atas pemberhentian anaknya.

c. Solusi/Tindakan selanjutnya

Pada hari ahad 7 April 2013 sekitar pukul 21.00, Kepala sekolah bersama Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (DISDIKPORA) bersama pejabat Kabid. Dikmen dan beberapa staf lainnya, didampingi oleh Kepala KESBANGLINMAS Kab.Tolitoli menghadap Bupati di kediaman di Desa Lalos Kecamatan Galang, untuk melaporkan langkah-langkah yang telah ditempuh oleh sekolah, dan respon bapak Bupati menyatakan bahwa tindakan pemecatan kepada siswi tersebut sudah tepat sesuai peraturan, dan cukup mengupayakan agar diikutkan pada ujian paket C tahap kedua bulan juni 2013 mendatang.

Hal tersebut juga telah dikonfirmasikan dengan pihak Kementerian Agama Kab. Tolitoli serta Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Tolitoli, sehingga hasil keputusan sidang MUI mengeluarkan surat kepada Kepala SMA Negeri 2 Tolitli yang intinya “MENGUTUK DENGAN KERAS TINDAKAN SISWI SMA NEGERI 2 TOLITOLI, yang termasuk pada istilah Tal-‘abul ibadah (mempermainkan ajaran agama), dan harus dikeluarkan dari sekolah sebagai sanksi atas perbuatannya itu.

Kesimpulan

Dengan memperhatikan peristiwa yang terjadi di SMA Negeri 2 Tolitoli tersebut, maka melalui pengungkapan kronologis ini disampaikan beberapa kesimpulan sebagai berikut :

Bahwa kegiatan yang dilakukan oleh oknum siswi SMA Negeri 2 Tolitoli pada tanggal 9 Maret 2013, yang melakukan gerakan praktik shalat dikombinasikan dengan dancing, serta memplesetkan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an (surah al-Fatihah) dengan diselingi oleh musik pop “ one more night “ , dan mendokumentasikan serta menyebarluaskannya, hal itu termasuk “Penistaan agama” dan bertentangan pasal 156 a KUHP.

Bahwa keputusan institusional dengan mengeluarkan dari sekolah kepada 5 orang siswi pelaku penistaan agama tersebut adalah prosedural, logis dan rasional.

Kepada siswi yang bersangkutan dinyatakan tidak diperkenankan mengikuti Ujian Nasional (UN) pada tahun pelajaran 2012/2013 di SMA Negeri 2 Tolitoli.

Segala keputusan selanjutnya diserahkan kepada pihak aparat kepolisian sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

Saran-saran

Agar tidak terulang perbuatan hina tersebut, diharapkan kepada semua pihak, terutama orang tua dan pendidik agar kepedulian dan pengawasan terhadap peserta didik pada semua tingkatan pendidikan dan semua lingkungan baik formal, informal mapun non formal, sehingga peserta didik dapat terjaga dan terpelihara dari segala dampak negatif yang ditimbulkan oleh perkembangan dunia informasi dan komunikasi saat ini.

Selanjutnya, sebelum mengenal lingkungan yang lebih luas, hendaknya peserta didik dibekali dengan bimbingan iman dan ahklak sesuai jenjang pendidikan yang mereka tempuh, agar ruang gerak mereka tetap terkontrol dengan nilai-nilai ajaran agama.

Akhirnya semoga ungkapan kronologis peristiwa ini, dapat memberikan gambaran yang lebih jelas dari apa yang diketahui oleh publik/umat sebelumnya.

Tolitoli, 15 April 2013.

Kepala Sekolah

Muallimin. S.Pd.I., M.Pd.I

(mpr/mpr/detikcom)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (43 votes, average: 9,16 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com
  • ini sama saja penghinaan kpd agama islam,makanya hrs di pidanakan.

    • aliran sesat

      setuju

      • ed

        setujuuuuuuuu!!!!

    • ya setuju banget,,

  • Sampai dilarang UN, memang ada aturan dilarang mempermainkan sholat di buku saku mereka.?? Keterlaluan sekali sekolahnya..

    • Mas Cel

      Khan udah ditulis di atas bahwa perbuatan mereka itu termasuk “Penistaan agama” dan bertentangan pasal 156 a KUHP. So, pelaku kriminal udah wajar kalo dikeluarkan dari sekolah dan dimasukkan penjara

      • Ga ada aturan yang mengatakan bahwa pelaku kriminal dikeluarkan dari sekolah, pun mereka belum berstatus sebagai terdakwa, tersangka pun belum..

    • aliran sesat

      anda belajar dulu yang rajin ya… mbak aninta :)

      • Nama saya anindya, sebaiknya anda yang belajar hukum dan menulis yang benar..

        • kai sangkon

          Mba yang baik hati… sudah dikeluarkan dari sekolah apa tidak baca artikel di atas??? silakan teriak sampe tenggorokan mba yang cantik ini putus tidak akan didengar sedikit pun.. kaciaan bangettt nich perempuan… perempuan apaan ini ya???? jangan… jangan… ihhh taaatutttt….

        • WADUH KO MASIH BOTOL YA..

    • udah gak dipenjara aja dah untung ..

    • ini perempuan tolol jg nih
      jangan2 kamu yg rekam yah?

    • anindya : cetek otak lo

    • zahra

      ya tidak keterlaluanlah, mereka juga secara tidak langsung mencoreng nama baik sekolah. Itu kebijakan sekolah. Soal mempermainkan sholat, maupun mempermainkan hal yang lainnya, tidak perlu dicantumkan dalam buku saku. Tolong anda cerna dan analisis lagi, jangan berpendapat berdasarkan emosional.

    • ed

      Oh gitu ya mba’ anidya, ga ada sih, berzinah juga gak ada tuh mbak, berarti boleh dong mba’ ???

    • HIHIHHII DASAR BOTOL

  • Anak-anak SMA tersebut adalah korban benturan pemikiran, satu sisi mempertahankan keimanan, satu sisi budaya barat menyeruak merajalela.
    Tidak adil mengeluarkan mereka dari sekolah karena ketidakberhasilan keluarga, masyarakat dan tenaga pendidik dalam membentengi serangan terhadap iman mereka.
    Ayomi dan ajak mereka kembali ke sekolah. KAlau bukan di sekolah, di mana lagi mereka akan memperbaiki diri.

    • ga adil, loe aja yang ngajarinya..

    • halaaa…loe aja yang didik biar dia tahan benturan………

    • sangat pantas mereka di keluarka dan di hukum lebih berat lagi.

    • Emang konsep pendidikan di Indonesia sudah salah, siswi hamil dikeluarkan, bikin video begini dikeluarkan, harusnya mereka justru lebih sering dibina di sekolah akan kelakuannya baik, kalau dikeluarkan jadinya malah tambah nakal..

      Konsep hukuman udah ga zaman sekarang, makanya ga ada yang namanya penjara, yang ada lembaga pemasyarakatan, yang artinya tempat itu bukan bertindak sebagai tempat hukuman tapi lebih sebagai tempat pembinaan agar seseorang siap diterjunkan kembali ke masyarakat..

      Orang tolol mah mana ngerti beginiaan, taunya konsep reward n punishment aja, kagak ngerti diajak ngomong manajemen moral..

      • Anda ga perlu menyebut orang lain tolol, anda yakin kalau anak2 cuma iseng, seperti anda, orang lain jg yakin kalau anak2 ini memang sengaja ingin melecehkan/menista agama. anak2 ini sdh kelas 3 lho, artinya sdh cukup dewasa. coba cermati krologi kejadiannya, orang akan yakin itu bukan perbuatan iseng, tapi sdh direncanakan. dan keputusan diambil tidak dgn gegabah, tapi dengan mendengar pendapat guru2, tokoh agama MUI, polisi dan tokoh masyarakat. Dikeluarkan dari sekolah tidak mengurangi hak pendidikan mereka, karean bisa ke paket C, sebab kalau tidak diberikan sangsi akan berdampak pada siswa lain.

        • Nyebut2nya anak2 tapi mengatakan sudah dewasa, jadi anak2 apa sudah dewasa.?? Gitu aja masih ga konsisten..

          Yang namanya anak2 ya perlu didik biar bener, kalau dikeluarkan itu sama saja pihak sekolah melepas tanggung jawabnya, mana tanggung jawab pengawasan sekolah.?? Bukankah ada aturan bahwa selama anak2 masih dalam lingkungan sekolah maka yang bertanggung jawab adalah pihak sekolah.??

          Lagipula hal yang begini saja masalahnya dibesar2an, katanya agama mengajarkan maaf, kok ga konsisten.?? Beragama terlalu sensitif seperti ini yang bikin situasi jadi sering tegang, sering terjadi kerusuhan dan konflik antar agama, semua merasa saling terlecehkan, semua marah kemudian berujung pada pembunuhan..

          Bandingkan dengan agama yang dipenuhi dengan sense humor, yang ada agama itu justru damai dan semua umatnya bisa bergembira dan jauh dari konflik..

          • mba anindya , mba ini baca ataw tida sih beritanya ….
            kalo baca , ya mnegerti dong apa isi berita itu
            kalo gak ngerti , yasudah tidak ush berkomentar
            gitu aja kok repot , mba …. mba….

          • Sayangnya tindakan anak2 ini sudah masuk ranah pidana lo Mbak Anindya, apalagi menyangkut hal yang sangat sensitif, agama. Sebagian pemikiran kita memang teracuni filosofi barat, di barat agama sudah dijadikan lelucon oleh orang2 yang katanya punya “sense OF humor”, di sana juga banyak orang beragama yang marah tapi tidak bisa berkutik di bawah undang2 kebebasan berpendapat.

            Sepantasnya kita bersyukur Indonesia masih punya KUHP Penistaan Agama, sekarang tinggal mengedukasi masyarakat agar tahu cara membina orang2 yang entah sadar atau ga sadar menistakan agama. Caranya? Mengingatkan dengan cara baik, kalaupun hanya bisa berkomentar, berkomentarlah dg bahasa santun

          • Anda seperti mengerti padahal tidak…..nampaknya memang anda tak beragama Islam, sehingga tidak mengerti akan perasaan ummat yg agamany di ledek ky gini. Allah saja murka atas orang-orang yg melecehkan agama.

            Mereka memang nampaknya tidak sengaja, namun tindakan mereka fatal dan memang menunjukkan rendahnya moral siswa di Indonesia. hal ini terjadi memang salah satu tanggung jawab sekolah juga. sehingga pemerintah juga harus lebih serius memantau kinerja sekolah dalam mendidik anak-anak bangsa.

          • Anindya Yumika Dewi = BOTOL DAH,,,BEGO DAN TOLOL DI PIARA WADUUUUHH CAPE DECH

      • Mengeluarkan siswa yang memang sudah terbukti bersalah (prosedur pengeluaran sudah benar) itu juga termasuk pembinaan lo. Kadang hukuman yang keras diperlukan agar hukum tidak diremehkan.

        Selain itu siswa juga ga dirugikan dalam segi pendidikan, mereka bisa ikut kejar paket C dan tetap melanjutkan ke universitas kalau mau.

        Yah mudah2an saja pelajar2 tsb bisa introspeksi dan belajar agama lebih baik lagi, kasihan pak kepseknya pingsan terus…..

  • gua lebih enak ngeliat langsung orang yang di bacokin sampe tengkorak kepalanya pecah terus otaknya keluar berceceran..

    daripada ngeliat ni video,, mau muntah gua,, klo ada di jakarta gue
    injek batang lehernya sampe patah… gua emang jarang sohlat tapi gua
    tau sholat itu apa..

    ribuan tahun dan puluhan jutaan orang mati demi menegagkan tauhid
    agar manusia tetap beribadah sampe dunia ini berakhir.. astaghfirllah
    otak loe pada apa sih isinya?

    ·

  • aliran sesat

    ini namanya penistaan agama, semoga mendapat hukuman yang setimpal

    Allahu Akbar !!!!

  • Wajah sudah jelek ghitu, kelakuan jg malah ikutan jelek.. ckckckc..

  • gak usah protes la ortunya ..
    masih untung anak2nya gak dipenjara ..

  • saya nggak setuju kalau anak ini dihukum, sampai dikeluarkan, karena mereka hanya belajar dari sekolahan. dan setau saya materi pelajaran “Penistaan agama” tidak masuk dalam kurikulum pembelajaran agama mereka. dimanakah letak tanggung jawab parapendidik yang menghasilkan anak anak ini? anak anak ini salah satu korban salah didik dari sisi guru dan orang tua….

    • kamu dak sekolah ya…..mencuri gak di ajarakan di sekolah tpi semua orang tau itu adalah perbuatan dosa sama kayak penistaan agama gak perlu di ajarkan di sekolah,,,,,coba kmu aja yg jadi gurunya,,,,,

    • zahra

      mereka belajar bukan dari sekolah saja, lingkungan maupun di rumah, tempat bermain, ada proses belajar disitu, anda tidak bisa melimpahkan kesalahan pada orang tua dan guru saja, jelas tertulis di atas bahwa orang tua harap lebih memantau perilaku maupun pendidikan anakanya baik pendidikan ilmu pasti, sosial, maupun agama. Dan usia anak segitu harus sudah tahu mengenai etika mana yang baik dan buruk, serta hukum mana yang benar dan salah. mengenai kurikulum, dalam kurikulum pendidikan terdapat pelajaran agama yang sudah mencakup semua, dan agama itu dipelajari juga dlm kehidupan sehari-hari. dimohon anda tidak sembarangan berbicara mengenai hal ini.

    • ed

      ini pasti saudara kembarnya anindya, sama o on nya

  • ajaran islam adalah TEGAS, bila tidak di hukum dengan tegas maka akan timbul kasus2 serupa pada anak2 kita kelak….
    apalagi sudah SMA harusnya lebih matang dalam berpikir dan bertindak…

  • sokorrrrrrr………………….

  • ini baru hukuman dunia, kalo gak pada tobat tuh anak-anak, makin disiksa loe pade dineraka,, beneran, enek juga ane liat videonya,, harus segera diblokir tuh video..

  • hukuman yang sepadan buat mereka

  • Ema Febrian Juanda

    hukuman yg pantas saja lah buat mereka

Lihat Juga

[Video] Wartawan Jerman Martin Lejeune Masuk Islam Saat Idul Fitri