Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Laki –Laki Itu Adalah Ayahku

Laki –Laki Itu Adalah Ayahku

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

siluet_ayah_anak1dakwatuna.com – Masih sangat lekat dalam ingatan, memori-memori masa kecil. Dulu,  rasanya tak ada yang spesial, sangat biasa-biasa saja. Mungkin tak ada kenangan tentang kemewahan, atau kenangan kecil yang mencekam. Yah nothing special.

Sungguh aneh memang, ketika banyak teman-teman yang selalu disuruh belajar ini itu oleh ayahnya, namun saya tidak, bahkan saya tidak pernah ditanyai kenapa saya ndak pernah belajar. Tidak pernah pula saya dimarahi apabila saya berbuat kesalahan. Tidak pernah pula ayah mengatakan tidak jika saya meminta sesuatu ke beliau.

Suatu yang tidak ada dalam memori saya adalah “kemarahan” beliau, raut sedih wajahnya, dan juga keluhannya. Namun ayah, saya sungguh merasakannya sekarang, cara ayah mendidik ananda, adalah yang terbaik menurut ananda. Ayah memang tak pernah menyuruh saya untuk melakukan ini itu.

Namun ayah selalu memberi contoh seperti apa yang baik yang harus dilakukan.’ Ayah memang tak pernah memarahi ananda, namun ayah selalu mengajari saya untuk mengambil hikmah dari setiap kejadian agar ananda tak mengulangi kesalahan yang sama.

Ayah tak pernah menuntut ananda menjadi orang yang seperti apa, namun ayah selalu bilang, jadilah manusia yang bermanfaat, karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama.

Ayah, masih ingat sekali dalam angan ananda, pesan-pesan ayah “jika shalat orang itu sudah sempurna, maka hal-hal lain pasti akan baik”. “Jangan lupa shalat”, itu pulalah yang ayah katakan setiap menelpon atau mengirim sms kepada ananda. Dan itulah bekal yang ananda bawa hingga sekarang, yang bisa menguatkan ananda ketika ananda rapuh.

Ayah masih ingat dalam angan ananda, saat ayah memeluk ananda ketika ananda marah dan ayah berkata “nak sabar nak, orang sabar itu mulia”. Dan ayah, di mata ananda ayah adalah orang paling sabar yang pernah ananda temui, yang tak pernah marah sekalipun orang menyakiti ayah, yang tak pula marah ketika orang menyalahkan ayah atas perbuatan yang tidak ayah lakukan. Yang selalu tersenyum walau orang berkata kepada ayah dengan nada yang tinggi. Ayah juga pernah bilang “jangan pernah menganggap orang itu benci kita, meski orang itu benci” selalu bersihkan hati.

Kini ananda paham, semua itu adalah cara ayah mendidik anak-anak ayah untuk selalu sabar dan berkhusdudzon pada Allah apapun yang terjadi. Ayah mengajarkan makna ketulusan dan keikhlasan. Inilah cara ayah mengajari anak-anak ayah untuk menjadi sukses, tidak hanya di dunia namun pula di akhirat.

Ayah, ananda sungguh merindukanmu. semoga Allah SWT selalu melindungi ayah di manapun ayah berada, mendekap ayah dalam kasih sayang dan ridhaNYA.

Aamiin aamiin yaa Rabbal alamin.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (12 votes, average: 8,92 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Emy Mymy
Master student in department of Garduate Institute of Science and Technology, National Taiwan University of Science and Technology. A Researcher at nanoelectrochemistry laboratory, NTUST.
  • dhaniar jauhari

    menyentuh…saya sedang belajar menjadi ayah yang baik untuk anak-anak saya. semoga saya bisa bersabar dan selalu berhusnuzhon. amiin

Lihat Juga

Surga untuk Ayah