Home / Pemuda / Puisi dan Syair / Ketika Ku Bertanya Tentang Siang…

Ketika Ku Bertanya Tentang Siang…

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (mulandari.wordpress.com)
Ilustrasi. (mulandari.wordpress.com)

dakwatuna.com

Entah berapa malam minggu yang telah kita lalui kanda
Sendu mataku menghitung detik-detik kebersamaan kita

Rinduku pun seakan bertumpuk di langit hati
Tampak indah memang kerlipnya… ramai… sumringah…

Tapi sejak awal kita bertemu, selalu suasana itu saja yang kita lalui…kerlip indah di malam hari.
Sungguh, tak sekalipun kau ajak aku menatap siang
Tak sekalipun kau kenalkan aku bersama hangatnya mentari

Tak sekalipun aku bisa melihat jelas jalan yang ada di depan kita…
Walaupun hanya satu meter saja…

Setiap kali kubertanya tentang siang…tentang mentari…
Kau selalu mengalihkan perhatianku untuk tetap mendongakkan kepala ke atas langit malam

Dan Kau pun berkata:

“Dinda, coba kau lihat di sebelah sana, bintang itu indah kan? Itu adalah rinduku padamu…
Coba kau lihat lagi bintang yang ada di sana, itu adalah kesetiaanku padamu
Lagi, sebelah barat daya, kau lihat bintang itu kan? Itu adalah perhatianku padamu
Semua bintang yang ada di langit malam ini, adalah wujud cintaku padamu, percayalah dinda…”

Duhai kanda, sungguh dari dulu kalimat itu saja yang kau ulang-ulang…
Ku akui perasaanku pun jadi membumbung tinggi…

Puisimu sungguh indah…
Perhatianmu pun sungguh menggugah…

Mungkin kau benar, tentang bintang itu, kerlipnya menawan, memikat hati…
Tapi aku tak sepakat jika kau katakan semua itu adalah CINTA

Karena setelah aku sadari, ternyata…sejak kita pertama kali bertemu…
Ahh, aku sendiri pun lupa kapan kita pertama kali bertemu…
Setahun yang lalu kah? Dua tahun yang lalu? Tiga tahun lalu?
Arrghht, aku lupa!!

Yang hanya aku ingat adalah sejak pertama kali kita bertemu,
kau hanya memintaku untuk mendongakkan kepala menatap bintang-bintang di malam hari

Duhai kanda, sadarkah engkau? Bahwa sejak kita bertemu itu,
kita hanya berdiri mematung menatap bintang-bintang yang kau gemari itu…
Tak sedikit pun kaki kita melangkah…

Ya, kini aku mulai paham,
Karena dari dulu hingga sekarang, kau hanya berani mengajakku bermain di malam kelam…

Maka, runtuhlah langit hati ini…
Ketika aku ngotot bertanya tentang siang…tentang mentari…

Karena, dengan santainya kau berkata:

“Terima kasih, atas malam-malam yang kau berikan padaku selama ini, kau pun tentu telah menikmati bintang-bintangku bukan? Namun, jika kau tanya siang…jika kau tanya mentari..? Aku akan menjelaskannya…tapi bukan padamu…pada yang lain…karena kau hanya untuk malamku saja…dan tidak cocok untuk siangku”

Dan hancurlah hati berkeping-keping… (T_T)

“Teruntuk saudariku…sebelum ada yang terluka begitu dalam, tanyakan pada dia sekarang juga…apakah dia akan tetap bersemangat menceritakan ‘siangnya’…sebagaimana semangatnya bercerita tentang ‘malam’..”

Karena hati adalah hal yang paling sensitif pada manusia, buat hati kok coba-coba!

Say no to Pacaran..!!

Advertisements

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Akmal Ahmad
Sarjana Sains (S.Si) di bidang Fisika, FMIPA Universitas Andalas, kini aktif di bidang Social Entrepreneure.

Lihat Juga

Rindu si Penguntit Cilik