Home / Pemuda / Mimbar Kampus / Implementasi Kaidah Dakwah Dalam Pribadi Aktivis Dakwah

Implementasi Kaidah Dakwah Dalam Pribadi Aktivis Dakwah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (donialsiraj.wordpress.com)
Ilustrasi (donialsiraj.wordpress.com)

dakwatuna.com – Tulisan ini terinspirasi dari hasil kajian Kaderisasi KAMMI Komisariat Djuanda -Tangerang Selatan, dari kajian tersebut sebelum pembicara membahas tema di atas, pembicara membagi dua pembahasan terlebih dahulu. Yang pertama pembicara membahas tentang makna “Implementasi” apa yang dimaksud dengan Implementasi. Dalam kampus besar bahasa Indonesia Implementasi sendiri adalah penerapan atau hasil yang di capai ketika kita melakukan sesuatu. Kedua, pembicara membahas tentang “Kaidah Dakwah”.

Dalam buku Fiqh Dakwah, di sana terdapat 10 kaidah dakwah yang harus di miliki seorang da’i. Pertama, Al-Qudwah Qobla Dakwah. Jadi Da’i atau aktivis dakwah harus menjadi teladan sebelum ia berdakwah. KAMMI sebagai organisasi dakwah, para anggota nya harus memiliki keteladanan baik di kampus, lingkungan masyarakat atau dalam lingkungan keluarga. Kalau kita kembali sejarah Nabi Muhammad, sebelum Nabi Muhammad di angkat menjadi Rasul ternyata nabi Muhammad telah memiliki keteladanan tersendiri, di mana beliau sangat di percaya bahkan diberi gelar Al-Amin oleh penduduk mekah pada waktu itu. Keteladanan ini yang menyebabkan Islam bisa menyebar ke seluruh dunia sampai hari ini. Allah SWT sendiri menyebutkan dalam Al-Qur’an “Sesungguhnya Telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagi mu” (Al-Ahzab: 21).  Pepatah Arab juga mengatakan “Lisan al-Hal Afshah Min Lisan Al-Maqal” (bahasa kenyataan lebih fasih dari pada bahasa lisan. Maka itu sebagai seorang aktivis dakwah kita harus memiliki keteladanan di mana dan kapan pun kita berada.

Kedua, Al-Ta’lif Qabla al-Ta’rif (Mengikat Hati Sebelum Mengenalkan). Setelah keteladanan ada dalam diri kita, maka kita pun akan mudah bisa mengikat hati saudara-saudara kita untuk kita ajak kepada kebaikan.  Berbeda seandainya kita tidak memiliki keteladanan dan hanya bisa bicara saja, pasti banyak yang menolak. Karena perbuatan kita tidak sesuai dengan apa yang kita ucapkan. Makannya da’i atau aktivis dakwah hendaknya memiliki integritas antara perbuatan dan ucapan sehingga banyak orang yang kita bisa ajak untuk kebaikan.

Seandainya dua kaidah ini bisa dimiliki oleh seorang da’i atau aktivis dakwah, Insya Allah Implementasi atau hasil yang akan di rasakan oleh kita adalah dakwah ini akan banyak pendukungnya sehingga terbentuklah sebuah negara atau wilayah yang bernuansakan Islami. Di mana Islam akan menjadi pedoman untuk hidup dan tercipta tatanan masyarakat yang adil dan sejahtera. Wallahu’alam.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 8,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ridwan Sahidin
Anggota Kaderisasi Pimpinan Daerah KAMMI Tangerang Selatan.

Lihat Juga

Ustadz Ruslan Effendi (kiri) bersama Ustadz RahmatAbdullah (kanan). (IST)

Innalillahi, KH Ruslan Effendi Meninggal Dunia