Home / Pemuda / Cerpen / JIL (Jilbab Ima Lebar)

JIL (Jilbab Ima Lebar)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Dok Dompet Dhuafa Sumbar)
Ilustrasi. (Dok Dompet Dhuafa Sumbar)

dakwatuna.com – JIL bukanlah sebuah organisasi yang marak di semarakkan di negeri kita, namun JIL di sini menceritakan kisah Jilbab Ima lebar. Ima adalah panggilan sayang, baik Ibu, Ayah, Paman, Tante, Sepupu, Teman- teman lelaki dan perempuan selalu memanggilku Ima. Asalkan jangan menambah huruf “h”, menjadi Imah… Ogah dech, kedengarannya seperti pembantu aja, (imaaaahhhh, iya Nyak). Hahah ngacok!

Oke, kembali ke fokus kisah awalnya Aku berjilbab.

Sebenarnya, jilbab telah melekat dalam hidupku ketika aku mulai mengaji a, ba, ta di Tangerang, Banten (1997). Usiaku belum genap 6 tahun, namun aku sudah hafal ayat-ayat Al-Quran seperti Al-fatihah, An-Naas, dkk. Setiap Maghrib Ibuku mengajariku mengaji, di usia itu juga aku sangat rajin dan (kata ibuku) aku termasuk anak BATUTAH (bawah tujuh tahun) yang cerdas. Selain mengaji, aku sudah belajar menulis abjad (a, b, c, d, e…dst) dan berhitung (1, 2, 3, dst…). Ibuku bukannya tidak mau memasukkan aku ke TK (Taman Kanak-Kanak), tetapi Ibuku tidak mau membuang-buang uang. Mungkin ibu berfikir, ngapain masuk TK, mendingan langsung SD saja. Aku masuk SD (jadi anak bawang) di SD N 9 Cibodas 4 Tangerang.

Bertepatan dengan kerusuhan di Jakarta ketika demo-demo Presiden Soeharto dan ketika itu juga datang surat di Kampung agar PULKAM ke Sumatra Barat (pindah selama-lamanya), nenek di kampung merasa risau melihat keadaan di Jakarta dan sekitarnya yang tidak aman. Aku pindah sekolah di SD N 09 Cubadak Air Pariaman. Di SD ini, aku belum berjilbab. Namun, setelah pulang SD aku belajar mengaji di MDA MIA (Madrasah Islamiyyah Aisyiah) Sikapak dari cabang Muhammadiyah. Ibaratnya, ketika itu selama 6 tahun aku menjadikan jilbab “bongkar pasang”. Paginya buka aurat! Sorenya tutup aurat!

Aku sering berfikir dan mencari jalan bagaimana agar selalu berjilbab, namun belum mendapatkan caranya. Nah, ketika ibu dan keluargaku pindah merantau ke Pekanbaru (tahun 2002). Di tahun 2003 aku masuk SMP TRI BHAKTI. Ketika MOS di SMP, aku belum berjilbab. Saat MOS, aku menjalin rambut indahku yang panjangnya sepinggul. Oya, ketika di MOS ada lelaki yang naksir padaku. Aku saja heran, kenapa ya kok bisa dia naksir/suka padaku. Padahal aku gak cantik, aku pendek dan aku hitam. Ternyata? Dia senang dengan rambutku yang indah, lembut, hitam berkilau dan lurus tanpa di rebonding! (ckckckc).

Semakin lama, dia semakin getol mencari-cari cara untuk dekat padaku baik itu membuntutiku sepulang MOS ataupun mencari tau lewat teman-teman baruku. Aku risih! Nah, ketika di saat MOS yang terakhir, aku pulang sembunyi-sembunyi agar tidak di buntuti lagi. Aku naek oplet yang penuh orangnya. Di saat itu banyak orang-orang pekerja/karyawan dan hanya aku yang anak sekolahan. Tentu aku tidak nyaman apalagi dengan rok pendekku yang di atas lutut. Di tambah lagi mata-mata jelalatan terus dan fokus mengintip paha indahku. Spontan saja ku tutupi paha dan betisku dengan jaketku.

Setiba di rumah, aku cerita dan menangis-nangis agar di buatkan baju panjang rok panjang + penutup kepala (aku menamakannya dengan JIL bab). Karena aku merasa risih dengan busanaku yang terbuka. Aku ingin menutup aurat agar orang-orang tidak tergoda ketika memandangku. Apalagi anak SMP, pertumbuhan tubuh sedang subur-suburnya.

Di hari pertama sekolah SMP, lelaki yang kemarin mengejarku terheran-heran termasuk teman-teman baruku melihat perubahanku. Mereka-pun juga berubah dalam bergaul kepadaku. Di SMP aku ikut Pramuka. Namun, teman-teman laki-laki ketika kemping/perkemahan selalu menghargaiku. Ketika aku ada di tenda, ku dengar mereka berbisik. “Ups… ada Risma di dalam. Jangan masuk”. Teman yang berbisik itu mungkin menandai sepatuku. Karena, kalau masuk ke tenda tentunya harus lepas sepatu. Begitu juga ketika di mobil, teman-teman laki-laki ketika Pramuka tidak berani duduk di sampingku. Tidak asal colek-colek seperti perlakuan kepada teman-teman perempuan yang belum berjilbab. Mungkin inilah kelebihan menutup aurat, kita di hargai orang.

Walaupun di SMP dan SMA aku berjilbab (jilbab yang aku pakai masih yang sempit). Deskripsinya, jilbab nya pendek, tidak menutupi dada, pas-pasan gitu. Pernah juga memakai yang menutupi dada. Tetapi, sekali-kali. Ketika ada moment lomba MTQ, pidato atau membawa acara setiap jumat di sekolah. Sekolahku SMA TRI BHAKTI tidak ada ROHIS. Namun, setiap Jum’at ada agenda membaca Al-Quran/tilawah, ceramah rutin (siswa yang ngisi bergiliran kelas/lokal), kajian dan lomba-lomba. Agenda keislaman itu berjalan ketika Alm. Pak Haji (Guru Agama) masih hidup. Aku masih ingat, ketika keputusanku untuk keluar dan tidak aktif lagi di kajian tersebut. Aku terus-terang kepada Pak Haji kalau aku memilih Pramuka saja. Masih ingat bagaimana reaksi mimik wajahnya yang begitu kecewa. Air matanya berkunang-kunang sedih. Karena, aku merupakan siswa yang paling aktif mengundang teman-teman dan yang paling semangat ketika kajian. Sehingga, Jum’at pagi itu selalu ramai. Halaman sekolah kami selalu antusias, apalagi dengan penampilan nasyidku. (Tuh kan… itu berbeda dengan Rohis. Karena apa? Karena, kalau di Rohis mana boleh akhwat bernyanyi nasyid di depan audience lelaki. Makanya wajar aku mengatakan kalau di SMA- TB tidak ada Rohis. Lagipula, kami tidak ada program Mentoring).

Kembali ke kisahku yang sekarang (2012). Setelah aku memutuskan JIL, (Jilbab Ima Lebar) dan bersemangat ikut kajian (Kajian yang aku ikuti sekarang, Rohis di Kampus). Aku rasanya ingin bertemu beliau, Alm. Pak Haji hanya untuk mengubah raut matanya yang berkunang ketika dulu itu (tahun 2007) yang tertahan sedih karena keputusanku lebih memilih Pramuka daripada kajian keagamaan. Namun, Nasi sudah menjadi Bubur. Beliau sudah meninggal. Aku juga menyesali ketika di SMA, menolak amanah di Koordinator Keagamaan (Ketua OSISnya langsung yang menunjukku). Tetapi, aku malah bilang gini, eh malas ah… Keagamaan itu-itu terus kegiatannya… (ngaji, kajian, ceramah, dahh!). Kalau memang di bolehkan, biar Ima yang pramuka aja. Rasanya menyesal saja! Apalagi ketika di Koordinator Pramuka, agenda nya vakum. Pernah kemping satu kali. Perkemahan Penegak se-Riau di Kulim. Tetapi, aku yang trauma melihat kejadian kesurupan massal ketika malam api unggun. Sehingga menyebabkan kengerian dan trauma yang luar biasa. Akhirnya, Aku keluar saja dari Pramuka. Tidak ada organisasi lagi yang aku ikuti. Aku hanya jadi siswa yang studi oriented! Tetapi, walaupun aku meraih juara umum, aku tidak bangga!

Fokus lagi ke JIL!

JIL=Jilbab lebar. Pertama kali, aku memang sudah ada niat dari SMA agar merapikan busana. Karena, ketika SMA aku pernah merasakan ketidaknyamanan walaupun sudah menutup aurat. Aku berjilbab! Tetapi? Dadaku masih menonjol (karena jilbabku tidak menutup dada, hanya menutupi rambut). Ingin membeli jilbab besar? Tidak ada uang!

Saat itulah, ketika aku berkenalan dengan akhwat UNRI (kak Delfa) tahun 2010. Kak Delfa memberikanku Jilbab yang lebar, besar dan alhamdulillah sangat anggun ketika aku memakainya. Nampak feminim dari sebelumnya. Hehehe. :D

Ketika ke Pasar Loket, aku bawa contoh jilbabnya dan aku tanya harganya. Aku terkejut. Ternyata JIL / jilbab lebar n besar hanya Rp 20.000,- saja. Subhanallah! Murah begete! Aku saja yang ketinggalan informasi. Alhamdulillah sampai tahun ini (2012) jilbabku sudah mencapai lebih selusin. Doakan aku yaa teman-teman agar tetap Istiqamah untuk selalu ber-JIL-bab. . Dan doakan agar aku tidak melepasnya.

Kisahku tidaklah sebagus kisah-kisah orang pilihan. Tetapi, yang perlu sobat ketahui. Ada 2 perbedaan niat. Niat pertama ketika di SMP, aku berjilbab karena RISIH! Sedangkan niat di tahun 2010, aku berjilbab karena ingin jadi mukminah shalihah yang menjalankan perintah Allah S.W.T. Bagi teman-teman yang belum merasakan nikmatnya ber-JIL_bab lebar… silakan di coba deh! Nikmat banget. Aku merasakan, tidak ada lagi lelaki yang suit—suit ketika jalan kaki, aku sudah berkilo-kilo meter jalan kaki mengelilingi kampus (sambil jualan empek-empek dan brownies) belum ada lelaki yang bersikap kurang ajar. Mereka sopan semua. Ketika di oplet juga begitu. Rata-rata mereka memberikan jarak, agar tidak bersentuhan denganku.

Jangan tunggu sempurna dulu kalau ingin berubah (mungkin sobat ingin menunggu sempurna sikap). Karena keSEMPURNAan itu hanyalah milik Allah. Aku merasakannya selama 2 tahun terakhir… perubahan sikap itu di rasakan sedikit demi sedikit. Aku tidak mau mendengar alasan. Hmmm perbaiki diri dulu deh Ris. .setelah itu baru berjilbab…. Kita tidak tau sampai mana usia kita. Berjilbab itu kewajiban duhai sobatku sayang! Bukan pilihan. Jika tentang perbaikan sikap, Insya Allah sikap akan berubah perlahan-lahan seiring tingkat keimanan dan keistiqamahanmu dalam berkomitmen. Asal sobat tau, aku sekarang berkomitmen untuk berjilbab di manapun berada (baik di rumah maupun di luar rumah). Makanya aku rajin-rajin jualan sehingga bisa dapat duit banyak sehingga bisa beli jilbab dan baju panjang! Doakan ya, heheh (ngarep.com).

Oke deh! Itu saja yang mampu aku share-kan… moga aja tulisan ini menuai manfaat. Kalau ada kesilafan kata-kata mohon di maafkan. Wassalam.

HIDUP MULIA ATAU MATI SYAHID!

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 8,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Hafizhah Dzikra
Melanjutkan pendidikannya di Universitas Islam negeri Sutan Syarif Kasim Riau. Pendidikan bahasa Inggris (2011) yang lahir di Pariaman tahun 1991, hobi membaca, design grafis, menulis, merakit komputer dan merancang website. Sebagai seorang mahasiswa yang mencoba untuk senantiasa bisa memperbaiki diri dengan terjun dalam dunia dakwah. Mencoba aktif di berbagai organisasi. Seperti KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) komisariat Raliji-Suska (di bawah naungan UIN Suska Riau), FLP Pekanbaru (Forum Lingkar Pena), serta sedang giatnya ikut aktiv gerakan menghafal Alquran di Madinatul Quran. Dengan motto Lakukan sesuka hatimu yang penting halal dan di ridhoi Allah SWT.
  • [email protected]

    suka dngn cerpenx,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, maaf skalian sy mau ikut tanya2. yg bisa berbagi jilbab lebar. mohon infox

Lihat Juga

Ilustrasi. (merdeka.com)

Fokus Kerja Fokus Menang