Muhasabah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com

“Karena saat ikatan melemah, saat keakraban merapuh
Saat salam terasa menyakitkan, saat kebersamaan serasa siksaan
Saat pemberian bagai bara api, saat kebaikan justru melukai
Aku tahu, yang rombeng bukan ukhuwah kita

Hanya iman-iman kita yang sedang sakit, atau mengerdil
Mungkin dua-duanya, mungkin kau saja
Tentu lebih sering, imankulah yang compang-camping“

(Salim A Fillah)

Bait ini lah yang ku ingat sekarang, saat jiwa ini terasa begitu lelah, saat kepala ini terasa begitu penat, yah…mungkin iman ku lah yang sedang turun. Hari ini banyak sekali hal yang terjadi, sepertinya Allah ingin mengingatkan ku akan sesuatu. Namun pikiran ini justru melayang menjelajah batas ingatan. Teringat di suatu pagi, di lorong rumah sakit di Yogyakarta. Aku dan teman-teman ku akan menjenguk anggota keluarga teman ku yang lain di rumah sakit itu. Jujur, aku belum lama mengenal mereka jadi sebenarnya ku tidak paham bagaimana duduk perkaranya. Yah, aku hanya berusaha memenuhi hak-hak saudara seiman ku. Aku datang paling awal di rumah sakit itu, namun terhenti di lorongnya karena aku tak tahu nomor kamar tempat keluarga temanku dirawat. Lalu tak lama kemudian seorang temanku datang, yah…. dia yang paling terkesan dewasa di antara teman-temanku yang lain, setidaknya itu yang ku rasa hingga saat ini. Mungkin berkaitan juga dengan apa yang ia pelajari di bangku kuliah.

Kami bersepakat menunggu teman-teman yang lain dulu di lorong itu. Aku lupa apa yang kami perbincangkan pada awalnya. Sampailah di suatu titik kami berdua membicarakan tentang keluarga. Oh ya, sepertinya pada awalnya ku bertanya: sebenarnya kita menjenguk siapa? Lalu teman ku menjawab, adik teman kita baru saja melahirkan. Sontak aku tercengang. Bagaimana bisa. Ternyata begitu lah yang terjadi, yah adik teman ku. Temanku yang begitu shalihahnya, tinggal di asrama, dan pada mulanya aku kira dia anak ustadz. Tapi ternyata musibah seperti itu menimpa keluarganya. Di tengah ketidakpercayaanku, teman ku melanjutkan ceritanya. Ada temanku yang lain yang ibunya meninggal dengan cara kurang baik setelah bercerai dengan ayahnya dan menikah lagi; ada juga temanku yang ayahnya entah pergi ke mana dan ibunya sampai sekarang masih enggan membicarakannya, sedangkan hubungan temanku ini dan ibunya tidak sedekat ibu dan anak pada umumnya; atau teman ku yang kedua orang tua nya tidak akur; dan temanku yang ayahnya sudah tiada. Aku tahu ini dari temanku yang sedang bersamaku tadi. Aku tahu, ini bukan karena tidak bisa menjaga aib orang lain, namun karena temanku berpikir bahwa ini semua adalah sebagian dari hak ku, sebagai bagian dari keluarga mereka. Ya Allah… dalam hati aku berkata, jika kau tau…sedetik sebelum menceritakan semua hal ini padaku, aku ingin bercerita pada mu tentang keluargaku. Temanku pun membaca bahasa mataku dan bertanya tentang diriku. Hal pertama yang ku katakan: betapa kufur nikmat nya diri ku ini, malu rasanya pada Allah, bagaimana aku menjadi HambaNya yang tidak pandai bersyukur. Air mata ku pun penuh di pelupuk mata, bukan karena diri ku dan keluarga ku lagi namun karena menyadari betapa kufur nikmatnya aku. Aku bukanlah anak seorang ustadz dan ustadzah, aku tidak tumbuh di keluarga maupun lingkungan rumah yang islami walaupun keluargaku muslim, teman-teman ku pun bukan para pejuang dakwah yang menegakkan jalan Allah, walaupun mereka juga bukan anak-anak nakal. Ya Allah, ampuni Hamba Mu ini yang masih sering merasa iri ketika melihat hambaMu yang lain, akhwat-akhwat shalihah, seperti melihat bidadari surga. Bagaimana mereka menjaga hijab dengan rapatnya, bagaimana mereka menundukkan pandangannya, bagaimana mereka berakhlak mempesona dan segudang amalan-amalan mereka. Sedangkan hamba? Hamba ingin seperti mereka Ya Rabb. Pikirku, begitu beruntungnya anak-anak yang lahir di keluarga dengan pemahaman agama yang baik, lingkungan islami dan kebiasaan-kebiasaan islami di keseharian mereka. Ya, kalian begitu beruntung. Begitu mudah dan terangnya jalan untuk dekat dengan Allah. Sedangkan mungkin orang lain masih bingung dalam kegelapan, mencari lenteranya, karena sebenarnya ia juga ingin dekat dengan Allah. Aku paham, bukan maksud keluargaku untuk tidak mengajariku hal-hal itu secara mendalam seperti keluarga “bidadari-bidadari surga” itu, melainkan itu semua juga karena keterbatasan mereka. Aku yakin, bukan kedua orang tua ku tidak mau, melainkan kurang mampu, karena mereka pun mungkin juga tidak seberuntung ustadz maupun ustadzah itu, mereka dulu juga tinggal di keluarga muslim yang biasa-biasa saja. Bahkan walaupun begitu, aku selalu merasa ketulusan, kesungguhan dan kekhusyu’an kedua orang tua ku kala beribadah, damai sekali melihatnya. Aku juga merasa berdosa seketika mendengar cerita tentang keluarga teman-temanku itu, betapa aku tidak bersyukurnya atas nikmat yang Allah berikan, berupa keluarga bahagia yang penuh kasih sayang di dalamnya, kedua orang tua yang hanif. Astaghfirullah….dan sebuah dosa ketika aku menyesali takdir Allah atas keluarga yang Allah berikan kepadaku. Karena Allah menempatkan hambaNya pasti di tempat yang tepat, dan itulah ujian bagi hambaNya, seperti apapun kondisi yang Allah takdirkan. Berdasarkan firman Allah:

Patutkah manusia menyangka bahwa mereka akan dibiarkan dengan hanya berkata: “Kami beriman”, sedang mereka tidak diuji (dengan sesuatu dugaan)? Dan demi sesungguhnya! Kami telah menguji orang-orang yang terdahulu sebelum mereka, maka (dengan ujian yang demikian), nyata apa yang diketahui Allah tentang orang-orang yang benar-benarnya beriman, dan nyata pula apa yang diketahui-Nya akan orang-orang yang berdusta. (QS. al-Ankabut: 2-3) 

Allah tidak akan berlepas tangan atas apa yang Dia takdirkan. Begitu indahnya Ya Rabb, fabiayyi alaa irobbikuma tukadzibaan. Engkau pertemukan Hamba dengan mereka. Aku sama sekali tidak menyangka bahwa jalan hidupku akan seperti ini, menikmati manisnya berjuang di jalan Mu. Menikmati peluh demi peluh air mata dan keringat, dan indahnya sunyi malam saat menceritakan semua hal yang ada di hatiku pada Mu. Satu saja yang menjadi pegangan teguh di hatiku, bahwa ketika kita bersungguh-sungguh ingin dekat dengan Allah maka Allah akan beribu-ribu kali lipat dekat dengan kita. Dan saya sudah mengalaminya. Sekarang bukan saatnya lagi meratapi hal-hal itu, inilah jalan dakwah ku, ini lah jalan juangku, inilah ladang ibadahku, inilah tanggung jawabku atas keluargaku. Kini saatnya terus memperbaiki diri, demi “keluarga kecil” ku juga kelak.

Hari ini saya merasa sangat bersalah. Bukan maksudku hanya memberikan sisa-sisa waktu untuk saat-saat indah bersama kalian. Saat di mana bisa saling menguatkan karena Allah, saat di mana Allah pasti melihat kesungguhan hambaNya yang ingin dekat denganNya. Bukan, bukan begitu maksudku kawan… yah, mungkin imanku lah yang kini sedang compang-camping. Maafkan aku. Sungguh, kalian, jalan ini, hidayah ini dan perjuangan ini adalah hadiah terindah yang kini ku rasakan, Allahu Akbar!! Hanya untukMu Ya Rabb, hanya cintaMu…


di penghujung hari yang luar biasa, di tengah muhasabah, di sela-sela ujian sisipan semester 4.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Anak pertama dari dua bersaudara, merantau ke Yogyakarta, ingin belajar ilmu dunia dan akhirat. Mahasiswa Farmasi UGM 2011.

Lihat Juga

Kaum Munafik dan Perang Pemikiran