Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Duhai Hati… Ikhlas dan Bersabarlah…

Duhai Hati… Ikhlas dan Bersabarlah…

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – “Alhamdulillah, sampai juga,” ucapnya lirih sesaat setelah ia mengerem motor matic miliknya di tepian jalan dekat pom bensin. Sepertinya ia orang pertama yang datang. Diliriknya jam tangan yang menunjukkan waktu pukul 19.32. Ia adalah orang pertama yang hadir dekat lokasi, karena ia tidak tahu lagi jalan masuk ke gang menuju lokasi halaqahnya malam itu. Seyogianya, halaqah malam itu dimulai jam delapan. Lewat pesan singkat ia mengetahui bahwa empunya rumah belum sampai, dan kawan-kawannya juga masih jauh dari lokasi. Meski demikian wajahnya terlihat bahagia karena ia akan bertemu saudaranya yang shalih dan luar biasa. Sudah bisa ia bayangkan, semangatnya sepekan ke depan pasti meningkat untuk menggapai ridha, berkah, dan rezeki Allah Ta’ala. Apalagi kepahamannya tentang Islam dan dakwah juga akan bertambah seiring dengan taujihat ma’nawiyah yang selalu disampaikan sang ustadz di setiap halaqah.

Setelah menunggu sekitar satu jam, ia menerima pesan singkat di telepon genggam, “Akhi saya sudah sampai di stasiun. Bila ada yang berbaik hati, tolong jemput saya di stasiun.” Oh, ternyata sang ustadz yang mengirim. Dengan sigap dikirimkanlah pesan itu kepada semua saudaranya yang masih di jalan, termasuk sang empunya rumah, karena letak stasiun itu searah menuju lokasi. 10 menit berlalu, ia pun bertanya pada sang ustadz, “afwan ustadz, apakah sudah ada yang membalas dan berkenan menjemput? Ana sudah di lokasi tapi Ana tidak tahu jalan yang cepat menuju stasiun, yang Ana tahu harus berputar lewat jalan raya. Sudah pasti lebih dari 30 menit Ana sampai di stasiun.” “Belum ada Akhi. Saya tunggu di sini, jika ada yang berbaik hati menjemput tolong kabari saya,” begitu balas sang ustadz melalui pesan singkat.

Gundah hatinya. Jiwanya merasa terusik karena sang ustadz yang akan memberikan taujihat malam ini belum ada yang bersedia menjemput. Akhirnya ia berinisiatif bertanya pada beberapa orang di sekitar dan didapatkanlah info tentang rute yang lebih cepat menuju stasiun. Dengan hati resah karena sama sekali buta daerah itu, ia bertekad untuk menjemput sang ustadz. Lebih dari 3 kali ia salah jalan dan harus bertanya kepada beberapa orang yang melintas. Jalan yang tidak ada penerangan menyulitkannya mendapatkan petunjuk arah. Di sela-sela itu ia pun menerima pesan singkat kalau saudaranya yang bekerja di Tangerang juga sudah sampai di stasiun yang sama dan minta dijemput. Akhirnya ia sampai di stasiun yang dimaksud setelah lima belas menit berlalu.

Gelisahnya belum reda. Handphone yang dibawanya kehabisan pulsa. Coba ia rogoh saku celana dan baju, ternyata ia hanya menemukan uang seribu rupiah. “Kalau begitu uang ini untuk parkir di samping stasiun itu saja. Biar saya masuk ke dalam untuk mencari mereka,” ucapnya dalam hati. Tak lama ia langsung menemukan saudaranya yang ia akan jemput. Sigap ia saat mendengar suara teriakan saudaranya, “Akh.. Ana di sini…” Sudah dilihat saudaranya itu, tapi mengapa wajahnya menatap ke arah berlawanan dengan dirinya hadir. Tanda tanya itu terjawab sudah karena dilihatnya di seberang jalan ada saudaranya yang sudah datang lebih awal.

“Akhi… Akhi… ustadz di mana?” tanyanya pada saudara yang dilihatnya tadi sambil mengeloyor mendekati motor di seberang jalan sambil berteriak memberikan jawaban, “Hehehe… giliran disuruh jemput datang semua. Ustadz sudah ada jemput duluan tadi.” Terdiam dia sejenak mendengar kata-kata itu sambil mencerna maksud kalimat saudaranya itu. Tiba-tiba hatinya berubah menjadi kesal. Wajahnya yang bahagia berubah murung. Tapi ia tidak ambil pusing, bergegas ia kembali ke parkiran mengejar saudaranya itu setelah ia ingat bahwa ia tidak menghafal jalan kembali ke pom bensin tempat ia menunggu tadi.

Belum ia menyalakan motor dan membayar parkir, ia melihat motor yang memboncengi saudaranya sudah melewati rel kereta. Ia pun terburu-buru menyalakan motor karena hanya bersama mereka harapan satu-satunya ia bisa mengikuti halaqah malam ini. Handphone yang dibawanya sudah kehabisan pulsa dan mati beberapa saat lalu. Uang pun sudah tidak ada di sakunya. Dikejarlah motor itu meski ia tidak tahu seberapa cepat motornya dapat mengejar motor 125cc yang melaju cukup kencang itu. Dilewatinya rel kereta lalu masuk ke jalan gelap yang tadi ia lalui menuju stasiun. Motor yang dikejarnya sudah tak terlihat, ia juga ragu-ragu apakah harus lurus atau belok ke kanan saat bertemu simpangan. Dalam suasana bimbang seperti itu tiba-tiba dari arah kiri motor menyerempetnya. Sontak ia kaget dan berteriak istighfar. Untung saja ia dan motor yang menyerempetnya tidak jatuh. Setelah memohon maaf atas kesalahannya, sejenak ia turun. Dilihatnya pada bagian kiri sayap motor ada lecet gesekan dan sedikit memar di kaki kirinya.

Ia duduk sejenak di pinggir jalan. Hatinya yang kesal dan kecewa bercampur aduk dengan shock yang dialaminya tadi. Nampaknya ia tidak mampu berpikir jernih lagi. Hatinya diliputi amarah. Meski istighfar terus diucapkan, tapi bara api dalam hatinya tak segera padam. “Huffhh, lebih baik pulang saja,” ucapnya lirih, memutuskan untuk berputar kembali ke arah stasiun lalu ia lanjutkan ke arah rumahnya karena tidak yakin kalau ia bisa menemukan jalan ke arah semula ia menunggu kawan-kawannya hadir halaqah. Sepanjang perjalanan, ia hanya beristighfar sambil memohon kepada Allah Ta’ala agar ia diberikan keikhlasan dan kesabaran.

***

Duhai hati…
Amarah yang meliputi hatimu hanya akan membakarmu saja. Tak ada kebaikan dalam amarah yang kau umbar. Justru keburukan yang akan datang menghampirimu dan itu jalan setan yang terkutuk. Duhai hati meski hatimu dipenuhi kemarahan, cobalah untuk selalu ingat pada-Nya dengan berucap ampun astaghfirullohal ‘azhim. Semoga istighfar itu dapat membawamu kembali kepada kondisi fitrahmu, mencintai kebaikan. Mencintai saudaramu, mencintai gurumu, lebih dari engkau mencintai dirimu sendiri.

Duhai hati…
Bersabar di saat menunggu memang pekerjaan sulit. Itulah yang diajarkan oleh dakwah ini untuk selalu bersabar dalam menjalankan proses dakwah. Tak mungkin benih padi yang ditanam pagi hari akan berbuah pada sore harinya. Begitulah sabar mendidik kita duhai hati untuk selalu istimror dalam menjalankan kebaikan ini. Mengapa untuk hal yang seperti ini kau tidak sabar duhai hati? Apakah tak berbekas dakwah ini dalam kepribadianmu?? Bukankah bersabar itu lebih indah dan akan indah pada akhirnya?

Duhai hati…
Peluh yang kau kucurkan untuk aktivitas dakwahmu, semoga menjadi amal kebajikan yang mampu memberatkan timbanganmu atas amal burukmu di yaumil akhir kelak. Apapun hasil yang kau raih, bagaimana pun kondisi akhir dari dakwah yang kau jalankan. Ingatlah selalu Allah Ta’ala melihat proses yang kau jalani selama ini. Bila ada saudaramu yang membuat kesal, anggaplah itu sebagai proses menjadi dewasa. Bila ada saudaramu yang membuat kecewa, anggaplah itu ujian atas keikhlasan dan kesabaranmu. Bukankah bila hati ikhlas dan sabar akan menjadikan engkau lebih indah duhai hati?

Duhai hati…
Kesempurnaan hanyalah milik Allah Ta’ala…
Manusia hanya berusaha menjadi sempurna…
Selebihnya tak ada gading yang tak retak
Bila ada di antara mereka yang menjadi ujian bagimu…

Ikhlaskanlah apa yang diperbuat padamu…
Bersabarlah atas apa yang terjadi…
Hingga Allah Ta’ala menepati janji-Nya padamu…
Untuk masukkan dirimu ke dalam surga…

Duhai hati…
Ikhlas dan Bersabarlah…

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Christian Atanila
Saya seorang mu'alaf. Saya hijrah dari agama Katholik pada tahun 1996. Nama asli (sesuai akte) saya, Christian Atanila. Nama kecil saya, Thomas Tope Christian Atanila Nillan. Nama hijrah saya, Abu Dzar. Nama panggilan saya, Iyan. Dalam hidup terkadang ada masa semangat dan lemah. Untuk sentiasa menyemangati diri saya, motto hidup yang saya ambil "Rekreasiku adalah Berjihad". Jihad dalam makna yang hakiki dan luas. Rekreasiku adalah membawa manfaat pada sesama. Rekreasiku adalah menebar senyuman pada sesama. Rekreasiku adalah menjalankan perintah Tuhanku. Rekreasiku adalah mencegah sesama dari yang munkar...

Lihat Juga

Memperluas Jaringan Lembaga Dakwah