Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Organisasi: Konsep Sinergisitas Kemampuan IES-Q Seseorang

Organisasi: Konsep Sinergisitas Kemampuan IES-Q Seseorang

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (donialsiraj.wordpress.com)
Ilustrasi (donialsiraj.wordpress.com)

dakwatuna.com – Terkadang banyak orang heran terhadap para aktivis. Kebanyakan mereka beranggapan, “Wah ngapain capek-capek jadi aktivis, mendingan tidur, belanja di mall, nge-game dll “. Itulah tanggapan orang-orang yang memang belum sadar akan manfaat kita aktif di organisasi-organisasi. Mereka seakan menganggap bahwa hidup ini hanyalah untuk bersenang-senang atau bahkan terjerumus dalam keglamouran-nya.  Beginilah kebanyakan generasi muda saat ini, mereka hanya menyibukkan diri seolah “hanya” untuk kepentingan pribadi. Kuliah, ke kantin, belanja ke mall, nonton film, nongkrong. Itulah aktivitas kebanyakan generasi muda saat ini. Memang seolah-olah aktivitas seperti itu akan memanjakan dan memenuhi segala keinginan-nya. Akan tetapi perlu diketahui dengan hanya terbelenggu pada ke-hura-hura-an itu seakan mereka akan membuat sebuah tempurung pemikiran yang sempit, terisolir terhadap lingkungan. Aktualisasi diri yang seakan memaksakan untuk membuat menjadi “limited”. Padahal jika kita kaji lebih dalam lagi, kemampuan manusia itu secara garis besar terbagi menjadi 3 yaitu Intellectual Quotient, Emotion Quotient, dan Spiritual Quotient.

Tentu kemampuan itu, Tuhan memerintahkan untuk mengoptimalkan seoptimal mungkin. Kita sudah diberikan berbagai kemampuan yang sangat luar biasa, dalam sebuah ayat dalam Al-Quran, dalam surat At-tin, “Sesungguhnya Allah telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk”. Sebuah anugerah dan kepercayaan Allah, sebagai Sang Khaliq memberikan predikat sedemikian rupa kepada sang makhluk, yaitu manusia. Tentu ini bukan untuk kita bangga-banggakan, tapi ayat tersebut mengandung sebuah amanah yang harus kita jaga, mengandung sebuah misi visi dan ekspektasi yang harus kita capai. Sehingga perlulah sebuah konsep di mana manusia bisa mengoptimalkan berbagai kemampuan yang telah dikaruniakan oleh Allah SWT. Sesungguhnya tidaklah terlalu rumit/susah cara kita mengoptimalisasikan dan mengaktualisasikan kemampuan yang ada pada diri kita. Cukup kita aktif berorganisasi, Insya Allah ladang untuk mengoptimalkan semua itu terbuka lebar.  Dengan berorganisasi kita akan belajar bagaimana kita memposisikan diri kita, di saat kita berperan sebagai anggota, bagaimana kita belajar melaksanakan tugas dan perintah dari pemimpin kita. Bagaimana kita ikhlas bekerja untuk kepentingan bersama, untuk sebuah visi bersama.

Demikian juga di saat kita menjadi seorang pemimpin dalam sebuah organisasi, kita akan belajar memposisikan diri kita menjadi seorang pengayom bagi anggotanya, apa yang diinginkan para anggota, kita dengar dan kita tampung serta kita realisasikan keinginan dan aspirasi yang ada. Tentunya kita sebagai seorang nahkoda dalam sebuah kapal, kita akan belajar membuat sebuah keputusan besar akan diarahkan ke mana kapal kita, akan bertransit ke mana dan tentunya destinasi pelayaran kapal kita harus jelas dan sesuai dalam koridor aturan yang ada.  Menjadi seorang pemimpin memang perihal yang berat-berat susah. Akan tetapi sebuah janji Allah, bahwa pemimpin-pemimpin yang adil dan bijaksana adalah salah satu dari sekian kriteria orang-orang yang dirindu surga, sebuah janji yang menjadi sebuah motivasi dalam diri kita. Jika kita perluas lagi cakupan arti pemimpin yang sebenarnya, memang setiap dari diri kita adalah pemimpin bagi diri kita sendiri, dan tentu ini menjadi fundament jiwa kepemimpinan kita, memimpin diri sendiri, memimpin rumah tangga, memimpin organisasi, dan bahkan sebagai pemimpin sebuah negara. Akan tetapi ya setiap pemimpin juga harus berkomitmen kuat karena tentu pertanggungjawaban itu pasti ada, “Kullukum ro`in wakullukum masulun `an ro`iyatihi”, setiap dirimu adalah seorang pemimpin, maka akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinanmu.

Selain itu berorganisasi juga akan memberikan bekal yang tidak diberikan di sekolah-sekolah formal sebagaimana mestinya. Bekal untuk terjun di masyarakat. Sebuah modal berharga bagaimana kita bisa menghadapi kompleksitas sifat-sifat anggota masyarakat yang ada, bagaimana kita bisa bekerja sama dengan mereka. Dalam berorganisasi semua itu ditanamkan.  Rasa kepekaan dan simpatik juga akan muncul di saat kita berorganisasi, Emotion Quotient, tentu dalam bermasyarakat kita dipaksa dan memang sebenarnya harus saling tolong-menolong terhadap sesama, minimal peka terhadap kondisi di lingkungan masyarakat kita. Inilah yang di zaman modernisasi saat ini serasa meluntur bahkan menghilang. Sebenarnya di dalam Islam sudah ada sebuah prinsip bermasyarakat yang baik, “khoirunnas Anfa`uhum Linnas” sebaik-baik manusia adalah yang memberikan kemanfaatan kepada banyak orang. Melalui organisasi kita akan belajar memberikan kemanfaatan kepada lingkungan masyarakat sekitar dengan program-program di organisasi seperti bakti sosial, peduli bencana dan program-program pengabdian masyarakat lainnya.

Untuk kemampuan Spiritual, kita bisa kembangkan dengan memanfaatkan adanya kajian-kajian keislaman yang ada, jika memang organisasi itu juga bergerak di bidang dakwah, seperti organisasi kemasyarakatan, Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Aisyiayah, Nahdlatul Ulama dan masih banyak lagi. Selain itu juga ada sebuah prinsip “tombo ati”, yaitu “Wong kang sholeh kumpulono” yang artinya berkumpullah dengan orang sholeh. Demikianlah jika kita masuk dalam sebuah organisasi yang di dalamnya banyak orang-orang sholeh, orang-orang yang memiliki sebuah visi yang sama dengan kita tentu kita akan terjaga untuk selalu berbuat baik dan akan terketuk jika memang amal ibadah kita belum seoptimal teman kita sehingga kita akan selalu dan senantiasa melakukan peningkatan terhadap amal ibadah yang kita lakukan.

Kemudian mengenai Intellectual Quotient jelas juga akan bisa kita kembangkan dengan mengikuti acara seminar-seminar atau diskusi dalam skala kecil yang diadakan dalam sebuah organisasi. Tentu di sana kita akan saling bertukar pikiran dengan teman-teman yang lain. Apa yang awalnya belum kita ketahui, bisa jadi teman kita sudah mengetahui sehingga kita bisa saling melengkapi aspek keilmuan yang ada dalam diri kita.

Jadi sudah jelas, hanya dengan aktif berorganisasi saja, Insya Allah akan bisa memberdayakan kemampuan diri kita. Sesuatu yang sebenarnya murah meriah, tanpa perlu mengeluarkan banyak biaya seperti halnya melalui pendidikan formal. Akan tetapi hanya perlu sebuah komitmen besar untuk itu. Kesimpulannya dengan berorganisasi, kita bisa menyelaraskan dan mensinergikan berbagai kemampuan yang ada dalam diri kita sehingga akan terbentuk kepribadian yang utuh baik secara spiritual, intelektual maupun emosional.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Phisca Aditya Rosyady
Mahasiswa Master di Departement Computer Science and Engineering di Seoul National University of Science And Technology, Korea. Lahir di Yogyakarta, 31 Agustus 1991. Anak kedua dari tiga bersaudara. Mempunyai hobi di dunia jurnalistik, elektronika dan instrumentasi. Beberapa kali menjuari lomba blog dan karya tulis. Pernah menulis buku "Kami di antara Mereka", Buku " Inspirasi Gadjah Mada untuk Indonesia dan semasa SMA pernah menulis Buku "1000 Anak Bangsa Bercerita Tentang Perbedaan bersama para alumni Program Pertukaran Pelajar Jogja lainnya. Mahasiswa yang juga pernah menjadi santri PPSDMS Nurul Fikri ini aktif di beberapa organisasi seperti di HMEI, IMM Al Khawarizmi UGM, IPM Imogiri, dan BPPM Balairung. Juga menggeluti riset tentang UAV di Tim Quadcopter Elins. Tahun 2011 bersama empat temannya, berhasil membuat System Body Ideal Analyzer melalui PKM-T yang berhasil didanai Dikti. Phisca pernah menjadi Mahasiswa Berprestasi FMIPA dan juga mendapatkan Anugerah Insan Berprestasi dalam rangka Dies ke-63 UGM dan Dies ke-64 UGM. Sebelum Ia melanjutkan kuliah S-2 nya, Phisca 8 bulan bekerja di salah satu anak perusahaan Astra International di bidang IT consultant sebagai programmer.

Lihat Juga

penghafal Al-Qur'an anak Palestina

Keistimewaan Para Penghafal Al-Quran di Dunia