Home / Narasi Islam / Life Skill / Kegagalan itu Perlu

Kegagalan itu Perlu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – “Karena orang yang berhasil bukan orang yang langsung mendapat apa yang ia minta, namun orang yang berhasil adalah orang yang bisa bangkit dalam setiap kegagalannya” 

Terkadang kita dihadapkan pada sebuah permasalahan yang sangat rumit untuk diselesaikan. Sangat sulit, sulit dan sulit. Di saat seperti itu kita mengatakan “Ah, aku nyerah saja, sudah gag kuat “. Pernyataan pesimistis inilah yang mungkin secara disengaja ataupun tidak disengaja terlontar dalam mulut kita. Dengan berbagai hambatan yang bisa dikatakan berarti, pernyataan atau sikap seorang looser seperti inilah yang sering membuntukan setiap usaha kita.

Ada sebuah kisah dari seorang penemu lampu pijar, Thomas Alfa Edison. Dari sana kita bisa menemukan sebuah inspirasi dan motivasi baru afar kita tidak mudah menyerah dengan segala kompleksitas dan apapun itu kegagalan kita, berikut adalah kutipan yang bisa kita ambil hikmahnya:

“Pada saat menemukan Lampu Pijar ini Thomas Alfa Edison mengalami kegagalan sebanyak 9.998 kali. Baru pada percobaannya yang ke 9.999 dia berhasil secara sukses menciptakan lampu pijar yang benar-benar menyala terang. Pada saat keberhasilan dicapainya, dia sempat ditanya: Apa kunci kesuksesannya. Thomas Alfa Edison menjawab: “Saya sukses, karena saya telah kehabisan apa yang disebut kegagalan”. Bayangkan dia telah banyak sekali mengalami kegagalan yang berulang-ulang. Bahkan saat dia ditanya apakah dia tidak bosan dengan kegagalannya, Thomas Alfa Edison menjawab: “Dengan kegagalan tersebut, saya malah mengetahui ribuan cara agar lampu tidak menyala”. Luar biasa, Thomas Alfa Edison memandang kegagalan dari kaca mata yang sangat positif. Kegagalan bukan sebagai kekalahan tapi dipandang dari sisi yang lain dan bermanfaat, yaitu mengetahui cara agar lampu tidak menyala.

Banyak sekali hikmah yang bisa kita petik di sana, yang pertama adalah jangan mudah menyerah dengan apapun kondisi yang ada. Boleh jadi di saat kita akan menyerah, justru keberhasilan sudah menanti kita di depan sanaJika Thomas Alfa Edison menyerah pada eksperimen ke 9998-nya maka dia tidak akan menemukan lampu pijar. Hal ini sangat rugi karena, pada eksperimen ke 9999-nya ia ditakdirkan berhasil dalam eksperimen penemuan lampunya. Yang menjadi permasalahan adalah kita tidak mengetahui kapan kita akan berhasil. Sehingga di sini perlu ada sebuah kekuatan dan motivasi bahwa kita harus menjaga kontinuitas semangat kita untuk tidak pantang menyerah. Intinya  “Janganlah menyerah, karena di saat kita menyerah bisa jadi keberhasilan sudah di depan kita”.

Kemudian hikmah yang kedua adalah kita harus memandang setiap kegagalan kita adalah sebuah pencapaian ataupun batu tumpuan untuk menuju keberhasilan kita. Memang dalam hal ini kita harus menggunakan kacamata “Positif”. Kacamata yang bisa mengkonversikan setiap sisi kegagalan kita menjadi sisi keberhasilan kita. Dalam kutipan di atas, Thomas Alfa Edison memandang setiap kegagalannya dari sisi-sisi positif. Dengan kegagalan-kegagalan, ia justru tahu banyak hal tentang penyebab-penyebab kenapa lampu tidak menyala. Sisi-sisi inilah yang jarang diliput dan diperhatikan orang-orang di saat dalam lubang kegagalan. Padahal inilah warna dan bumbu-bumbu dalam sebuah perjuangan dalam mencapai sebuah keberhasilan. Mari kita tanamkan pada diri kita, sebuah spirit fighting yang konsisten, sehingga kita tidak mudah menyerah begitu saja, menyerah dan kalah sebelum berperang.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 7,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Phisca Aditya Rosyady
Mahasiswa Master di Departement Computer Science and Engineering di Seoul National University of Science And Technology, Korea. Lahir di Yogyakarta, 31 Agustus 1991. Anak kedua dari tiga bersaudara. Mempunyai hobi di dunia jurnalistik, elektronika dan instrumentasi. Beberapa kali menjuari lomba blog dan karya tulis. Pernah menulis buku "Kami di antara Mereka", Buku " Inspirasi Gadjah Mada untuk Indonesia dan semasa SMA pernah menulis Buku "1000 Anak Bangsa Bercerita Tentang Perbedaan bersama para alumni Program Pertukaran Pelajar Jogja lainnya. Mahasiswa yang juga pernah menjadi santri PPSDMS Nurul Fikri ini aktif di beberapa organisasi seperti di HMEI, IMM Al Khawarizmi UGM, IPM Imogiri, dan BPPM Balairung. Juga menggeluti riset tentang UAV di Tim Quadcopter Elins. Tahun 2011 bersama empat temannya, berhasil membuat System Body Ideal Analyzer melalui PKM-T yang berhasil didanai Dikti. Phisca pernah menjadi Mahasiswa Berprestasi FMIPA dan juga mendapatkan Anugerah Insan Berprestasi dalam rangka Dies ke-63 UGM dan Dies ke-64 UGM. Sebelum Ia melanjutkan kuliah S-2 nya, Phisca 8 bulan bekerja di salah satu anak perusahaan Astra International di bidang IT consultant sebagai programmer.

Lihat Juga

Nikah, Antara Buta Cinta dan Gagal Paham Syariat