Home / Pemuda / Cerpen / Leni

Leni

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Ini malam ke dua ratus delapan puluh sembilan. Malam ganjil tanpa bintang. Toh hampir tidak ada yang peduli soal bintang. Satu dua mungkin mendongak ke atas, sekilas saja, tak peduli bintang nampak atau tidak. Kerlip lampu-lampu kota lebih menarik, menggantikan kerlip bintang.

Leni duduk memeluk lutut, gemetaran menahan dingin. Pakaian kusam kotornya tak cukup menghalau angin malam. Dulu ia tak pernah merasa kedinginan seperti ini, dulu, dulu sekali. Saat ia tinggal di rumah besar dengan banyak jendela. Setiap pagi dan sore, seorang wanita tengah baya akan memandikannya. Memilihkan pakaian bersih dan hangat kemudian menyuapinya di halaman belakang yang luas. Kamar, kamar mandi dan halaman belakang, itu saja rumahnya. Orang yang dipanggil Nyonya dan Tuan di rumah itu tak pernah mengizinkannya melangkah ke depan. Sekadar melongok ke ruang tengah pun ia sudah dibentak, wanita tengah baya itu juga dibentak, tak becus mengurusnya katanya. Mulanya ia menurut berlari ke belakang tapi semakin lama ia penasaran. Berontak tiap dibentak dan berteriak tiap dilarang. Lima belas tahun sudah ia hanya mendekam di rumah bagian belakang tanpa tahu ruangan lain.

Suatu siang ia mendengar banyak suara di ruang depan. Ia lolos berlari dan terdiam seketika di hadapan para tamu yang menunjukinya sambil bertanya pada tuan rumah. Akibatnya ia dinaikkan ke mobil, ia tertawa merasa diajak plesir. Selama ini ia hanya melihat orang-orang rumah keluar masuk mobil dan pulang membawa beragam barang. Tapi wanita tengah baya yang mengantarkannya menangis sepanjang jalan sambil sesekali ditenangkan sopir mobil yang sudah mulai beruban. Tak dijawabnya pertanyaan Leni, kita ke mana Mbok?

Ia ditinggalkan begitu saja dengan sekoper pakaian dan mainan di sebuah rumah dengan banyak kamar dan ranjang bertingkat. Banyak anak-anak sebayanya di sana. Satu dua anak duduk saja sambil melelehkan liurnya setiap saat. Ada juga yang hanya diam sambil mengangguk-anggukkan kepalanya sambil bergumam tak jelas. Beberapa anak dengan kursi roda nampak hilir mudik berjalan tanpa canggung. Yang lain asyik bermain sambil tertawa-tawa di halaman. Tak butuh waktu lama ia masuk dalam lingkaran anak-anak, turut bermain dengan beragam anak sepertinya.

Malam harinya ia berulah. Berteriak memanggil wanita tengah baya yang mengasuhnya, yang memandikannya, yang menyuapinya, yang meninabobokannya sambil bercerita tentang bintang-bintang yang kadang nampak dari jendela kamarnya. Ia baru diam ketika seorang wanita gemuk menyeret tangannya, memasukannya ke gudang kecil. Menguncinya semalaman meski ia menangis ketakutan minta dibukakan pintu hingga tertidur kelelahan.

Tahu-tahu ia sudah di jalanan, menyelinap keluar gerbang saat rombongan mobil berkunjung membawa banyak barang-barang. Ia cuma ingin pulang, bertemu si wanita tengah baya. Ia tak pernah tahu bahwa wanita yang dicarinya ada di salah satu mobil rombongan hari itu, mengunjunginya bulan pertama dengan segenggam rindu pada anak asuhannya.

Sampai suatu malam saat ia bergelung tidur di belakang bangunan tua, dua orang lelaki menyergapnya, menyeret kakinya secara paksa. Ia berteriak dan memberontak. Toh tenaganya tak cukup untuk melawan. Ia kalah dengan rasa sakit dan marah. Mencaci dua lelaki busuk yang meninggalkannya sambil menyeringai. Meninggalkannya sampai ia mual seharian dan perutnya membesar belakangan. Tak nyenyak tidur sejak sesuatu dalam perutnya bergerak ke sana kemari.

Ini malam ke dua ratus delapan puluh sembilan. Entah bagaimana ia menghitungnya. Matanya menjelajahi langit yang hanya nampak sepetak karena tertutup atap-atap bangunan. Nampak satu bintang di ujung langit sebatas pandangannya. Hanya satu dan berkelip redup.

Tiba-tiba matanya mendelik kesakitan. Sesuatu dalam perutnya memberontak memaksa keluar. Sudah sepekan ini rasa sakit di perutnya meningkat rasanya. Ia megap-megap menarik nafas sambil mencengkram ujung bajunya. Berteriak memancing beberapa penghuni kolong jembatan mendekat. Seorang wanita tua menyandarkan punggung Leni ke dinding, yang lain membuka kedua kakinya. Leni tak tahu harus bagaimana lagi. Ia terus menghentakkan nafas dan berusaha mendorong perutnya. Ketubannya pecah, janin di dalam kandungannya terdorong keluar sempurna. Simpanan nafasnya terasa menipis dan tenaganya melemah. Matanya berat ingin menutup, satu dua kenangan berkelebat mengikutinya.

Di rumah besar itu, dulu, dulu sekali, ia pernah melihat seekor kucing melahirkan. Wanita tengah baya itu bercerita sambil menunjukkan perjuangan si kucing. Kucing belang itu duduk diam tanpa mengeong sedikit pun, perutnya bergerak turun, mendorong anak-anak kucing kecil keluar. Satu keluar ia jilati seraya memakan tali pusatnya. Dua keluar, tiga keluar, sampai empat anak kucing keluar, kucing belang jilati sayang. Kata wanita tengah baya itu, begitulah semua ibu, akan selalu menyayangi anak-anaknya. Tak akan memakannya, tak akan membuangnya. Saat Leni bertanya polos, siapa ibuku Mbok? Wanita tengah baya itu tersenyum sedih sambil mengelus kepalanya.

Ia kembali tersadar ketika wanita tua itu membangunkannya. Menyodorkan bayi kecil dalam kain jarik kusam.

“Anakmu laki-laki Nduk, sehat dan kuning sepertimu,”

Ia menatap bayi itu sekilas. Ia tak peduli pada dua lelaki setan tempo dulu. Sungguh tak peduli. Dendam atau apalah itu luruh seketika. Perasaannya begitu bahagia menatap bayi merah itu menangis di dekapannya. Perasaan seorang ibu. Akan selalu menyayang dan tak akan membuang.

Tiba-tiba rasa sakit kembali menyerangnya. Tangannya gemetar menyerahkan bayi kecil pada wanita tua di sampingnya. Ia memegang perutnya yang terasa luruh. Cairan merah kental meluncur cepat membasahi kakinya lagi. Pendarahan.

Sebuah bintang di ujung langit berkelip. Makin redup dan redup. Sekali usapan angin, bintang itu hilang redupnya. Menyisakan kerlip lampu kota. Bayi laki-laki itu menangis keras-keras. Kadang kelahiran harus ditebus kematian.

***

Tiga bulan kemudian.

Para wartawan berebut memotret pasangan suami istri tengah baya yang mengadopsi bayi laki-laki berumur tiga bulan. Konon suami istri ini sudah enam belas tahun belum dikaruniai momongan. Bukan suami istri biasa tentu. Si suami adalah pengusaha yang mencalonkan diri sebagai pemimpin daerah di kotanya tahun ini, sementara si istri adalah mantan artis ibukota di masa mudanya. Keduanya berfoto sambil tersenyum hangat menggendong bayi usai diwawancarai ini itu. Tertawa renyah ketika si bayi mengeluarkan aroma kotoran dari popoknya.

Begitu para tamu dan wartawan pulang, sang istri memanggil wanita tengah baya di rumahnya. Meminta ia mengganti popok si bayi dan menidurkannya. Kedua suami istri itu tak pernah tahu bahwa bayi dalam gendongan mereka adalah cucu mereka sendiri. Anak dari Leni, anak kandung mereka yang terlahir dengan keterbelakangan mental hingga selalu mereka sembunyikan keberadaannya. Anak yang dibuang ke panti asuhan anak cacat demi menjaga popularitas keduanya. Kedua suami istri itu tak akan pernah tahu. Tak akan pernah tahu sampai kelak hari perhitungan.

***

Anak-anak kucing di halaman belakang rumah bermain ekor ibunya, si kucing belang. Beberapa kembali menyusu meski induk kucing nampak lelah. Bukankah ibu akan selalu menyayang dan tak akan membuang?

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ochikohumaira
Ibu rumah tangga bahagia
  • Alim M Wiltom

    sip. apik.

Lihat Juga

Tanah 7 X 12, Bisa Tidak Dibuat Rumah 1 Lantai dengan 3 Kamar Tidur?