Home / Narasi Islam / Politik / Kapan Kepemimpinan Politik Itu Ditunggu, Diupayakan, atau Ditolak?

Kapan Kepemimpinan Politik Itu Ditunggu, Diupayakan, atau Ditolak?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Dalam sebuah hadits,

Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com “Kalau kalian sudah bepergian bertiga maka pilihlah seorang pemimpin.” (HR Ahmad dan Abu Daud).

Dalam sebuah perjalanan saja dibutuhkan seorang pemimpin, lantas bagaimana mungkin tujuan yang amat mulia itu dapat diwujudkan tanpa adanya seorang pemimpin? Bagaimana akan mencapai keadilan dan kesejahteraan rakyat tanpa seorang pemimpin yang menganggap kepemimpinannya adalah kepedulian, amanah, tanggung jawab, pengorbanan, kerja keras, pelayanan, keteladanan, dan kepeloporan?

Dapat kita saksikan bahwa kepemimpinan ialah merupakan kekhasan manusia. Bahkan semut saja mempunyai pemimpin,

“Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.” QS An-Naml 17.

Di samping itu kepemimpinan seseorang menunjukkan kapasitasnya. Seberapa kuat kepemimpinannya berbanding lurus dengan seberapa besar kapasitasnya. Semakin besar kapasitasnya, semakin besar mas’uliyah (tanggung jawab) nya, semakin besar mas’uliyah semakin besar pula pahalanya. Tetapi bisa jadi justru yang paling besar dosanya karena salah dalam mempergunakan kepemimpinannya.

Lantas apakah kepemimpinan itu kapan dicari, ditunggu, atau diabaikan? Kita akan menemui dengan alasannya masing-masing.

1. Seseorang hamba Allah yang melihat realita umat yang bobrok, sedang tidak didapat yang berusaha memperbaikinya. Ia senantiasa berjuang, dan dengan keyakinannya tanpa mengenal menyerah membuat orang lain mengikutinya sehingga berbuah pada kekuatan yang semakin mengalir deras sehingga terciptanya kondisi umat yang lebih baik dan berperadaban yang dekat dengan kebaikan dan jauh dari kemungkaran.

Pemimpin yang lahir dari keprihatinan dan penderitaan seperti ini timbul tanpa direncanakan. Ia akan terpanggil oleh rasa tanggung jawabnya. Barangkali ini yang dilakukan olah Nabi Yusuf AS yang melihat realita kaumnya kemudian berkata kepada Raja:

Jadikan aku (sebagai penanggung jawab) perbendaharaan negara, sesungguhnya aku ini seorang yang dapat menjaga (amanah) dan berilmu. QS Yusuf 55.

Sebagaimana sepeninggal wafatnya Rasulullah, Abu Bakar As-Sidiq berkata kepada kaum Anshar “Kami adalah para amir dan kalian para menteri” lantas Abu Bakar menawarkan Umar atau Abu Ubaidah sebagai khalifah dengan alasan karena paling Arab hasabnya (Dalam Gharibul Hadits dikatakan bahwa hasab itu perbuatan baik yang ia dan orang-orang tuanya lakukan sehingga biografi mereka diperhitungkan. Bedanya dengan nasab adalah bahwa kalau nasab itu kaitannya dengan silsilah keturunan, adapun hasab adalah perbuatan seperti keberanian, kedermawanan, kemuliaan akhlaq, dan kesetiaan. Tahzibul Lughah, jilid 2, h. 41). Lantas Umar menimpalinya dengan menawarkan Abu Bakar saja yang dibaiat dengan alasan karena paling dekat dan cinta kepada Rasulullah, maka Umar mengambil tangannya dan membaiatnya dan orang-orang pun mengikutinya.

Demikianlah, kondisilah yang menuntut kepemimpinan itu boleh bahkan harus diminta, yaitu manakala seseorang melihat bahwa tidak ada orang lain yang lebih capable dibanding dirinya, apalagi tidak ada yang layak sebagaimana Nabi Yusuf AS dan Abu Bakar RA untuk kaumnya. Tuntutan ini didorong oleh rasa cinta dan tanggung jawab terhadap kaumnya.

2. Seorang hamba melihat kehidupan seorang pejabat yang serba mudah dengan segala kenikmatannya, mendapat mobil pribadi, mendapat fasilitas bebas macet, makan dan buah-buahan yang senantiasa disediakan, fee atas setiap proyeknya, yang dengan gajinya dapat membangun vila lengkap dengan segala fasilitasnya, ketenaran, dan kenikmatan duniawi yang lain.

Bukannya untuk menyejahterakan rakyat, tetapi jika hal seperti ini yang menjadi keinginannya atas maksudnya menjadi pemimpin, maka Ia kan menjadikannya kehinaan dan penyesalan. Sebagaimana hadits Nabi SAW,

“Hai Abudurrahman bin Samurah, janganlah kamu meminta kepemimpinan; karena kalau engkau diberi kepemimpinan atas dasar permintaan itu maka engkau akan dibebani; tapi apabila engkau diberinya bukan karena minta, engkau akan dibantu dalam menunaikannya. Apabila engkau bersumpah atas suatu persumpahan lalu engkau melihat hal lain yang lebih baik darinya maka tebuslah sumpahmu itu dan pilihlah hal yang lebih baik” (HR. Bukhari).

Kepada orang-orang ambisius yang menginginkan kenikmatan duniawi itulah dilarang meminta jabatan.

3. Seorang hamba yang shalih, tetapi ia melihat dirinya tidak lebih mampu daripada saudaranya dan lebih percaya kepada saudaranya untuk menjalankan amanah kepemimpinan. Maka ia diperbolehkan untuk menolak kepemimpinan, sebagaimana dilakukan sejumlah sahabat Nabi SAW, seperti Salman Al-Farisi, Abu Dzar, dan Abdullah bin Umar. Rasulullah bersabda,

Wahai Abu Dzar, sesungguhnya kau ini lemah dan sesungguhnya ia adalah amanah dan sesungguhnya ia di hari kiamat akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi yang mengambilnya dengan hak dan menunaikan kewajibannya. (HR Muslim)

Demikianlah seorang muslim menganggap bahwa kepemimpinannya tidak lebih dari sarana beribadah kepadaNya demi menggapai cinta dan ridhaNya sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi SAW, para Khulafaur Rasyidin, dan para pemimpin Islam yang dicintai dengan tulus oleh rakyatnya.

Disari dari buku Rijalud Daulah karya Ustadz Jasiman, Lc.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Dhavid Gani Setiawan
Penulis adalah mahasiswa teknik informatika di Institut Teknologi Telkom.

Lihat Juga

Simbiosis Mutualisme Islam dan Politik