Home / Pemuda / Pengetahuan / Peran Teknik Industri dalam Islam

Peran Teknik Industri dalam Islam

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Ilustrasi. (Dirga)
Ilustrasi. (Dirga)

dakwatuna.com – Istilah teknik sering dihubungkan dengan teknologi atau sejenisnya. Ilmu teknik atau dalam bahasa inggris disebut engineering sebenarnya merupakan ilmu untuk merekayasa. Objek yang akan direkayasa sangat banyak. Keberagaman objek inilah yang menyebabkan keberagaman jenis program studi keteknikan di dunia kuliah.

Salah satu program studi keteknikan adalah teknik industri. Jika diartikan kata-perkata, teknik industri adalah ilmu untuk merekayasa atau merekonstruksi industri. Definisi tersebut tidaklah salah tetapi belum mencakup pengertian dari teknik industri sebenarnya. Menurut IIE (institute of industrial engineering), industrial engineering is concerned with the design, improvement, and installation of integrated systems of people, materials, information, equipment, and energy. It draws upon specialized knowledge and skill in the mathematical, physical, and social sciences together with the principles and methods of engineering analysis and design to specify, predict, and evaluate the results to be obtained from such systems.

Nah, bagaimana peran teknik industri dalam Islam? Dalam teknik industri, kita mengenal kata “optimasi”. Salah satu kemampuan yang harus dimiliki seorang industrial engineer adalah bagaimana untuk mengoptimalkan pendapatan. Cara pengoptimalannya juga sangat banyak, beberapa di antaranya adalah menurunkan biaya produksi, mengefisienkan proses produksi dan melakukan perancangan sistem yang efektif dan efisien.

Contohnya adalah seorang pengusaha ingin mendirikan sebuah pabrik semen di sebuah kota. Tetapi ada sebuah pertimbangan besar sebelum pabrik semen itu didirikan yaitu lokasi bahan bakunya-berupa batu kapur-berada di pedalaman yang cukup jauh dari kota. Jika pengusaha itu tetap mendirikan pabrik di kota maka akan muncul biaya lain seperti biaya transportasi dan sebagainya. Sedangkan jika pabrik itu malah akan didirikan di pedalaman, tentu saja pendistribusian ke konsumen atau ke toko-toko juga akan semakin sulit karena kebanyakan dari konsumen berada di kota.

Masalah di atas haruslah dianalisis dengan hati-hati, karena salah membuat keputusan akan membuat kerugian dan memunculkan biaya yang semestinya bisa ditiadakan. Biaya-biaya inilah yang dalam Islam dikenal dengan kata “mubadzir ataupun boros”. Padahal Allah sendiri menerangkan dalam Al-Quran.

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan, … (Al-Isra’: 26-27)

Peminimalan pemborosan inilah yang menjadi salah satu kajian dari mahasiswa teknik industri. Beberapa mata kuliah yang mendukung dalam proses ini adalah Perancangan Tata Letak Pabrik (PTLP), Akuntansi Manajemen, Production Planning and Inventory Control, Operation Research, Pemilihan Bahan dan Proses Manufaktur, Feasibility Study, Supply Chain Management dan lainnya.

Dalam masalah di atas, tentu pertama sekali yang kita lakukan adalah melakukan analisis kelayakan terhadap industri pabrik semen tersebut, apakah layak dan menguntungkan atau malah merugikan. Jika layak maka tahap selanjutnya kita akan menentukan lokasi terbaik dari pabrik tersebut berdasarkan aliran rantai pasok, simulasi dan semacamnya baru kemudian dilakukan perancangan tata letak pabrik. Hal di atas adalah gambaran singkat proses yang dilakukan sehingga akan terhindar dari pemborosan biaya-biaya yang seharusnya dapat ditiadakan. Bisa dibayangkan jika pemborosan biaya tersebut muncul setiap hari selama bertahun-tahun pabrik semen tersebut berjalan maka dapat dihitung berapa banyak uang yang telah kita sia-siakan.

Jadi, setiap keputusan yang akan kita buat harus berdasarkan pemahaman dan ilmu yang sesuai. Tetapi hal yang terpenting adalah pemahaman terhadap ilmu dunia harus dibarengi dengan pemahaman serta kecintaan pada ilmu untuk akhirat.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Dirga
Mahasiswa Teknik Industri Universitas Gadjah Mada angkatan 2011. Anak ke-2 dari dua bersaudara. Saat ini merupakan peserta program PPSDMS angkatan VI Yogyakarta. Motto, be the best or be the first.

Lihat Juga

Membentuk Karakter Pemimpin yang Islami Sejak Dini