Home / Pemuda / Mimbar Kampus / Langkah itu Bernama Mujahadah

Langkah itu Bernama Mujahadah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Acara camp Al-Qur'an ikhwan. (Choiriyah)
Acara camp Al-Qur’an ikhwan. (Choiriyah)

dakwatuna.com – Rabu siang ba’da Zhuhur, saya beserta beberapa akhwat PQA (Pesantren Qur’an Airlangga), dari balik papan hijab menunaikan setoran hafalan kepada seorang ustadz di Masjid Nuruzzaman Universitas Airlangga. Di akhir majelis, ustadz bertanya kepada kami, “Seberapa besar kesungguhan teman-teman dalam menghafal Al-Qur’an?”. Masih terdiam, saya dan teman-teman saling berpandangan. Ustadz pun mengulang pertanyaannya, “Begini maksud saya, sharing saja, hal-hal ngotot apa saja yang sudah anti lakukan dalam menghafal Al-Qur’an?”

Saya pun menjawab, “Belum ngotot ustadz…”. Ya, karena saya akui bahwa masih banyak waktu yang belum difokuskan pada aktivitas Qurani.

“Sudah minta didoakan oleh orang tua?”, tanya ustadz.

Dua orang di antara kami sudah. Saya dan akhwat lain belum.

“Dulu, saat mulai memasuki juz 7 atau juz 8, bersamaan juga dengan padatnya jadwal akademik dan lain-lain, saya merasakan kesulitan. Lalu saya ingat untuk minta doa restu dari orang tua, alhamdulillah setelah itu insya Allah Allah memberi kemudahan untuk bisa menghafal. Kalau orang tua belum mendukung, ya berarti perlu diberi pemahaman tentang pentingnya hal ini.”

Ooh… Iya ya…

“Tadi setelah shalat Zhuhur ada yang sudah berdoa kepada Allah agar diberi kemudahan dalam menghafal Al-Qur’an?”, ustadz kembali bertanya.

Di antara kami saling menggeleng-geleng kepala. “Tidak ada, ustadz..”

“Nah, jangan lupa… Setelah shalat selalu memohonlah kepada Allah agar diberi kemudahan untuk bisa menghafalkan Al-Qur’an.”

“Lalu, sudah punya file-file murrotal?”, ustadz bertanya lagi.

“Sudah…”, jawab kami. Alhamdulillah, kali ini bisa mengiyakan. Saya terbiasa menyimak murotal Syekh Misyari Alafasi.

“Kalian bisa juga mengikuti komunitas-komunitas yang menyemangati untuk bisa menjadi hafidhah, seperti di sosial media biasanya ada…”, kata ustadz.

“Oiya, page Rumah Qur’an, Sahabat Qur’an…”, gumamku.

Begitulah… Disertai niat karena Allah, kesungguhan untuk mengerahkan waktu dan energi untuk muraja’ah dan menambah hafalan baru, banyak pula bentuk kesungguhan yang lain. Selain hal-hal di atas, sejak dulu ustadz juga mengajarkan agar kami terbiasa muraja’ah hafalan saat shalat. Maka terkadang diperlukan qiyamul lail berjamaah, juga perlunya jadwal menjadi imam shalat di asrama. Satu lagi, jaga diri dari maksiat, termasuk jaga hati dari lawan jenis karena hal tersebut merupakan salah satu variable pengganggu hafalan Al-Qur’an.

PQA (Pesantren Qur’an Airlangga), semoga menjadi sebuah revolusi dakwah hunian bagi ADK (Aktivis Dakwah Kampus) di UNAIR. Program tahsin dan tahfizh dirintis secara efektif sekitar September 2012 hingga sekarang. Semoga semangat untuk menjadi sahabat Al-Qur’an bisa tercapai. Melangkahlah, dengan kesungguhan langkah! Semoga Allah memudahkan. :)

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muslimah kelahiran Malang, saat ini tengah menempuh semester 8 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga. Aktif sebagai squad team humas di LDK Jamaah Nuruzzaman UKMKI UNAIR dan menjadi pengurus MIAr (Masyarakat Intelek Airlangga).

Lihat Juga

Penyebutan Kata “Mesir” di Dalam Al-Quran