Home / Pemuda / Cerpen / Gossip Girl

Gossip Girl

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (shutterstock.com)
Ilustrasi. (shutterstock.com)

dakwatuna.com – Seperti biasa, teman lamanya ini memang selalu punya cerita. Tetapi cerita ini tak hanya sekadar cerita. Ini berita paling gres. Kalau saja yang bercerita adalah orang lain dan bukan dia, Atika tentu hanya akan menganggapnya sebagai omong kosong belaka.

Tapi Tita adalah sumber berita terpercaya. Ia hanya akan bercerita ketika berita itu memang benar adanya. Gaya bicaranya yang ceplas-ceplos mengingatkan Atika pada seorang artis presenter acara infotainment di televisi. Bedanya, jika artis itu memberitakan berbagai kehidupan pribadi orang lain demi honor dan tuntutan kerja, Tita melakukannya tanpa maksud apa-apa. Hanya sekadar bercerita, tak lebih. Tak ada gosip yang tidak diketahuinya. Atika jadi curiga jangan-jangan Tita ini berbakat mata-mata, spionase, atau sejenisnya lah. Atika menjulukinya Gossip Girl, julukan yang diambil dari serial televisi Amerika terkenal yang sering ia tonton dulu. Serial itu menceritakan kehidupan high end remaja Upper East Side yang punya jaringan gosip misterius bernama Gossip Girl di antara mereka. Tentu saja Tita tak tahu julukan ini.

“Iya Tik…dan anehnya, dia itu keliatan bangga gitu lho dengan MBA!” Tita berapi-api.

“Ssst!” Atika memelototkan mata kemudian setengah berbisik, “Ini aib teman kita lho, Ta…jangan keras-keras ngomongnya!”

Tita memang suka penuh penghayatan kalau sudah menceritakan drama kehidupan orang lain.

“Biarin aja kali Tik…yang punya aib aja nggak malu ngumbar-ngumbar aibnya. Aku nggak habis pikir dia bisa dengan ringannya bercanda-canda soal kehamilannya, soal pacarnya, eh suaminya di socmed…kok bisa ya?”

Atika terdiam sambil melirik Tika yang asyik melahap bakso. Mereka sengaja janjian bertemu di salah satu tempat jajan terkenal yang biasa dikunjungi mahasiswa di kawasan Jalan Margonda untuk temu kangen setelah beberapa bulan tak jumpa. Sambil makan bakso dan menyeruput segelas es kelapa nan nikmat, mereka berdua larut dalam kenangan masa-masa SMA yang indah. Saling berbagi kisah mengenai kehidupan masing-masing. Lalu mengalirlah berbagai cerita tentang teman-teman SMA lainnya. Si Anu kuliahnya di mana, si Anu sekarang hidupnya seperti apa, si Anu dan si Anu sudah putus, si Anu dan si Anu malah berpacaran dan sebagainya. Mendengar Tita dengan segala ‘berita’ nya membuat Atika menyadari betapa berpengaruhnya jejaring sosial dan betapa ketinggalannya ia dengan semua berita itu hanya karena jarang membuka jejaring sosial. Kini bukan hanya selebritis yang kehidupan pribadinya bisa diketahui orang banyak.

Dan cerita yang paling hangat dari Tita kali ini adalah tentang Vira, teman sekolah mereka yang glamor itu ternyata sudah menikah. Lebih tepatnya menikah karena kecelakaan. Kalau saja Vira tidak mengumbar-umbar aibnya di jejaring sosial, tentu Tita tak akan bercerita dengan gaya seheboh ini. Lebih tepatnya Tita jijik dengan Vira yang seolah begitu enjoy dengan aibnya meskipun Tita sendiri tak pernah punya masalah pribadi dengan Vira.

“Coba Tik, masak dia sering update status bilang gini ‘Aduh ngidam pizza nih buat si baby, aduh ngidam ini itu’, atau dia sering bilang ke teman-temannya yang lagi anniversary, ‘Happy annive ya, semoga cepet nyusul kayak gue’. Terus pas dia nikahan, semua teman-teman gengnya ngucapin ‘Selamat ya, semoga jadi keluarga sakinah, mawaddah warrahmah….hah? Sakinah? Nggak salah?! Awalnya aja udah cacat banget kayak gitu” Tita tak habis-habisnya mencela.

“Hmm gimana ya Ta…setiap orang kan’ berhak untuk bahagia. Kita gak boleh ngejudge gitu. Memang baiknya ya kita doakan saja” Atika hati-hati memberi komentar. Dulu sewaktu masih sekolah, dari kelas sepuluh sampai kelas dua belas mereka selalu duduk sebangku. Atika selalu senang mendengar cerita-cerita Tita sebab Tita mempunyai kemampuan bercerita yang lancar dan menarik, membuat orang betah berlama-lama mendengarkannya. Pantas saja dulu ia sering memenangkan lomba story telling, lomba mendongeng, sampai lomba pidato. Tapi Atika punya pandangan hidup yang berbeda sekarang, yang mungkin tak dimengerti Vira.

“Iya sih…tapi caranya itu lho. Nggak banget!”

“Hmm, ngomongin yang lain aja yuk, ntar kita jadi ghibah…”

Tita mengernyitkan dahi. Ia mulai mengerti ke mana arah pembicaraan Atika. Tita hanya tahu, ghibah itu sama dengan gosip. Ia tahu istilah itu karena sering disebut-sebut Ustadzah ketika ibunya sedang menggelar pengajian bulanan ibu-ibu PKK di rumah.

“Aduh ibu-ibu…jangan suka berghibah! Tidak baik, dosa!”

Tapi ghibahnya ibu-ibu pengajian kan memang berita yang suka dilebih-lebihkan. Maklumlah ibu-ibu. Jadi kalau beritanya memang benar bukan ghibah dong namanya, pikir Tita.

“Kok ghibah sih? Kan’ ini bukan gosip, ini tuh beneran Tik…”

Atika menarik napas. Mencoba menalikan ingatan-ingatannya tentang pandangan Islam mengenai menggunjing yang pernah diberitahu mentornya di Rohis kampus.

“Ehm, kalau beritanya bener itu namanya ghibah, Ta. Kalau nggak bener baru namanya fitnah…”

Tita menandaskan bakso terakhirnya, mengelap mulutnya dengan tissue lalu bersiap bicara lagi.

“Tapi gimana kalo ghibah demi kebaikan? Kan’ dengan kita ngobrol tentang cerita kayak Vira bikin kita hati-hati, jangan sampai menikah karena kecelakaan…hiiiy, amit amit cabang beibeh”

Atika mencari-cari pegangan, pengetahuannya masih sedikit. Benaknya mengatakan tetap saja itu salah, tetapi pernyataan Vira tadi juga barangkali ada benarnya. Atika ragu.

“Oh ya, katanya di kampus kamu bakal ada pentas seni ya? Ngundang bintang tamu siapa?” Atika buru-buru mengalihkan pembicaraan. Sadar Atika sepertinya sudah tidak tertarik lagi dengan pembicaraan tentang Vira, Tita pun akhirnya mengalihkan pembicaraan juga.

***

Sesudah temu kangen dengan Vira, banyak hal berputar di pikiran Atika. Begitu cepat waktu berlalu. Rasanya baru kemarin mengenakan baju seragam putih abu-abu, sekarang ia sudah kuliah tingkat tiga. Mendengar cerita-cerita Tita tentang teman-teman lain dan kehidupan mereka sekarang seolah menyaksikan bahwa waktu adalah teman setia setiap orang. Selalu hadir, hingga orang tersebut itu mati. Waktu bergulir, membawa pergantian musim berduka atau bahagia, membuat orang berubah terus-menerus. Di mata Atika, Tita tak banyak berubah. Masih suka bergosip dengan gaya bicaranya yang asyik. Hanya saja kini penampilannya lebih dewasa dan feminin. Namun di balik itu semua, Tita tetap gadis yang supel dan penuh spontanitas. Mungkin ini yang disebut sifat asli yang katanya tak bisa diubah, pikir Atika.

Tiba-tiba Atika teringat sebuah kenangan lucu bersama Tita. Atika pernah menemani Tita menghadap ke ruang BP dan saat itulah pertama kalinya Atika melihat Tita yang ceria itu menangis. Berawal dari Tita menggosipkan Luna, salah satu teman sekelas mereka. Sudah jadi rahasia umum bahwa Luna punya hubungan khusus dengan Pak Dito, seorang guru muda yang mengajar seni musik. Terlihat jelas dari cara Pak Dito memberikan perhatian lebih pada Luna daripada murid lain dan Luna pun merespon dengan baik perhatian itu. Padahal semua murid dan juga Luna tahu bahwa Pak Dito sudah punya anak istri. Suatu ketika, di akhir pekan Atika dan Tita sedang nongkrong di suatu kafetaria, mereka tak sengaja melihat Pak Dito dan Luna juga berada di sana. Gerak-gerik mereka layaknya dua orang anak muda yang sedang dimabuk asmara. Luna duduk merapat ke Pak Dito, Pak Dito pun tampak tak sungkan merangkul Luna. Pokoknya mesra, deh.

Mungkin Pak Dito dan Luna memang sedang apes hari itu, pikir Atika geli. Bagaimana tidak, affair mereka yang selama ini menjadi desas-desus dibuktikan oleh mata kepala seorang Gossip Girl macam Tita. Pasti besok sudah jadi headline. Benar saja, besok paginya beberapa siswi merubung Tita. Tentu saja untuk mendengar ‘berita segar’ tentang Luna dan Pak Dito.

“Sekarang terbukti kan’ semua dugaan kita. Huh, pantes aja Luna selalu dapet nilai tertinggi. Yaiyalah, untuk dapat nilai tinggi gak perlu belajar, tinggal nge-date aja sama Pak Dito…”tutup Tita mengakhiri ceritanya.

“Ih emang si Luna tuh nggak tahu malu ya…masak guru dia gaet juga sih? Emang nggak ada cowok lain apa?!” timpal Sinta yang diam-diam sebenarnya nge-fans sama Pak Dito yang ganteng itu.

“Parah banget. Cantik-cantik kok kelakuannya minus!” hujat Desya.

“Kayak nggak punya moral ya mereka berdua” sahut yang lainnya.

“Masih mending perebut pacar orang…daripada ini: perusak rumah tangga orang!”

Siswi-siswi memang banyak yang tidak menyukai Luna karena Luna memang agak sombong pembawaannya. Terlebih Luna juga memang cantik dan pintar, seolah menguatkan citra sombong dan angkuh di mata teman-teman perempuannya. Sebaliknya, Luna adalah incaran abadi para siswa, meskipun semua orang tahu menyukai Luna bagaikan pungguk merindukan bulan. Mereka semua punya alasan untuk tidak menyukai Luna yang ‘sempurna’.

Tita merasa di atas angin. Ada sebuah kesenangan tersendiri dalam dirinya ketika hancur tidaknya reputasi seseorang sudah di tangannya. Kemampuan berceritanya yang apik membuat acara membicarakan orang lain tidak tampak seperti gosip murahan. Hati-hati yang dengki bersuara ikut menghakimi. Atika memilih untuk tak berkomentar apa-apa. Sejak dulu Atika memang cenderung pasif, sebab dia tak punya alasan untuk tidak menyukai orang-orang yang tidak disukai Tita. Selama ini Atika hanya menjadi pendengar yang baik bagi Tita dan segala gosip yang ditebarkannya.

Namun tanpa sepengetahuan Tita, Atika dan teman-teman lainnya, ternyata Luna menguping semua pembicaraan itu dari balik pintu kelas. Baru saja melangkah akan masuk kelas, Luna mendengar namanya sudah disebut-sebut. Penasaran, Luna pun mendekatkan telinganya dan terdengarlah semua pergunjingan tentang dirinya. Sesak, kaget, marah, sakit hati, sedih semua bercampur jadi satu dalam benak Luna. Langsung saja pagi itu dia lari sambil menangis dan menggedor pintu ruang BP yang masih tutup. Mengejutkan Ibu Nondang yang sedang menyeruput kopi di dalamnya dengan tenang.

“Mereka benci saya! Mereka benci saya, Bu!” Luna langsung histeris sambil terisak-isak begitu dibukakan pintu.

Sidang kilat pun langsung diadakan. Begitu jam istirahat tiba, Tita, Atika, Sinta, Desya dan beberapa siswi lainnya segera dipanggil menghadap Ibu Nondang. Dan betapa terkejutnya mereka semua ketika sampai di ruang BP, sudah ada Luna dengan mata sembab dan merah yang melotot pada mereka semua.

“Kalian jahat! JAHAT! Salah apa sih aku sama kalian semua?! TEGA!” tuding Luna sambil mencak-mencak saking kesalnya.

Ibu Nondang langsung menginterogasi mereka satu-persatu dan akhirnya menyimpulkan bahwa biang keladi semua ini adalah Tita dan Atika sebab mereka berdua adalah saksi mata yang melihat Luna dan Pak Dito tempo hari. Setelah memberikan konseling mengenai etika pergaulan, kesetiakawanan dan sebagainya, Ibu Nondang pun meminta semuanya pergi kecuali Tita, Atika dan Luna untuk mencari solusi bersama. Canda tawa tadi pagi menguap entah ke mana, yang ada hanyalah penyesalan dan rasa tidak enak di benak masing-masing siswi yang terlibat.

Atika panik, tangannya terus menyikut lengan Tita. Belum-belum Atika sudah membayangkan kena SP, skorsing, atau paling parah Luna akan melapor pada orang tuanya dan orang tuanya akan datang memarahi mereka habis-habisan. Diam-diam Atika merutuki dirinya sendiri. Harusnya ia tak ikut berada di sana. Meskipun mereka berdua saksi mata yang melihat Luna dan Pak Dito, tapi sebenarnya Atika tidak ikut-ikutan membicarakan. Semua salah Tita, rutuk Atika dalam hati.

Untungnya, Tita berbesar hati mengakui bahwa ia yang memulai membicarakan Luna. Atika bernapas lega sekaligus salut pada keberanian Tita. Ah, meski suka bergosip, Tita memang setia kawan, pikir Atika cetek.

“Atika nggak salah, Bu. Cuma saya yang salah, Bu, saya siap nerima hukuman…”kata Tita pasrah. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Engga, engga, Ibu nggak suka ngasih hukuman. Nggak mendidik. Ibu cuma minta kalian untuk berdamai sekarang, selesaikan masalah ini baik-baik!”

Tita lega. Begitu juga Luna. Awalnya Luna juga sempat khawatir kasus ini akan dibawa-bawa ke Pak Dito, apalagi orang tuanya. Luna takut Pak Dito akan menjaga jarak darinya karena malu. Atau kemungkinan yang terburuk: pindah mengajar ke sekolah lain. Belum lagi jika kedua orang tuanya tahu. Luna tak bisa membayangkan bagaimana jika kedua orang tuanya tahu ia punya hubungan spesial dengan guru sekolahnya. Bisa-bisa ia dipaksa pindah sekolah!

Merasa salah, akhirnya Tita dan Atika meminta maaf pada Luna. Mereka bertiga berdamai dalam suasana penuh isak. Biasalah cewek. Masalah selesai.

Setelah insiden itu, keadaan justru tidak bertambah baik bagi Luna. Teman-teman sekelas memilih untuk bersimpati pada Tita yang menurut mereka sudah mengungkap kebenaran. Ternyata perlakuan Pak Dito yang tampak berbeda pada Luna, baik dalam nilai maupun pujian, ada sebab tersendiri. Luna saja yang lebay!, pikir mereka picik. Perlahan tapi pasti, seisi kelas mulai menjauhi Luna. Para siswa yang semula mengagumi Luna pun berbalik jadi ilfeel padanya. Tinggal beberapa orang yang masih mau berteman dengannya dan itu tak sanggup membendung ketidaksukaan hampir semua anak terhadap Luna.

Luna bukannya tak menyadari itu semua. Semakin hari ia semakin tak nyaman dengan tatapan aneh dari teman-teman di sekelilingnya. Seolah Luna makhluk alien dari planet antah berantah, seolah Luna telah melakukan kesalahan besar pada mereka semua. Luna nelangsa. Tiap hari masuk kelas dalam keadaan tertekan. Ia tak mengerti mengapa orang-orang begitu ingin tahu kehidupan pribadi orang lain, mengorek-ngoreknya…andai waktu itu ia tidak terlalu emosional dan melapor pada Bu Nondang…tapi di manakah keadilan? Apakah ia harus membiarkan harga dirinya terinjak-injak begitu saja?!, batin Luna menjerit.

Akhirnya, seleksi alam lah yang berlaku. Siapa yang tak bisa bertahan, dialah yang akan menyingkir atau tersingkir. Luna pun meminta Bu Nondang untuk pindah kelas. Bu Nondang yang tampak prihatin dengan masalah dirinya langsung mengiyakan. Luna akhirnya terusir dari kelas XII IPA 1, dengan dendam yang berkarat di hatinya pada Tita. Lama-kelamaan gosip itu pun menguap seperti kentut. Luna menjalani lagi kehidupannya seperti biasa di kelas yang baru. Badai pasti berlalu, tetapi sejak itu ia tak pernah lagi mau menoleh sedikit pun pada makhluk bernama Tita.

Sedangkan Tita? Gadis itu kembali menjalani kehidupannya seperti biasa. Insiden dengan Luna tak membuat kebiasaannya pensiun sebagai Gossip Girl. Toh, akhirnya Tita yang menjadi pemenang. Semua teman-temannya tetap menyayanginya dan setia mendengarkan berbagai gosip menarik darinya. Begitu juga dengan Atika, masih menjadi teman sebangku Tita dan masih suka mendengarkan cerita-cerita luar biasa milik Tita. Masalah dengan Luna dulu pun sering menjadi bahan candaan bagi Tita, Atika and the gank.

Atika menggeleng-geleng mengingat itu semua. Antara lucu dan miris. Sungguh keterlaluan mereka kala itu. Betapa naif dirinya dulu. Tentu saja, semuanya telah berubah. Segala kekonyolan dan kebandelan sewaktu sekolah perlahan terkikis. Kini mereka sudah memiliki kehidupan baru masing-masing yang sungguh berbeda. Sinta tidak melanjutkan kuliah, ia kini bekerja sebagai pramugari di sebuah maskapai penerbangan nasional. Desya sama seperti Atika dan Tita, melanjutkan kuliah. Bagaimana dengan Luna? Si Miss Perfect nan malang itu? Setelah insiden itu, hubungannya dengan Pak Dito kandas begitu saja. Pak Dito yang sudah kadung malu kemudian menjaga jarak dengan Luna. Mereka bahkan tak pernah lagi kelihatan berbicara. Akhirnya Tita, Atika dan semua orang yang menggunjingkan Luna harus menelan ludah iri ketika tahu Luna mendapatkan beasiswa dan melanjutkan kuliah di luar negeri. Kesibukan dengan kehidupan yang baru lama-kelamaan membuat Atika putus kontak dengan mereka semua, kecuali Tita. Gossip Girl itu masih menjadi sahabatnya hingga sekarang.

***

Kenek kembali berteriak keras mengisyaratkan supir untuk kembali jalan. Atika mengatur nafasnya yang ngos-ngosan setelah tadi berlari-lari mengejar Kopaja. Rutinitas Atika setiap berangkat ke kampus. Mana Atika pakai rok panjang lagi…ribetnya bukan main. Pagi-pagi peluh sudah menetes di dahinya. Dirapikannya kerudungnya yang mulai miring kanan kiri sambil matanya mencari-cari bangku kosong. Dapat! Di sisi kiri, di sebelah seorang gadis yang tampak terkantuk-kantuk. Buru-buru Atika mengisi bangku itu agar jangan sampai keduluan orang.

Hei, rasanya Atika mengenal gadis di sampingnya ini? Kepalanya memang agak tertunduk karena menahan kantuk luar biasa, tapi Atika bisa mengenali jelas siapa dia. Sengaja kepalanya mendekat agar melihat wajah gadis itu dengan jelas. Tak salah lagi. Baru saja gadis itu mengangkat muka untuk menguap lagi, Atika langsung menegurnya.

“Desya?!”

Desya terkesiap, kantuknya langsung hilang seketika. Dengan cepat langsung mengenali wajah di hadapannya.

“Atika?! Aaaaaw!” pekik Desya. Membuat beberapa penumpang menoleh ke arah mereka. Khas cewek yang suka ribut jika bertemu teman lama.

Setelah berpelukan, cipika-cipiki, mereka berdua pun mengobrol sepanjang jalan. Rupanya Desya hendak pergi ke rumah saudaranya yang tinggal di Depok dan akan melangsungkan pernikahan.

“Ya ampun Tik…dari kapan kamu pakai jilbab? Duh beda banget, alim banget sih sekarang…”Desya masih takjub dengan penampilan Atika yang berubah total.

“Baru dua tahun kok Des…masak sih? Kayaknya sama aja deh” Atika tersenyum merendah.

“Iya, beneran deh…beda banget. Tapi nggak apa-apa Tika, bagusan kayak gitu malah. Kamu jadi keliatan anggun banget”

“Makasyiiih Desya. Kamu kapan dong nyusul?”

Desya nyengir, “Belum dapet hidayah, Tik, masih nungguin Mas Hidayah nih kok nggak dateng-dateng juga nyamperin!”

Desya dan Atika tertawa. Sudah hampir tiga tahun mereka tak bertemu. Terakhir ketika reuni sekaligus buka puasa bareng kelas XII IPA 1, dua setengah tahun yang lalu.

“Oh iya Des, waktu itu aku ketemuan sama Tita, lho! Kira-kira dua minggu yang lalu deh”

Raut wajah Desya perlahan berubah. Terasa ada yang janggal baginya, namun tak urung Desya bertanya lebih jauh.

“Oh ya? Kalian ketemuan di mana? Kok bisa?”

Lalu mengalirlah cerita Atika tentang pertemuannya dengan Tita tempo hari. Saat sedang bercerita, Atika merasa ada keheranan di wajah Desya. Atika…Atika, kamu masih saja si polos yang selalu setia, batin Desya.

“Hmm…kamu kenapa Des?”

“Eh? Enggak kok…terus terus?” Desya berusaha biasa, namun gagal.

Atika mengernyit dengan tatapan menyelidik. Desya jadi tak enak sendiri.

“Tik…aku pengen nanya deh, kok kamu bisa sih ketemuan sama Tita? Bukannya kalian lagi berantem?” tanya Desya hati-hati.

“Hah? Berantem? Kata siapa? Mana pernah aku sama Tita berantem?”

Giliran Atika yang heran. Kok bisa-bisanya Desya mengira ia dan Tita bertengkar?

“Hmm…gini Tik, aku tuh sampai sekarang masih sering kontak sama Tita. Biasanya sih lewat telepon. Nah, dia tuh cerita yang rada nggak enak gitu tentang kamu…”

“Cerita nggak enak maksudnya? Tentang aku?” tanya Atika tak percaya. Selama ini Tita adalah sahabatnya. Memang Tita sering membicarakan kejelekan orang lain, tapi rasanya tak mungkin Tita menjelek-jelekannya. Ia berteman sangat baik dengan Tita, bahkan sewaktu kasus Luna dulu Tita membelanya dan mengaku salah. Berarti Tita orang yang setia kawan kan’ seperti dirinya, pikir Atika naif.

“Iya, Tik. Kamu jangan tersinggung yah, Tita tuh cerita ke aku kamu udah berubah banget sekarang, jadi sok alim, fanatik, sok suci…Tita bahkan bilang kamu jadi berubah gara-gara ikut pengajian sesat yang nyetak teroris gitu. Pokoknya dia cerita yang jelek-jelek deh tentang kamu. Makanya aku heran pas kamu cerita janjian sama Tita. Aku pikir Tita bisa cerita yang jelek-jelek tentang kamu karena kalian sedang berantem atau apa…”

Atika merasa jantungnya seakan melorot dari tempatnya. Benarkah yang baru saja ia dengar? Tita menjelek-jelekannya? Ah, rasanya tak mungkin. Tapi Desya tampaknya bicara jujur. Ya ampun…bagaimana bisa Tita membicarakannya begitu rupa?

Ada rasa sakit menjalari hati Atika. Rasa yang mungkin sama dialami oleh Luna dulu. Atika merasa dikhianati, oleh sahabat yang selama ini dianggap sebagai sahabat terbaiknya! Bagaimana bisa? Atika ingin rasanya tak percaya, namun keinginannya itu dihempaskan keras-keras oleh suatu kenyataan: Tita adalah seorang Gossip Girl. Itulah julukan yang ia berikan dulu dan kini ia buktikan kebenarannya. Atika kembali teringat serial Gossip Girl yang menampilkan bagaimana dua sahabat: Serena van der Woodsen dan Blair Wardolf bisa saling berteman dan saling mengkhianati pada saat bersamaan. Tapi dia tidak pernah mengkhianati Tita!, protes Atika dalam hati. Sesak. Kecewa.

Pagi yang cerah itu tampak kelabu bagi Atika. Sementara Desya sudah turun dari tadi, Atika masih termenung-menung menatap keluar jendela Kopaja. Terlintas kenangan-kenangan indah masa SMA nya bersama Tita. Kepercayaan Atika runtuh seketika. Ingin rasanya Atika menelpon Tita dan marah padanya sekarang juga. Namun urung, Atika merasa itu tak ada gunanya lagi. Harusnya sejak dulu ia menyadari, jika Tita bisa begitu rupa menjelek-jelekkan orang lain ketika orang itu tak ada, mengapa tak mungkin ia melakukan hal yang sama terhadapnya? Hanya satu yang Atika sesali, mengapa ia dulu selalu menjadi pendengar setia semua gosip sampah Tita. Membicarakan segala aib orang-orang tanpa berkaca pada diri sendiri. Meski ia tak suka ikut-ikutan bergosip, tetapi tetap saja sikapnya seolah mendukung Tita untuk terus bergunjing tak ada habisnya dan tanpa sadar menghancurkan orang lain secara perlahan. Secara tak langsung, ia telah membentuk sahabatnya menjadi seorang Gossip Girl sejati.

Sekarang Atika mengerti seperti bagaimana rasanya digunjingkan di belakang oleh sahabat. Persahabatan mereka selama hampir enam tahun hancur dalam enam menit. Betapa Atika belajar tentang kesetiaan dan kepercayaan pagi itu.

Bus Kopaja terus melaju membawa Atika membelah Jalan Margonda dengan badannya yang miring dan mengepulkan gumpalan asap hitam. Sehitam memorinya tentang Tita, si Gossip Girl.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 8,40 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sarah Annisa Jahja
Mahasiswi jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi Universitas Indonesia. Saat ini aktif di LDK SALAM UI sebagai Deputi Departemen Islamic Learning Center, sebagai pendidik tetap di Rumah Belajar BEM UI dan Staf Departemen Olahraga dan Seni LDF FORMASI FIB UI serta menulis cerpen di berbagai media.

Lihat Juga

Reaktualisasi Pengamalan Sila Pertama Pancasila dalam Kehidupan Sosial