Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Bukan Karena Hartanya, Tapi Kemauannya

Bukan Karena Hartanya, Tapi Kemauannya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Ilustrasi. (mulandari.wordpress.com)
Ilustrasi. (mulandari.wordpress.com)

dakwatuna.com – Saya masih ingat, dulu sejak SD saya tak dibolehkan ibu jajan. Tak ada cerita uang tambahan untuk beli cemilan di sekolah. Tapi, dikarenakan kebijakan itu, saya beserta saudara yang lain, diwajibkan untuk sarapan. Tak boleh kaki ini keluar dari rumah sebelum tuntaskan sarapan. Maka ketika jam istirahat, teman-teman pun bertanya saat melihat saya tak ikut bergabung jajan di kantin.

“Gak ikut jajan, mal?” tanya mereka penasaran. Saya pun menjawab dengan polos, “saya tak dikasih uang jajan, tentu tak bisa jajan.” Mereka pun menyimpulkan, bahwa orangtua saya sangat pelit. Saya pun hanya bisa diam saja saat teman-teman bilang begitu. Dulu memang tak pandai menjawab dengan cerdas, sangat polos beretorika. Namanya juga anak-anak. Padahal, kebijakan dari orangtua kami untuk tidak memberikan uang jajan bagi anak-anaknya adalah karena alasan kesehatan. “Jajanan itu tidak sehat nak, pewarnanya bikin penyakit, banyak bahan yang tidak jelas,” begitu ‘fatwa’ ibu kepada kami anak-anaknya. Kalaupun akan jajan juga, kami sekeluarga akan ‘jajan bersama’ ditempat yang jelas, dengan menu yang jelas.

Namun, ada hal menarik yang dibiasakan ibu saat hari Jum’at datang. Ibu selalu selipkan uang seratus hingga lima ratus rupiah agar saya menginfakkannya di sekolah, karena setiap Jumat ada celengan infak yang diedarkan ke seluruh siswa. Dulu, uang sebesar itu sudah banyak lho. Saya bisa traktir jajan cemilan untuk 10 orang teman dengan uang sejumlah itu.

Bahkan ada juga tambahan dari ayah, saat kami pergi Jum’atan di Masjid. Ya, itu pun juga untuk dimasukkan ke celengan masjid. Dari situlah akhirnya lambat laun saya semakin paham, bahwa orangtua tak berikan uang jajan bukan karena pelit tapi karena sayang anak-anaknya. Buktinya, minimal sekali seminggu saya diajar ‘tidak pelit’ dengan membekali uang untuk diinfakkan.

Sampai hari ini, kita pun membiasakan hal yang sama. Bahkan saat pergi keluar kota bersama keluarga, orangtua saya-terutama ibu-selalu siapkan uang untuk diinfakkan. Tak banyak memang, tapi rutin. Begitulah mereka mendidik kami untuk menumbuhkan kemauan untuk berbagi, di manapun dan kapanpun. Sehingga, akhirnya saya pun membuktikan filosofi para orang tua-tua dulu, bahwa ‘Membiasakan sesuatu, akan menumbuhkan kemauan yang kuat untuk terus melakukannya’. Jika membiasakan untuk rutin berinfak dan bersedekah, maka akan terus menumbuhkan kemauan yang kuat melestarikannya. Tentu, juga berlaku untuk kebalikannya, jika membiasakan pelit untuk berinfak dan bersedekah, maka akan terus menumbuhkan kemauan yang kuat untuk melestarikannya.

Maka, saat seorang mahasiswa strata satu ajukan pertanyaan ke saya di suatu waktu, “bang, bagaimana bisa rutin berinfak, uang saya saja pas-pasan?” Saya pun menjawab, “Itulah bedanya infak dengan zakat. Kalau zakat dikeluarkan saat telah mencapai batas nishab, ini cerita orang-orang yang hartanya mantap. Tapi kalau urusan infak, mari kita simak firman Allah dalam Surah Ali Imran 134. Pada surah ini Allah katakan, salah satu ciri orang yang bertaqwa, “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit.”

Begitulah, Maha adilnya Allah memberikan peluang takwa bagi siapapun. Maka menumbuhkan semangat berbagi, tidak harus tunggu kaya dulu. Jika sedikit yang kita punya, maka tak apa sedikit infak yang dikeluarkan. Bahkan dalam hadits Qudsi dengan lugas Allah katakan, “Aku mencintai orang kaya yang pemurah, tapi Aku lebih mencintai orang miskin yang pemurah.” Jadi cinta Allah itu bukan diraih karena hartanya, tapi kemauannya untuk berbagi, itulah takwa.

Maka, saat saya mengikuti sebuah ta’lim, seorang ustadz pun ditanya, “ustadz, saya beli rumah harganya Rp3M, berapa zakatnya?” Sang ustadz menjawab, “jika diniatkan untuk dipakai sehari-hari, tidak dikenakan kewajiban zakat. Tapi jika digunakan untuk investasi, disewakan atau apa pun, jika rumah itu ‘menghasilkan’, baru dikenakan wajib zakat.” Dan saya pun berujar dalam hati, “Ssstt, jika yang tinggal di gubuk derita bisa infak sedekah sebesar Rp10 ribu per hari. Nah, yang punya rumah Rp3M tentu lebih paham berhitung, berapa seharusnya infaknya per-hari, betul kan?” Sekali lagi, ini bukan karena hartanya, tapi kemauannya dan kemauan tumbuh karena dibiasakan. Wallahualam.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Akmal Ahmad
Sarjana Sains (S.Si) di bidang Fisika, FMIPA Universitas Andalas, kini aktif di bidang Social Entrepreneure.

Lihat Juga

Ilustrasi. (kavuitimur.wordpress.com)

Tantangan DPS Untuk Meningkatkan Citra Keuangan Syariah

Organization