Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Agar UN Sukses Tanpa Stres: “Langkah Persiapan dengan Menata Pikiran”

Agar UN Sukses Tanpa Stres: “Langkah Persiapan dengan Menata Pikiran”

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.comTidak akan lama lagi siswa-siswi sekolah tingkat menengah di seluruh Indonesia akan menghadapi UN atau Ujian Nasional. Tepatnya pada tanggal 15-18 April untuk SMA/MA dan tanggal 22-25 April untuk SMP/MTs. Siswa-siswi yang kini duduk bangku kelas XII (dua belas) atau kelas tiga tentunya akan merasa semakin didesak dan dituntut untuk melakukan persiapan lebih giat lagi. Bisa dianggap juga fase pra UN ini adalah termasuk masa-masa paling mendebarkan banyak kalangan yang terlibat dalam eksistensi dunia pendidikan. Tidak hanya siswa, tetapi juga guru, orang tua serta seluruh elemen pendidikan terkait lainnya. Pasalnya, UN atau unas (Ujian Nasional) ibarat sebuah kompetisi akhir tahun yang akan mempertaruhkan nilai kapabilitas dan kredibilitas diri dan atau lembaganya masing-masing.

Terlebih bagi para siswa selaku calon peserta ujian. Tidak dipungkiri setiap menjelang UN seringkali dilanda beban psikologis yang menekan kejiwaan lebih berat dibanding ketika akan menghadapi ujian sekolah (UAS). Rasa cemas dan khawatir akan lulus tidaknya dirinya nanti sudah mulai menghantui hari-harinya sejak kini. Mereka berpandangan bahwa keberhasilan proses pembelajaran yang ditempuhnya selama bertahun-tahun itu akan segera ditentukan di beberapa hari ke depan.

Memang cukup lumrah dan bisa dikatakan wajar selama hal tersebut tidak berefek buruk terhadap kestabilan pikiran, mental, emosional dan spiritualnya. Namun apabila gejolak beban tersebut tidak terkendalikan, bukan tidak mungkin akan kemudian menelurkan potensi gagal ujian. Hal ini dikarenakan siswa telah terlebih dulu dilanda depresi, frustasi bahkan stres sebelum ujian itu benar-benar dimulai. Padahal seharusnya semakin mendekati hari pelaksanaan siswa semakin matang dalam segala persiapan. Pondasi pikiran dan kejiwaan yang kurang dipersiapkan ini lebih jauh lagi bisa memicu hingga terjadinya siswa yang bunuh diri, terlebih jika pasca ujian mereka benar-benar mengalami kegagalan. Seperti yang masih sering terjadi di dunia pendidikan kita ini setiap tahun kelulusan.

Agar kejadian serupa tidak kembali terulang atau setidaknya terminimalisasi, tentunya diperlukan langkah serius dalam memaksimal persiapannya sebagai upaya pengantisipasian. Siswa harus digiring dan dibina dalam mempersiapkan diri selama pra UN secara maksimal. Persiapan intrinsik maupun ekstrinsik, akademik maupun non akademik, persiapan teknis maupun non teknis, persiapan dzohiriyah maupun batiniyah, jasmaniyah maupun ruhaniyah.

Masih ada waktu untuk melakukan pembenahan. Namun dalam upaya perealisasiannya tentu saja keterlibatan banyak pihak sangat dibutuhkan. Hal ini tiada lain demi kesuksesan anak didik kita dalam menjalani ujiannya yang tidak akan lama lagi. Terutama bagi para orang tua siswa dan guru, sangatlah perlu untuk memberikan pemantauan, pengarahan serta bimbingan kepada mereka mengenai langkah-langkah persiapan yang harus dilakukannya. Tidak hanya pembekalan mengenai materi yang akan diujikan atau tentang teknis pengisian, tetapi juga yang menyangkut persiapan kestabilan pikirannya. Siswa-siswi kita juga harus bisa melakukan penataan pola pikir yang positif sehingga mereka tampil lebih sigap dan siap.

Perlu kita pahami pula bahwa tidak sedikit dari siswa yang tanpa sepengetahuan kita mereka telah membangun persepsi pikiran negatif (negative thinking) terhadap dirinya sendiri selama ini. Dan seringkali hal ini luput dari perhatian kita. Sebagai contoh, siswa yang menganggap dirinya adalah orang bodoh, seorang yang pemalas, tidak bisa menguasai pelajaran, lemot dalam memahami materi, dan lain sebagainya.

Persepsi-persepsi seperti yang demikian itu tentu hanya sebuah konotasi negatif yang akan berdampak negatif pula. Melahirkan keraguan dan melemahkan kemampuan dirinya sendiri. Kemudian tanpa disadari mendoktrin pikirannya untuk mengatakan “saya akan gagal” atau “saya tidak mungkin lulus”. Ditambah lagi jika siswa justru ditakut-takuti oleh gurunya sendiri. Alhasil kestabilan pikirannya malah drop, minder dan tidak percaya diri. Sehingga di saat-saat pelaksanaan ujian semakin mendekat bukannya semakin giat (belajar) tetapi justru semakin malas dan putus asa, hanya berkeluh kesah, mereka dilanda ketegangan yang berlebihan. Sebab siswa lebih dulu mensuplay pikiran negatif sebelum berbuat. Akhirnya siswa, minim atau bahkan tidak melakukan penataan persiapan sama sekali. Sekalipun pada waktunya masih mau mengikuti ujian, mungkin hanya dengan cara menyontek mereka bisa mengandalkan kemampuan. Apabila keadaannya sudah seperti demikian, maka besar kemungkinan dirinya akan mengalami gagal ujian. Inilah yang dikhawatirkan.

Prasangka negatif hanya akan melahirkan pikiran negatif, dan pikiran negatif hanya akan melahirkan tindakan negatif pula. Oleh karena itu pikiran siswa harus ditata sedemikian rupa dengan prasangka-prasangka positif, sekaligus mengeyahkan persepsi negatif. Mengenai pikiran, David J. Schwartz pernah mengatakan bahwa: “Anda adalah apa yang Anda pikirkan terhadap diri Anda sendiri”. Dwi Budiyanto menganalogikan pernyataan di atas bahwa: ketika seorang pelajar berpikir bodoh maka bukan tidak mungkin ia akan menjadi orang yang benar-benar bodoh. Jika siswa berpikiran gagal dan tidak akan lulus bisa jadi ia akan benar-benar gagal dan tidak lulus. Begitu pun sebaliknya, ketika seorang siswa berpikir bisa dan akan lulus maka insya Allah akan benar-benar bisa dan lulus. Sekalipun pikiran belum sepenuhnya menjamin keberhasilan (kelulusan) akan tetapi pikiran akan menentukan tindakan yang seharusnya dilakukan untuk meraih sebuah keberhasilan (kelulusan).

Satria Hadi Lubis mengibaratkan pikiran seperti memori dalam komputer. Apa yang diprogram maka itulah yang akan tampak dalam “layar” (penampilan/tindakan). Begitu juga diri kita, jika yang masuk kepikiran kita adalah “virus” pikiran negatif “bahwa saya malas”, maka penampilan (perilaku) kita akan betul-betul menjadi seorang pemalas. Oleh sebab itu masukanlah “program” pikiran positif. Katakan bahwa “saya adalah seorang (siswa) yang rajin dan tekun”. “Bahwa saya adalah seorang (siswa) yang selalu bersemangat belajar”. “Bahwa saya adalah siswa yang akan lulus ujian”. Dengan meng-in put “program” positive thinking, niscaya orang tersebut (siswa) akan melakukan tindakan-tindakan positif pula. Seperti: belajar lebih giat, disiplin mengatur waktu, menjaga kestabilan emosi, menjaga kesehatan dan lain sebagainya. Sekali lagi, pikiran menentukan tindakan.

Dengan demikian maka, perlulah bagi kita para pendidik dan pemerhati siswa yang peduli terhadap kesuksesan ujian mereka, membekali siswa-siswi kita dengan pengarahan untuk mau melakukan penataan pikirannya secara positif sebagai salah satu upaya persiapan menghadapi ajang UN, selain daripada melakukan persiapan-persiapan lain yang juga sama pentingnya.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 4,60 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Abdul Wahid
Seorang yang sedang belajar menulis, yang ingin mengabadikan karya lewat pena berbagi kebaikan lewat tulisan.
  • dian pita

    ya tuhan aq mhon kpada mu biar UN bzok bisa terjwb dgn benar
    amin

Lihat Juga

Menyambut Gerhana Matahari dengan Berpikir dan Dzikir