Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Surat Cinta untuk Mertua

Surat Cinta untuk Mertua

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Bismillâhirrahmânirrahîm

Kairo, Sabtu, 23 Maret 2013

Ke hadapan yang senantiasa Nanda hormati dan sayangi,

Ibu dan Ayah

Di kedamaian kediaman, di Ranah Minang
Assalâmu`alaikum warahmatullâhi wabarakâtuh

Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Salam takzhim teriring doa Nanda haturkan, semoga Ibu juga Ayah dalam keadaan sehat wal `afiat, serta selalu dalam lindungan dan naungan kasih sayang Allah. Amiin. Alhamdulillâh, Nanda, Da Farhan, juga cucu-cucu Ibu dan Ayah; Adnan dan Afnan, menyambut musim semi di Kairo tahun ini semua dalam kondisi sehat wal `fiat.

Ibu, Ayah yang Nanda kasihi…

Di negara-negara Timur Tengah, Mesir pada khususnya, tanggal 21 Maret yang menjadi hari permulaan musim semi biasa diperingati sebagai hari Ibu. Berbeda dengan negara kita yang memperingati hari Ibu setiap tanggal 22 Desember. Tapi itu tak jadi soal. Beberapa negara lain juga punya tanggal tersendiri untuk dijadikan momen bersama mengungkapkan rasa cinta kasih kepada sosok ibu.

Berkaitan dengan hari Ibu, ada cerita yang ingin Nanda sampaikan kepada Ibu juga Ayah di surat Nanda kali ini.

Mulanya adalah tugas dari guru Bahasa Indonesia sewaktu Nanda kelas 3 SD. Sang guru ketika itu meminta kami menulis surat cinta sebagai hadiah sederhana untuk ibu-ibu kami dalam rangka memperingati hari Ibu. Sambil membayangkan wajah Mama, sepenuh hati Nanda laksanakan tugas itu. Kemudian sang guru meminta agar kami memberikan surat itu kepada orang tua kami masing-masing di rumah. Pikiran bocah Nanda membayangkan Mama akan tersenyum bahagia setelah menerima surat sederhana dengan gambar-gambar hasil coretan khas anak-anak itu. Tapi sungguh Nanda tak pernah mengira, Mama malah menangis tersedu. Saat Nanda tanya, mengapa Mama menangis sedih, Mama memberikan jawaban yang dahulu belum bisa Nanda pahami secara utuh. Mama mengatakan, air mata tidak selamanya bermakna kesedihan. Karena orang bisa saja menangis karena saking bahagianya. Kemudian Mama memeluk Nanda. Energi kasih dari hangat dekapan Mama ketika itu masih terasa sampai sekarang.

Selanjutnya, seperti menjadi sebuah tradisi, secara khusus Nanda menyempatkan menulis surat spesial “Edisi Hari Ibu” untuk Mama setiap tanggal 22 Desember ketika masih di Indonesia, dan berubah menjadi setiap 21 Maret setelah Nanda di Mesir. Tapi tak berarti Nanda mengultuskan tanggal tertentu. Karena faktanya, tradisi surat-menyurat dan komunikasi intensif antara Nanda dan Mama tak terbatas pada hari Ibu.

Ibu, Ayah yang Nanda hormati…

Layaknya anak-anak lain yang sayang dan hormat pada orang tuanya, Nanda sangat menghormati dan menyayangi Mama. Apalagi Nanda kurang mengenal sosok Papa, karena Allah telah memanggil Papa saat Nanda masih sedang belajar berjalan. Tapi Mama rupanya memang perempuan istimewa. Dengan ketegaran berpadu kelembutan, beliau merawat, mengasuh, mendidik, dan membesarkan keempat anaknya. Sendiri, tanpa pernah menikah lagi. Hal yang Nanda sadari setelah Allah karuniakan Nanda putra-putri, betapa itu tidak mudah dan tidak ringan.

Sungguh Nanda merasa sangat kehilangan ketika Mama berpulang. Tangis dan air mata bukan berarti penolakan terhadap takdir. Tapi, menyadari bahwa kematian betul-betul telah memisahkan kita dengan orang yang kita cintai menghadirkan duka alami di dalam hati. Tradisi surat-menyurat memperingati hari Ibu bersama Mama pun otomatis terhenti.

Ibu, Ayah….

Sebelum Nanda bertemu Da Farhan, dan keluarga besar Ayah-Ibu, Nanda berdoa tidak hanya Allah berkenan mengaruniai Nanda seorang suami shalih yang bisa menjadi imam terbaik dalam kehidupan Nanda dan berkenan menuntun Nanda sampai ke surga. Nanda juga memohon kepada Allah, sosok bapak dan ibu mertua yang bisa menerima Nanda apa adanya dan menyayangi Nanda seperti mereka menyayangi putra-putri mereka sendiri. Dan dahulu, Mama selalu berpesan bahwa mertuamu adalah orang tuamu juga. Jangan pernah membedakan bakti, begitu kata Mama.

Ibu, Ayah…

Rasa syukur Nanda kepada Allah, atas karunia sosok suami seperti Da Farhan. Rasa terima kasih mendalam Nanda haturkan kepada Ayah dan Ibu, pertama atas kesediaan Ayah-Ibu juga seluruh keluarga besar menerima Nanda masuk menjadi bagian keluarga besar Baihaqi. Menerima tanpa syarat. Menerima Nanda apa adanya. Dan bukan pernyataan semata yang kosong dari fakta dan realita. Nanda bisa rasakan semua itu dari kecupan pertama Ayah-Ibu untuk Nanda, dari senyum tulus, sikap memaklumi, bimbingan, dan nasihat tulus penuh cinta Ayah dan Ibu. Kekhawatiran karena menyadari sang calon suami berasal dari daerah dan suku yang berbeda dahulu sempat ada. Bahkan rumor tentang mertua asli Minang juga pernah mampir di telinga. Tapi dengan rahmat Allah juga ketulusan Ayah-Ibu menerima dan membimbing Nanda, semua itu bisa sirna.

Ketika Ibu mendapati Nanda belum pandai membuat masakan Minang, Ibu memaklumi Nanda asli dari Sunda. Dengan telaten dan sabar ibu pun mengajari Nanda memasak saat ada kesempatan. Terutama masakan-masakan yang jelas-jelas menjadi kesukaan Da Farhan, meski alhamdulillah secara umum Da Farhan tidak “rewel” dalam hal makanan. Apa yang terhidang akan selalu dinikmatinya penuh kesyukuran. Tentu itu salah satu buah didikan Ayah-Ibu. Tapi seperti kata Ibu, di antara pintu masuk ke hati suami adalah lewat perutnya. Jadi tak salah jika kita membuka semakin banyak pintu untuk kelak bisa bersemayam di hati suami tercinta.

Terima kasih kedua Nanda haturkan atas kesabaran dan keikhlasan Ayah-Ibu membimbing dan mendidik semua putra-putri Ayah-Ibu, khususnya Da Farhan. Di mata Nanda, Da Farhan sosok laki-laki yang betul-betul memuliakan kaum hawa. Saat Nanda bisa membuat hatinya senang, ia memperlakukan Nanda bak seorang putri raja. Tapi kala ada sesuatu dari Nanda yang kurang berkenan di hatinya, ia tetap menghargai Nanda.

Kelapangan hatinya Nanda kira tidak hanya karena Da Farhan bersaudara semasa kecil biasa bermain di halaman rumah yang luas. Tapi terlebih karena keluasan cinta dan kemaafan yang telah Ayah-Ibu tanamkan pada diri mereka sejak dini. Amarah sulit masuk ke hati Da Farhan, kata-kata keras dan kasar juga tak menemukan tempat di lidahnya karena Nanda melihat sendiri, di rumah Ayah-Ibu tak ada ruang untuk semua itu. Tapi, Da Farhan tetap sosok yang tegar dan tegas, apalagi untuk memperjuangkan suatu kebenaran, karena memang dengan itu Ayah menempanya sejak dini.

Ingatkah Ibu, ketika suatu kali Nanda bertanya, tidakkah dahulu Ibu merasa repot dan kesulitan mendidik dan mengasuh delapan orang anak dengan jarak yang relatif rapat dan tujuh di antaranya laki-laki? Waktu itu Ibu hanya mendesahkan lafazh hamdalah dan dengan penuh kerendahan hati mengatakan, barangkali karena perbedaan tantangan zaman saja Nanda. Zaman Ibu mengasuh anak-anak dulu, tantangan belum terlalu berat seperti sekarang. Channel televisi dan siaran-siarannya saja masih sederhana bahkan cukup mendidik. Internet juga belum ada. Jadi, anak-anak relatif mudah untuk orang tua sentris. Artinya, tidak sulit menerima arahan dari orang tua. Sementara di era teknologi, orang tua dituntut lebih waspada.

Tapi Ibu memang tak perlu banyak kata-kata untuk menjawab pertanyaan Nanda. Secara tidak langsung jawabannya sudah Nanda temukan pada komitmen Ayah untuk selalu shalat berjamaah di masjid, pada komitmen Ibu untuk selalu shalat tepat waktu. Pada doa-doa Ayah-Ibu di waktu menjelang shubuh. Pada komitmen Ayah-Ibu untuk hanya ada sesuatu yang halal dan thayyib di rumah, apalagi jika untuk dimakan. Ayah-Ibu berusaha menjaga aturan dan tuntunan agama Allah, dan itu berbuah pada penjagaan Allah terhadap rumah tangga dan putra-putri Ayah-Ibu.

Ibu, Ayah yang Nanda sayangi…

Si kembar Adnan dan Afnan baru akan menginjak usia mereka yang ketiga awal April nanti. Seiring itu, usia pernikahan Nanda dan Da Farhan akan genap empat tahun. Usia masih bocah. Kata orang, usia pernikahan di bawah enam tahun masih masuk kategori ta`aruf, perkenalan dan pendalaman sepasang suami-istri terhadap diri dan—bagi Nanda—juga terhadap keluarga besar masing-masing.

Ibu, Ayah…

Surat ini Nanda tulis di samping sebagai salah satu bentuk bakti dan penghubung tali silaturrahim kepada Ayah-Ibu, juga karena biasanya Nanda menulis surat mencurahkan segenap asa dan permohonan doa kepada Mama. Tapi sudah dua tahun terhenti setelah Mama kembali ke haribaan Ilahi. Ini memang cara kami berdua dalam memperingati hari Ibu. Sebab biasanya, jika Nanda terlambat menulis surat, Mama pun akan bertanya, mana hadiah untuk Mama di hari Ibu kali ini, Nanda? Dan hadiah yang paling dinanti Mama itu hanyalah ungkapan kata-kata sederhana dari seorang anak dalam sehelai surat. Bukan yang lain.

Nanda memang sangat kehilangan Mama. Tapi segera Nanda bersyukur setelah menyadari bahwa Nanda masih memiliki mertua yang juga betul-betul menyayangi Nanda layaknya anak kandung sendiri. Semoga Ibu-Ayah berkenan dengan surat Nanda kali ini. Dan semoga pahala menjalin silaturrahim ini juga Allah karuniakan kepada Mama. Karena Mama-lah orang pertama yang mengajari Nanda pentingnya menjaga tali silaturrahim.

Terima kasih sekali lagi Nanda haturkan atas penerimaan tanpa syarat itu. Harapan Nanda, Ayah-Ibu tak jemu untuk selalu mendoakan dan membimbing kami. Mohon maaf jika sampai sekarang, masih ada hal yang kurang berkenan dan kami belum sepenuhnya bisa memenuhi harapan Ibu dan Ayah.

Wassalâmu`alaikum warahmatullâhi wabarakâtuh

Yang senantiasa mengharap doa,

 

Nanda

Redaktur: Samin Barkah, Lc. ME

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,80 out of 10)
Loading...Loading...
Muzayyanah Hamna
Seorang pelajar merangkap guru tetap (Insya Allah) di kampus virtual tarbiyah. Ibu dari seorang putri dan dua putra. Sedang menempuh pendidikan S2 di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir

Lihat Juga

Mohammed Al-Faki, anggota majelis syuro FJP. (f-jp.com)

Al-Feki: Bungkam Terhadap Penangkapan 3200 Anak di Mesir Adalah Sebuah Kejahatan