Home / Pemuda / Essay / True Love

True Love

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (blogspot/rohan-sutup)
Ilustrasi (blogspot/rohan-sutup)

dakwatuna.com – Wahai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka, dan mereka pun mencintai-Nya dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang-orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS Al Maidah: 54)

Pernyataan Cinta Allah Azza wa jalla

Cinta Allah SWT mendahului cinta kita pada-Nya. Dari ayat di atas, Allah SWT mengumumkan kepada kita bahwa Dia mendahulukan cinta-Nya pada hamba-Nya dibandingkan cinta hamba-Nya kepada-Nya. Hal ini tidak berkaitan dengan perkara kita melaksanakan ibadah-ibadah baik wajib maupun sunnah. Ini adalah perkara yang didasari rasa cinta, dan Dia yang memulai cinta-Nya pada kita sebagai makhlukNya, padahal Ia adalah Al Ghaniyyu (Yang Maha Tidak Membutuhkan). Setelah Dia menyebutkan cinta-Nya, barulah disebutkan cinta kita.

“…maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya…” (QS. Al Maidah: 54)

Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya apabila Allah mencintai hamba-Nya, Dia akan memanggil Jibril seraya berkata, “Wahai Jibril, aku mencintai si fulan, maka cintailah ia!” “Maka Jibril pun mencintainya, lalu ia (Jibril) menyeru penduduk langit, “Wahai penduduk langit, sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah ia!’ Maka penduduk langit pun mencintainya, maka ia pun dijadikan-Nya diterima (dicintai) oleh penduduk bumi.” (HR. Bukhari Muslim)

Allah mencintai setiap hamba-Nya

“…sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang yang membersihkan diri.” (QS Al Baqarah: 222)

“…sesungguhnya Allah mencintai orang yang berbuat baik.” (QS Al Baqarah: 195)

“…sesungguhnya Allah mencintai orang yang berbuat adil.” (QS Al Mumtahanah: 8)

Kecintaan Allah pada hamba-Nya bersifat universal, tidak terbatas pada golongan tertentu saja seperti para Nabi dan Rasul. Setiap kali menangis menyesali dosa yang kita perbuat seraya bertaubat, kita akan dapat cinta-Nya, ketika kita sapa orang dengan salam, senyum tulus dan kata-kata yang baik, kita akan dapat cinta-Nya. Ketika kita melakukan klarifikasi terhadap kabar dari orang fasik, agar kita tidak melakukan keputusan yang salah, kita akan dapat cinta-Nya.

Allah SWT berfirman dalam sebuah hadits qudsi, “Barangsiapa, memusuhi wali-Ku, maka Aku akan mengumumkan perang dengannya…”

Seorang yang dicintai Allah SWT akan mendapatkan perlindungan dari-Nya.

Bukankah wali-wali Allah itu tidak akan takut dan merasa sedih? (Mereka itu) yang beriman dan juga bertaqwa.” (QS Yunus: 62-63)

Bukti Cinta Allah SWT

1. Tidak menyegerakan azab

Dan Rabbmu, Yang Maha Pengampun, lagi mempunyai rahmat (kasih sayang). Jika Dia hendak menyiksa mereka karena perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegerakan siksa bagi mereka. Tetapi bagi mereka ada waktu tertentu (untuk dapat disiksa)…” (QS Al Kahfi: 58)

2. Menerima taubat

Yang mengampuni dosa dan menerima taubat dan keras hukuman-Nya, memiliki karunia. Tiada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nya lah (semua makhluk kembali.” (QS Al Mu’min: 3)

3. Melipatgandakan amal

Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang membaca Subhanallahu wa bihamdihi setiap hari 100 kali, maka dosanya akan diampuni meski sebesar buih di lautan.” (HR Bukhari dan Muslim).

4. Memerintahkan berdoa

Dan Rabbmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.” (QS Al Mu’min: 60)

Agar dicintai Allah SWT

Jika demikian besarnya keberuntungan seorang hamba yang dicintai oleh Allah, maka bagaimana cara meraih kecintaan itu?

Katakanlah, jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang fasik.” (At Taubah: 24)

Sehingga jelaslah batasan bagi kita agar kecintaan kita pada dunia tidak melebihi kecintaan kita pada Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam hadits qudsi, “Barangsiapa memusuhi wali-Ku, maka Aku serukan perang padanya, dan tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih baik dari yang Aku fardhukan baginya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah, sampai Aku mencintainya. Kalau Aku sudah mencintainya, Aku adalah pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatan yang ia gunakan untuk melihat, tangan yang ia gunakan untuk memukul, dan kaki yang ia gunakan untuk berjalan. Kalau ia meminta kepada-Ku, pasti Aku kabulkan. Kalau ia meminta perlindungan kepada-Ku, pasti akan Aku lindungi.”

Mari kita melakukan perkara-perkara fardhu dengan serius dan ikhlas. Ketika telah mampu melaksanakan amalan fardhu dengan baik, maka lambat laun akan beranjak menaikkan kuantitas dan kualitas amalannya yaitu dengan mengerjakan amalan-amalan sunnah.

Wallahu a’lam bish shawab.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Satria Budi Kusuma
Satria Budi Kusuma, atau yang akrab disapa Satria ini tengah dalam proses merampungkan studinya di jurusan Ilmu dan Industri Peternakan, Fakultas Peternakan UGM. Lahir di Klaten, 2 Juni 1992 silam. Anak pertama dari dua bersaudara ini mempunyai hobi membaca, hiking, dan traveling. Sejak SMP telah tertarik di dunia keorganisasian. Mulai dari OSIS, ROHIS, FAROIS, dan hingga sekarang aktif sebagai pengurus harian di BEM Fakultas Peternakan UGM 2013, sebagai Menteri Koordinator bidang Eksternal di samping juga menjadi Kepala bidang HUMAS pada salah satu partai mahasiswa UGM. Aktivitas pergerakan yang diikutinya yaitu KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) Komisariat UGM. Baru-baru ini sempat didaulat oleh fakultasnya untuk melakoni program student exchange ke Faculty of Animal Science and Technology, Maejo University, Thailand.

Lihat Juga

Cinta Sebagai Energi Kemenangan