Home / Berita / Internasional / Eropa / Menteri UE Turki: Islam Realita Bagi Eropa

Menteri UE Turki: Islam Realita Bagi Eropa

Egemen Bagis,
Egemen Bagis,

dakwatuna.com – Islam merupakan sebuah realita bagi Uni Eropa dan orang Eropa tidak mungkin berpaling seakan tidak melihat realita itu. Demikian dikatakan Egemen Bagis, menteri urusan Uni Eropa Turki, Selasa (2/4/2013) dilansir Hurriyet Daily.

“Islamophobia yang lebih terlihat nyata di Prancis dan seluruh Eropa, bukannya Islam,” kata Bagis, mengomentari pernyataan politisi sayap kanan-jauh Prancis yang anti-Islam Marine Le Pen.

Belum lama ini Marine Le Pen mengatakan bahwa Islam sekarang “semakin kelihatan” di Prancis dibanding sebelumnya.

“Kita tahu pernyataan-pernyataan Nona Le Pen mengenai Turki dan nilai-nilai kita, tetapi kita tidak terlalu mempedulikannya,” kata Bagis.

“Sekitar 11 persen populasi Prancis adalah Muslim. Dan di negara-negara anggota Uni Eropa secara keseluruhan, populasi Muslim mencapai 8 sampai 9 persen. Angka ini akan naik menjadi 15 persen pada tahun 2030 di seluruh Eropa. Seperti kata salah seorang mantan presiden Jerman, Islam adalah sebuah realita di Uni Eropa. Mereka tidak mungkin berpaling dengan mengubur kepala dalam pasir [pura-pura tidak tahu-red],” kata Burgis dikutip kantor berita Anatolia.

Pengakuan Wulff atas Islam

Le Pen dalam wawancara belum lama ini mengatakan bahwa dirinya tidak punya masalah dengan Turki, namun yang menjadi masalah utama bagi Prancis adalah “visibilitas” Islam. Wanita itu juga mengatakan dirinya menentang keanggotaan Turki dalam Uni Eropa dan mengaku tidak mengerti mengapa Turki berusaha menjadi anggota uni tersebut, sementara negara-negara lain ingin keluar. Meskipun demikian, dia mengakui bahwa Uni Eropa tidak bersikap adil terhadap Ankara.

Mantan presiden Jerman Christian Wulff pada tahun 2010 pernah mengatakan bahwa Islam, seperti halnya Kristen, merupakan bagian dari Jerman. Pernyataannya itu kontan menyulut kontroversi di Jerman.

Dalam perdebatan mengenai apakah Islam merupakan bagian dari Jerman, Presiden Joachim Gauck –pengganti Wulff– mengaku tidak mendukung pernyataan pendahulunya itu. Meskipun demikian, kepada majalah Jerman Die Zeit, Gauck menyatakan dirinya menghormati pendirian Wulff.

“Kenyataannya terdapat Muslim yang tinggal di negeri ini. Apa yang ingin saya katakan adalah: Muslim yang tinggal di sini bagian dari Jerman,” kata Gauck.

Menurut Menteri Urusan Uni Eropa Turki Egemen Bagis, “Akan lebih bermanfaat jika mereka berusaha untuk memahami pesan sesungguhnya dari Islam, yaitu perdamaian, persaudaraan dan simpati. Krisis yang sedang dialami Eropa menunjukkan bahwa mereka tidak berada di jalur yang benar.”

“Nona Le Pen tidak perlu berusaha untuk mengeksploitasi, justru dia seharusnya berkomunikasi dengan publik Prancis. Mereka seharusnya mengerti bahwa bermain politik dengan Turki tidak mempan lagi,” imbuh Bargis. (af/hdt)

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 8,25 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

Bayi. (ilustrasi)

Alasan Perancis Larang Keluarga Muslim Berikan Nama Mohammed Merah Untuk Anaknya

Organization