Home / Narasi Islam / Hidayah / Wanita Ini Memeluk Islam Gara-Gara Pakaian Dalam

Wanita Ini Memeluk Islam Gara-Gara Pakaian Dalam

Ilustrasi. (id.88db.com)
Ilustrasi. (id.88db.com)

dakwatuna.com Mungkin kedengaran aneh dan janggal. Hidayah memang bisa datang kapan saja dan pada siapa saja. Selama ini mungkin kita lebih sering mendengar dapat hidayahnya seorang non muslim ke dalam Islam di sebabkan hal-hal luar biasa dan penting. Seperti dokter Miller seorang penginjil Kanada yang memeluk Islam setelah menjumpai I’jaz Qur’an dari berbagai segi. Tapi yang ini benar-benar tidak biasa. Ya, memeluk Islam gara-gara pakaian dalam!

Fakta ini dikisahkan Doktor Sholeh Pengajar di sebuah perguruan Tinggi Islam di Saudi, saat ditugaskan ke Inggris. Ada seorang perempuan tua yang biasa mencuci pakaian para mahasiswa Inggris termasuk pakaian dalam mereka.

Tidak ada sisi menarik pada wanita ini, tua renta, pegawai rendahan dan hidup sendirian. Setiap kali bertemu dia selalu membawa kantong plastik berukuran besar yang terisi penuh dengan pakaian kotor. Untuk pekerjaan kasar seperti ini penghuni rumah jompo ini terbilang cekatan di usianya yang sudah terbilang uzur. Di Inggris, masyarakat yang memiliki anggota keluarga lansia biasanya cenderung memasukkan mereka ke panti jompo. Dan tentu saja keadaan miris ini harus diterima kebanyakan para orangtua dengan besar hati agar tidak membebani anak mereka. Namun di tengah kondisi seperti itu sepertinya tidak membuat kecil hati tokoh kita ini yang justru begitu getol mengisi hari-harinya bergelut dengan cucian kotor.

Wanita baya itu lebih suka dipanggil auntie atau bibi. Dia sudah bekerja sebagai petugas laundry hampir separuh usianya. Beruntung baginya masih ada instansi yang bersedia mempekerjakan para manula.

“Aku merasa dihargai meski sudah tua. Lagipula, orang-orang seperti aku ini sudah tidak ada yang mengurus, kalau bukan diri sendiri. Anak-anakku sudah menikah dan tinggal bersama keluarga mereka masing-masing. Suamiku sudah meninggal. Walaupun anak-anak suka menjenguk, tapi aku tetap ingin punya kegiatan sendiri untuk mengisi masa tua,” ujarnya

“Bukan untuk kerja yang berat memang, tapi setidaknya, selain menambah penghasilan juga mengisi hari tua. Mungkin itu lebih baik daripada harus tinggal diam di panti jompo.” Ujarnya lagi dengan wajah sendu.

“Sedih juga kalau harus tinggal sendirian. Seperti seorang temanku. Dia juga dulu bekerja sebagai petugas laundry bersamaku. Sampai akhirnya, anak perempuan satu-satunya menikah. Namun setelah menikah, anak perempuannya itu tidak pernah menghubunginya,” bibi berkisah.

Bagi sang Bibi profesinya sebagai petugas laundry justru membuatnya lebih dekat dengan sepak terjang, liku-liku penghuni asrama yang rata-rata adalah mahasiswa dari luar Inggris. Sang Bibi paham betul kebiasaan para mahasiswa yang tinggal di asrama ini selain belajar sehari-hari, adalah pergi clubbing sekadar “having fun”. Banyak asrama memiliki bar, café, ruang duduk untuk menonton televisi, ruang musik dan fasilitas olahraga sendiri.

Dan salah satu sisi negatif pergaulan dengan orang Inggris adalah bila mereka sudah dekat botol miras, biasalah mereka sampai benar-benar mabuk. Dan dapat dibayangkan kekacauan yang terjadi. Muntah merata di sebarang tempat, kencing dalam celana dan sebagainya. Inilah perbuatan paling bodoh yang pernah dilakukan oleh manusia sejak terciptanya minuman beralkohol. Bukan saja menghilangkan akal sehat, tetapi juga si pemabuk akan merasa kelelahan dan sakit kepala yang teramat sangat (hangover).

Saat para penghuni asrama masih dibuai mimpi karena kelelahan habis clubbing semalaman suntuk. Tinggallah sang Bibi memunguti pakaian kotor itu setiap hari. Dan terkadang harus diangkut dari kamar, jauh sebelum mereka bangun dari tidur. Kemudian disortir dengan teliti satu persatu berdasarkan jenis bahan, ukuran, warna dan yang lebih spesifik lagi dipisahkannya pakaian dalam dari yang lain. Begitu pekerjaan rutin itu dilakukan dengan penuh dedikasi tinggi walau di ujung usianya yang semakin menua.

Waktu terus berjalan, sementara sang Bibi tanpa putus asa terus bergelut dengan ‘dunia kotor’nya. Idealnya di penghujung usianya itu seharusnya masa bagi seseorang menuai hasil kerja payahnya di masa muda. Namun situasilah yang menyebabkan dia harus menanggung berbagai persoalan hidup, maka sungguh itu merupakan masa tua yang tidak membahagiakan. Di dalam kondisi yang sudah tidak mampu banyak berbuat, dia justru dituntut harus banyak berbuat. Dalam kondisi produktivitas menurun ia justru dituntut untuk berproduksi tinggi.

Entah sampai kapan dia harus melakoni pekerjaan itu. Maka sampailah suatu saat asramanya kedatangan penghuni baru yaitu beberapa mahasiswa muslim dari Timur Tengah yang mendapat tugas belajar dari negaranya. Mereka sudah terdaftar akan menempati salah satu kamar di asrama tempat sang Bibi bekerja.

Bagi kebanyakan pelajar timur tengah sangat langka memilih tinggal di asrama. Mereka biasanya membeli rumah atau flat yang sudah disesuaikan untuk menampung kelompok kecil siswa, pasangan atau keluarga. Ada juga beberapa pemilik tempat perorangan mengizinkan rumah-rumah mereka dikelola dan disewakan.

Tinggal di asrama merupakan cara terbaik untuk bertemu orang-orang baru dan menjalin persahabatan yang langgeng. Inilah salah satu pertimbangan mereka memilih tinggal di asrama. Kesadaran inilah yang menepis kekhawatiran akan terjadinya gegar budaya atau “cultural shock“.

Hidup dalam komunitas non muslimlah justru kita dituntut untuk membuktikan nilai-nilai Islam yang tinggi ini sebagai sebuah solusi bagi manusia. Tentunya ini adalah pekerjaan dakwah yang merupakan tanggungjawab setiap muslim di mana saja berada. Dengan tetap menjaga keistimewaan kita sebagai muslim yaitu kesalehan.

Hari-hari terus berlalu, tampaknya si Bibi ini betul-betul perhatian dengan apa yang dicucinya. Sampai-sampai dia tahu ini pakaian si A, ini si B dan seterusnya. Tidak terkecuali dengan pakaian kotor milik mahasiswa dari Timur Tengah tadi. Namun saat dilakukan sortir pakaian dalam, si Bibi merasa ada sesuatu yang tidak biasa, karena dari semua pakaian yang dicucinya, hanya pakaian muslim Arab saja yang terlihat tidak kotor, tidak berbau, tidak kumuh dan tidak banyak noda di pakaiannya.

Kejadian langka ini semakin mendorong rasa penasaran si Bibi. Lagi-lagi pencuci pakaian di asrama ini selalu merasa aneh saat mencuci celana dalam mereka. Berbeda dengan yang lain, kedua pakaian dalam mereka selalu tak berbau.

Maka masih dalam keadaan penasaran, si Bibi memutuskan bertanya langsung dengan ‘pemilik celana dalam’ itu. Saat ditanya kenapa. Dua orang ini menjawab, ”Kami selalu istinja setiap kali kencing.” Pencuci baju ini bertanya lagi, ”Apakah itu diajarkan dalam agamamu?”

“Ya!” Jawab dua orang pelajar muslim tadi.

Merasa belum yakin 100 persen dengan jawaban itu, akhirnya si Bibi datang menemui salah seorang tokoh muslim yaitu Doktor Sholeh– Pengajar di sebuah perguruan Tinggi Islam di Saudi, saat ditugaskan ke Inggris– Wanita tua ini menceritakan keheranannya selama bertugas perihal adanya pakaian dalam yang ‘aneh’.

Ada beberapa pakaian dalam yang tidak berbau seperti kebanyakan mahasiswa umumnya, apa sebabnya? Maka ustadz ini menceritakan karena pemiliknya adalah muslim, agama kami mengajarkan bersuci setiap selesai buang air kecil maupun buang air besar, tidak seperti mereka yang tidak perhatian dalam masalah seperti ini.

Betapa terkesan ibu tua ini jika untuk hal yang kecil saja Islam memperhatikan apatah lagi untuk hal yang besar, pikir pencuci baju itu. Dan tidak lama kemudian ia mengikrarkan syahadat, memeluk Islam dengan perantaraan pakaian dalam!

Tidak disangka ternyata diam-diam si tukang cuci memeluk Islam, gemparlah para mahasiswa yang tinggal di asrama tersebut, yang kebanyakan adalah non muslim. Mereka berusaha ingin tahu sebab musabab si Bibi memeluk Islam. Dia menjawab dengan yakin bahwa dirinya sangat kagum dengan kawan muslim Arab ini, karena dari semua pakaian yang dicucinya, hanya pakaiannya sajalah yang terlihat tidak macam-macam. Dan dengan hidayah Allah Swt, dirinya dapat membedakan antara pakaian seorang muslim dan non muslim.

Hidayah memang bisa datang kapan saja dan pada siapa saja. Selama ini mungkin kita lebih sering mendengar dapat hidayahnya seorang non muslim ke dalam Islam lebih disebabkan pada hal-hal luar biasa dan penting. Tapi yang ini benar-benar tidak biasa. Mendapat hidayah di penghujung usia gara-gara pakaian dalam! Sungguh takdir Allah benar-benar telah jatuh berketepatan dengan kegigihannya selama ini mengisi hari-hari di sisa hidupnya sebagai petugas laundry. Di sinilah letak rahasia nikmat Allah yang agung yang mempertemukan antara takdirNya dan ikhtiar manusia. Sungguh Allah tidak pernah menyia-nyiakan amal seorang hambaNya.

(Majalah Al-Qawwam edisi 15, dzul qa’dah 1427 H Badiah, Riyadh / jurnalhajiumroh.com)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (273 votes, average: 9,15 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com
  • Subhanallah….

  • Luar biasa…

  • masak celana dalam pake dicium2 gitu si ama ni si nenek..:)
    tp subhanallah.. ada berkahnya jg :)
    btw.. tu mahasiswa muslim yg di situ apa ndak terfikir ya.. bahwa cucian mereka bercampur dengan cucian mahasiswa lain yg tadi dibilang terkena najis.. kencing, muntahab miras, dll
    kalo gitu kan jadi campur ikutan kena najis juga???

    yg slalu terpikir jg oleh saya kalo mo ke laundry.. dilema!! :D :D
    ga ada yg lebih meyakinkan bersihnya daripada cucian oleh istri sendiri.. makasiii Miii :D

    • DHANI WU

      klo sdh dicuci ya jd suci

    • ini bukan di cium-cium Hermawan, tapi itu adalah HIDAYAH, memang istri kau pintar nyuci, tapi belon tentu pekerjaannya berlandaskan IBADAH.

      • Hermawan Dephe

        Istriku emang pintar segalanya mas bro.. alhamdulillah..
        dan alasannya 1. demi selalu ingin menyenangkan suami.. takzim & taat pada suami.
        kaya gitu kok dibilang belum tentu ibadah?? :D

    • Kamu tuh gimana sih mikirnya…???!!!, itu kan emang pakean mau dicuci… pasti kotorlah…., sama-sama pakean mau dicuci kena najis juga enggak apa-apa , ntar udah dicuci kan bersih semua…

    • arman

      hadohhh… hadoooh…
      masa cd mau dicium2…. namanya bau, gak dicium juga ya kecium baunya..
      gimanalah kau ini…

    • Hamalah

      Tanpa dicium-cium pun celana dalam yang abis dipake bokong yang tidak cebok sehabis be’ol ya memang tercium baunya lah, gak percaya lu buktiin sendiri deh

    • jadi istrimu nyuci nggak pakai mesin cuci? miskin sekali kau.

      • Hermawan Dephe

        masa orang PKS kaya gini ya ngomongnya..??
        :D
        mesin cuci ada.. tp alhamdulillah.. bilasan terakhir tetep pake tangan, dibawah kran air mengalir. bwt mastiin bener2 bahwa cucian bener2 bukan cm udah bersih tp jg jamin sucinya..

        • Abah Tutup Lawang Sigotaka

          Kader PKS gadungan ni pasti !!!

      • yzar

        Omongan lo tdk sejalan dgn lambang partai yg lo gunakan!

    • Dini Çalar

      Hermawan Dony Prasetyo
      Hahaaa lucu amat komen anda ini,,klo CD yg kotor dan bau menyengat gak dicium” jg ea kecium lah,masa dicium” emang’y minyak wngi apa??kita bangga menjadi orang Islam yg slalu bersih,cebok dan wudhu setelah BAB or Kencing..gak ky non muslim mungkin di lap doang iihh hueekkk,,jijay..

    • Fatur

      Intinya Ambil hikmahnya aja gan……………………!!!!!!!!!!!!!!!!!

  • Ahmad Musthofa

    subhanallah, … bener kagum melihat hidayah yang diperoleh nenek melalui perantara celana dalam.

  • itulah hidayah.. tidak mengenal…apa, siapa,apapun juaa,..moga aku juga mndapat hidayah dalam bentuk apapun…mga hidupku berkah dn di ridhoi. Alloh… Amiiiiinnn

  • subhanallahahhh,,,,,,maha besar ALLAH,,,,,,,,,,,,,,

    gk kebayang jg ya,,,,gmana jdix org2 sana lw gak cebok bis buang air,,hihihihihhh

    • pastinya gk kebayang udh tu,,,weekkk

    • Yusup

      non-muslim boro2 istinja, masih kulup lagi. pasti baunya nauzdubillah

  • Rachma Widi

    subhanallah, kukuhkan keyakinan kami yg telah lahir dalam status islam agar lebih taat, takut dan malu kepada-mu Ya Robb…. Amiiinnnn

  • Subhanallah…

  • subhanallah

  • Hal yang kecil yang membawa perubahan berarti. Subhanallah … semoga si petugas laundry ini tetap berada di dalam Islam pada saat waktunya tiba nanti …

  • Diah Utami Lestari

    Subhanallah… hidayah bisa datang dari mana saja dan kapan saja. Mesti jadi refleksi diri buat kita para muslimah. Yuk, berkaca pada para muslimah Timur Tengah dalam kisah ini.

  • Adnan Surya Azis

    Lucu juga, ya.. tapi Masya Allah ini kisah yang sangat luar biasa

  • yanuarsa

    kebayang celdam jadinya… di bagian depan baunya pesing, di bagian belakang ada sisi T4H1 nya…………… hidup islam!!!!!!

  • Irfan S Fauzan

    Subhanalloh..Islam memang agama yang bersih, suci, agama yang senantiasa memperhatikan dari hal terkecil hingga hal besar..

  • Lailiyati

    Subhanallah. Ya Rahman Ya Rahiim, kasihi sayangi kami dengan hidayah-MU yang bertambah-tambah. Aamiiin

  • syaiful

    allahumma antassalam

  • Anoeng suroboyo

    Yang penting hidayah Allah bisa datang kapansaja dimana dan untuk siapa saja yang Allah kehendaki
    Mau lewat bau celana, bakteri yg tak tampak mata, cara berbusana.. sah-sah saja, seperti apapun mekanismenya
    Menurut saya, cerita di atas untuk memudahkan pemahaman datangnya hidayah bisa lewat apasaja
    Mari berdoa semoga kita sendiri selalu mendapat hidayah Allah
    Begitupun dengan saudara kita yang lain

Lihat Juga

Ilustrasi. (collegeaffairs.in)

Membentuk Karakter Pemimpin yang Islami Sejak Dini

Organization