Home / Pemuda / Essay / Apdet Dulu Biar Unyu

Apdet Dulu Biar Unyu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Hari ini, kita tidak lagi dihadapkan dengan komunikasi serba manual. Jarang sekali sekarang anak-anak SD atau SMP saling berkirim surat mencari sahabat pena dari majalah langganan, atau menuliskan banyak kejadian yang kita alami di buku harian yang bentuknya lucu-lucu, atau mengunjungi rumah teman-teman untuk bertukar cerita atau apalah.

Hari ini, kita dihadapkan dengan dunia komunikasi serba canggih dan simpel. Jejaring sosial (jejarsos) sudah menjamur di mana-mana. Satu orang bahkan seringkali memiliki lebih dari dua akun atau memakai banyak jejarsos untuk aktivitas komunikasi sehari-hari. Ambillah yang paling banyak di pakai, Facebook dan twitter misalnya. Ah ya, sekarang orang berkenalan dijalan bukan lagi bertanya di mana alamatnya, tapi sudah berganti menjadi apa ID Facebook-mu? Apa ID twitter-mu? Kini pun jarang dijumpai kata-kata “jangan lupa mampir ya” atau semacamnya. Sekarang yang sering terdengar adalah “add saya ya” atau “follow saya ya” dan semacamnya. Ini sangat menunjukkan bahwa hari ini, kita lebih asik dengan dunia maya kita, dengan jejarsos yang telah menjamur dan menemani hari-hari kita.

Salah?

Tidak juga. Jejarsos tidak salah, tapi kadang orang yang memanfaatkannya saja yang menggunakannya kurang tepat. Coba, pernah baca status atau tweet yang galaunya nggak kira-kira? Atau status yang sedang marah-marah ke orang bahkan mencaci maki saudaranya (dimention pula)? Atau memamerkan doa-doanya, menyampaikan harapan-harapannya, dan banyak hal.

“Ya Allah, berikan saya ketenangan hati”

“Ya Allah, saya ingin pulang”

“Ya Allah, saya janji tidak akan mengulangi kesalahan ini. Saya bertaubat, Ya Allah”

Pernah baca yang semacam itu? Doa doa yang ‘dititipkan’ melalui jejarsos? Hey, bukankah bahkan Allah tahu apa isi hati kita? Bukankah berkomunikasi pada Allah itu tidak memerlukan perantara? Apalagi melalui jejarsos, itu tidak perlu.

“Saya benci hari ini karena sangat melelahkan”

            “Teman saya telah menyakiti saya”

            “Teman macam apa kamu yang tega melukaiku”

Pernah baca keluhan-keluhan semacam itu juga? Tujuannya apa ya? Kurang baik sekali saat kita mengumbar keluhan-keluhan di jejarsos, mengabarkan pada dunia bahwa kita orang yang paling sengsara. Buat apa coba?

Kadang kita sering kalap menggunakan jejarsos yang kita punya. Apa saja rasanya ingin di update, tidak peduli apakah itu penting atau tidak, apakah itu mengganggu orang lain atau tidak, semuanya di update. Biar semua orang tau.

Nah, ini yang membuat jejarsos malah jadi media yang sia-sia, menjadi media yang mengajarkan untuk pamer (habis shalat Dhuha terus apdet status “saya sudah shalat Dhuha loh”). Padahal jika kita mau menggunakannya dengan bijaksana, jejarsos adalah media yang baik untuk syi’ar, untuk saling mengingatkan dalam kebaikan, untuk publikasi-publikasi agenda, dan banyak lagi.

Ini masalah klise, tapi nyatanya hingga detik ini, banyak orang yang masih suka apdet status tidak penting, sia-sia, bahkan tidak baik. Diamlah jika kita tidak mampu berkata yang baik, bukan terus bicara tanpa mau tau apakah itu baik atau tidak. :)

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 8,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Seorang mahasiswa UGM dan aktivis yang sedang belajar menulis.

Lihat Juga

Seorang warga membaca surat kabar Amerika. (aljazeera.com)

Surat Kabar Amerika Shock Berat dengan Kemenangan Trump

Figure
Organization