Home / Berita / Perjalanan / Seri Perjalanan ke Mesir: Pyramid Mengajarkan Kita

Seri Perjalanan ke Mesir: Pyramid Mengajarkan Kita

Penulis ketika di daerah Giza Mesir. (Dok Aidil Heryana)
Penulis ketika di daerah Giza Mesir. (Dok Aidil Heryana)

dakwatuna.com – Sebuah tempat akan menjadi situs sejarah karena perjalanan waktu yang terlalu lama, tidak peduli di tempat yang kelihatan sangat biasa sekalipun. Begitu juga mungkin pernah terjadi peristiwa yang mendebarkan hati di tempat itu.

Saat di Mesir, saya berkesempatan pergi ke daerah Giza, daerah padang pasir yang luas. Di sinilah Pyramid yang terkenal itu berdiri megah. Dalam sejarahnya konon pyramid ini dibangun dengan resources yang tidak sedikit. Ribuan nyawa tak berdosa dikorbankan demi sebuah keinginan tentang eksistensi diri akan kekuasaaan. Penderitaan untuk itu hingga saat ini masih menyisakan bekas yang mendalam.

Berdiri di samping tumpukan batu-batu yang kelihatan sudah mulai runtuh, dalam hati selalu merasakan suatu kesedihan yang tidak bisa diutarakan. Melihat ada banyak sekali turis dengan berbagai macam gaya, dengan senyum berdiri di bawah pyramid untuk berfoto sebagai kenangan, dalam hati saya muncul lebih banyak kesedihan.

Waktu telah berlalu ribuan tahun, sulit untuk membayangkan bagaimana tak berdayanya orang-orang yang memiliki cita-cita luhur ketika itu. Mereka memiliki segudang mimpi, kecerdasan, kejujuran dan kesetiaan, tapi kandas oleh karena kekuasaan korup yang menyengsarakan mereka. Sejarah berjalan hingga saat itu, sepertinya sudah suratan takdir membuat mereka gagal. Rancangan dari setiap alur cerita, semua menuju dan mendekat sedikit demi sedikit kearah akhir yang demikian.

Kisah Pyramid ini, sering kali dijadikan novel atau film yang ditayangkan dalam layar lebar. Mungkin dalam lubuk hati yang terdalam ini masih selalu menaruh perhatian terhadap sepotong sejarah dan kisah di dalamnya. Maka setiap film yang berkaitan dengan kisah itu tak pernah saya lewatkan. Seperti dalam sebuah novel best seller berjudul ‘Sang Alkemis’ dikisahkan perjalanan seorang pemuda penggembala bernama Santiago dari Andalusia dalam mewujudkan legenda pribadinya yaitu mencari harta karun di dekat piramida di Mesir. Maka setiap kali mengurutkan perkembangan dari jalan cerita mengenang semua peristiwa yang terjadi ketika itu, selalu tak tahan untuk tidak mengeluhkan perkembangan sejarah itu semuanya di luar kontrol kita.

Kesedihan dan kegembiraan sebabak demi sebabak semua ini bisa disimpulkan dalam kata “nasib”. Yang membuat orang bersyukur adalah, walaupun orang baik di saat itu kehilangan banyak sekali, disiasati oleh orang lain, banyak menderita, menanggung berbagai fitnahan dan dikambinghitamkan, tetapi mereka menyisakan nama harum dalam sejarah. Orang zaman sekarang menggunakan berbagai macam cara untuk memperingatinya, maka pengorbanan mereka saat itu masih tetap bernilai, inilah yang disebut sebagai keimanan kepada takdir baik dan buruk.

Hari-hari telah dilewatkan dengan tanpa suara, peristiwa yang terjadi pada hari ini juga bisa menjadi sejarah bagi hari esok. Sejarah itu tidak sempurna, tetapi mengajarkan kepada kita banyak sekali prinsip. Banyak sekali keberhasilan dan kegagalan dari suatu peristiwa tidak sesuai dengan kemauan kita, tetapi dalam prosesnya dengan sikap hati bagaimana kita melakukan, dan dengan taraf moral yang bagaimana kita melakukan. Orang di generasi mendatang akan melihat hal itu dengan jelas.

Maka dari itu, tidak peduli kapan saja dan melakukan apa saja harus tanpa rasa sesal dalam hati, baru tidak sampai meninggalkan nama buruk dalam sejarah, dan mengisinya dengan tinta amal kejujuran.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 4,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Aidil Heryana, S.Sosi
"Aidil" adalah panggilan kesehariannya. Lahir di Jakarta pada tahun 1964 dan sekarang telah dikaruniai Allah 4 orang anak. Manajer SDM di Ummigroup Media ini adalah lulusan dari SMA Negeri 8 Jakarta, LIPIA (I'dadul Lughoh Masa'iyah), dan Institut Agama Islam Al-Aqidah. Pernah aktif di Kerohanian Islam (Rohis) SMAN 8 Jakarta, dan di Bi'tsatud Du'at PKPU. Saat ini mengemban amanah sebagai Pembina Yayasan Sahabat Insani. Moto hidupnya adalah "Hidup Mulia atau Mati Mulia".

Lihat Juga

Ilustrasi, Hari Pahlawan (inet)

Meretas Cinta Jalan Kepahlawanan