Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Seperti Inikah Aku Dulu?

Seperti Inikah Aku Dulu?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Rina Lestari)
Ilustrasi. (Rina Lestari)

dakwatuna.com – Sayup angin berdesir halus menggelitik rongga telinga, awan yang terlihat bersih disertai cuaca yang begitu cerah, matahari pun malu-malu menenggelamkan dirinya yang membuat semakin romantis suasana sore saat itu. Anak-anak TPA berlarian ke sana kemari tanpa ada arah tujuan, teriakan-teriakan menjadi bumbu di tengah keasyikan mereka dalam bermain. Itulah mereka para santri TPA Masjid Al Muqtashidin Fakultas Ekonomi UII.

Senin sore, jadwalku mengajar TPA di kelas iqro’ besar. Ada hal yang sangat kontras berbeda dengan apa yang aku pikirkan sebelumnya, ternyata ‘mengajar anak-anak TPA tidak semudah yang dipikirkan’, butuh kesabaran, teknik mengajar, pendekatan, dan lain-lainnya agar bisa tahan membersamai mereka. Ada beberapa anak terutama laki-laki yang selalu menjadi sorotanku. Lari-lari, teriak-teriak, memukul-mukul meja, mengganggu temannya saat belajar seakan menjadi rutinitas yang tidak pernah ditinggalkan ketika pelajaran sedang dimulai. Sempat terbawa emosi namun tak kuasa diri ini melampiaskannya, ku pendam saja dalam hati. Terkadang ingin pergi dan meninggalkan mereka namun tak sanggup kaki ini melangkah meninggalkan ladang yang penuh dengan amal kebaikan, dan rasa-rasa lainnya yang bisa timbul kapan pun ketika mengajar mereka. “Bismillah, lanjutkan saja,” bisikku dalam hati.

Senang, memang menyenangkan bisa mengajarkan apa yang ku tahu kepada mereka. Tak jarang aku pun ikut hanyut dalam permainan mereka, ‘ikut bermain bersama’. Hal itu memaksaku kembali membuka memori di masa kecilku ketika belajar di TPA dekat rumahku. Ketika itu aku dikenal sebagai murid yang agak penurut oleh guruku, sehingga tidak aneh aku pun sering dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan, terutama lomba-lomba antar madrasah (TPA). Tercatat aku pernah diikutkan dalam beberapa lomba seperti MTQ, MHQ, cerdas cermat, wisata madrasah, rebana, adzan, hanya itu yang aku ingat (entah masih ada atau tidak hehe). Yaps, aku merasa mendapat kepercayaan yang besar dari guru-guruku saat itu.

Teringat juga bagaimana ketika guru-guruku mengajar, dengan sabar dan ikhlas yang menjadi modal utama mereka. Masih sangat lekat di pikiranku betapa sabarnya salah seorang guruku ketika itu. Aku bersama teman-temanku yang lainnya bermain di halaman madrasah, ada salah seorang temanku yang sangat usil, dengan keusilannya dia sampai tega menidurkan motor vespa guruku yang pada awalnya tegak berdiri. Tidak sampai hati aku melakukannya, namun aku pun malah ikut hanyut dalam tawa ketika melihat guruku membangunkan kembali motor vespanya. (Astaghfirullah…). Belum habis sampai di sana, meninggalkan guru saat belajar, sengaja tidak masuk karena kesal pada guru, ribut saat guru sedang menerangkan. Ah banyak sekali yang belum kutuliskan dosa-dosa pada guruku, ‘sungguh keterlaluan aku ini’.

Sekarang aku telah semakin jauh meninggalkan tempat di mana ku belajar ketika TPA dulu. Setelah sebelumnya ku menetap di Kota kuda Kuningan, sekarang ku berada di Kota pelajar Yogyakarta. Ah begitu indah untuk dikenang, begitu dirindukan untuk sebuah pertemuan. Penyesalan-penyesalan saat itu menjadi koreksi besar bagiku, terutama saat mengajar di TPA Masjid Al-Muqtashidin. Saat mereka (santri) berulah hingga tidak jarang membuatku jengkel dan kesal, ketika itu pula aku teringat segala tingkah laku ku dulu dan bertanya pada diri sendiri, “Seperti inikah aku dulu?” Bisa kubayangkan betapa sakitnya perasaan guruku ketika ulahku yang keterlaluan muncul, namun sabar dan ikhlas menjadi tembok pertahanan yang kokoh baginya sekaligus menjadi cambukan keras bagiku. Harus ku perbaiki, beri teladan bagi para santri. Terima kasih bapak dan ibu guru, semoga selalu dalam kasih sayang dan lindungan Allah SWT. Aamiin…

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswa FE UII, Anggota LDF JAM, Anggota IESC, bercita-cita menjadi motivator dan punya Rumah Makan.

Lihat Juga

Ilustrasi. (blogspot.com)

Arus Globalisasi Perdagangan, Peluang atau Ancaman